
Ruby sedang berada di kamar Bianca siang itu, setelah kembali dari rumah sakit dia langsung pulang ke rumah. Mengetahui Tiara sedang tidak ada di dalam rumahnya, akhirnya Ruby mencoba masuk ke dalam kamar kakaknya itu.
“Ma, mau ke mana?” tanya Bianca ketika melihat Ruby bergerak menuju pintu kamarnya.
“Mama mau ke dapur sebentar ya sayang, Mama lapar,” ucap Ruby. Setelah Bianca mengangguk akhirnya dia keluar dari kamarnya. “Kamu tidur aja, nanti Mama ke sini lagi nemenin kamu,” lanjutnya sebelum menutup pintu kamarnya.
Ruby melihat sekitarnya, ibu mertuanya saat itu sedang arisan bersama dengan teman-temannya di kafe hingga sekarang hanya dia dan Bianca yang berada di dalam rumah.
Ia sudah berdiri di depan pintu Tiara, mencoba untuk membuka pintunya perlahan dan ternyata tidak dikunci olehnya.
Ruby kemudian masuk ke sana, untuk menemukan sesuatu buat dijadikan umpan agar ia bisa meninggalkan rumah tersebut.
Ia mengobrak-abrik kamar Tiara tetapi tidak menemukan apa-apa di sana. Ia berdecak kesal karena rupanya di kamarnya saat ini yang ada hanya foto-foto pernikahan Tiara dengan Samuel yang telah lama berlalu.
Ruby kemudian duduk di bibir ranjang, menatap jendela kamar Tiara yang dibiarkan terbuka. Terbesit sebuah ide dalam pikirannya saat itu juga.
Dia kemudian pergi keluar dari kamar tersebut dan menuruni tangga. Ia harus pulang saat itu juga!
“Bik, tolong jaga Bianca sebentar ya, saya ada urusan sebentar di luar,” ucap Ruby lalu meninggalkan rumahnya begitu saja.
Di depan Samuel dia berpura-pura sangat peduli pada Bianca tapi sebenarnya dia hanya peduli pada Samuel. Ia sengaja seperti itu hanya untuk menarik simpati dari ayah Bianca. Ya, Samuel memang bersimpati padanya tapi tidak jatuh hati pada Ruby. Lelaki itu terlalu sulit untuk ditaklukan.
Dia teringat akan sesuatu, jika Tiara dulu memiliki kekasih sebelum ia menikah dengan Samuel, tapi sayangnya dia tidak tahu siapa sebenarnya pria tersebut. Dan saat ini dia akan mencaritahunya agar lebih memudahkannya untuk menyingkirkan Tiara.
“Kamu ngapain jam segini ke sini?” tanya ibu Ruby saat melihat anaknya masuk begitu saja di rumahnya.
“Ada urusan sebentar Bu,” jawab Ruby. “Oh ya, kamar Mbak Tiara dikunci gak?” tanyanya lagi, ia menatap ibunya yang bingung melihat Ruby yang tiba-tiba menanyakan hal itu.
“Enggak, kenapa emangnya?”
“Gak apa-apa Bu, Ruby mau mencari sesuatu di sana.” Ruby langsung masuk ke kamar Tiara.
“Ibu mau keluar sebentar! Nanti kalau kamu mau balik jangan lupa kuncinya ditaruh di jemuran baju!” teriak ibunya dari ruang tamu, tapi tidak ada jawaban dari Ruby.
Ia kini sedang asik dengan pencariannya.
Matanya mengitari seluruh sudut ruangan milik Tiara. Kamarnya masih tertata rapi seperti dulu, mungkin hanya sedikit berdebu karena ibunya jarang membersihkannya.
Ia mencari di beberapa laci kemudian di lemarinya. Kemudian matanya tidak sengaja menemukan kotak kecil dengan gembok yang menggantung di sana.
Senyum licik Ruby tercetak jelas, ia yakin jika kotak itu terdapat rahasia milik Tiara dilihat dari bagaimana ia memasang kunci di kotak kecil berwarna cokelat tua.
Karena Ruby tidak sabaran, akhirnya dia lebih memilih untuk memecahkan gembok tersebut alih-alih untuk mencarinya terlebih dahulu.
“Aku yakin pasti kamu menyimpan sesuatu di sini Mbak,” gumam Ruby, ia tidak sabar dan langsung memecahkan gembok kecil itu dengan palu dalam sekali pukulan.
