
...MARRIAGE IS A CRAZY LIE...
.
.
.
...Happy Reading...
......................
Mansion Alberntino.
Di ruang tengah mansion Alberntino
"Sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?." Tanya Firdania.
Innara pun menatap Aaron agar dia yang mengatakan nya.
"Sudah menjalin 3 bulan nek." Sahut Aaron
Innara pun hanya tersenyum.
"Oh ya, kata Aaron kau berprofesi model di negara A?." Tanya Alea.
Innara pun tersentak karena bingung harus menjawab apa. Aaron pun mencubit bagian pinggang Innara untuk mengatakan iya.
"Ahh, i-iya betul hehe." Sahut Innara berseringai.
"Wow, kau memang cocok menjadi model selain tinggi badan mu ideal kau sangat cantik sekali, aku sebagai wanita pun benar benar mengidolakanmu." Ucap Alea tersenyum.
"Hehe terima kasih atas pujian nya, kau juga sangat cantik sekali." Sahut Innara tersenyum manis.
"Terima kasih." Ucap Alea tersenyum
"Oh ya, kenapa kau berprofesi sebagai model di negara A, apakau warga kebangsaan disana?." Tanya Maria, sekaligus adiknya ayah Aaron, yaitu Albert Alberntino.
"Emm itu... a-aku hanya di kontrak saja menjadi model disana. Tapi, sekarang aku sudah bukan menjadi model lagi hehe." Sahut Innara sedikit terbata bata.
"Ohh begitu, ku kira kau memang benar kebangsaan dari negara A soalnya wajahmu terlihat sedikit blasteran bukan asli negara kami." Ucap Maria dengan tersenyum.
Innara pun hanya berseringai saja.
"Kau umur berapa nak?." Tanya Robert, suami Maria.
"Aku umur 23 tahun." Sahut Innara.
"Ternyata kau masih muda." Ucap Robert.
"Apa kau tinggal bersama orang tuamu?." Tanya Firdania.
"Tidak nek, kedua orang tua ku sudah meninggal dan aku tinggal bersama adikku saja." Sahut Innara.
"Ya Tuhan, maafkan aku nak." Ucap Firdania merasa bersalah.
"Tidak apa apa nek." Jawab Innara dengan tersenyum.
Weena pun hanya terdiam menyimak saja tanpa ikut bercengkrama karena menahan kekesalan nya.
"Clara, dimana kakakmu? Kenapa belum datang juga?." Tanya Firdania.
"Kak Vano sedang praktek nek, dia sangat sibuk sekali. Dia hanya menitip salam untuk semuanya." Sahut Clarissa, yang tak lain adiknya Vano.
"Vano juga bulan depan akan pergi ke luar negeri, dia akan praktek disana." Ucap Sarah ibunya Vano.
"Syukurlah, biarkan dia mewujudkan cita citanya." Sahut Firdania.
Keluarga Alberntino begitu berkumpul di ruang tengah mansion yang begitu megah, hanya beberapa saja yang tidak hadir karena beralasan sibuk bekerja.
"Glenn, sedang apa kau berdiri disana?." Tanya Firdania yang melihat Glenn sedang berdiri di ujung sofa.
Glenn pun langsung mengangkat wajahnya.
"Kemarilah duduk dan bergabung bersama kami, kau sudah ku anggap sebagai cucu ku juga." Ucap Firdania.
"Baiklah, Terima kasih nyonya." Glenn pun duduk di dekat Clarissa.
Clarissa pun tersenyum ke arah Glenn, begitu juga Glenn ia membalas senyuman nya.
"Jadi begini, aku sebagai perwakilan dari Aaron akan memberitahu bahwa minggu depan kita akan mengadakan pesta anniversarry 24 tahun perusahaan Emperor Group, benarkah Aaron?." Ucap Firdania.
"Benar nek." Sahut Aaron.
"Aku harap semua hadir dalam acara pesta itu, aku tidak mau melihat anak cucuku tidak hadir dalam acara penting itu, kita rayakan bersama." Ucap Firdania.
"Baik nek." Sahut para cucu Firdania.
"Di acara pesta anniversarry kita juga merayakan ulang tahun Aaron disana." Ucap Firdania.
.
.
...****************...
Mobil sport mewah itu sudah terparkir di pinggir jalan dekat gang kontrakan Innara.
"Terima kasih sudah mengantarkan ku tuan." Ucap Innara tersenyum.
"Hmm, belajar lah berdandan agar tidak merepotkan ku setiap pergi harus ke salon." Ucap Aaron dengan wajah datar tanpa menoleh Innara.
"I-iya tuan saya akan belajar." Ucap Innara.
"Besok akan ada seseorang yang datang kesini." Ucap Aaron.
Aaron pun menoleh ke arah Innara dengan tatapan tanpa ekspresi.
