Marriage Is A Crazy Lie

Marriage Is A Crazy Lie
Episode 3



...MARRIAGE IS A CRAZY LIE...


Caffe Violet's


"Motorku hikss!!!.." Giska saat melihat keadaan motornya yang sekarang.


"Maafkan aku Giska, aku memang tidak sengaja melakukan nya bahkan ktp ku di ambil menjadi bahan jaminan kerugian mobilnya."


"Hiks... motorku belum lunas Innara!!!."


"Tenang ya tenang ya.." Via mencoba menenangkan suasana.


"Aku janji aku kan mengganti kerusakan motormu Giska." Ucap Innara dengan wajah sedih.


"Tidak apa apa lah sudah, lalu kamu tidak apa apa kan?." Tanya Giska.


Innara menggelengkan kepalanya dengan sangat manja.


"Aku bingung ujian apa lagi yang ku coba." Ucap Innara dengan raut wajah di tekuk.


"Sabar ya Innara sayang, kau perempuan hebat dan kuat, kau pasti bisa melewati semuanya." Ucap Via mengelus pundak Innara mencoba menguatkan.


"Terima kasih ya, hanya kalian berdua yang selalu memahamiku."


"Sudah ya sedih sedihan nya, hmm gimana kalau kita makan sate di jalan manggis itu? Di si mang Sukri." Ucap Giska dengan sumringah.


"Wahh ayok, lagi pula perutku kenyang sekali nih." Ucap Via sambil mengelus perutnya yang kelaperan.


"Laper kalii!!." Ucap Innara dan Giska berbarengan


"Nah itu hehehe." Cengir Via


Innara masih ragu ragu untuk ikut makan bersama mereka karena uang nya begitu pas pasan.


"Tenang kamu aku traktir mau?." Ucap Giska sambil merangkul Innara.


"Kau tidak keberatan?." Tanya Innara.


"Dah lah Lets go!!." Ucap Giska


"Meluncur!!!." Ucap Via.


.


.


...****************...


Apartemen Godrest


Di malam hari yang begitu dingin Aaron menatap sebuah kartu tanda penduduk dengan begitu serius.


"Innara Laraswati. Nama yang sangat kampungan." Guman Aaron masih memegang kartu penduduk itu.


Kemudian ia lempar kartu penduduk itu ke sebuah laci.


Dan melakukan rutinitas malam nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam itu Innara baru saja pulang dari acara makan malam bersama sahabatnya itu.


"Isyana, kau sudah makan?." Tanya Innara saat melihat adiknya sedang menonton TV.


"Sudah kak, waktu jam 5 sore." Sahut Isyana.


"Kakak memebelikan mu sate, makanlah."


"Wahh apakah ini sate mang Sukri?." Tanya Isyana dengan raut wajah senang.


"Betul sekali favorite kita tuh." Sahut Innara menjentikan jarinya.


"Yeay! Terima kasih kakak!." Sahut Isyana sembari membuka kantong kresek yang berisi sate dengan semangat.


"Ya sudah kalau begitu kakak ke kamar dulu ya." Ucap Innara.


"Okay kak!."


Innara baru saja menutup pintu kamarnya dengan wajah lesu. Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan baginya, bahkan uang 250 juta itu belum saja ia temukan, tetapi ada lagi masalah yang menimpa nya.


"Semoga saja besok ada yang mau meminjamkan uang untukku." Ucap Innara dalam hatinya.


Ia pun menghela nafasnya dengan panjang.


Tiba tiba Innara mengingat kejadian pria arogan itu yang meminta kerugian sejumlah sangat besar.


"Hufftt! Dimana aku mendapatkan 1,5 Miliar dalam jangka besok? Apalagi pria itu benar benar arogan sekali. Rasanya aku tidak ingin bertemu dengan nya kembali, ya walaupun wajahnya tampan tapi sangat menyebalkan."


