
1 minggu kemudian.
Akhirnya Maya menerima perjodohan ini dengan iklas. Semoga pengorbanan ini bisa memperbaiki semua keadaan, walaupun ia tidak pernah tau tentang apa yang akan dihadapi kedepannya. Pasrah saja kepada Allah dan berusaha menjalankan semuanya dengan baik, tulus dan ikhlas.
Bayang-bayang wajah Azam bermain dimata Maya. Bagi Maya, ia hanya bisa memiliki Azam lewat bayangan tangkapan camera kecil dikedua bola matanya.
Entah mengapa tiba-tiba Maya sangat rindu padanya? Mungkin karena satu minggu ini, Maya tidak pernah ke kampus dan tidak pernah melihat dirinya.
"Maya, kamu yakin dengan keputusan kamu ini? Pernikahan adalah hal yang sakral, bukan permainan. Sebisanya seumur hidup, kita hanya menikah 1 kali dengan laki-laki yang sama dan hidup berbahagia walaupun tidak memiliki segalanya," kata Bu Asih sekali lagi karena melihat keraguan di dalam mata Maya.
"InsyaAllah, Bu. Mohon doa restunya Bu. Terimakasih juga untuk semua yang sudah Ibu berikan kepada ku. Kasih sayang dan ajaran Ibu, akan aku bawa ke dalam kehidupanku setelah berumah tangga nanti. Hanya satu harapanku, Bu. keluarga ini benar-benar mengizinkan aku untuk menuntaskan kuliah ku, Bu."
"Amin Nak, InsyaAllah. Ibu juga sudah menanyakan tentang hal itu kepada Ibu Laras dan Pak Puja. Mereka mengatakan bahwa, mereka tidak keberatan jika kamu meneruskan kuliah kamu."
"Lalu bagaimana dengan suamiku nanti Bu? Apa dia juga akan mengizinkan?"
"InsyaAllah, Nak."
"Iya, Bu."
"Jaga diri kamu baik-baik ya, Maya. Doa Ibu selalu menyertai langkah baikmu."
"Makasih Bu."
"Bu, apa Maya sudah siap? Sebentar lagi akad nikahnya akan segera dimulai. Nanti kalau sudah selesai, Wi jemput ya dan sebaiknya Ibu segera ke luar untuk menyaksikan ijab kabelnya, Bu."
"Baik, Wi," sahut Ibu pada Wita yang juga tampak cantik hari ini. "Maya, Ibu keluar dulu ya, Nak."
"Iya, Bu."
*****
Tak lama, Wita datang untuk menjemput Maya. "Semoga kamu bahagia selalu ya, Maya. Jagan lupakan aku!" Lalu Wita memberikan kecupan tepat di dahi Maya dengan penuh kasih sayang.
"Pikiran bodoh. Mana mungkin aku bisa melupakan kamu, Wita."
Maya dan Wita saling berpelukan hangat, lalu kami berjalan keluar untuk melanjutkan acara ijab kabul untuk pernikahan Maya. Setibanya di hadapan meja pernikahan, Maya duduk dengan tenang di sebelah laki-laki yang tidak ia kenali, tanpa menolehkan wajah ke arahnya.
Saat wali dan calon suami Maya berjabat tangan, Maya merasakan sesuatu yang penuh dan menyesakkan di dada serta kepalanya. Pusing berat, itulah gambaran keadaan Maya saat ini. Sehingga Maya tidak dapat mendengarkan suara apapun yang berada di sekelilingnya dengan jelas.
*****
Setelah proses akad nikah selesai di lakukan, Maya langsung mengambil tangan suaminya dengan kepala yang tertunduk. Maya masih belum mampu menatap wajah laki-laki tersebut.
Pernikahan ini tergolong sederhana dan hanya dilangsungkan di panti. Setelah selesai acara pernikahan dan makan-makan, Bu Laras langsung membawa Maya keluar dari panti. Saat itu Maya pikir, mungkin kami langsung pulang ke rumah, tapi ternyata Maya salah.
"Dari sini kita langsung ke hotel ya, Maya. Ibu sudah menyiapkan kamar yang istimewa untuk malam pengantin antara kamu dan anak Ibu. Semoga kalian menyukainya. Ini kejutan dari Ibu. Oh iya, mulai sekarang, panggil saya Mama!" ujar Bu Laras dengan lembut dan gaya bahasa jawanya yang khas sambil memegang tangan kanan Maya.
"Baik Bu, maaf Ma."
"Ha ha ha ha ha ha ha ... kamu harus terbiasa, Maya."
"Baik, Ma."
