
"Ruby, ibu mau ngomong sama kamu sebentar," ucap ibu Ruby ketika dia baru saja sampai rumah.
Setelah membantu Samuel menyiapkan untuk ulang tahun anaknya, akhirnya dia kembali diantarkan oleh kakak iparnya tersebut pada pukul delapan malam.
"Ada apa Bu?" tanya Ruby, ia melepaskan jaketnya kemudian menyampirkan di sebuah kursi.
"Hubungan kamu sama Samuel itu apa sebenarnya?"
Ruby mendadak beku, ia tidak tahu harus menjawab apa pertanyaan dari ibunya tersebut.
"Memangnya kenapa Bu?" Ruby malah bertanya balik kepada ibunya.
"Kamu, ibu lihat-lihat sudah beberapa tahun ini selalu menolak lamaran dari pria, apa kamu suka sama Samuel?"
Ruby memang sudah sering ada yang melamar, namun wanita itu menolak dengan alasan jika dirinya belum siap. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah karena wanita itu menyukai kakak iparnya sendiri.
"Besok ada lelaki yang mau lamar kamu, namanya Riki dia kerja di salah satu Bank swasta. Ibu harap kamu mau nerima lamaran dia."
"Bu?!" protes Ruby. "Ruby udah dewasa dan malahan udah tua, masa' harus pakai cara ini?"
"Soalnya kalau gak dijodohin kamu gak bakal nikah, inget umur kamu sudah mau tiga puluh tahun. Dan kamu nunggu apa lagi? Emang kamu mau ngurusin anaknya Tiara terus? Mau sampai kapan?"
"Kasih Ruby waktu Bu," ucap Ruby.
"Waktu untuk apa?"
"Ruby mau nikah sama Samuel," jawabnya. Membuat ibunya itu menatap tidak percaya kepadanya.
"Sudah ibu duga, kalau kamu menyukai kakak iparmu sendiri. " Ibunya menggelengkan kepalanya, entah apa yang disukai dari Samuel hingga membuat Ruby seperti ini. "Ingat sama kakakmu Ruby."
"Tapi 'kan Mbak Tiara gak sadar sampai sekarang? Lagian ibunya Samuel juga udah setuju kalau Ruby jadi ibunya Bianca."
"Ya udah kalau gitu, minta Samuel kepastian, kalau gak, ibu mau kamu nikah sama Riki titik!" ibu Ruby menutup pintu dengan kasar. Anaknya itu tidak pernah mendengarkan apa katanya. Dia selalu menuruti kata hatinya sendiri.
Ruby merebahkan tubuhnya di kasur, ia menatap langit-langit kamarnya dan membayangkan waktu dulu, saat Samuel dan Tiara menjadi pengantin baru.
Ruby sangat ingat jika lelaki itu sangat menyayangi kakaknya. Bahkan hubungannya yang sempat ditentang oleh orangtua Samuel akhirnya direstui juga.
Ia tahu alasan orangtua Samuel menentang hubungan Tiara dan Samuel, karena Tiara hanyalah karyawan biasa, sedangkan Samuel adalah atasannya yang jabatannya jauh tinggi darinya.
Padahal Tiara tidak bisa kuliah lantaran ia ingin bekerja untuk membiayai biaya sekolah adiknya yaitu Ruby, yang kini berhasil menjadi seorang pramugari.
Biaya yang dibutuhkannya sangat besar, hingga Tiara harus mengalah dan membiayai pendidikan adiknya tersebut.
Waktu itu ...
"Mbak, Ruby mau jadi pramugari, jadi Ruby mau masuk sekolah pramugari," ucapnya waktu itu.
"Tapi ibu pasti gak punya uang sebanyak itu." Tiara menatap adiknya tersebut, ia memang sudah lama ingin sekolah khusus pramugari. Karena menjadi pramugari adalah cita-citanya sejak kecil.
"Mbak Tiara kan udah kerja jadi bisa dong bantuin biayain aku. " Ruby adalah anak kedua, jadi ia sudah terbiasa dimanja oleh kedua orangtuanya sebelum pada akhirnya ayahnya meninggal hingga semua beban hidup keluarga yang menanggung adalah Tiara.
Tiara menghela napasnya. "Ya udah Mbak usahain."
"Bener ya Mbak?!" teriaknya senang. Dan saat itulah Tiara lebih memilih untuk tidak melanjutkan kuliah dan bekerja untuk membiayai pendidikan adiknya tersebut.
Ia merasa bertanggung jawab atas pendidikan adiknya itu setelah ayahnya meninggal karena sakit jantung. Sedang ibunya, ia hanyalah ibu rumah tangga biasa yang tidak memiliki penghasilan tetap.
