
...MARRIAGE IS A CRAZY LIE...
.
.
.
...Happy Reading...
......................
Acara konser itu berakhir sangat megah dan ramai.
Kini Innara dan Revan sedang menikmati makan malam di sebuah rumah makan.
Innara benar benar makan dengan sangat lahap membuat Revan tertawa kecil.
"Kenapa?." Tanya Innara kebingungan.
"Kau ini makan seperti anak kecil saja yang belepotan." Ucap Revan sembari mengusap sisa makanan di ujung bibir Innara dengan sangat telaten menggunakan ibu jari nya.
Innara seperti terhipnotis perlakuan Revan membuat dirinya terbang ke atas langit.
Apalagi jarak diantara mereka begitu sangat dekat, hingga Innara bisa menatap intens wajah Revan yang begitu bersih tanpa pori pori.
Revan pun berseringai kecil.
"Biasa saja kali menatapnya." Tegur Revan tersenyum dan kembali terduduk seperti semula.
Pipi Innara sangat merona karena Revan mengetahuinya jika dirinya menatap indah ciptaan Tuhan.
"Lanjutkan saja makan nya, aku hahya bercanda tadi." Ucap Revan kembali berseringai.
"I-iyaa." Gugup Innara dengan menahan pipi yang memerah.
.
.
...****************...
Innara baru saja pulang memasuki kamar nya.
"Huftt! Hari yang sangat melelahkan tapi membahagiakan." Ucap Innara tersenyum senang sambil mengingat kejadian yang tak terlupakan bersama Revan.
Apalagi saat dirinya menonton konser band Noah, ia menyadari bahwa Revan terus menatap dirinya walaupun suasana disana gelap tapi Innara bisa merasakan nya.
Ya, Revan hanya lebih senang menonton Innara yang sangat begitu riang di banding menonton panggung megah itu.
"Kadang aku ingin bertanya pada Revan, sebenarnya dia itu ingin menonton Noah, atau menonton diriku." Gumam Innara dalam hati lalu tertawa kecil.
"Kak." Isyana tiba tiba datang mengagetkan Innara yang sedang melamun.
"Ehh iya? Kenapa kamu belum tidur ini sudah malam loh." Ucap Innara.
"Aku menunggu kakak pulang, lagi pula besok hari minggu kak."
Innara baru menyadari bahwa besok hari minggu dan tepatnya Isyana libur.
"Ohh iya ya kakak lupa hehe." Innara berseringai kecil.
Isyana pun menggelengkan kepalanya.
"Kak, kakak cocok loh sama kak Revan." Ucap Isyana tersenyum.
Innara tercengang dengan apa yang Isyana katakan.
"Cocok apasih maksudmu."
"Ya cocok lah, Isyana kayanya seneng deh kalau punya kakak ipar kaya kak Revan. Udah tampan baik hati pula." Ucap Isyana memuji Revan.
"Aduh Isyana kamu itu masih kecil ya, mending kamu tidur sana udah malem juga ini."
"Hmm ya sudah, tapi Isyana hanya ingin kasih pendapat saja kalau kakak cocok sama kak Revan." Ucap Isyana kemudian kembali menyelimuti badan nya.
Innara pun tersenyum dengan apa yang adiknya katakan.
1 jam berlalu Innara sudah menuju ke alam mimpinya.
.
.
...****************...
Keesokan harinya dengan matahari yang sangat terik.
Cafe Violets
"Huftt!!." Innara baru selesai membersihkan meja kemudian berjalan menuju bar coffee.
"Panas sekali ya hari ini." Pekik Giska sambil mengipas ngipas tangan nya.
"Panas kaya melihat dia sama wanita lain." Sahut Via.
"Galau mulu deh." Ucap Innara meledek.
"Galau itu tanda nya normal, emang kamu belum pernah rasain galau?." Tanya Via
"Kata Giska hidup itu di bawa happy.." sahut Innara.
"Betull hehe.." Giska berseringai.
"Alah nanti juga suatu saat kamu pasti rasain galau sama laki laki." Ketus Via.
Innara pun tertawa.
"Impossible."
Via pun memutarkan matanya dengan kesal sambil bergerutu.
"Oh ya sore kita main yuk ke kedai bu Ratna, kita makan Tteokbokki disana." Ajak Giska.
"Walahh ayok, sudah lama juga nih gak makan Tteokbokki." Sahut Via.
"Kenapa?." Tanya Giska dan Via berbarengan.
"Karena aku sudah janji hari ini." Sahut Innara.
"Janji sama siapa emangnya?." Tanya Via memicingkan matanya.
"Ada deh." Jawab Innara.
