Married With Sister In Law

Married With Sister In Law
Ikhlas



Tiara duduk di tepi ranjangnya, menghadap jendela dan mengamati pemandangan di sekitar rumah sakit, tersenyum sedikit dan merasa bersyukur karena dirinya telah diberikan kesempatan untuk menjalani hidupnya lagi.


Kepalanya menoleh perlahan, ketika mendengar suara kamarnya dibuka oleh seseorang. Wangi parfum menguar ke dalam hidungya, senyumnya lalu berubah samar ketika melihat Samuel datang menjenguknya siang itu.


Samuel datang membawa beberapa buah kesukaan Tiara. Dia berjalan sembari tersenyum menatap istrinya yang keadaannya sudah semakin membaik.


CUP!


Samuel mengecup kening Tiara lalu mengusap rambutnya dengan lembut, membuat wanita itu merasakan sedikit rasa nyeri di dalam hatinya.


Ia tahu jika lelaki itu sebentar lagi bukan miliknya lagi.


“Mas,” panggil Tiara dengan suara pelan.


“Iya, kenapa Ra?” jawab Samuel, ia masih fokus dengan apel yang ada di tangannya, mengupasnya lalu memotongnya kecil untuk disuapkan untuk Tiara.


“Kamu kapan mau menikah dengan Ruby?”


Pertanyaan Tiara membuat Samuel menghentikan kegiatan mengupasnya, matanya masih tertunduk tidak berani menatap Tiara.


“Aku sudah tahu kok,” lanjutnya. Tiara mengalihkan pandangannya, ada raut wajah getir dalam mukanya. Dia merasa terkhianati.


“Kamu-- siapa yang bilang Ra?” tanya Samuel sedikit terbata, karena selama ini dia tidak pernah mengatakannya jika ia akan menikah dengan Ruby.


“Ruby, Ruby yang bilang padaku, kenapa kamu gak mengatakannya padaku? Kenapa harus menyembunyikannya dariku?”


Tidak ada jawaban dari Samuel, dia meletakan kembali apelnya lalu memeluk Tiara dari belakang. Wanita itu tidak dapat menolak pelukan yang Samuel berikan, dia terlalu rindu dengan pelukan itu. Pelukan yang sudah lama tidak dia rasakan.


“Maafkan aku Ra, aku cuma gak mau kamu sakit hati karena ini, aku berencana akan mengatakannya kalau kamu sudah pulih total.”


Tiara tersenyum miring, Samuel tidak menyadari itu. Tiara lalu melepaskan kalungan tangan dari Samuel.


“Tapi, aku gak mau menceraikan kamu, Ra?!”


“Terus kamu mau memiliki dua istri?”


Tenggorokan Samuel tercekat, lagi-lagi dia tidak bisa menjawab pertanyaan dari Tiara.


“Bianca, sudah menganggap Ruby sebagai ibunya, dan aku gak bisa terus membiarkan dia merengek meminta Ruby untuk tinggal di rumah keluargaku.”


Bianca, anak yang tak pernah dia lihat selama ini. Dia hanya mendengar cerita dari Ruby dan Samuel. Gadis kecil yang cantik mewarisi kecantikan ibunya. Namun sayangnya dia tidak tahu siapa sebenarnya ibu kandungnya karena sejak kecil Ruby yang telah mengurusnya, dan menganggapnya seperti ibunya sendiri.


Gadis itu bahkan tidak tahu, jika Tiara yang selama ini ia kunjungi di rumah sakit adalah ibunya. Dia hanya diperkenalkan pada Samuel dan Ruby jika Tiara adalah bibinya yang sedang tidur seperti puteri tidur.


Mendengar penjelasan itu membuat hati Tiara seakan tercabik-cabik. Anak yang telah dikandungnya dan ia nanti selama kehamilannya, tidak tahu jika dia adalah ibu kandungnya.


“Ceraikan saja aku Mas,” ucap Tiara kemudian.


Samuel membulatkan matanya, tidak percaya dengan apa yang ia dengar di telinganya. Tiara meminta untuk menceraikannya. Wanita yang selama ini ia cintai dengan sepenuh hati, akhirnya ia ingin lepas dari genggamannya.


DRRTT DRRTT


Ponsel Samuel bergetar, dan itu adalah telepon dari Ruby. Dia tidak mengangkatnya karena merasa tidak nyaman jika Tiara sampai mendengarkan percakapan mereka berdua.


