
Ruby sudah mendapatkan apa yang ia cari untuk menyingkirkan Tiara. Dia mengirimkan file yang berisi video tersebut dan beberapa bukti foto yang menunjukkan jika Tiara masih berhubungan dengan matan kekasihnya yang tak lain adalah sahabat Samuel.
Setidaknya Ruby tidak begitu kejam, pikirnya. Karena bisa mengembalikan Tiara pada mantan kekasihnya yang masih memiliki perasaan kepadanya.
Bukankah itu lebih baik daripada dia menjanda jika bercerai dengan Samuel? Ruby tersenyum licik, lalu mengirimkan surat kaleng tersebut pada Samuel.
**
Malam harinya saat makan malam, Tiara tidak ada di meja makannya. Kata pembantu dia sedang tidak enak badan dan tidur di dalam kamarnya.
Tak ada satu pun yang peduli kecuali Samuel. Ia berdiri kemudian membawakan makanan ke dalam kamar istrinya tersebut.
“Mas, besok aku sudah mulai bekerja dan tidak di rumah selama beberapa hari, jadi aku harap malam ini kamu tidur di kamar kita.” Samuel melepaskan tangan Ruby yang menahan lengannya.
Samuel tidak menjawab, dia hanya melirik Ruby sekilas kemudian berlalu dari depannya.
Ruby tidak merasa keberatan karena berpikir mungkin saja itu adalah saat terakhir Tiara akan menghabiskan waktunya dengan Samuel. Sebab setelah ia mengetahui yang sebenarnya mungkin lelaki itu akan membuangnya begitu saja seperti sampah.
Senyum tersungging di bibirnya, membuat Bianca yang melihatnya merasa ada yang aneh dengan mamanya tersebut.
**
“Tiara, kamu sudah tidur?” tanya Samuel ketika masuk ke dalam kamar Tiara.
Tiara membalikkan tubuhnya dan mendapati Samuel masuk ke dalam kamarnya. Ia duduk dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Wajahnya memucat, tapi bukan karena sakit melainkan karena mendapati kenyataan jika dirinya bukanlah anak kandung dari kedua orangtuanya.
“Kamu gak apa-apa kan? Apa masih mikirin Bianca tadi pagi?”
Tiara menggelengkan kepalanya. “Bukan Mas,” jawabnya.
“Kalau begitu kamu makan dulu, biar gak sakit.” Samuel lalu menyuapi Tiara dan berbincang di dalam kamarnya.
Setidaknya saat ini ada Samuel yang menghiburnya.
“Malam ini aku akan tidur di sini ya,” pintanya. Padahal hal seperti itu ia tidak perlu meminta izin pada Tiara. Namun Tiara sadar jika Samuel bukan hanya miliknya saja melainkan juga milik Ruby
“Lalu gimana dengan Ruby?”
“Biarin aja,” jawab Samuel singkat. Ia sama sekali tidak tertarik dengan pembicaraan mengenai Ruby.
Setelah makanan dalam nampannya habis. Samuel meletakkannya di atas nakas, kemudian mengusap bibir Tiara yang masih ada sisa makanan dengan ujung ibu jarinya.
“Kamu kalau makan masih kayak anak kecil,” ledeknya.
Tiara hanya terkekeh. Pandangannya terpaku pada wajah Samuel yang semakin mendekati wajahnya.
Samuel memajukan lagi wajahnya, kemudian mengecup bibir Tiara perlahan. Saat wanita itu tidak menampakan adanya penolakan, Samuel akhirnya menginginkan hal yang lebih pada istrinya itu.
“Aku menginginkanmu malam ini,” bisik Samuel dengan mata sayu menatap Tiara.
Tiara mengangguk mengiyakan, karena jujur saja dia juga sudah merindukan belaian dari Samuel yang sudah lama tidak ia rasakan.
Lalu semua berlanjut, ketika tangan Samuel bergerak melepas satu persatu kancing baju milik Tiara, dan membiarkan tubuh kecil itu menampakan suatu keindahan di sana.
Keindahan yang sudah lama tak dijamah oleh Samuel. Lelaki itu mengecupnya dengan lembut, menggigitnya kecil-kecil hingga meninggalkan jejak kemerahan di sana.
Tiara memejamkan matanya, ketika merasakan sesuatu yang lembut dan basah mulai menyapu setiap jengkal tubuhnya. Malam itu dia benar-benar menginginkan yang Samuel mau.
Waktu berlalu sedikit cepat dan Samuel sudah mulai menguasai permainan. Ada rasa canggung ketika dia ingin memasukan suatu yang mengeras di bawah sana di titik kenikmatan Tiara.
