
Ruby kembali ke kamarnya dengan perasaan kesalnya. Dia tidak bisa tidur malam itu karena tahu jika Samuel tidur dengan Tiara bukannya dengannya.
"Padahal ini malam pertama," gerutu Ruby. Dia menatap cermin yang memantulkan wajah marahnya saat itu.
Dia nampak berpikir, bagaimana caranya agar membuat Samuel keluar dari kamar Tiara.
**
"Kamu beneran gak apa-apa ada di sini malam ini?" tanya Tiara sambil membelai lembut rambut Samuel.
Malam itu Samuel pergi ke kamar Tiara setelah makan malam. Dia pergi ke sana untuk menemaninya tidur untuk malam itu.
Sudah lama dia tidak tidur dengannya. Selama tujuh tahun lebih, mungkin.
"Gak boleh? Aku rindu sama kamu," ucap Samuel pelan. Matanya sedikit melirik Tiara.
Sedangkan wanita itu hanya tersenyum mengulumm senyum manisnya.
"Pa!" panggil Bianca. Suara anaknya itu kerasa terdengar di depan pintu kamar Tiara.
"Pa!" panggilnya lagi. Samuel dan Tiara saling bertatapan hingga akhirnya Samuel membuka pintu untuk menemui Bianca.
"Papa kok tidur di sini sih! Bukannya sama mama!" protes Bianca dengan marah. Ia melirik ke dalam dan mendapati Tiara sedang berdiri di belakang Samuel.
Ia melirik tajam pada Tiara karena merasa jika wanita itu telah merebut ayahnya dari mamanya.
"Malah tidur sama bibi!"
"Bianca bukan gitu, gak boleh marah-marah gitu ya?!" Samuel mencoba untuk menenangkan Bianca yang tengah marah padanya dan Tiara.
Samuel yakin jika ini adalah perbuatan Ruby untuk meminta Bianca mengetuk kamar Tiara.
"Balik ke kamar Pa, kasihan Mama." Bianca menarik lengan Samuel dengan paksa hingga menuju kamarnya.
Ia tak bisa menolak anaknya karena tidak mau dia sedih atau berpikiran buruk pada Tiara.
Samuel masuk ke dalam kamarnya yang sudah ada Ruby di sana. Ia mengenal baju tidur tipisnya, sengaja ingin menggoda Samuel. Namun lelaki itu sama sekali tidak tertarik pada Ruby.
"Bianca balik ke kamar ya, papa mau tidur. Capek." Samuel berjongkok untuk menatap wajah anaknya itu. Membujuknya agar ia kembali tidur di kamarnya.
"Tapi Papa jangan ke kamar bibi itu lagi ya, Bianca gak suka."
Samuel mengangguk. Setidaknya malam itu dia tidak akan masuk ke dalam kamar Tiara.
Setelah Bianca pergi dari kamar Samuel. Ia menutup pintu tersebut dan duduk di samping ranjang.
"Jangan gunakan Bianca untuk hal seperti tadi. Aku gak suka," ucap Samuel, kemudian dia berbaring memunggungi Ruby.
"Istri mana yang gak marah, waktu malam pertamanya malah di kamar wanita lain?!"
"Wanita lain?! Tiara itu adalah istriku, kenapa kamu mengatakannya seolah-olah kalau dia adalah orang asing di rumah ini."
Samuel sudah lelah. Dia tidak ingin berdebat dengan wanita itu lagi. Ia mematikan lampu tidurnya dan memejamkan matanya.
Dia benar-benar tidak ingin melakukannya dengan Ruby malam itu.
**
Tiara sudah sibuk di dapur untuk memasak sarapan untuk keluarganya pagi itu.
Ia menggoreng telur ceplok setengah matang lalu nasi goreng dibantu oleh beberapa pembantu yang bekerja di sana.
"Bik, Bianca gak punya alergi kan?" tanya Tiara pada pembantu yang bernama Lastri.
"Gak ada nyonya," jawabnya sambil menyiapkan piring di atas meja.
Karena ia pikir Bianca tidak punya alergi. Jadi dia menggoreng telur ceplok juga untuk Bianca.
Tiara tersenyum. Dan berharap jika Bianca akan menyukainya. Ia tidak perlu mendapatkan pujian dari anak itu. Karena bisa melihatnya makan saja sudah lebih dari cukup.
