Marina

Marina
IZIN



"Keluarga yang baik dibagun dengan cinta, dimulai dengan kasih sayang, dan dipelihara dengan kesetiaan. Sadarilah! Lebih baik hidup sederhana tapi bermakna, daripada hidup mewah tapi mengorbankan keluarga."


Pelukan hangat dari Mama dan Papa masih sangat kuat aku rasakan. Tapi aku kemari bukan untuk pulang melainkan meminta izin kepada kedua orang tuaku untuk pergi menjalankan kehidupan baru di rumah yang baru dan suasana yang baru walaupun semua itu tidak seindah dan semoga saat aku tinggal bersama Papa dan Mama ku.


Tidak ada yang lebih tulus menyayangi kita selain keluarga kita sendiri. Hampir setiap orang memiliki harapan yang sama tentang keluarga, yaitu keluarga yang tenang, tentram, bahagia, dan sejahtera. Namun untuk menciptakan keluarga yang bahagia serta langgeng adalah hal yang tidak mudah.


Peran Ibu dan Ayah sangat penting dalam sebuah keluarga. Banyak hal yang bisa terjadi karna jasa-jasa mereka. Mereka telah melalui rasa lelah dan sakit karena merawat dan menyekolahkan serta mendidik anak-anaknya.


Satu hal yang aku pahami, tak perlu menjadi kaya untuk menambah keharmonisan di dalam keluarga. Berikanlah apa yang bisa diberikan untuk keluarga, walau hanya sekadar kumpul bersama, bercanda bersama, dan melihat wajah-wajah ceria di dalam keluarga.


"Papa, Mama, sebenarnya Azam kemari hanya untuk satu tujuan yaitu meminta izin dan berkah dari Papa dan Mama untuk hidup Azam berikutnya. Azam berniat untuk hidup mandiri bersama Maya."


"Kenapa?" tanya Mama. Apa kamu tega meninggalkan Mama sendiri di rumah ini Azam? " tanya Mama dengan tatapan memelas.


"Azam ingin mandiri Ma. Azam ingin hidup sederhana namun bisa beribadah dan benar-benar bisa menjadi seorang suami yang baik untuk Maya."


"Tapi Azam .... "


"Sudahlah Ma, Azam benar. Memang lebih baik untuk mereka jika tinggal di rumah lain."


"Lagipula Mama bisa datang kapan saja Mama mau. Azam juga pasti sangat senang jika Mama bersedia berkunjung dan menginap di rumah Azam."


"Kamu sudah menemukan rumahnya?"


"Belum Pa. Rencananya besok Azam akan berjalan sendiri mencarinya. Yang jelas, rumah sederhana saja pa, sesuai dengan uang tabungan Azam."


"Pelan-pelan saja, lagi pula kalian bisa menginap di hotel untuk sementara waktu. Tidak masalah seberapa lama kalian di sana, Papa akan membayarnya."


"Terimakasih banyak Pa. Tapi secepat mungkin Azam akan meninggalkan hotel."


Perkataanku mungkin seperti seorang anak yang sombong dan melawan pada orang tuanya. Tapi sebenarnya tidak begitu, aku hanya tidak ingin hidup berlama-lama dengan uang hasil kerja sama dengan iblis. Setelah perbincangan singkat diantara kami, aku berniat untuk meninggalkan rumah megah ini. Tapi sebelum aku melakukannya, Aku ingin mengetahui sesuatu.


"Apakah aku boleh mengetahui tentang mengapa keluarga kita bisa memiliki hubungan dengan makhluk gaib seperti itu. Aku yakin Papa tahu bahwa semua ini adalah perbuatan syirik yang sangat dibenci oleh Allah."


"Seperti yang sudah Papa katakan sebelumnya Azam. Semua ini bukanlah keinginan Papa dan Papa hanya menjaga agar keluarga kita terhindar dari bencana dan kematian."


"Aku ingin tau segalanya Pa."


"Dulu, Kakek buyutmu adalah seorang pekerja keras. Dia seorang petani yang ramah, rajin dan juga terampil. Beliau sering dijadikan contoh bagi petani dan peternak lain yang berada disekitarnya maupun di daerah lain, dalam hal memelihara ternak, mencari pakan ternak, serta bercocok tanam," ucap Papa.


"Selama itu, Kakek buyutmu adalah manusia yang bernilai di mata manusia lainnya. Apalagi beliau adalah salah satu tokoh adat di desa. Uang dari hasil pertanian yang ia dapatkan, ia gunakan untuk membangun rumah, menyekolahkan anak-anaknya yaitu Ayah Papa dan 4 saudara lainnya, dan mengobati istrinya yang sedang sakit, serta tidak lupa pula beliau turut serta dalam membangun masjid di Desa," sambung Papa sambil menarik nafas panjang.


"Lama kelamaan, Kakek buyutmu melakukan kerjasama dengan perusahaan besar. Beliau bersama rekan-rekan petani dan peternak lainnya berhasil meningkatkan taraf hidup penduduk di desa tersebut hingga beliau diangkat menjadi ketua kelompok."


"Tapi, keberhasilan bagi kita belum tentu membuahkan hasil kesenangan bagi semua orang. Suatu hari, entah dengan alasan apa, seluruh ternak Kakek Buyutmu dan anggota kelompok lainnya yang sudah siap untuk dijual di perusahaan besar, mati mendadak."


"Kakek Buyutmu dituntut, baik dari sisi perusahaan maupun rekan-rekan peternak dan petani lainnya. Hingga akhirnya ia harus menjual semua aset berupa rumah, tanah, menghentikan sekolah seluruh anaknya, bahkan menghentikan pengobatan istrinya. Dia dihina, dicaci, dan dimaki padahal selama itu, ia selalu berusaha membantu dan menjadi orang yang baik."


