Marriage Is A Crazy Lie

Marriage Is A Crazy Lie
Episode 9



...MARRIAGE IS A CRAZY LIE...


.


.


.


4 hari kemudian...


Aaron kini sudah sembuh dan aktif kembali dengan aktivitas sehari hari serta sibuk mengurus pekerjaan. Aaron juga selama itu sudah tidak lagi menghubungi Innara.


Malam itu Aaron baru saja selesai menikmati makan malam nya bersama Weena.


"Aaron apa hubunganmu dengan Innara baik baik saja!." Tanya Weena secara tiba tiba.


Aaron terdiam sejenak untuk berpikir sambil mengunyah buah apel.


"Baik baik saja bu, memangnya kenapa?." Tanya Aaron penasaran.


"Besok ibu ingin belanja tapi tidak ada yang menemani ibu, bisa kah Innara menemani ibu besok?." Ucap Weena.


Aaron mengerutkan keningnya, apakah ibunya sudah benar benar setuju dengan Innara dan sudah melupakan niatnya dengan Liora.


"Tumben sekali ibu, kenapa tidak Liora yang menamani ibu belanja?." Tanya Aaron kembali mengunyah buah apel dengan cuek.


"Apa salahnya ibu ingin lebih dekat dengan Innara nak, bolehkan?." Tanya Weena dengan wajah meyakinkan Aaron.


Aaron berpikir beberapa saat karena dia tidak mudah percaya dengan ibunya itu, pasti di balik ini semua ada niatan yang ibu rencanakan padanya.


"Baiklah bu." Sahut Aaron saat selesai berpikir.


"Terima kasih ya nak." Sahut Weena tersenyum manis pada Aaron.


****


Sedangkan di tempat lain


Innara baru saja pulang dari tempat kerjanya sekitar pukul 22:00 malam.


"Huftt lelah sekali hari ini." Ucap Innara merentangkan ototnya.


"Alhmdulillah aku sudah tidak punya hutang lagi, masih ada tabungan di atmku 100 juta lagi, aku buat usaha kali ya." Pikir Innara.


"Ternyata pusing ya jika terlalu banyak uang, entah mau apakan uang itu." Sahut Innara menepuk keningnya.


.


.


...****************...


Keesokan harinya di pagi hari Innara sudah membereskan pekerjaan rumah dimulai dari mencuci pakaian, mencuci piring, mengepel lantai, setelah itu mandi.


Beberapa menit kemudian setelah Innara baru saja menyelesaikan ritual mandinya, tiba tiba ada yang mengetuk pintu kontrakan nya.


Tok!


Tok!


Tok!


"Sebentar." ucap Innara lalu membuka knop pintu.


Saat Innara membuka pintu ia membelalakan matanya karena yang datang adalah Glenn.


"Selamat pagi nona." Sapa Glenn membungkukan badan nya.


"S-selamat pagi tuan." Sapa Innara terbata bata dan membungkuk


"Ada apa ya tuan?." Tanya Innara berseringai kebingungan.


"Ada yang harus saya sampaikan kepada nona dari tuan Aaron." Ucap Glenn


Mendengar kata Aaron hati Innara begitu berdebar debar.


"Ahh iya tuan bagaimana?." Tanya Innara dengan mata berbinar binar.


"Tuan Aaron menginginkan anda menemani nyonya besar untuk berbelanja hari ini." Ucap Glenn.


Innara terdiam berpikir beberapa detik.


"Menemani nyonya besar?." Ucap Innara mengulanginya tak percaya.


"Betul nona, dan tuan Aaron akan memberimu upah setelah itu." Ucap Glenn.


"T-tapi hari ini aku tidak bisa karena harus bekerja." Sahut Innara dengan raut sedih.


"Tenang saja, aku sudah meminta izin pada managermu." Ucap Glenn.


"Apa? Kenapa mendadak sekali tuan." Tanya Innara


"Karena acaranya juga mendadak nona." Sahut Glenn.


"Hmm baiklah, tunggu sebentar aku siap siap dulu." Ucap Innara.


"Jangan terlalu rapi nona, karena kita akan ke pergi butik dan salon sebelum ke mansion." Sahut Glenn.


"Hmm baiklah." Sahut Innara pasrah.


Singkat kemudian matahari kini sudah berada di pucuk kepala dengan terik menyinari muka bumi.


Innara kini sudah selesai berdandan dengan memakai dress berwarna putih tulang serta rambut di tata rapi dan dihiasi jepit indah.


"Bagaimana penampilanku tuan?." Tanya Innara pada Glenn.


