Married With Sister In Law

Married With Sister In Law
Bianca



“Kamu habis dari mana?” tanya Ruby ketika Samuel telah sampai di restoran tempat yang telah dikatakan oleh Bianca saat tadi di telepon.


Samuel melepaskan jasnya kemudian menyampirkannya di kursi, dia tidak langsung menjawab pertanyaan dari Ruby.


“Pa! Di tanya Mama tuh?” protes Ruby, ketika ayahnya tidak menanggapi pertanyaan dari Ruby.


Samuel benar-benar tidak berdaya jika itu adalah Bianca yang memrotesnya. Dia menghela napasnya lalu menatap Ruby dengan tatapan malas.


“Aku abis dari rumah sakit,” jawab Samuel ia lalu memandangi buku menu yang ada di depannya. Sedangkan Bianca sudah sibuk dengan es krim strawberry-nya.


“Jenguk Mbak Tiara?” tanya Ruby lagi.


“Iya. ”


“Kenapa masih bertemu dengan Mbak Tiara lagi sih Mas?”


Samuel menutup buku menunya, mendengar pertanyaan dari Ruby seperti itu membuat selera makannya menjadi berkurang.


“Memangnya kenapa? Dia masih istriku dan dia juga kakak kandungmu. ” Samuel menatap Ruby dengan pandangan tidak sukanya.


Baru kali ini dia muak dengan sikap Ruby yang sudah mulai suka mengatur-ngatur hidupnya, padahal sebelumnya dia tidak seperti ini. Apa karena mereka berdua akan menikah? Namun Samuel tidak menyukai sikap Ruby yang seperti itu kepadanya.


“Tapi, kan kita sudah mau menikah,” protesnya.


“Yang penting kita menikah kan? Jadi jangan meminta hal lebih lagi dariku. Jangan buat aku menjadi membencimu.”


“Dan ....” Samuel melanjutkan ucapannya. “Aku tidak akan menceraikan Tiara." Yang sudah pasti membuat Ruby sangat kesal.


Bianca yang tidak mengetahui apa-apa hanya memandang kedua orangtuanya secara bergantian.


“Papa kenapa marahin Mama?” Bibir Bianca mencebik marah karena Samuel berkata dengan nada tinggi pada Ruby.


Tameng Ruby adalah Bianca, dan Ruby tahu jika kelemahan Samuel adalah Bianca, anak semata wayangnya yang ia sayangi di dunia ini.


“Iya, maafin Papa ya sayang." Samuel mengelus rambut Ruby dengan pelan dan menatap wajah anaknya itu dengan kasihan.


Dia seakan menipu anaknya jika terus melakukan sandiwara ini dengan Ruby. Namun dia sudah berjanji pada dirinya sendiri jika dia akan memberitahukan yang sebenarnya pada Bianca jika ibu kandungnya adalah Tiara bukan Ruby.


“Minta maafnya sama Mama, jangan sama Bianca,” rengeknya.


Ekspresi Ruby berubah menjadi senang, karena berkat Bianca dia bisa menaklukan Samuel tanpa mengalami kesulitan.


Samuel menatap Ruby, dan berkata kata maaf seadanya padanya. Jika saja bukan karena Bianca mungkin dia tidak akan duduk di sana untuk makan sian dengan adik Tiara tersebut.


**


Arga sedang menyesap kopinya di kafe, ia memandangi dari jauh tiga orang yang ia kenal yaitu Samuel, Bianca dan Ruby.


Siang itu dia lebih memilih untuk meminum kopi alih-alih makan siang dengan makanan berat. Akhir-akhir ini dia mulai tidak teratur makan karena terlalu banyak hal yang dipikirkannya.


Dan salah satunya adalah Tiara.


“Kamu di sini rupanya,” sapa seseorang.


Dia adalah Jane, seorang wanita yang menaruh perasaan kepada Arga.


Lelaki itu menoleh ke arah suara dan menganggukan kepalanya seadanya.


“Kamu belum bisa melupakannya?” tanya Jane yang langsung duduk di depan Arga tanpa izin, memandangi lelaki itu dengan senyum samar.


Arga mengembuskan napasnya, sebenarnya ia sedang tidak ingin diganggu ataupun membicarakan masalah Tiara saat ini di depannya. Namun karena itu adalah Jane, wanita yang selama ini selalu bersamanya itu dia akhirnya mengalah, dan membiarkannya seakan menginterogasi Arga.