*****
Maya dan Mama serta seorang supir, beranjak dari panti asuhan menuju hotel. Setibanya di sana, Mama dan Maya disambut dengan sangat ramah. Tampak sekali jika keluarga ini adalah keluarga terpandang dan sangat disegani.
"Silahkan masuk!" ucap Mama yang tampak tersenyum bahagia setibanya di kamar hotel yang telah dihias sedemikian rupa. Tapi Maya hanya sendiri di kamar ini dan hal tersebut membuat perasaannya menjadi tidak enak. Apa yang akan terjadi padaku? Maya bertanya di dalam hati.
"I-iya Ma, makasih."
"Mama tinggal dulu ya."
"Baik, Ma."
Setelah Mama pergi meninggalkan Maya di kamar besar mewah sendirian, Maya langsung melepaskan hiasan kepala dan mengganti pakaiannya. Maya tampak ingin shalat. Ia berpikir, jika ia melakukannya sekarang, pasti belum terlambat karena masih bisa ia jamak antara shalat dzuhur dan shalat ashar.
Tanpa pikir panjang, Maya langsung membersihkan diri dan melanjutkan ibadahnya. Lelah tapi masih bisa Maya tahan, apalagi ini hanya acara pernikahan sederhana tanpa acara resepsi yang memukau.
Siap dengan shalat, Maya merasa sangat haus dan ia segera minum air mineral yang sudah bersedia cukup banyak. Saat itu, Maya melihat secarik kertas di atas ranjang dan Maya yakin, itu untuknya.
"Maaf untuk ketidak nyamanan ini. Mungkin aku tidak bisa memperlihatkan diriku padamu dalam waktu dekat, begitupun juga dirimu. Aku tidak ingin melihatmu. Bukan karena kamu yang salah, tapi aku. Aku sudah mencintai gadis lain, hanya saja kedua orang tuaku memaksa agar aku menikahimu."
Maya membaca surat dari suami misteriusnya tersebut sambil terdiam karena ia juga merasakan hal yang sama dengan laki-laki itu. Maya juga sudah mencintai orang lain dan ia terpaksa menikah dengan laki-laki lain. Makanya Maya sangat mengerti perasaan suaminya dan ia sama sekali tidak marah kepadanya.
Maya melipat kertas putih itu lalu meluruskan punggungnya dengan berbaring di atas ranjang sendirian, tanpa melepaskan mukenah peninggalan Ibunya.
*****
Situasi:
Pukul 19.30 WIB. Laki-laki berpakaian putih lengkap dengan pecinya berjalan tak tentu arah menyusuri pinggir kota dengan pikiran yang tampak kacau. Suara HP milikny berbunyi beberapa kali tapi ia terlihat tidak menyadarinya.
"Mas, hpnya bunyi, " sapa seseorang yang berjalan tidak jauh dari dirinya.
"Halo. Ada apa Ma? "
"Apa kamu sudah menjalankan kewajibanmu sebagai seorang suami terhadap istrinya?"
"Maaf, Ma."
"Kamu di mana sekarang? Kamu sepertinya di jalan besar, bukan di dalam kamar. Apa yang sedang kamu lakukan? Apakah kamu tidak mendengarkan perkataan Papa dan Mama 1 minggu yang lalu?"
"Maaf Ma, tapi aku ngak bisa. Aku tidak mencintai dia."
"Jangan melanggar perkataan Mama! Lagipula karena kamu tidak mencintai dia, makanya kamu harus tidur dengan dia malam ini. Mama tidak mau tahu, pokoknya kamu harus melakukan apa yang Mama katakan. Jika tidak, hal buruk akan terjadi."
"Apa maksud Mama? Aku sama sekali tidak mengerti? Apa yang Papa dan Mama sembunyikan dariku?"
"Apapun yang Mama dan Papa lakukan kepadamu saat ini, semata-mata hanya untuk kebaikanmu."
"Aku tidak akan melakukannya jika Mama tidak mengatakan kebenarannya padaku."
"Mama akan mengatakannya, tapi dengan satu syarat. Kamu harus melakukan apa yang Mama minta terlebih dahulu. Jangan bohong! Mama tau jika kamu sudah melakukannya atau belum."
"Tapi, Ma."
"Mama bersumpah, jika kamu tidak segera melakukannya, Mama akan mengakhiri hidup Mama malam ini juga."
Dengan berat hati, laki-laki itu berjalan ke arah yang berlawanan dan ia harus melakukan apa yang diinginkan oleh Mamanya, walaupun dia tidak ingin dan merasa tidak bahagia.
Bersambung...
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya sebagai penulis. Makasih 😘😘😘