Marriage Is A Crazy Lie

Marriage Is A Crazy Lie
Episode 14



...MARRIAGE IS A CRAZY LIE...


.


.


.


...Happy Reading...


......................


Keesokan harinya di pagi hari.


Mansion Alberntino.


Firdania menghampiri Aaron yang sedang mengerjakan kerjaan nya di laptop.


Firdania menginap di kediaman Aaron, karena dia sangat merindukan cucu kesayangan nya itu.


"Aaron," ucap Firdania memanggil Aaron.


Aaron pun menoleh ke arah Firdania.


"Nenek." Aaron pun hendak menutup laptop nya.


"Lanjutan saja nak pekerjaan mu." Ucap Firdania, kemudian ia duduk di samping yang berada di luar paviliun itu.


Aaron pun kembali mengerjakan tugas nya dengan wajah yang begitu serius.


Firdania pun menatap cucu nya itu dengan tatapan tak terbaca.


"Aaron kapan kau menikah?." Tanya Firdania secara tiba tiba.


"Uhuk! Uhuk!." Aaron tiba tiba tersedak saat ia sedang meminum kopi nya.


"Hati hati nak." Ucap Firdania sambil menepuk nepuk punggung Aaron.


"Nenek kenapa berkata seperti itu?." Tanya Aaron


"Apa salahnya nenek bertanya? Aku ingin cucu ku segera menikah, dan aku mempunyai cicit."


Aaron pun terdiam tanpa menyahut.


"Tunggu apalagi? Kau dan Innara sudah sangat cocok. Aku setuju jika kau menikah dengan Innara." Ucap Firdania.


"T-tapi nek, aku belum siap." Ucap Aaron.


"Umurnu sudah cukup untuk berumah tangga Aaron, pikirkan lagi." Sahut Firdania kemudian ia beranjak dari duduknya dan meninggalkan Aaron.


Di balik itu ada yang mendengarkan percakapan mereka berdua.


Weena sangat geram mendengar perkataan Firdania yang mendesak Aaron menikah dengan Innara.


"Itu tidak akan terjadi, aku hanya ingin mempunyai menantu Liora, bukan Innara!." Pekik Weena dalam hatinya dengan tatapan membenci.


Weena pun langsung pergi dari paviliun itu menuju kamar nya.


Setelah Weena baru saja sampai di kamar nya ia menekan tombol layar ponsel untuk menelpon Liora.


Setelah beberapa detik Weena menunggu jawaban akhirnya Liora mengangkat telepon.


"Hallo tante?." ucap Liora di telepon


"Hallo Liora, kau dimana?." Tanya Weena.


"Aku di apartemen, kenapa tante?." Tanya Liora


"Ini gawat sekali.!." Pekik Weena dengan raut gelisah.


"Gawat kenapa tan?."


"Aaron akan menikah dengan Innara."


"What!!???, tante gak bohong kan?." Pekik Liora


"Tante tidak bohong, nenek Firdania yang menginginkan Aaron cepat menikah."


"Tidak tante, Liora tidak mau Aaron menikah dengan wanita lain." Pekik Liora dengan raut wajah sedih.


"Sabar sayang, tante juga tidak mau punya menantu selain kamu." Sahut Weena.


"Lalu apa yang harus kita lakukan tante?." Tanya Liora.


"Tenang saja, tante akan berusaha agar Aaron tidak menikah dengan Innara." Ucap Weena dengan raut wajah gusar.


Di sisi lain di balik pintu kamar, Glenn sedang menguping pembicaraan Weena dengan Liora.


Ia tidak sengaja saat melewati kamar Weena dan terdengar pembicaraan Weena dengan Liora.


"Ternyata Liora masih saja berharap pada tuan Aaron dan menghasuti nyonya Weena." ucap Glenn dalam hatinya dengan geram.


Glenn pun menuju ke paviliun untuk menemui Aaron.


Sesampai di paviliun Glenn menyapa Aaron yang sedang bersantai di sana.


"Selamat pagi tuan." Sapa Glenn membungkukkan badan nya dengan hormat.


"Selamat pagi juga Glenn." Sahut Aaron dengan menyeruputi secangkir kopi.


"Ada yang harus saya sampaikan tuan." Ucap Glenn.


"Katakanlah Glenn." Sahut Aaron.


.


.


...****************...


Di hari yang libur kerja Innara memperbanyak istirahat, karena pekerjaan rumah nya sudah ia bereskan.


Namun saat ia sedang merebahkan badan nya tiba tiba ada yang mengetuk pintu.


Tok!


Tok!


Tok!


Kemudian Innara menghampiri pintu itu untuk membuka nya.