Bianca turun dari tangga, lalu menuju meja makan sendirian.
"Bianca sarapan dulu," ajak Tiara. Ia memundurkan kursi untuk diduduki oleh Bianca.
"Gimana? Enak?" tanya Tiara. Ia memandang Bianca dengan lekat.
Ia berpikir jika anaknya itu tumbuh dengan baik dan cantik. Wajahnya mirip dengannya kulit seputih susu dengan bibir mungilnya.
"Mbak!" seru Ruby. Suaranya menggelegar ke seluruh penjuru ruangan.
Tiara menoleh ke arah Ruby kaget. Ia langsung berdiri.
"Bianca alergi dengan telur! Kenapa Mbak ngasih telur ke Bianca?!" teriaknya lagi dan membuat heboh seisi rumah.
Samuel langsung keluar dari kamar. Ia bahkan belum sempat mengenakan dasi dengan benar.
Tiara gugup sekaligus takut. Ia sudah yakin karena ia bertanya pada Lastri jika Bianca tidak memiliki alergi.
Bianca menjatuhkan sendoknya. Tiba-tiba ada ruam kemerahan di sekujur tubuhnya termasuk wajahnya.
Ia menggaruk kasar dan merengek di depan Ruby.
"Ma, badan Bianca gatal-gatal?" Bianca berjalan ke arah Ruby dengan tubuh yang dipenuhi ruam merah.
Tiara mematung di tempatnya. Ia tidak menyangka jika Bianca memiliki alergi seperti itu.
"Gak apa-apa sayang. Pagi ini kamu gak usah sekolah dulu. Mama antar ke rumah sakit ya." Ruby mengajak Bianca berjalan keluar dari rumah tersebut.
"Ada apa?" tanya Samuel pada Tiara.
"Mas, aku gak tahu kalau Bianca ada alergi telur makanya aku masak sarapan untuk Bianca telur ceplok karena aku pikir dia menyukainya." Mata Tiara sudah mulai basah. Dia khawatir jika akan terjadi apa-apa pada Bianca.
"Gak apa-apa. Wajar kalau kamu gak tahu. Tapi nanti dia akan baik-baik aja kok. Aku bawa dia ke dokter dulu."
"Mas?!" panggil Ruby dengan kencang setelah Samuel tidak segera keluar dari rumah. "Buruan! Kasihan Bianca!"
Samuel langsung bergegas menuju Ruby. Dia tidak ada pilihan lain selain pergi ke rumah sakit dengannya.
**
Beberapa saat yang lalu.
Ruby mendekati Lastri saat seluruh keluarga masih terlelap dalam tidurnya. Ia pergi berjalan menuju dapur untuk menyampaikan sesuatu pada Lastri.
"Nanti kalau misal Mbak Tiara nanya apa-apa soal Bianca kamu jangan jawab jujur," bisik Ruby.
"Terus saya harus jawab apa Nyonya?"
"Jawab aja gak tahu atau apa kek terserah kamu."
"Iy-- Iya Nyonya." Lastri terpaksa mengikuti perintah Ruby untuk menjebak Tiara.
**
Sementara itu di mobil. Ruby masih terlihat kesal dengan Tiara karena ulahnya yang sok tahu untuk memasakan sarapan Bianca.
"Harusnya dia nanya dulu, jangan sok begitu," gerutu Ruby. Sedangkan Samuel masih fokus dengan menyetirnya.
Ruby yang duduk di bangku belakang dengan Bianca mengintip wajah Samuel dari kaca spion dan melihat wajah lelaki itu nampak tenang-tenang saja.
"Kenapa kamu gak marah Mas?!" tanya Ruby.
Samuel menghela napasnya. "Tiara gak tahu kalau Bianca ada alergi kalau tahu pasti dia gak akan masak yang bisa melukai anaknya sendiri begitu," jawabnya dengan kalem.
"Mas!" teriak Ruby.
"Ada apalagi?"
"Bisa gak buat gak bilang begitu di depan Bianca? Kamu mau buat Bianca bingung?"
"Cepat atau lambat aku pasti ngasih tahu Bianca jadi kamu jangan bertingkah seperti ini, Ruby."
Samuel menginjak gasnya, ia ingin cepat sampai di rumah sakit agar masalah Bianca selesai. Dia tidak ingin berlama-lama bertengkar dengan Ruby untuk menyalahkan Tiara.