Marriage Is A Crazy Lie

Marriage Is A Crazy Lie
Episode 11



...MARRIAGE IS A CRAZY LIE...


.


.


.


...Happy Reading...


......................


Keesokan harinya di sore hari...


Cafe Violets


Innara baru saja menyelesaikan tugasnya yaitu dengan mengantarkan pesanan ke meja customer.


Namun tiba tiba Innara membelalakan matanya saat melihat ada dua wanita customer baru saja masuk ke Cafe Violets itu.


Liora dan Weena datang mengunjungi Cafe Violets dengan gaya berjalan yang sangat angkuh.


Innara langsung menundukan wajahnya sambil menutup wajahnya dengan tray yang ia bawa.


Kemudian ia berlari kecil menuju ke arah belakang.


Bugh!


Innara tiba tiba menabrak Via karena tidak terlalu memperhatikan jalan.


"Aww!! Innara kau kenapa sih." Rintih Via kebingungan.


"Emm aku, a-aku kebelet mau ke toilet sebentar ya, kau handle dulu ok." Ucap Innara kemudian segera berlari menuju ke arah toilet.


Via kebingungan melihat tingkah laku Innara.


"Ihh itu anak kenapa ya." Gumam nya.


Via pun melihat ada seorang dua wanita customer memasuki Cafe Violets.


"Selamat datang nyonya di Cafe Violets, silahkan.." Sapa Via dengan senyum ramah.


Liora dan Weena menatap menelusuri setiap interior Cafe Violets


"Tempat yang paling nyaman dimana?." Tanya Liora dengan angkuh.


"Ada nona, di sebelah sini mari." Ucap Via mengantarkan ke arah lantai 2.


Disisi lain Innara menatap dari jauh sambil menghela nafas nya.


"Hufftt! Untung saja hampir ketahuan, bisa berabe tuh kalau bener ketahuan." Gumam Innara.


"Innara kau sedang apa disini?." Tanya seorang laki laki berperawakan tinggi yang baru saja datang.


"Ehh mas Revan, a-anu mas lagi istirahat sebentar cari angin." Sahut Innara dengan garuk garuk tengkuk yang tidak gatal.


"Cari angin kok ke kitchen?, di luar saja kalau di sini yang ada kamu makin kepanasan." Sahut Revan menaikan sebelah alisnya.


Innara pun berseringai memperlihatkan gigi rapi nya itu.


"Ehh iya ya, emm tapi aku mau disini aja dulu hehe." Sahut Innara terbata bata dengan gerakan salting.


Revan pun menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Oh ya mas Revan kemana saja? Kok akhir akhir ini jarang sekali mengunjungi cafe?." Tanya Innara .


"Iya, akhir akhir ini aku sibuk karena praktek terus." Sahut Revan dengan tersenyum.


"Huftt ternyata jadi dokter itu tidak gampang ya sangat sibuk sekali." Ucap Innara menghela nafas.


Revan pun tersenyum.


"Ya menurutku sama saja semua pekerjaan pasti ada sibuknya." Ucap Revan.


"Iyaa betul juga hehe." Sahut Innara.


Revan pun seketika menatap Innara dengan tatapan tak terbaca.


"Apa besok kau ada waktu luang?." Tanya Revan.


"Memangnya kenapa mas?." Tanya Innara mengerutkan alisnya.


"Apa kamu masih mendengarkan lagu lagu band Noah?." Tanya Revan.


"Tentu saja aku masih mendengarkan karena itu lagu dan band favoriteku." Ucap Innara tersenyum.


"Kebetulan sekali kalau begitu, aku ingin menganjakmu nonton konser Noah besok malam. Apa kau ingin menonton nya bersamaku?." Tanya Revan.


Innara langsung membelalakan matanya dengan tak percaya.


"Konser N-noah??." Tanya Innara dengan wajah yang benar benar tercengang


"Iyaa konser Noah." Ucap Revan dengan tersenyum manis.


"Aaaghhh aku mau sekali nonton konser Noah." Pekik Innara dengan menahan kegembiraan nya.


Revan pun berseringa kecil.


"Apa kau mau nonton bersamaku?." Tanya Revan.


Innara menganggukan kepalanya dengan tersenyum bahagia.


"Mau sekali mas Revan.."


"Ya sudah besok aku kabarin kamu ya." Ucap Revan.


"Okay mas, makasih banget ya udah mau ngajak aku."


"Sama sama Nara.." ucap Revan dengan tersenyum.


Innara pun menundukan wajahnya dengan pipi merona karena Revan terus saja menatapnya.


"Ya sudah aku pamit dulu ya, besok aku kabarin." Ucap Revan.


"Hati hati di jalan ya mas Revan." Sahut Innara tersenyum.