"Dalam keadaan yang benar-benar terpuruk dan hancur, beliau hanya merasa tinggal seorang diri tanpa teman yang selama ini banyak ia bantu, baik dari segi keuangan maupun pemikiran. Penyakit nenekmu semakin parah dan akhirnya meninggal dunia, anak-anak tidak lagi bersekolah, hidup mereka di bawah garis kemiskinan, bahkan untuk makan pun sulit dan Kakek buyutmu sangat marah dengan keadaan."


"Ia mencari jalan keluar lain untuk dapat kembali merasakan makan nasi terutama untuk anak-anaknya. Akhirnya ia diberikan jalan hitam oleh orang pintar tempat beliau melakukan semedi dan puasa mutih selama 40 hari, dengan memelihara parewangan gaib tingkat tinggi."


"Beliau terbayang semua penderitaan yang ia rasakan termasuk kematian istrinya, keinginan balas dendam bahkan membunuh memenuhi ruang hatinya. Lalu tiba-tiba, keesokan harinya, seluruh keluarga Kapala Desa tersebut ditemukan dalam kondisi mengenaskan dan tidak bernyawa. Sejak saat itu, parewangan gaib tersebut meminta darah di setiap weton Kakak buyutmu. Jika tidak, maka anak kandung lah yang menjadi korbannya."


"Kakak buyutmu memilih untuk meninggalkan desa. Ia berusaha mencari jalan keluar untuk membungkam gaib yang terlebih dahulu sudah mencicip darah Kakek buyutmu. Tapi sayang ... satu-satunya petunjuk yaitu orang pintar (Pemilik asli parewangan) mati secara tiba-tiba."


"Seperti mati rasa dan asa, beliau terus mencari jalan agar dapat memutus tali ikatan perjanjian darah tersebut. Beliau tidak sanggup menjadikan orang lain sebagai tumbal dan beliau juga tidak mampu untuk menerima kenyataan bahwa anak-anaknya adalah santapan cadangan bagi makhluk gaib tersebut."


"Bagaimana rupanya Pa?"


"Jangan pernah memandangnya apalagi menyentuhnya Azam! Papa berjanji akan mencari jalan keluar untuk urusan ini. Berapapun maharnya, akan Papa berikan kepada siapapun yang mampu menghancurkan kutukan ini."


"Papa .... " ucapku sambil menatap Papa yang tampak sesak dengan semua keadaan ini.


"Ini adalah contoh buruk Azam, satu hal yang perlu kamu ketahui. Jika suatu saat nanti makhluk ini bisa dikunci, maka kamu harus menjaga lisan dan hatimu! Jangan sampai ada kebencian dan rasa sakit hati yang berlebihan karena ia bisa bangkit dan memakan korban kembali, kemudian ia akan memperbudak dirimu seumur hidup."


"Azam mengerti Pa .... " ucapku lirih.


"Kamu adalah keturunan ke-lima, Azam."


"Apa maksudnya Pa?"


"Jika Papa berhasil mengunci makhluk itu dan kamu tidak lagi menggunakan jasanya, maka ia akan benar-benar membatu dan tidak akan mengganggu keturunan keluarga Wibowo kembali. Tapi jika kamu melakukan kesalahan dan menggunakan jasanya, baik dalam keadaan sadar maupun tidak. Maka ia akan kembali bangkit bahkan lebih kuat dari sebelumnya dan menjadikan anak keturunan kita sebagai budaknya."


"Na'uzubillahiminzalik .... " ucapku dengan menahan perasaan yang bergetar hebat.


"Kenapa kita tidak memanggil Alim Ulama saja Pa? Azam rasa itu jalan keluar yang paling tepat."


"Papa mengerti, bahkan sangat mengerti Azam. Tapi ... izinkan Papa melakukan sesuatu sendiri, agar dirimu tidak cacat."


"Azam tidak mengerti Pa."


"Dia sangat pintar Azam. Ini memang sangat sulit dipahami bagi orang awam karena semua ini di luar nalar dan bertabrakan dengan nurani. Begini simpelnya, saat makhluk itu kehilangan tangannya maka kamu juga tidak akan bisa menggerakkan tanganmu lagi Azam (Seperti terkena penyakit struk), apalagi bila ia terluka lebih."


"Jadi, jalan satu-satunya hanya menjadikan makhluk gaib itu seperti patung atau batu?" tanyaku yang semakin memahami situasinya.


"Tepat sekali Azam. Sebenarnya saat kita bercakap-cakap seperti ini dia mampu mendengarkan dengan baik dan dia akan menyusun strategi agar posisinya aman. Tapi saat ini, Papa rasa dia sedang tertidur pulas karena baru saja diberi makan. Makanya Papa bisa menjawab setiap pertanyaan darimu."


Aku terdiam dan tertunduk sambil berpikir tentang apa yang sebenarnya terjadi di dalam keluargaku.Ternyata beban yang dipikul Papa sangatlah besar dan aku baru mengetahuinya sekarang, setelah sekian lama aku menahan rasa sakit dan kebencian terhadap dirinya, hanya karena aku merasa tidak pernah dianggap seperti putra kandungnya.


"Iblis akan memiliki banyak cara untuk membawa kita ke ruang yang bernama neraka. Oleh karena itu, manusia diminta untuk senantiasa bersyukur di dalam kehidupan terendah maupun tertinggi. Kita juga seharusnya selalu mengingat Allah di setiap tarikan maupun hembusan nafas kita."


Bersambung....


Yuk mampir ke novel lainku yang berjudul ROH DAN KEMATIAN,


CINTA DAN DOSA.


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