Namun setidaknya, setelah kedua anaknya sudah bekerja, hidup mereka bisa menjadi lebih baik lagi.
"Nek! Kenapa sih mama gak pernah mau tinggal dengan kita?" tanya Bianca pada ibu Samuel saat di meja makan.
"Tanya aja sama papa kamu, minta sama papa buat ajak mama tinggal di sini," jawab ibunya yang secara tidak langsung meminta Samuel untuk segera menikah dengan Ruby.
"Bu, jangan bicarain masalah ini di meja makan," ucap Samuel.
Dia selalu merasa tertekan tiap kali ibunya selalu membahas pernikahannya dengan Ruby.
"Memangnya mau nunggu sampai kapan lagi? Sampai Tiara sadar? Belum tentu Bianca juga mengenal dia."
Samuel meletakan kembali sendoknya, selera makannya tiba-tiba menghilang karena perkataan dari ibunya.
Andai saja dari awal jika ia tidak membohongi dengan mengatakan jika Ruby adalah ibunya mungkin keadaan tidak akan serumit ini.
"Tante Tiara maksud nenek?" tanya Bianca, membuat Samuel selalu merasa sakit tiap kali mendengar anaknya itu memanggil Tiara dengan sebutan tante.
"Papa berangkat kerja dulu ya Bianca, jangan nakal di sekolah." Samuel mengecup pipi anaknya kemudian berangkat kerja ke kantornya.
Saat di perjalanan, Samuel mendapatkan pesan dari Ruby yang mengatakan jika dirinya saat ini sedang berada di lobby kantornya dan ingin menemuinya pagi itu.
Ia ingin mengatakan hal penting kepada Samuel, entah tentang apa namun dia tidak memberitahukannya sekalian. Dia hanya akan membicarakannya secara langsung di kantornya.
"Mas!" sapa Ruby, ia berdiri ketika melihat lelaki itu sudah berjalan masuk ke lobby.
"Bicara di ruanganku aja ya," ucap Samuel, ia mengajak Ruby untuk berbicara di ruangannya.
Ruby hanya menurut kemudian mengekor di belakang Samuel. Ia sebenarnya ragu akan mengatakan hal tersebut pagi itu. Namun dia juga tidak tahu harus bagaimana lagi setelah mendapatkan desakan untuk segera menikah dengan pria lain.
"Ada apa By?" tanya Samuel, ia mempersilakan Ruby untuk duduk di sofa yang ada di tengah ruangan.
"Aku disuruh menikah dengan ibu Mas," jawabnya. Ia mengatakannya langsung tanpa babibu lagi.
Kening Samuel mengerut, tak mengerti ke mana arah pembicaraannya saat ini. "Lalu?"
"Kalau aku menikah dengan pria itu, otomatis aku udah gak bisa mengurus Bianca lagi," ucapnya, dia menatap mata Samuel, berharap jika lelaki itu akan berubah pikiran.
"Jadi, kamu ingin kita menikah seperti kata ibuku?" tanya Samuel.
Ruby mengangguk mantap, tak ada hal yang harus ia sembunyikan lagi dari perasaannya. Karena ini sudah keputusan terakhirnya.
Samuel menyandarkan punggungnya di sofa, jujur saja, ia juga membutuhkan Ruby untuk Bianca, namun untuk menikah dengannya? Ia ragu, karena Tiara mungkin saja masih bisa sadar kapan saja.
"Aku menyukaimu Mas, makanya aku bisa mengatakan hal ini. Aku menghabiskan tujuh tahunku hanya untuk membantu mengurus Bianca, karena aku menyukaimu dan menyayangi Bianca."
"Terus bagaimana dengan kakakmu? Apa kamu gak kasihan dengannya?"
"Lalu selama tujuh tahun itu, apa kamu gak kasihan padaku? Apa kamu gak kasihan dengan Bianca yang sudah menganggap aku sebagai ibunya, bagaimana jika dia melihatku menikah dengan pria lain?"
Samuel diam, ia mengerti apa maksud dari perkataan Ruby. Namun saat ini Tiara masih belum sadar, ia takut jika suatu hari nanti Tiara sadar dan mendapati suaminya itu sudah menikah lagi dengan wanita lain yang tidak lain adalah adiknya sendiri.
"Jadi bagaimana? Aku diberi waktu ibuku selama seminggu. Jika gak ada jawaban, maka aku mau tidak mau harus menerima perjodohan tersebut."
Samuel mengurut keningnya yang pusing. Ia menatap Ruby, dia tidak pernah memiliki perasaan sedikit pun pada perempuan itu. Namun sekarang dia dihadapkan pada sebuah pilihan, menikah dengannya atau kehilangan dirinya sebagai mama Bianca.
"Berikan aku waktu untuk berpikir," jawab Samuel.