Gerutu Innara kesal sambil mengingat kejadian itu.


1 jam kemudian Innara sudah terlelap dalam mimpinya.


.


.


...****************...


Keesokan harinya di pagi hari yang sangat cerah.


Di perusahaan Emperor Group yang begitu megah dan mewah, Aaron baru saja sampai di kantor dan berjalan menelusuri lobby di ikuti oleh dua pria maskulin.


"Selamat pagi tuan Presdir." Sapa karyawan yang berpapasan dengan Aaron sambil membungkukan badan nya.


"Hm." Sahut Aaron dengan raut wajah dingin.


Begitulah setiap ia menelusuri kantor selalu banyak sapaan terhadapnya dengan sangat hormat.


Sesampai di lantai CEO Aaron melihat ke arah jam arloji nya.


"Apa saja jadwalku hari ini?." Tanya Aaron pada Felix, sekretaris nya.


"Jadwal hari ini kosong presdir, hanya besok kita akan bertemu dengan Mr. Hariss dengan tujuan dia ingin menanam saham di perusahaan Emperor." Jelas Felix dengan gaya yang sangat elegan.


"Berapa persen saham yang ia ajukan di perusahaanku?." Tanya Aaron sambil memasukan kedua tangan ke dalam saku celana nya.


"Sebesar 20% tuan presdir." Sahut Felix.


"Hanya 20% saja? Aku kurang setuju. Kita bicarakan nanti saat bertemu dengan nya besok." Ucap Aaron.


"Baik Presdir." Ucap Felix.


Aaron pun masuk ke dalam ruangan pribadinya.


.


.


...****************...


Pagi itu di Caffe Violets


"Astagfirullah!!." Pekik Innara terkaget sambil mengusap dadanya.


"Masih pagi udah melamun saja." Ucap Giska.


"Giska kalau aku jantungan gimana?." Rengek Innara.


"Ya salah siapa? Kau Terlihat banyak sekali pikiran nya." Ucap Giska.


"Memang aku banyak pikiran." Sahut Innara kembali menahan dagunya dengan tangan.


"Ishh ishh.. mau sampai kapan kamu melamun? Entar cepat tua loh! Hidup itu di bawa happy sepertiku!." Ucap Giska sumringah.


"Ah sudah aku mau bersihin kaca dulu." Ucap Innara.


"Nah begitu semangat dong kerjanya, jangan terus melamun ya cantik entar ubanan loh! Masa cantik cantik ubanan hahaha." Ledek Giska tertawa.


"Ubanan saja kepalamu tuh." Ledek Innara kembali.


.


.


...****************...


Pagi berubah menjelang siang kini matahari sudah berada di pucuk kepala menyinari setiap makhluk hidup di muka bumi.


Tok!


Tok!


Tok!


"Masuk!"


Felix membuka pintu ruangan lalu masuk.


"Maaf tuan saya mendapatkan kabar bahwa ada nyonya besar dan juga Liora datang kemari." Ucap Felix.


"Ibu dan Liora kesini? Ada apa mereka datang kesini?." Tanya Aaron memicingkan matanya.


"Saya tidak tau tuan presdir." Sahut Felix


Klekk!! (Suara membuka pintu)


"Selamat siang anakku!." Ucap Weena tiba tiba datang dan menerobos masuk ke ruangan Aaron bersama wanita cantik dan seksi yang tak lain Liora.


Weena memeluk Aaron dengan tiba tiba.


"Tuan saya pamit untuk keluar, permisi nyonya." Ucap Felix membungkukan badan nya kemudian keluar.


"Ibu sedang apa disini? Dan kenapa ibu mengajak dia?." Ucap Aaron sambil menatap sinis kepda Liora.


"Sayang ibu kesini mau mengajakmu makan siang bersama Liora." Ucap Weena dengan senang hati.


Liora pun tersenyum manis kepada Aaron.