Sedikit perkenalan Revan Bimantara adalah pemilik Cafe Violets, di umur yang menginjak 27 tahun dia sudah bergelar menjadi seorang dokter bedah. Tak hanya menjadi seorang dokter saja, Revan juga mempunyai sebuah perusahaan ternama di negara ini, namun Revan lebih fokus untuk menjadi profesi dokter karena itu adalah cita citanya. Tak hanya wajahnya yang super tampan Revan juga mempunyai karakteristik yang ramah serta peduli.


.


.


...***************...


Singkat cerita.


Keesokan harinya sore itu Innara sudah siap dengan style casual untuk menonton konser dengan Revan.


Tok!


Tok!


Tok!


"Itu pasti mas Revan sudah menjemput." Gumam Innara dengan mata yang berbinar kemudian ia merapihkan rambutnya untuk membuka pintu.


Klek! (Suara membuka pintu)


"Hai mas Re.." Innara tidak melanjutkan bicaranya saat yang ia lihat ternyata Glenn yang datang.


"G-glen?." Sahut Innara dengan mengerutkan alisnya.


"Selamat sore nona." Sapa Glenn membungkukan badan nya.


"Selamat sore juga Glenn," Innara membungkukan badan nya.


"Ada apa ya?." Tanya Innara.


"Saya datang kemari untuk menjemput nona, karena tuan Aaron mengajaknya untuk bertemu dengan nyonya besar Firdania." Ucap Glenn.


"Nyonya besar Firdania? Siapa itu?." Tanya Innara mengerutkan keningnya.


"Beliau adalah neneknya tuan Aaron nona." Sahut Glenn.


"Ohh tapi.. kenapa mendadak sekali." Sahut Innara dengan raut wajah sedih sambil memainkan jemari tangan nya.


"Kenapa nona?." Tanya Glenn.


"A-aku tidak bisa karena aku sudah janji dengan temanku sekarang. Maafkan aku Glenn." Ucap Innara mengatupkan tangan nya dengan perasaan bersalah.


Glenn pun terdiam tidak menyahut beberapa detik.


"Mohon maaf nona, apa kau bisa membatalkan janjimu dengan temanmu?." Tanya Glenn.


Innara berpikir beberapa saat.


"Hmm bagaimana ya, aku tidak enak karena dia sudah membeli tiket konser nya." Sahut Innara dengan mengerutkan keningnya.


"Baiklah nona, saya akan beritahu tuan Aaron bahwa nona tidak bisa." Ucap Glenn.


"Maafkan aku tolong beritahu tuan Aaron, besok aku janji akan menemaninya dan aku berjanji akan menandatangani kontrak yang tuan Aaron ajukan." Ucap Innara dengan kembali mengantupkan kedua tangan nya.


Glenn pun berpikir beberapa detik.


"Baiklah nona, saya permisi." Glenn pun pergi setelah berpamitan.


.


.


...****************...


10 menit kemudian...


Revan sudah berada di depan pintu kontrakan Innara.


"Yuu, aku sudah siap." Ucap Innara dengan nada semangat.


Revan pun tersenyum.


"Hehe biasa aja kok mas." Ucap Innara terseipu malu.


"Sudah beberapa kali aku katakan, jangan panggil aku mas, panggil aku Revan." Ucap Revan.


Innara berseringai


"Hehe tapi tidak sopan rasanya jika aku memanggil nama." Ucap Innara.


"Tidak apa apa panggil saja aku Revan." Ucap Revan menatap Innara.


"Hmm baiklah Revan." Ucap Innara tersenyum.


Revan pun membalas senyuman nya.


"Nah begitu kan lebih enak di dengar." Sahut Revan.


"Ya sudah, yuk kita jalan sekarang." Ajak Revan.


"Ayok."


"Isyana, kita pergi dulu ya kamu baik baik disini jangan keluar malem yah." Ucap Innara sedikit berteriak.


Isyana pun segera menghampiri Innara.


"Iya kak hati hati di jalan nya ya." Sahut Isyana mencium tangan Innara kemudian mencium tangan Revan.


"Baik baik ya." Ucap Revan tersenyum .


"Iya kak." Sahut Isyana tersenyum.


Akhirnya Revan dan Innara pun pergi menelusuri sebuah gang sebelum menuju ke mobil.


Sesampai di depan gang Innara menatap sebuah mobil sport bermawarna merah terparkir di depan gang nya. Revan pun membukakan pintu untuk mempersilahkan Innara ke dalam mobil.


"Terima kasih." Sahut Innara tersenyum kemudian duduk.


"Sama sama." Sahut Revan membalas senyuman nya.


Akhirnya mobil sport merah itu berjalan menuju lokasi.


Di balik itu ada seseorang yang menatap kepergian Innara dengan Revan dari dalam mobil.


