Married With Sister In Law

Married With Sister In Law
Aku Mohon



Samuel melihat perubahan dari konisi Tiara. Jarinya sudah mulai bergerak meskipun itu hanya sedikit saja. Ia memiliki harapan yang tinggi untuk kesembuhan wanita yang masih menjadi istrinya tersebut.


"Aku harap kamu lekas sadar dan bisa melihat anak kamu yang sudah tumbuh besar dengan baik," ucap Samuel lirih, ia tidak sadar jika Ruby ada di sudut ruangan dan mendengarkan kalimat yang terucap dari bibir Samuel.


Ia sama sekali tak dipedulikan oleh lelaki itu sejak dia berada di samping kakaknya. Bahkan waktu terus bergulir hingga jarum jam sudah berhenti tepat di angka sebelas.


Ruby sebenarnya sudah mengantuk, tapi dia tidak bisa pulang sendirian tanpa Samuel karena bisa-bisa dia akan tinggal semalaman di sana.


Arga yang tadinya hendak menjenguk Tiara mengurungkan niatnya, dia lebih memilih untuk kembali pulang ke rumah. Mendengar keadaan Tiara menjadi lebih baik, itu sudah lebih dari cukup baginya.


"Mas, aku sudah bosan, tak bisakah kita pulang sekarang?" tanya Ruby ia mendekat ke arah Samuel.


Mata Ruby memicik sinis ke arah kakaknya. Sungguh wanita itu benar-benar tahu momen yang tepat untuk menghancurkan rencana pernikahan mereka. Kenapa tidak nanti saja ketika mereka berdua sedang bulan madu dan Tiara baru sadar? Pikiran itu berputar di kepala Ruby.


"Kamu pulang naik taksi aja ya, aku mau nunggu Tiara di sini."


Ruby memutar bola matanya, benar dugaannya jika Samuel akan di sana dan menemani Tiara.


"Bukan masalah taksi Mas, tapi—"


Ruby malas berdebat lalu akhirnya lebih memilih untuk pulang ke rumah sendirian dengan taksi. Percuma baginya untuk membujuk lelaki itu karena sudah jelas dia akan lebih memilih terjaga di sana semalaman dan menunggu Tiara hingga sadar.


**


"Kamu serius mau nikah dengan Samuel?" tanya ibu Ruby ketika melihat kedatangan anaknya tengah malam.


Ibunya belum tahu jika Tiara sudah sadar saat ini, kalau dia tahu pasti Ruby dilarang menikah dengan Samuel.


"Kenapa ibu nanya begitu sih? Kan udah jelas tanggal pernikahan aku sama Samuel bulan depan," ucapnya setengah kesal.


Meski usianya sudah bukan remaja lagi, tapi dia masih sering merajuk pada ibunya. Bahkan sikap kekanak-kanakannya terkadang masih muncul, tapi dia selalu pandai menyembunyikannya di depan Samuel agar lelaki itu hanya tahu image-nya yang baik.


"Kalau kakakmu tiba-tiba sadar gimana?" Ibunya membuka pintu kamarnya. Ruby kesal karena ibunya itu masih saja membahas Tiara.


Sudah cukup baginya tadi melihat Samuel begitu perhatian pada kakaknya dan mengabaikan di rumah sakit selama tiga jam lebih.


"Bu, gimana kalau kak Tiara sadar? Misalnya, maksudku," tanya Ruy tiba-tiba. "Aku masih ingin menikah dengan Samuel, ibu akan tetap ada di pihakku kan?"


"Kamu ngomong apa sih, memangnya Tiara saat ini sudah sadar?" Ibunya malah berbalik bertanya pada Ruby, ia tahu jika kecil kemungkinan kalau anak sulungnya itu akan sadar kembali.


"Kan misalnya Bu."


"Memangnya kamu gak ada pria lain yang bisa kamu nikahi?" Setelah itu ibunya meninggalkan kamar Ruby. Ia tidak ingin menjawab apapun itu.


Ruby memandangi langit-langit di kamarnya. Dia memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa tetap menikahi kakak iparnya tersebut meskipun Tiara sudah sadar.


