
Seorang lelaki tengah menatap pilu perempuan yang kini terbaring di atas brankar. Sudah tujuh tahun berlalu namun dia masih setia mengunjungi istrinya yang koma.
Karena kecelakaan mobil waktu itu, membuatnya tidak sadar hingga selama ini.
Setiap hari dia selalu mengunjunginya berharap jika akan ada keajaiban terjadi pada istrinya tersebut.
"Apa kamu gak mau bangun?" tanya Samuel dengan suara lirihnya. Tangannya mengenggam erat tangan istrinya yang mungkin tidak bisa mendengarkan apa-apa.
"Anak kita sudah berusia tujuh tahun, dan besok adalah ulang tahunnya. Apa kamu gak mau melihat dia, Tiara?"
Perempuan itu bernama Tiara, ia terlibat dalam kecelakaan mobil yang terjadi tujuh tahun lalu. Saat itu dia tengah mengandung anaknya tapi untung saja bayi yang ada di dalam perutnya bisa diselamatkan hingga kini telah berumur tujuh tahun.
"Papa! Papa!" panggil seorang anak kecil yang bernama Bianca.
Samuel langsung menoleh ke arah anaknya yang datang bersama dengan Ruby, adik kandung Tiara.
"Papa, ayo pulang," ajak Bianca. Ia melihat sosok Tiara dengan bingung. "Kenapa papa harus ke sini untuk menjenguk tante ini?" tunjuk Bianca, dia sama sekali tidak tahu jika yang berbaring di sana adalah ibu kandungnya sendiri.
Samuel merasa bersalah pada Tiara dan Bianca karena menyembunyikan identitas ibu kandungnya. Itu pun juga karena perintah dari keluarganya, agar Bianca tidak bersedih melihat keadaan ibunya.
"Mas, ayo kita pulang, masih banyak yang harus diurus untuk ulang tahun Bianca besok," ucap Ruby pada Samuel.
"Ayo Pa! Mama juga mau pulang!" Bianca menarik lengan Samuel dan menatap Tiara dengan sedih.
Bagaimana jika Tiara mendengar jika Bianca memanggil Ruby dengan sebutan mama?
"Iya, Bianca, sabar dulu ya, papa pamitan dulu sama tante," ucap Samuel dengan lembut. Ia belum puas menemui istrinya tersebut.
Ruby yang mengerti langsung mengajak Bianca untuk keluar dari ruangan Tiara, dan meninggalkan Samuel di sana.
"Bianca, kita beli es krim yuk," bujuk Ruby, dan Bianca langsung setuju.
"Tolong jaga Bianca dulu, aku masih ingin di sini sebentar lagi."
Ruby mengangguk kemudian membawa Bianca pergi.
Sekilas dia melihat jika kakak iparnya itu masih menyayangi istrinya, meskipun dia sudah koma selama tujuh tahun lebih.
Bahkan hingga sekarang, dia tidak pernah ada niatan untuk menikah lagi dengan alasan masih mencintai Tiara.
Sedangkan Ruby? Yang selama ini ikut membantu mengurus Bianca dia lama-lama jatuh cinta dengan Samuel dan hal itu diketahui oleh ibu dari Samuel.
"Apa kamu menyukai Samuel?" tanya ibu Samuel saat itu.
Ruby tidak menjawab, namun dari ekspresinya sudah dapat ditebak jika dia memang menyukai Samuel.
"Kenapa kamu gak nikah aja sama Samuel? Ibu setuju aja kalau kamu menikah dengan Samuel."
Itu sudah seperti lampu hijau untuk Ruby, setelah mendapatkan restu dari ibu Samuel.
"Lalu bagaimana dengan Mbak Tiara? Kalau nanti dia sadar bagaimana Bu?" tanya Ruby.
Ibu Samuel tidak menjawab, dia juga bingung harus bagaimana, karena sudah selama tujuh tahun dia tidak menampakkan kondisi yang lebih baik.
Bahkan keluarga dari Tiara sudah meminta kepada dokter untuk memberikan euthanasia atau suntik mati pada Tiara namun Samuel menolaknya. Dia tidak ingin istrinya itu mati begitu saja setelah berjuang selama tujuh tahun.