“Apa maksud kamu?”


“Tiara,” jawabnya pelan. Ia membuang pandangannya ke arah yang membuat Arga sempat mematung sejenak.


Arga berdecih, kabar seperti itu pasti akan selalu cepat terdengar ke orang lain, seperti saat ini.


“Aku akan membuat dia menjadi milikku lagi jika dia sudah bercerai dengan suaminya,” ucap Arga dan memandang Jane yang tengah menertawakannya.


“Apa itu lucu?”


“Oh, maaf. Aku gak menyangka kalau kamu akan bertindak sejauh itu. Kamu tahu kan? Kalau masih banyak wanita yang mau padamu. ” Jane langsung merubah tawanya menjadi senyum samar.


“Itu bukan urusanmu Jane, jadi tolong—“


“Itu menjadi urusanku karena aku menyukaimu Ga,” lirihnya.


Ia tidak berani menatap mata Arga ketika lelaki itu memandang kedua bola mata Jane bergantian dan lekat.


Wanita itu sangat menarik, bahkan sangat menarik. Namun Arga sama sekali tidak tertarik karena dia adalah anak orang kaya. Sedangkan dia hanyalah seorang manajer biasa di perusahaan Samuel.


Dia tidak akan pernah bisa mengimbangi wanita itu meskipun dia berusaha untuk melakukannya. Terlebih pandangan ayah Jane pada Arga, membuatnya menjadi rendah diri seperti itu.


Dan lagi, Arga tidak menyukainya.


**


"Mas, gimana kalau kita ke butik, setelah makan," usul Ruby saat makan siang itu hampir usai.


"Aku masih ada rapat dengan klien hari ini," jawabnya tanpa menatap Ruby.


"Jadi, kamu gak mau ke sana? Padahal pernikahan kita sebentar lagi," ucapnya degan menahan sedikit kesal setelah berkali-kali ditolak oleh Samuel.


Samuel memang sama sekali tidak peduli dengan pernikahannya dengan Ruby. Bahkan semuanya yang mengatur adalah Ruby dan ibu Samuel karena memang mereka berdualah yang bersemangat dengan pernikahan tersebut, tanpa peduli apakah Tiara saat ini baik-baik saja atau tidak.


"Aku akan menemani Tiara untuk terapi. Aku sudah melewatkan beberapa hari karena pekerjaanku."


"Baiklah kalau begitu. Sempatkan akhir pekan untuk ke butik."


Samuel menghela napasnya. Apa tak ada jalan untuknya menolak permintaan Ruby kali ini? Karena sungguh dia sama sekali tidak ingin pergi ke butik untuk memilih pakaian pengantin sementara ia membiarkan istri sahnya ada di rumah sakit sendirian.


"Bianca ikut!" Bianca mengacungkan tangannya. "Bianca mau pakai baju pengiring pengantin Pa," ucapnya dengan semangat.


Samuel lagi-lagi tidak bisa menolak permintaan Bianca termasuk satu itu.


"Oke. Nanti kita ke butik. Tapi jangan larang aku untuk menemui Tiara dan menemaninya terapi."


Samuel mengecup puncak kepala Bianca lalu pamit pergi dari restoran. Dia sudah terlalu lama meninggalkan kantornya siang itu.


"Mama gak dicium Pa?" tanya Bianca menggoda Samuel.


Samuel tersenyum kikuk. Dia sama sekali tidak ingin melakukan hal tersebut dengan Ruby. Akan terasa aneh jika dia harus melakukannya.


"Gak Bianca. Di sini kan banyak orang nanti Papa malu," bujuk Ruby. Lalu seketika Bianca langsung mengerti. Bisa dikatakan jika Ruby adalah pawang untuk Bianca.


"Ma, Tiara itu siapa? Kenapa papa nyebut nama Tiara terus?" tanya Bianca pada Ruby ketika Samuel menghilang dari restoran.


"Tiara itu, bibi Bianca. Sebentar lagi kalian berdua akan bertemu kok. Dan kalau ketemu sama bibi Tiara jangan lupa panggil Bibi ya," ucap Ruby semanis mungkin.


Bianca hanya mengangguk. Dia tidak tahu apa-apa mengenai hal tersebut. Secara tidak langsung Ruby telah mencuci otak Bianca agar mengenal Tiara hanya sebagai bibinya


Ruby tersenyum puas. Rencananya kali ini akan berhasil.


Bianca