"Apa aku harus membunuh Mbak Tiara?" gumamnya tapi untung saja akal sehatnya langsung kembali seketika. "Ah, gak boleh, aku gak boleh jadi pembunuh."


"Tapi gimana ya?" Setelah lama dia hanyut dalam ide-ide gilanya akhirnya Ruby tertidur malam itu.


**


Jika bisa dikatakan, Tiara saat itu jauh dari kata menarik apalagi cantik. Terbaring di sana begitu lama membuat anggota tubuhnya tidak bergerak dan berfungsi dengan baik, kini yang bisa ia lakukan hanyalah memandang seorang gadis yang duduk di sebelahnya.


Pendengarannya sudah berfungsi dengan baik jadi dia bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Ruby saat itu.


"Mbak," panggil Ruby pelan. Dia mengelus lembut punggung tangan kakaknya itu. Kakak yang sudah banyak mengorbankan waktunya hanya untuk membiayai sekolahnya hingga bisa membuatnya berada di atas lebih tinggi dari Tiara.


Tiara meremas tangan Ruby, ia dapat mendengarkan panggilan itu.


"Aku mau menikah sama Mas Samuel," ucapnya selanjutnya. Ia mengatakan hal itu seakan minta ijin pada Tiara untuk menjadi ibu pengganti Bianca.


"Mbak gak tahu kan kalau Bianca sudah menganggap aku seperti ibunya sendiri."


"Oh ya aku lupa. Anak Mbak sama Mas Samuel namanya adalah Bianca."


Tiara diam, tapi dalam hatinya ia menahan rasa sakit yang begitu dalam. Dia sangat terluka mendengar kalimat yang diucapkan oleh Ruby saat itu. Bagaimana dia bisa melakukan hal ini kepadanya?


Mengapa ia tega menusuk Tiara dari belakang? Padahal dia sendiri tahu kalau Tiara sangat mencintai Samuel begitu pun lelaki itu.


"Jadi, aku mohon ikhlaskan Mas Samuel ya Mbak, biarkan aku sama Mas Samuel bahagia dengan pernikahan kami nanti."


Genggaman tangan Tiara mengendur seiring kalimat-kalimat yang meluncur dari mulut Ruby.


"Aku tahu Mbak, kamu mau Mas Samuel dan Bianca bahagia. Dan kamu tahu kan? mbak Tiara udah gak bisa kayak dulu lagi." Ucapan dari Ruby seakan membantingnya hingga jatuh ke bawah, setelah ia tersadar dari komanya.


"Jadi aku mohon restui pernikahan kami ya. Aku janji akan jadi istri yang baik dan ibu yang baik untuk Bianca."


Ruby berdiri, kemudian dia pergi meninggalkan Tiara yang tak berkutik. Dia tidak bisa mengatakan apa-apa. Bicara pun dia masih nampak kesulitan.


Tapi dari air mata yang menetes dari sudut mata Tiara, semua pasti tahu jika Tiara saat ini merasakan sakit hatinya sendirian.


Tak berselang lama Ruby pergi, Samuel datang dengan membawakan bunga lavender kesukaan Tiara.


Saat masuk ke dalam kamar Tiara, lelaki itu sempat mengecup kening Tiara dan meletakan ikatan bunga itu di dalam vas di samping ranjang wanita yang masih sah menjadi istrinya itu.


Samuel tak sengaja melihat pipi Tiara yang basah kemudian mengusapnya dengan sapu tangannya.


"Kamu kenapa?" tanya Samuel dengan lirih. "Terima kasih karena kamu telah kembali, terima kasih Tiara." Samuel tersenyum kepada Tiara.


Namun dia tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran wanita yang ada di depannya itu.


Dia sangat kecewa sedih dan marah, tapi tak bisa ia katakan sekarang.


Tiara memalingkan wajahnya, menyembunyikan raut wajah kesedihannya. Ia hanya berpikir mengapa Samuel mengucapkan terima kasih kepadanya jika akhirnya dia memilih untuk menikah dengan adiknya?