"Aku tidak bisa berkata apa apa selain kata sempurna nona." Sahut Glenn menggombal.


Innara pun tertawa ringan mendengar gombalan Glenn.


"Jangan panggil aku tuan, panggil saja Glenn nona." Ucap Glenn.


"Baiklan, Glenn. Dan panggil saja aku Innara karena aku bukan nona mu." Sahut Innara kembali.


"Maaf aku tidak bisa nona." Ucap Glenn.


Innara mengerutkan alisnya.


"Kenapa?." Tanya Innara.


"Mari kita pergi nona, nyonya besar sudah menunggu mansion." Ajak Glenn mengalihkan pembicaraan.


"Apakah tuan Aaron ada di mansion?." Tanya Innara.


"Tidak, tuan sangat sibuk dan ia sekarang sedang meeting di kantor." Sahut nya


Innara berubah menjadi wajah sedikit cemberut tenryata Aaron tidak ada di mansion.


Glenn baru saja memakirkan mobil nya di mansion pribadi Alberntino.


"Selamat siang tante." Ucap Innara yang baru saja masuk dan memberikan salam pada Weena


"Selamat siang juga." Sahut Weena tersenyum menerima salam Innara.


"Kita berangkat langsung saja, apa kau bisa menyetir mobil?." Tanya Weena pada Innara


Innara terdiam sejenak.


"Emm..."


"Mohon maaf nyonya, tapi tuan muda memerintahkan saya agar nona Innara tidak boleh menyetir karena dia baru saja sembuh." Ucap Glenn.


"Ohh ya sudah tidak apa apa, kita akan berangkat dengan pak Bahar saja, jadi Glenn kau tidak usah mengantarkan kami." Ucap Weena, pak Bahar adalah supir pribadinya Weena.


"Mohon maap nyonya, tapi saya harus mengantarkan nona Innara sampai tujuan atas perintah tuan Aaron." Ucap Glenn.


Weena pun menahan kekesalan nya.


"Ya sudah tidak apa apa kita berangkat bersama Glenn saja kalau begitu." Ucap Weena pasrah.


"Baik nyonya, silahkan." Glenn mempersilahkan Weena dan Innara masuk ke dalam mobil.


.


.


...****************...


20 menit menempuh jarak dari mansion ke mall, kini mobil sport itu sudah sampai di tujuan.


"Terima kasih Glenn sudah mengantarkan kami." Ucap Weena saat baru saja turun dari mobil.


"Sama sama nyonya, jika ingin pulang hubungi saya saja." Sahut Glenn.


"Baiklah, yuk kita masuk sekarang." Ajak Weena pada Innara.


"Ayo tante, Glenn terima kasih ya aku pergi dulu." Ucap Innara tersenyum.


"Hati hati nona." Sahut Glenn dengan ramah.


Innara pun masuk ke dalam mall dengan Weena.


Di setiap jalan Innara dan Weena beriringan menelusuri mall tanpa ada pembicaraan sepatah pun. Beberapa kali Innara bertanya untuk memulai obrolan tetapi Weena tidak menjawabnya sama sekali.


Weena pun berhenti sambil memaninkan ponselnya.


"Tante, kenapa kita berhenti disini?." Tanya Innara.


"Jangan banyak bertanya, nanti juga kau mengetahuinya." Ucap Weena dengan sinis.


Innara pun terdiam menundukan wajahnya.


10 menit kemudian Innara dan Weena yang masih stau berdiri disana, namun tiba tiba ada suara cempreng yang memanggil Weena.


"Tante!." Ucap wanita cantik berpakaian rok mini itu.


Innara dan Weena seketika menoleh ke sumber suara tersebut.


"Hai sayang!." Pekik Weena sambil melambaikan tangan nya dengan wajah yang berbinar.


Liona pun menghampiri Weena dan mereka kemudian cepika cepiki dengan sangat akrab.


"Maafin Liora ya tante harus menunggu soalnya di jalan macet." Ucap Liora dengan wajah yang sedih dan manja.


"Tidak apa apa sayang, lagi pula tante baru sampai kok tidak terlalu lama." Sahut Weena dengan sangat ramah.


"Ya sudah tante, kita belanja yu sekarang." Seru Liora.


"Ayo sayang." Ucap Weena sambil membenarkan rambut Liora.


Innara hanya terdiam layaknya seperti patung di depan mereka.


Liora seketika memalingkan wajah nya ke Innara.


"Oh ya, kau mau ikut belanja dengan kami?." Tanya Liora pada Innara


"Iya." Sahut Innara dengan cuek.


"Ya sudah ayo." Ucapnya dengan sinis.


.


.


.


Bersambung....