"Apa? Tapi bu Aaron masih banyak pekerjaan." Ucap Aaron.


"Tidak apa apa kok kita akan menunggu disini, ya kan Liora?." Ucap Weena.


"Benar tante, aku tidak apa apa menunggu Aaron disini." Ucap Liora dengan tersenyum manis.


"Tapi aku tidak bisa bu makan siang bersama Liora." Tolak Aaron.


"Kenapa memangnya?." Tanya Weena mengerutkan alisnya.


Wajah Liora langsung saja berubah menjadi tanpa ekspresi


"Tidak bisa bu, karena aku sudah ada janji siang ini." Ucap Aaron berbohong.


"Janji dengan siapa?." Tanya Weena dengan nada intimidasi.


Aaron berpikir bagaimana caranya agar ibunya tidak terus menjodoh jodohkan dengan wanita masa lalu nya itu.


"Dengan pacarku." Sahut Aaron tiba tiba mengeluarkan lontaran itu.


"Pacar?." Ucap Liora tidak percaya.


"Ibu tidak percaya kau sudah mempunyai pacar lagi." Ucap Weena dengan raut wajah sedikit gusar.


"Kenyataan nya memang aku sudah punya pacar bu." Ucap Aaron meyakinkan Weena.


"Ibu tidak percaya kau sudah punya pacar, karena aku tau dirimu Aaron kau tidak mudah menerima perempuan lain di hidupmu."


"Baiklah, aku akan mengenalkan wanita itu padamu." Sahut Aaron dengan ekspresi tenang.


Liora semakin geram mendengar hal itu, ia sangat tidak terima bila Aaron dimiliki wanita lain.


"Benarkah? Ya sudah, jika kau tidak membohongi ibu bawalah wanitamu itu ke mansion saat jadwal makan malam. Ibu akan menilainya apa dia cocok menjadi menantu keluarga Alberntino atau tidak." Ucap Weena dengan tatapan tajam dan nada yang sangat mencekam.


Liora benar benar tidak percaya dengan apa yang Weena katakan.


Ia tidak boleh di singkirakan begitu saja hanya karena Aaron sudah punya pacar.


Aaron terdiam beberapa saat, dan berpikir bagaimana caranya dia harus mengenalkan wanita sebagai pacarnya, padahal dia sama sekali tidak punya pacar.


"Baiklah, aku akan membawa pacarku nanti malam." Sahut Aaron dengan wajah yang begitu tenang.


Weena dan juga Liora sangat geram, terlihat sekali bahwa Weena tidak terima jika Aaron sudah mempunyai pacar selain Liora.


"Tante, Liora pamit untuk pergi karena ada jadwal pemotretan hari ini." Ucap Liora dengan wajah terlihat kesal.


"Benarkah? Bukannya kau katakan bahwa tidak ada job hari ini sayang?." Tanya Weena dengan tutur yang begitu ramah.


"Asistenku bilang jika ada pemotretan mendadak di bukit Alamanda." Sahut Liora dengan tersenyum terpaksa.


"Ya sudah, ibu juga mau pergi dari sini. Ayo sayang." Ajak Liora lalu menatap Aaron dengan tatapan sinis.


Mereka berdua pun pergi meninggalkan Aaron tanpa pamit dengan membawa seribu kekesalan.


Aaron menghela nafasnya.


"Bagaimana ini, siapa wanita yang harus ku ajak ke mansion nanti malam bertemu ibu." Pikir Aaron dengan gelisah.


"Jika malam ini aku tidak membawa wanita ke mansion, ibu pasti akan percaya kalau aku berbohong. Dan pasti Liora akan terus mengejarku." Pikir Aaron.


Aaron segera menekan nomor telepon Glenn yang tak lain asisten nya untuk datang ke ruangan nya segera.


.


.


.


Bersambung...


Minta dukungan like vote sama comment nya ya readers agar author semangat menulis cerita nya nih🤭🤭🤗