Samuel memiliki keyakinan jika nantinya Tiara akan sadar dan kembali normal seperti dulu kala.
"Ma, kenapa tadi papa deket banget sama tante itu sih?" Pertanyaan dari Bianca membuat Ruby tersadar dari lamunannya.
"Papa kan orang baik, Bianca." Hanya itu alasan yang ia berikan pada Bianca. "Besok Bianca ulang tahun mau hadiah apa dari mama?" tanya Ruby, ia berjongkok demi menyejajari pandangan Bianca.
Dia tidak mungkin tinggal dengan Samuel karena mereka belum menikah, dan lagi sepertinya pernikahan tersebut tidak akan pernah terjadi karena selama ini Samuel hanya menganggapnya sebagai adik ipar tidak lebih.
"Yang lain, ada gak?" tanya Ruby, ia tidak bisa menyanggupi permintaan Bianca.
"Kenapa? Apa mama gak bisa tinggal di rumah papa? Mama kan istri papa?" Bianca merajuk pada Ruby.
"Ada apa ini?" tanya Samuel yang datang dari belakang mereka. Ia langsung menggendong Bianca yang nampak ngambek pada Ruby.
"Papa, apa mama gak bisa tinggal dengan kita?" tanya Bianca, Samuel menatap tak enak pada Ruby.
"Gak boleh?" tanya Bianca mengulangi.
Samuel bingung harus menjawab apa pada Bianca, sulit bagi anak kecil untuk mengerti keadaan mereka saat ini.
"Bianca, gimana kalau kita siap-siap untuk pesta ulang tahun kamu besok?" Samuel mengalihkan pembicaraanya dan untungnya Bianca langsung lupa dengan keinginannya tadi.
Ruby melihat punggung kakak iparnya tersebut, dia menatapnya dengan sedih karena ternyata dirinya belum bisa masuk ke dalam hati Samuel meskipun ia sudah banyak berkorban untuknya.
Sudah banyak yang dilepaskan wanita itu termasuk kekasihnya yang dulu sempat ingin melamarnya. Namun ditolak Ruby karena dia ingin membantu Samuel mengurus Bianca.
Kini Ruby sendiri, dia tidak memiliki kekasih. Dia memutuskan untuk hidup sendiri sementara waktu, menunggu sampai kapan Samuel akan membuka hatinya untuknya.
"Mama, ayo!" Bianca melambaikan tangannya pada Ruby, kemudian perempuan itu langsung menyusul Samuel.
Andai saja Samuel mau melepaskan Tiara, mungkin Ruby tidak akan segalau ini.
"Kamu sudah makan?" tanya Samuel pada Ruby.
"Belum Mas," jawabnya pelan.
"Kalau gitu kita makan dulu ya, setelah itu kita tinggal ngurus ulang tahun Bianca."
Ruby mengangguk. Jika saja dia bisa mengungkapkan perasaan yang ia rasakan saat ini kepada Samuel, namun ia lebih memilih untuk memendamnya.
"Kenapa Bu?" tanya Ruby saat menerima telepon dari ibunya.
"Kamu lagi di mana?"
"Di rumah sakit jenguk mbak Tiara," jawabnya. Ia memandang Samuel yang kini tengah menatapnya.
"Jam berapa pulang? Ada yang mau ibu bicarakan sama kamu."
Ruby nampak berpikir. "Nanti sore paling, mau bantuin ngurus ulang tahun Bianca dulu."
"Ya udah." Kemudian ibunya menutup teleponnya.
"Disuruh pulang sama ibu?" tanya Samuel, Ruby mengangguk kemudian memasukan ponselnya ke dalam tasnya.
"Mau dijodohin lagi?" tanya Samuel sambil terkekeh. Ia tahu jika Ruby sering kali dikenalkan banyak pria oleh ibunya, namun ditolak olehnya.
"Iya, ibu mau aku segera menikah."
"Lalu kamu nunggu apalagi?" Samuel memang tidak peka, padahal selama ini Ruby menunggu lelaki itu untuk membuka hati untuknya.
"Kalau aku menikah dengan pria lain, apa Bianca gak apa-apa?" tanya Ruby.
Bianca langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung.