
...MARRIAGE IS A CRAZY LIE...
Innara Laraswati adalah seorang gadis cantik dan mandiri, dia hidup dari keluarga sederhana yang serba kecukupan.
Orang tuanya baru saja meninggal karena sebuah kecelakaan hingga mereka meninggalkan banyak hutang. Innara begitu sangat tegar menjalani lika liku kehidupan ini, ia bekerja menjadi seorang pelayan di sebuah caffe hanya untuk mencukupi kehidupan sehari hari dan membayar semua hutang orang tuanya serta membiayai sekolah adiknya yang baru menginjak SMP.
Ia juga tinggal di sebuah kontrakan yang hanya cukup untuk tinggal berdua saja, kadang innara juga selalu telat membayar kontrakan apabila ia tidak bisa mengatur keuangan nya.
Innara benar benar tumbuh menjadi gadis yang tangguh.
Awal kisah dimulai...
suatu hari dengan cuaca yang panas benderang.
"Kapan kamu mau membayar kontrakan saya? Ini sudah lebih dari 5 hari kamu telat membayar nya." Ucap seorang ibu kontrakan dengan raut wajah yang gusar.
"Iya bu secepatnya akan saya bayar, tapi mohon kasih pengertian nya ya bu untuk hari ini saya belum ada uang nya." Sahut Innara dengan nada rendah.
"Lalu kau mau membayar kapan? Kau kan bekerja harusnya sisihkan uangmu itu untuk bayar kontrakan." Ucap ibu kontrakan dengan nada yang tinggi dan raut wajah yang sinis.
"Besok akan saya bayar bu, karena gaji saya terpending dan besok gaji saya turun, mohon pengertian nya ya." Ucap Innara dengan suara rendah dan raut wajah yang memelas.
Adiknya Isyana hanya menundukan kepalanya saja.
Ya sudah saya tunggu besok, kalau besok tidak bayar kamu angkat kaki dari kontrakan saya, dan cari saja kontrakan yang gratis." Pekik ibu kontrakan kemudian ia pergi dengan wajah yang masam.
Innara menghela nafasnya untuk bersabar.
"Yu kita masuk." Ajak Innara pada adiknya Isyana.
"Iya kak." Sahut Isyana.
Saat Innara hendak menutup pintu, tiba tiba ada beberapa laki laki berperawakan tinggi besar dan berpakaian serba hitam menghampiri nya.
"Selamat siang nona." Ucap salah satu pria itu.
"I-iyaa siang." Sahut Innara dengan terbata bata.
"Kami adalah suruhan juragan Darma, kami datang kesini untuk menagih hutang." Ucap pria itu dengan wajah tanpa ekspresi.
"Saya belum ada uangnya." Sahut Innara dengan wajah sedikit menegas.
"Juragan Darma menginginkan anda menjadi istri keempat nya, bila anda tidak sanggup membayar."
"Apa?? Itu tidak akan terjadi!." Pekik Innara tidak terima.
Isyana kemudian datang menghampiri Innara karena mendengar ada sedikit perdebatan di luar.
"Kak, ada apalagi ini?." Tanya Isyana saat melihat banyak pria serba hitam ada di depan kontrakan nya.
Ketua ajudan itu menatap Isyana dari atas hingga bawah.
"Jika kau tidak mau menjadi istri keempat juragan Darma, lebih baik adikmu saja yang menggantikanmu." Ucap ketua itu dengan menatap Isyana dari bawah hingga atas.
"Apa yang kau katakan? Adikku masih sekolah dan aku tidak akan memberikan adikku pada juraganmu itu!." Pekik Innara dengan raut wajah gusar sambil memeluk adiknya.
Isyana kini semakin ketakutan dan menyusupkan wajahnya ke dada Innara.
"Tapi itu yang juragan kami perintahkan, lebih baik anda ikut bersama kami untuk bertemu dengan juragan."
"Tidak! Aku tidak akan ikut dengan kalian." Pekik Isyana menolak.
"Bawa dia ke mobil." Ucap ketua ajudan itu pada anak buah nya.
"Baik ketua." Para ajudan itu segera menarik tangan Innara untuk ikut ke dalam mobil.
"Tidak! Lepaskan tanganku! Kakak tolong!!." Isyana memberontak karena tangan nya di cengkram oleh 2 ajudan itu.
"Jangan sentuh adikku, pergi kalian dari sini!." Pekik Innara.
"Ayo pergi ikut bersama kami nona." Ucap ketua ajudan itu pada Isyana
"Tidak lepaskan aku! Aku tidak mau pergi bersama kalian!." Isyana sekuat mungkin mencoba melepaskan cengkraman dari pria pria itu namun ia sangat tidak mungkin karena tidak sebanding dengan tenaganya.
"Aku akan membayarnya lusa! Lepaskan adikku!." Pekik Innara.
"Apa kau yakin." Tanya ketua ajudan itu
"Kasih aku kesempatan sampai hari lusa dan aku akan berusaha aka melunasinya." Pekik Innara
Ketua ajudan itu menatap Innara untuk mencari keyakinan.
"Baiklah lepaskan dia." Perintah pria itu. Mereka pun melepaskan cengkraman nya.
Innara langsung memeluk Isyana yang raut wajahnya ketakutan.
"Kami tunggu hari lusa. Jika kau belum bisa membayarnya, taruhan nya adalah dirimu dan juga adikmu!." Tegas pria itu tanpa eskpresi.
Innara menatap pria itu dengan seribu kekesalan nya.
"Ingat! 250 juta harus di lunaskan." Tegas ketua ajudan itu.
"Kakak, aku tidak mau kita di bawa oleh juragan Darma hiks.." ucap Isyana menangis.
"Tenanglah kita tidak akan di bawa sama mereka." Ucap Innara menenangkan Isyana.
"Cobaan apalagi ini ya Tuhan..." gumam Innara dalam hatinya.
.
.
...****************...
Siang itu Innara langsung segera pergi ke Caffe Violets untuk meminta tolong kepada Pak Dion
"Apa? 250 juta? Kamu tidak salah?." Pekik pria ber umuran 35 tahunan itu.
"I-iya pak." Sahut Innara menundukan wajahnya.
"Innara kau tau kan, cafeku saat ini sedang tidak baik baik saja? Jangankan 250 juta gajimu aja belum aku bayar yang bulan kemarin." Ucap Dion selaku manager Caffe Violets, tempat Innara bekerja.
"Iya pak saya tau, tapi saya juga bingung harus mencari kemana lagi, sebagai gantinya saya rela tidak di gaji saat bekerja." Ucap Innara dengan raut wajah yang sedih.
Dion menatap iba Innara sembari berpikir.
"Innara, bukannya saya tidak mau membantu tapi saya benar benar tidak ada uang segitu, dan jika itu ada saya pasti akan membayar untuk sponsor cafe ini." Sahut Dion dengan berat hati.
"Ya sudah pak tidak apa apa jika tidak ada, maafkan saya ya pak sudah menganggu waktunya bapak, innara pamit ya pak." Ucap Innara dengan ramah walaupun otak dan hatinya sedang kusut oleh berbagai masalah.
"Silahkan Innara, maafkan saya tidak dapat membantumu." Ucap Dion
"Tidak apa apa pak." Ucap Innara tersenyum.
Setelah baru saja kelur dari ruangan Pak Dion Innara masih saja memikirkannya.
"Aduh kemana lagi aku harus cari pinjaman." Batin Innara dengan perasaan gelisah.
"Innara!." Pekik suara cempreng tiba tiba memanggil dirinya.
Innara langsung segera menoleh ke arah sumber suara itu.
kemudian menghampirinya yaitu ke arah bar coffee.
"Kamu kenapa? Kok mukanya di tekuk begitu." Ucap Giska yang tak lain teman partner kerja sekaligus sahabat yang jabatan nya sebagai kasir di Cafe Violets.
"Tumben banget hari libur dateng ke sini mau ngopi bareng siapa nichh.." Ucap Via yang baru saja datang mengantarkan minuman.
"Ciee ciee pasti gebetan baru nichh." Ucap Giska.
"Siapa yang punya gebetan sih?." Tanya Innara memicingkan matanya.
"Lalu??." Sahut Giska dan Via berbarengan
Innara menghela nafasnya.
"Aku tidak tau harus bercerita di mana dulu."
"Ceritalah sama kita, sambil ngopi mau?." Ucap Giska dengan wajah senyum sumringah.
Innara terdiam beberapa detik.
"Tidak! Aku sudah bosan mengopi." Sahut Innara tanpa ekspresi.
Giska pun kembali menarik senyuman nya.
"Ya sudah, apa yang kau mau kalau begitu?." Tanya Giska memegang dagunya.
"Nanti saja ceritanya, aku tidak punya banyak waktu, oh ya Gis boleh kan aku pinjam motormu sebentar saja?." Ucap Innara
"Boleh saja, memangnya kau mau kemana?." Tanya Giska
"Aku harus mencari uang 250 juta untuk membayar hutang alm orang tuaku, dan itu harus terbayarkan semua besok sampe lusa." Jelas Innara.
"Apa?? 250 jutaaa??." Pekik Giska dan Via berbarengan sambil mengaga.
"Apa kalian bisa membantuku?." Tanya Innara dengan wajah sedih.
"Sepertinya kau salah server meminjam uang 250 juta padaku, kau kan tau ayahku hanya buruh petani bukan juragan sawah." Sahut Giska dengan raut wajah sedih.
"Iya Innara jangankan 250 juta, 1 juta juga aku belum punya.." Ucap Via dengan wajah sedih.
.
.
.
Bersambung...