"Jagalah berat badan mu, aku sudah memberimu pelayanan untuk pergi ke salon setiap hari agar kulitmu lebih terawat, dan disana akan ada Merry yang mengajarimu cara bermake up." Ucap Aaron
"Terima kasih tuan, tapi sepertinya saya tidak bisa setiap hari ke salon karena harus bekerja." Sahut Innara.
"Atur saja jadwalmu." Ucap Aaron pun langsung melenggang pergi memasuki mobilnya.
Innara pun hanya menatap kepergian Aaron yang baru saja memasuki mobilnya.
"Nona saya harap setelah menandatangani surat kontrak bersama tuan Aaron, anda tidak punya hubungan apapun dengan pria lain." Ucap Glenn.
"Maksudmu?." Tanya Innara kebingungan.
"Saya melihat anda di jemput oleh seorang pria, apa itu kekasihmu?." Tanya Glenn
Innara pun berpikir sesaat.
"Ohh itu bukan kekasihku hehe dia temanku." Sahut Innara berseringai.
"Baiklah nona, jangan sampai tuan Aaron melihatnya. Dan jangan terlalu dekat dengan pria lain sebelum kontrakmu habis nona." Ucap Glenn
"Kenapa?." Tanya Innara mengerutkan alisnya.
"Kau pasti mengerti apa alasan nya." Sahut Glenn.
Innara pun terdiam berpikir tanpa menyahut.
"Saya pamit nona, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk tuan Aaron. Selamat malam." Pamit Glenn membungkukan badan nya kemudian pergi menuju mobil.
Innara pun menatap kepergian mobil itu yang semakin menjauh.
Innara baru saja memasuki kontrakan nya.
"Kakak?." Ucap Isyana menatap Innara memakai dress bermotif elegan itu dengan kekaguman.
"Kakak cantik sekali, sudah dari mana?." Tanya Isyana dengan mata penuh kekaguman.
"Emm kakak abis pulang dari acara teman kakak berulang tahun." Ucap Innara berbohong.
"Kakak pakai make up? Baru kali ini loh Isyana liat kakak bermake up ternyata cantik sekali melebihi model internasional yang bernama Liora Lovenia itu." Pekik Isyana dengan mata berbinar.
Innara pun tertawa kecil.
"Kau ini bisa saja ya memuji kakak berlebihan." Ucap Innara menggelengkan kepalanya.
"Kakakku memang cantik, dress ini sepertinya mahal sekali kak." Ucap Isyana sambil memegang kain dress yang di pakai Innara.
"Hmm kakak ini hanya menyewa saja kok." Sahut Innara tersenyum.
"Ishh ishh pasti mahal sekali jika membelinya kak." Ucap Isyana.
"Kau sudah makan?." Tanya Innara.
"Sudah dong kak." Sahut Isyana.
"Ya sudah kamu tidur sana besok kan sekolah, kakak mau mandi dulu badan kakak terasa lengket sekali." Ucap Innara.
"Mandi jam segini tuh tidak boleh kak, bahaya." Sahut Isyana.
"Tapi kakak gerah sekali bagaimana?." Tanya Innara.
"Jangan sering sering aja kakak mandi malem nya, mau pakai air hangat?." Tanya Isyana.
"Hmm tidak usar, sayang sekali gas nya." Sahut Innara.
"Ihh tapi kan kak.."
Innara pun langsung masuk ke arah kamar mandi.
Isyana pun menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Innara.
****
Innara baru saja menyelesaikan ritual mandinya.
Tiba tiba ada sebuah notif pesan di ponsel Innara yang membuat Innara penasaran, siapa yang memberi pesan di larut malam seperti ini.
Saat Innara mengecek ponsel nya tiba tiba ia membelalakan mata nya saat menatap layar ponsel.
Revan :
...Selamat malam Nara, semoga mimpi indah ya :)...
Revan memberikan pesan mengucapkan selamat tidur padanya.
Mata Innara langsung berbinar binar dan segera membalasnya.
Innara :
Terima kasih Revan, selamat malam dan mimpi indah juga..
Innara pun menatap ponsel nya dengan tersenyum sendiri.
"Tumben sekali Revan memberi pesan padaku, mungkin dia sibuk akhir akhir ini makanya dia sangat jarang mengunjungi Cafe Violets." Gumam Innara dalam hatinya.
Innara menghela nafasnya.
"Hufftt! Kenapa aku tiba tiba mengingat Revan." Gumam Innara dan mengingat kembali saat bersama Revan.
"Jujur saja, aku sangat nyaman jika bersamanya. Tapi aku tidak tahu apa Revan memiliki perasaan yang sama sepertiku?." Gumam Innara dalam hatinya.
.
.
.
Bersambung....
Salam hangat sejahtera dari Authorš„°ā¤ļø