Saat ia membuka kotak usang tersebut, dia menemukan foto lama Tiara dan Samuel hingga beberapa lembar dan itu membuat Ruby harus kecewa.
“Sepertinya aku pernah bertemu dengan lelaki ini,” gumamnya. Ia nampak berpikir keras.
Karena foto tersebut diambil sudah sangat lama, hingga ia tidak menyadari jika pria dalam foto tersebut adalah Arga.
“Oh! Aku ingat sekarang!” pekik Ruby senang.
“Ini adalah pria yang pernah berkunjung ke rumah sakit waktu itu.” Ruby menemukan sebuah ide lagi dalam ketidaksengajaannya. Dia langsung melesat pergi ke rumah sakit saat itu juga dengan foto yang ia bawa.
Dia berencana akan mencari video rekaman di mana Arga sering mengunjungi Tiara saat dia masih di rumah sakit. Karena dia pernah ada dalam hidup Tiara jadi tidak mungkin jika lelaki itu hanya sekali saja menjenguknya selama koma di sana.
Dalam perjalanan Ruby sangat senang dan memikirkan jika rencana busuknya kali ini pasti akan berhasil. Tak hanya menghilangkan Tiara, tapi dia pasti akan bisa membuat kakaknya itu akan kembali dengan mantan kekasihnya, agar tidak menghalanginya untuk menjasi satu-satunya istri dalam rumah tersebut.
“Maaf Sus, kira-kira ingat gak dengan pria ini yang sering mengunjungi kamar kakak saya ketika masih dirawat di sini,” tanya Ruby pada salah satu perawat yang selalu mengurus Tiara.
Perawat itu mengamati foto yang dipegang oleh Ruby, dan wajahnya langsung cerah. “Oh Pak Arga? Iya dia memang sering mengunjungi Bu Tiara.”
Ruby langsung tersenyum lebar.
“Kira-kira berapa kali Sus?”
Perawat itu tidak tahu pasti. “Kalau berapa kalinya saya tidak begitu tahu, tapi saat Bu Tiara sudah mulai pulih Pak Arga sering ke sini dan mengajak jalan-jalan Bu Tiara dengan kursi rodanya,” jawabnya.
“Oke, terima kasih ya Sus.” Ruby langsung meninggalkan perawat tersebut yang masih kebingungan dia bergegas menuju ruangan CCTV dan meminta beberapa rekaman yang menunjukkan di mana Arga pernah ke sana menemani Tiara.
Awalnya dia kesulitan untuk meminta rekaman tersebut, tapi karena Ruby menyogok mereka dengan sejumlah uang akhirnya ia diijinkan juga untuk melihat rekaman CCTV tersebut.
Ruby memilih mencari tahu tanggal di mana Tiara sudah mulai sadar. Dan ternyata benar, Arga menemui Tiara setelah Samuel mengunjungi Tiara.
Ada juga rekaman Tiara dan Arga yang nampak mengobrol di taman rumah sakit dan itu bukti yang sangat dicarinya saat ini. Karena Samuel pasti akan murka karena hal itu.
Samuel itu tipe pria pencemburu, jadi pasti tamat riwayatnya jika ketahuan bersama dengan pria lain apalagi jika itu adalah mantan kekasihnya.
“Pak, tolong salin video ini untuk saya,” perintah Ruby, ia menyelipkan uang pada petugas tersebut.
“Baik.” Tanpa menunggu lama, Ruby mendapatkan apa yang diinginkannya saat ini yaitu bukti rekaman Arga dan Tiara. Foto masa lalu mereka berdua juga sudah ada di tangannya.
Dan kini tinggal saatnya dia mengirimkan bukti tersebut kepada Samuel dengan halus, agar suaminya itu tidak tahu jika Ruby yang mengirimkan foto dan video tersebut.
“Ok! Sudah selesai! Sekarang tinggal tunggu tanggal mainnya.” Ruby meninggalkan rumah sakit dengan langkah ringannya.
Karena dia besok ada jadwal penerbangan ke Paris maka dia akan meninggalkan Samuel untuk beberapa hari, dan mengingat akan hal itu membuatnya tak rela karena pasti Samuel akan ada di kamar Tiara dan tidur dengannya.
“Pokoknya aku harus bisa bekerja dengan tenang,” gumamnya.