"Siapa pria itu?." Pikir pria itu dengan tatapan tajam.


.


.


...****************...


Perushaan Emperor Group


"Apa? dia menolakku?." Pekik Aaron tidak terima.


"Dia sudah janji dengan teman nya tuan, dan dia bilang ini mendadak." Sahut Glenn menundukan wajahnya.


"Kenapa kau tidak paksa dia Glenn, aku sudah janji dengan Nenek." Ucap Aaron gusar.


"Maafkan saya tuan, tapi nona Innara hanya bisa dan berjanji hari esok." Ucap Glenn.


Aaron menghela nafas nya dengan kasar.


"Dengan siapa dia pergi?." Tanya Aaron


Glenn terdiam beberapa detik.


"Dengan teman nya seorang perempuan tuan." Sahut Glenn.


"Memalukanku saja dia!." Pekik Aaron kemudian keluar dari ruangan kantor nya.


BRAK!!!!


Aaron membanting pintunya dengan keras.


Saat Aaron baru saja keluar dari ruangan nya ia berpapasan dengan Felix.


"Apa yang terjadi tuan presdir?." Tanya Felix


Namun Aaron tidak menyahut dia memutarkan matanya dengan rasa emosi yang sangat memuncak dan berjalan menuju pintu lift.


Felix pun mengerutkan alisnya.


"Tuan sedang emosi." Ucap Glenn tiba tiba datang dari arah belakang.


"Emosi kenapa?." Tanya Felix


"Innara tidak bisa menemani dia bertemu dengan nyonya Firdania, padahal nyonya Firdania sangat menginginkan bertemu dengan nya." Jelas Glenn.


"Kenapa dia tidak bisa datang menemani presdir?." Tanya Felix.


"Nanti saja aku ceritakan. Aku harus menyusul tuan Aaron sebelum dia lebih murka lagi." Ucap Glenn menepuk pundak Felix.


"Yaa, hati hati Glenn." Sahut Felix sambil menatap kepergian Glenn yang berjalan menyusul Aaron dengan langkah tergesa gesa.


.


.


...****************...


Sore berubah menjadi malam...


Saat itu Innara dan Revan sedang bernyanyi menikmati konser sambil melompat dan menari.


Saat nya band Noah menyanyikan lagu dengan nada slow.


"Lagu untukmu." Bisik Revan pada Innara.


Mereka pun saling menatap kemudian


Mencari Cinta - Noah


Aku mencari cinta di tempat yang tidak biasa.


Tepat di antara luka dan kesunyian tak mereda.


Telah kutemukan dia, memelukku dalam sepinya.


Dan ku mencintainya, dalam ruang yang telah terbatas


Ohh Cinta ini menutup mataku


Menggenggam nafasku


Membelengguku, katakan padaku ini tak benar.


Ohh, Cinta ini mendekap tubuhku.


Katakan hatiku, katakan itu.


Katakan padaku ini tak benar.


Innara begitu sangat menikmati setiap alunan musik konser itu begitu juga dengan Revan dengan sorakan penonton yang ikut bernyanyi juga.


.


.


...****************...


"Dimana kekasihmu Aaron?." Tanya Firdania saat keluarga Alberntiono mengumpul di ruang tamu.


Aaron pun terdiam beberapa saat.


"Dia... sedang keluar negeri nek." Sahut Aaron dengan berusaha tenang.


"Untuk apa dia ke luar negeri?." Tanya Firdania.


"Ada pekerjaan disana nek." Sahut Aaron


"Kapan kau akan mengenali kekasihmu pada nenek?." Tanya Firdania.


"Besok aku akan mengenalkan nya nek, karena besok dia sudah pulang ke negara ini." Ucap Aaron.


"Baiklah, nenek tunggu kedatangan nya jangan memberi harapan lagi pada nenek." Ucap Firdania dengan nada intimidasi.


"Baik nek." Sahut Aaron.


"Aku senang Aaron sudah punya kekasih lagi." Ucap Maria.


"Terima kasih tante, besok aku akan kenalkan pada semua keluarga." Sahut Aaron.


"Tentu saja, jadi penasaran wanita seperti apa dia bisa bisa nya mencairkan es batu." Ucap Robert dengan berseringai.


Aaron pun tersenyum


"Yang terpenting dia jauh lebih baik dari yang sebelumnya om." Sahut Aaron.


"Wow tentu saja pasti wanita itu sangat cantik, besok kau harus kenalkan pada kami semua karena sudah di buat penasaran." Ucap Alea yang tak lain sepupu Aaron.


"Tenang saja aku pasti akan membawanya kesini." Sahut Aaron dengan wajah tanpa ekspresi.


Weena pun sangat geram dengan suasana saat itu, karena Aaron memuji wanita itu di hadapan keluarganya.


.


.


.


Bersambung....