“Angkat aja, aku gak apa-apa.”


Samuel menjawab telepon ragu-ragu. Matanya masih memandang Tiara yang ada di depannya.


“Papa!” teriak Bianca dari ujung telepon. Samuel menjauhkan teleponnya, melihat kembali untuk memastikan jika yang meneleponnya adalah Ruby.


“Bianca?” tanya Samuel terkejut.


Tiara langsung memandang Samuel dan seakan bertanya apakah dia Bianca anaknya?


Suara riang yang samar terdengar di telepon membuat Tiara penasaran. Ia ingin sekali mendengar suara anak tersebut untuk pertama kalinya.


Samuel menyalakan speaker ponselnya, agar Tiara bisa mendengarnya.


“Bianca lagi di mana?” tanya Samuel.


Ekspresi wajah Tiara berubah menjadi kecewa ketika Bianca menyebut kata mama untuk Ruby.


“Restoran di mana?”


“Deket kantor Papa!”


“Iya, nanti Papa ke sana ya,” ucap Samuel dengan lembut.


Tiara tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya, ia memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan dari Samuel.


“Maafkan aku,” bisiknya.


Samuel memeluk pundak Tiara dari samping. “Aku memang pria yang tidak tegas untuk mengambil keputusan, tapi aku berjanji akan mengatakan pada Bianca kalau kamu adalah ibu kandungnya.”


“Untuk apa? Bianca sudah terbiasa dengan Ruby, mana mungkin dia menerima kenyataan kalau aku adalah mamanya, yang selama ini tertidur di rumah sakit selama bertahun-tahun.” Mata Tiara berkaca-kaca, hanya itu yang bisa dilakukannya.


Samuel menatap bola mata Tiara secara bergantian. Sebenarnya rasa cintanya pada Tiara masih sama seperti dulu, jika saja ibunya tidak pernah memintanya untuk menikah dengan adik iparnya sendiri, mungkin semua tidak akan serumit ini.


Samuel mendekatkan wajahnya, dia menundukkan sedikit kepalanya lalu mengecup bibir mungil Tiara. Merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.


Tiara tak berdaya, jujur saja dia juga menginginkannya. Dia memejamkan matanya lalu menikmati sentuhan yang diberikan oleh Samuel.


Keduanya berpagut dalam kegalauan. Bercumbu dalam perasaan sakit hati yang mendera mereka berdua.


Tak bisakah datang kesempatan kedua? Tak bisakah Samuel hanya memiliki Tiara seorang? Namun akan menjadikannya seorang ayah yang egois karena mementingkan perasaannya sendiri.


Samuel melepaskan pagutannya, membelai lembut pipi Tiara yang basah karena air mata.


Sebentar lagi dia akan keluar dari rumah sakit setelah Ruby dan Samuel selesai menggelar acara pernikahan.


Meskipun berat, mau tidak mau Tiara memberikan izin pada Samuel untuk menikahi Ruby, semuanya demi Bianca.


**


Arga membuka dompetnya, menarik sebuah kertas poto kecil yang terdapat gambar Tiara sedang bersamanya. Tersenyum di depan kamera, ketika mereka berdua sedang menikmati semangkuk baso ketika pulang bekerja.


Foto lama yang sudah usang, dia masih menyimpannya meski Tiara dulu sudah menikah dengan Samuel.


Ia tersenyum melihat foto tersebut. Foto di mana ketika dia masih berpikir jika materi bukanlah segalanya dan dia bisa membahagiakan Tiara hanya dengan cintanya.


Masih teringat jelas jika dulu dia sempat ingin melamar Tiara. Namun ia mengurungkannya lantaran mendengar langsung jika Samuel menyatakan perasaannya kepada Tiara.


Dia mundur secara teratur, mulai menjauhi Tiara dengan berbagai alasan agar wanita itu mau berpisah dengannya.


Tidak ada maksud buruk dari Arga, ia hanya ingin Tiara bahagia dengan Samuel tanpa kekurangan apa pun.


Ia tahu jika selama ini perekonomian keluarga Tiara adalah dia yang menanggungnya. Ia bahkan tidak sempat memikirkan dirinya sendiri demi untuk dapat menguliahkan adiknya, Ruby.


“Apakah aku bisa memilikimu lagi?” gumam Arga, dia kemudian memasukan foto itu ke dalam dompetnya.


Samuel.



Tiara



Arga



Ruby



Jangan lupa like dan komen ya!😍💙