Klek!


Innara membuka knop pintu dan melihat 2 orang wanita yang tak pernah ia kenali.


"S-siapa anda?." Tanya Innara memicingkan matanya dan menatap 2 orang itu dari atas hingga bawah.


"Selamat siang nona, kami dari Beauty Salon. Kami datang kesini untuk menjemput anda atas perintah dari tuan Aaron." Sahut salah satu wanita itu dengan ramah.


Innara benar benar melupakan jadwal yang di perintahkan oleh Aaron.


"Perkenalkan nama saya Merry nona." Ucap Merry membungkukan badan nya.


"Nama saya Hana nona." Ucap Hana membungkuk dengan hormat.


Innara pun hanya tercengang kebingungan dengan sikap mereka yang begitu formal padanya.


"Oh ya, tunggu sebentar aku siap siap dulu." Ucap Innara.


"Baik nona silahkan." Sahut kedua wanita itu dengan senyuman ramah.


Innara pun membalikan badan nya menuju kamar sambil bergerutu dalam hati


"Kok mereka bisa tau tempat tinggalku. Huftt! tidur siangku terpending deh, tidak apa apa lah turuti saja kemauan tuan arogan itu." Gerutu Innara.


Singkat cerita Innara kini sudah berada di salon dengan berperawatan mulai dari Facial, Body spa, hair spa, pedycure dan yang lainnya.


Kemudian setelah itu Innara belajar make up bersama Merry dan Hana.


Waktu Innara benar benar habis terkuras di salon Beauty itu.


.


.


...****************...


Di malam hari di mansion Alberntino.


Weena baru saja memasuki ruangan kerja Aaron yang baru saja selesai mengerjakan profosal bersama Felix.


Aaron dan Felix menatap kedatangan Weena yang tiba tiba datang ke ruangan kerja.


"Aaron ibu mau berbicara padamu." Ucap Weena.


Aaron dan Felix pun saling menatap.


"Silahkan bu." Sahut Aaron.


"Ehem, bisakah Felix keluar dulu?." Tanya Weena.


"Ohh tentu saja nyonya, permisi." Felix pun pergi keluar dari ruangan kerja Aaron.


"Ada apa bu?." Tanya Aaron setelah Felix baru saja menutup pintu.


"Aaron ibu sebenarnya tidak setuju kau menjalin hubungan dengan Innara." Ucap Weena secara tiba riba dengan raut wajah sedih.


"Kenapa bu?." Tanya Aaron


"Ibu tidak setuju Aaron sepertinya Innara bukan wanita yang baik untukmu."


"Kenapa ibu bisa berbicara seperti itu?." Tanya Aaron memicingkan matanya.


"Ibu bisa merasakan nya Aaron." Pekik Weena.


Aaron pun terdiam tanpa menyahut karena berpikir.


"Benar kata Glenn yang katakan, Liora benar benar telah menghasuti Ibu." gumam Aaron dalam hatinya.


"Tapi Aaron mencintainya bu." Ucap Aaron


Weena pun menatap Aaron dengan tatapan tidak rela.


"Tidak, ibu tidak merestui hubungan kalian." Bantah Weena.


"Maaf bu, tapi aku sudah benar benar mencintai Innara. Dan aku akan segera melamarnya."


Deg!!!


Weena seperti tersambar petir dengan apa yang Aaron kataka.


"T-tapi Aaron ibu tidak merestuinya sampai kapanpun." Bantah Weena.


"Hentikan bu! Ibu sudah terhasuti oleh Liora. Aku camkan baik baik bu, sampai kapan pun aku tidak akan kembali menerima Liora lagi." Ucap Aaron dengan nada penuh intimidasi.


Weena menatap tajam ke arah Aaron.


"Jika ibu memang tidak setuju aku menikah dengan Innara, lebih baik aku pergi dari sini dan tak di anggap anak lagi." Ucap Aaron dengan wajah serius.


"Jangan pergi Aaron ibu mohon hiks.. kalau lau pergi lalu ibu sama siapa disini nak? Ayah sudah tiada anak ibu cuma kamusatu satu nya." Weena menangis histeris.


"Aku tidak akan pergi jika ibu merestui hubungan ku dengan Innara."


"Baiklah ibu merestuimu, tapi kau jangan pergi." Ucap Weena dengan mata yang basah.


Aaron kemudian menghampiri Weena lalu memeluknya.


"Maafkan Aaron bu, semoga ibu mengerti keinginan ku." Ucap Aaron sambil memeluk Weena.


Weena pun memeluk erat Aaron dengan air mata yang mengalir.


.


.


.


Bersambung...


Salam hangat dari author tercinta 🥰