"Kenapa ya, kau akhir akhir ini sangat sibuk sekali." Ucap Giska.
"Benar, waktu buat kita pun sepertinya tidak ada. Apa kau sedang dekat dengan seorang pria?." Tanya Via.
"Tidak juga, nanti aku ceritakan setelah waktunya sudah tepat." Sahut Innara.
Giska dan Via pun saling menatap.
"Awas saja jika kau tidak bercerita sama kita," ucap Giska.
"Kita tidak akan mau lagi berteman denganmu." Ucap Via melanjutkan ucapn Giska.
Innara pun terdiam tanpa menyahut.
.
.
...****************...
Malam itu Innara sudah bersiap untuk menuju ke mansion keluarga Alberntino.
Penampilan Innara begitu sangat cantik dan peminim yang menggunakan dress selutut berwarna biru muda yang melekat pas di tubuh rampingnya.
"Apa kau sudah menanda tangani kontrak untuk menjadi pacar sewaanku selama 3 bulan?." Tanya Aaron saat di dalam mobil.
"Sudah tuan, sebelum aku pergi ke butik sudah ku tanda tangani." Sahut Innara.
"Aku peringatkan kau harus berakting yang lebih bagus dari sebelum nya, ingat ini bertemu dengan nenekku dan disana juga ada keluargaku yang lainnya. Jangan sampai memalukanku." Ucap Aaron dengan nada sedikit tegas.
"Tenang saja tuan." Sahut Innara tersenyum.
Aaron pun memalingkan wajahnya ke arah lain.
Saat baru saja tiba mobil sport itu terparkir di sebuah mansion yang sangat luas dan mewah.
Innara benar benar terpukau melihat setiap interior yang dihiasi air mancur dan tanaman lain nya serta di kelilingi para pelayan.
"Apa aku ada di dunia mimpi? Kenapa sangat mewah sekali. Aku seperti berada di istana sekarang dan aku adalah putri nya bersama dengan pangeran."
Gumam Innara dalam hatinya dengan mata penuh dengan kekaguman.
"Ini nyata nyonya, silahkan tuan Aaron sudah menunggu di luar." Ucap Glenn membukakan pintu mobil nya m.
Innara pun tersadar dari lamunan nya.
"Ahh iya, maaf." Sahut Innara kemudian keluar dari dalam mobilnya.
"Kemarilah di dekatku." Ucap Aaron pada Innara.
Innara pun segera menghampirinya.
Mereka berdua memasuki mansion itu dengan di sambut oleh para pelayan yang membungkukan badannya saat Aaron melewati jalan nya.
"Huftt!! Tenang Innara jangan gugup, jangan sampai memalukan tuan arogan ini."
Gumam Innara dalam hati nya dan beberapa kali menghela nafas.
"Selamat malam semuanya." Ucap Aaron kepada seluruh keluarganya yang sedang bercengkrama di ruang tengah.
Semua mata tertuju kepada Aaron dan juga Innara.
"Cucuku Aaron kau sudah datang." Sapa Firdania beranjak dari duduknya lalu menghampiri Aaron.
Firdania memeluk Aaron dengan penuh kasih sayang.
Kemudian tak lama ia berpaling menuju salah satu wanita cantik yang berada di samping Aaron.
"Aaron siapa dia?." Tanya Firdania.
"Kenalkan dia kekasihku nek." Sahut Aaron tersenyum.
Innara segera membungkukan badan nya.
"Salam perkenalan nek, namaku Innara." Ucap Innara tersenyum sambil mencium tangan Firdania.
Firdania tidak menyahutnya, ia malah memegang dagu lancip Innara dan menatap intens dengan teliti.
"Aaron benarkah ini kekasihmu?." Tanya Firdania masih menatap Innara.
"Iyaa nek, dia kekasihku." Sahut Aaron
"Nenek tidak percaya, dia bahkan terlihat bukan seperti manusia." Ucap Firdania.
Innara langsung mengerutkan senyuman nya.
"M-maksud nenek?." Tanya Aaron mengerutkan alisnya.
"Dia seperti bidadari Aaron, sangat cantik." Ucap Firdania tersenyum dan langsung memeluk Innara.
Innara pun membalas pelukan nya.
Semua keluarga yang hadir disana ikut tersenyum senang dan menyambut kedatangan Aaron dengan Innara.
Namun tidak dengan Weena, ia sangat tidak senang keluarga Alberntino sangat menyukai Innara apalagi Firdania, dia seperti terlihat sangat senang bahwa Innara adalah kekasih Aaron, yang tak lain cucu kesayangan nya.
.
.
.
Bersambung....
Big love you readers❤️