**
“Ah! Pasti mereka sedang melakukannya di kamar Tiara,” umpat Ruby kesal. Waktu sudah menunjukkan pukul satu malam tapi Samuel tak kunjung kembali ke kamarnya. Padahal besok dia sudah harus berangkat ke Paris tapi Samuel sama sekali tidak peduli.
Ruby tidur memeluk gulingnya malam itu dan bersumpah jika dia akan segera menyingkirkan Tiara nanti.
**
Ia terkekeh tiap kali mengingat malam yang manis tadi malam. Dan jika bisa, ia ingin melakukannya setiap malam dengan Tiara.
“Kamu sudah bangun, Mas?” tanya Tiara. Ia mengerjapkan matanya dan melihat Samuel sudah rapi dengan kemeja kerjanya.
“Iya, aku akan berangkat kerja sekarang. Kamu jangan lupa sarapan ya.” Samuel berjalan menuju ranjang dan duduk di tepinya, lalu mengecup puncak kepala Tiara.
“Nanti malam aku akan tidur di sini lagi, karena Ruby tidak ada di rumah,” lanjut Samuel. Tiara menganggukkan kepalanya lalu menatap kepergian suaminya itu.
Ketika Samuel membuka pintu kamar Tiara, dia menemukan Ruby sudah berdiri di depan kamar Tiara dengan tangan bersilang di depan dada.
“Sedang apa kamu di sini?” tanya Samuel, ia menahan keterkejutannya melihat Ruby berada di sana tiba-tiba.
“Nungguin kamu, karena semalam kamu gak tidur di kamar jadi sebaiknya Mas antar aku ke bandara.” Ruby menarik paksa lengan Samuel dan memintanya untuk mengantarkannya menuju bandara.
“Iya, tapi lepasin dulu tangan kamu.” Samuel menarik tangannya kembali. Dia tidak menyadari jika Tiara sedang melihat pemandangan itu di depan kamarnya.
Tiara menghela napasnya, apakah salah jika dia menginginkan Samuel hanya untuk dirinya saja?
Ia melirik ke kamar Bianca, anaknya itu belum bangun dari tidurnya padahal hari ini dia harus sekolah. Ruby yang sibuk dengan pekerjaannya akhirnya melupakan Bianca hari itu.
Tiara membuka pintu kamar Bianca dan benar saja jika anaknya itu masih terlelap dalam tidurnya. Ia duduk di sampingnya dan memandang wajah anaknya itu dengan lekat.
Ia membelai lembut rambutnya dan tersenyum, kapan lagi dia bisa melihat Bianca sedekat itu?
Namun tiba-tiba Tiara terkejut ketika Bianca terbangun dan malah melotot ke arahnya.
“Bibi ngapain di kamar Bianca?”
“Oh, itu. Bukankah Bianca harus masuk sekolah hari ini?” tanya Tiara.
Bukannya menjawab dia malah langsung turun dari ranjangnya dan berlari ke kamar Ruby dan memanggil-manggil mamanya.
“Mama!” panggil Bianca tapi tidak menemukan Ruby di sana.
“Mama kamu sudah berangkat Bianca.” Tiara berdiri di ambang pintu kamar Ruby dan Samuel, ia melihat Bianca kecewa karena Ruby tidak berpamitan kepadanya.
“Mau Bibi antar ke sekolah?” Tiara menawarkan diri untuk mengantarkan Bianca ke sekolah. Mungkin saja dengan itu dia bisa menjadi lebih dekat dengan anaknya.
Bianca menggelengkan kepalanya.
“Kenapa?” tanya Tiara dengan lembut.
“Nanti Bibi ngasih makanan beracun lagi sama Bianca.”
Tiara kecewa mendengar kalimat tersebut keluar dari mulut Bianca, darimana dia bisa berpikiran jika Tiara memberikannya racun kepadanya.
“Maafkan Bibi ya, kemarin Bibi gak tahu kalau kamu ada alergi sama telur. Mulai sekarang Bibi akan hati-hati dengan makanan kamu.”
"Jadi, maafin Bibi ya."
Bianca mendengar penuturan Tiara yang lembut terdengar begitu tulus. Lalu sedikit tersenyum.
“Tapi janji ya Bi!” ucap Bianca.
Tiara mengangguk. Ia sedikit berjongkok agar matanya bisa memandang wajah Bianca dari dekat.
“Jadi gimana? Mau bibi antar ke sekolah?”
Bianca mengangguk. “Mandiin Bianca juga ya Bi.”
Tiara senang karena Bianca bisa ia luluhkan hatinya saat itu. Meskipun ia tidak memanggilnya dengan sebutan mama atau ibu tapi setidaknya itu bisa membuat hatinya terasa lega.