
Samar-samar suara Azam masih terdengar ditelingaku. Ia membacakan ayat-ayat perlindungan dan rangkaian doa untuk memohon perlinduangan dari gangguan dan kejahatan setan serta jin secara terus-menerus tanpa henti, seperti rembulan yang selalu menyinari malam yang gelap walau tanpa dipintai.
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ اَلتِي لاَ يُجَاوِزُهُنَ بِرٌّ وَلاَ فَاجِرٌ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ وَذَرَأَ وَبَرَأَ وَمِنْ شَرِّ مَا يَنْزِلُ مِنْ السَّمَاءِ وَمِنْ شَرِّ مَا يَعْرُجُ فِيهَا وَمِنْ شَرِّ فِتَنِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ طَارِقٍ إِلَّا طَارِقًا يَطْرُقُ بِخَيْرٍ يَا رَحْمَنُ
A’uzu bikalimatillahit tammatil lati la yujawizuhunna birrun wala fajirun min syarri ma kholaqa wa zaro-a wa baro-a wamin syarri ma yanzilu minas sama-i wamin syarri ma ya’ruju fihaa wamin syarri fitanil lail wan nahaari wamin syarri kulli thoriqin illa thoriqoy yathruqu bikhoirin ya rohman.
“Aku berlindung dengan tanda-tanda kekuasaan Allah yang Maha Sempurna, yang tidak melebihi batas antara kebaikan dan keburukan dari kejahatan apa yang telah Dia ciptakan, dari kejahatan apa-apa yang turun dan naik ke langit, dari kejahatan apa-apa yang tumbuh dan keluar dari bumi, dari kejahatan ujian malam dan siang, dan dari kejahatan setiap yang berjalan kecuali dia berjalan membawa kebaikan, wahai Maha Pengasih.”
Tidak tau lagi harus berkata apa atas nikmat yang telah Allah berikan kepadaku saat ini. Ternyata Azam adalah seorang imam yang baik. Tadi, mungkin saja ia memang melakukan kesalahan yang menyakitkan hatiku. Tapi bagiku yang penting saat ini, ia telah menyadarinya dan bersedia menerima aku sebagai istrinya.
Suara Azam berhenti saat suara azan berkumandang. Ini sudah subuh? Tapi aku sulit untuk membuka kedua mataku. Saat suara Azan di mesjid berhenti, Azam menyandarkan tubuhku di dinding, lalu ia berdiri untuk melafazkan Azan kembali di dalam kamar ini.
Siap dengan Azan dan komat, Azam langsung mengatakan padaku dengan suaranya yang lebut, "Maya, ayo buka matamu! Izinkan aku menjadi imammu dalam shalat pertama kita ini."
Seperti padang pasir yang tandus lalu disirami air zam-zam, suara Azam mampu membuat diriku melewati batas lelahku. Dengan cepat mataku membuka lalu aku kembali mengambil air wudhu untuk lebih meyakinkan kesucian diriku.
Kami melakukan shalat bersama dan Azam menunjukkan kepiawaiannya sebagai seorang imam dengan caranya memimpin shalat subuh di hari pertama kami. Shalat adalah sumber utama kekuatan kami dalam menatap dunia sebagai sepasang suami istri muda.
Saat sinar matahari mulai menembus pori-pori pentilasi kamar, Azam membalik tubuhnya dan memberikan tangan kanannya kepadaku. Dengan segala hormat, aku segera menyambut tangan Azam dan menciumnya.
Azam mengangkat wajahku dan menatap mataku dalam-dalam, tapi aku tidak mampu membalas tatapannya dalam waktu yang lama. "Maaf untuk semua yang sudah terjadi, sebenarnya aku tidak berniat untuk menyakitimu. Hanya saja, aku sama sekali tidak tau bahwa itu kamu Maya."
"Aku juga minta maaf Azam, karena gara-gara aku, kamu sekarang terperangkap dalam pernikahan ini," sahut ku dengan suara yang lirih dan perasaan iba.
"Apa maksud kamu Maya?"
"Tidak ada," jawabku dengan wajah yang semakin Tertunduk.
"Oh ... soal itu, " sahut Azam sambil menghela nafas panjang, seakan tau apa maksud ku walaupun aku tidak mengatakannya. "Soal itu memang aku tidak berbohong padamu."
"Iya .... " ucapku sendu hampir menangis. Cintaku bertepuk sebelah tangan dan itu sangat menyedihkan. Ucapku tanpa suara.
"Maaf Azam, aku ingin istirahat duluan. Terimakasih sudah menjagaku," kataku dengan suara berbisik karena tidak sanggup lagi mendengar Azam memuji wanita lain di hadapanku.
Aku langsung berdiri dan melepaskan mukenah milikku. Tapi pada saat diriku ingin melangkahkan kaki meninggalkan Azam, ia langsung berdiri dan menahan tangan kananku dengan tangan kirinya.
Aku menatap ke belakang untuk memastikan apakah yang aku rasakan itu benar, bahwa Azam tengah memegang tanganku dengan lembut. Saat mataku bertemu dengan matanya, Azam mengatakan sesuatu padaku, "Maya, satu-satunya gadis yang aku cintai itu adalah kamu."
Seperti mendapat angin segar dari surga, wajahku yang tadinya terasa sembab dan panas saat ini menjadi dingin dan lembab. Selain itu, pipiku seakan tertarik dengan kencang ke atas dan memerah. Mataku yang tadinya sayup kini membesar dan terasa sangat ringan serta terang.
"Maya aku sangat mencintai kamu. Apakah kamu bersedia memaafkan aku? Apakah kamu ikhlas menjadi istriku untuk yang pertama dan terakhir?" tanya Azam dengan tatapan matanya yang tajam dan aku sangat yakin bahwa ia tidak sedang main-main.
"Azam .... "
"Aku akan menjadikanmu bidadariku Maya, baik di dunia maupun di akhirat. Apakah kamu siap dan sanggup berlayar dengan perahu mungil yang aku miliki?" tanya Azam tanpa henti bahkan ia tidak memberikan aku waktu untuk menjawab pertanyaan darinya.
Aku hanya terdiam dan terus menerus menatap Azam dengan air mata yang memenuhi kelopak mataku, lalu aku tertunduk. Seperti mimpi yang jadi kenyataan, aku merasa hidupku sangat indah saat ini. Bahkan aku bisa melupakan semua rasa sakit dan kesepian serta kesedihan yang aku rasakan selama hidupku.
"Kenapa kamu hanya diam dan tertunduk Maya? Apa kamu tidak bisa memaafkanku atau apa kamu tidak bisa mencintai aku? Aku ingin kamu jujur padaku!" ujar Azam yang berbicara panjang lebar dan aku sama sekali tidak menyangka bahwa Azam bisa banyak bicara seperti saat ini.
"Azam, aku menunduk bukan karena tidak memaafkanmu ataupun sakit hati padamu. Tapi aku menunduk karena rasa malu. Dan asal kamu tahu saja Azam. Walaupun aku tidak pernah sanggup menatap matamu dalam waktu yang lama, tapi sebenarnya aku selalu menyebut namamu di dalam doaku. Aku meminta kepada Allah untuk bisa hidup berdampingan denganmu dalam keadaan apapun, aku ikhlas menerimanya."
"Maya ...." ucap Azam sambil mendekatkan tubuhnya pada tubuhku, lalu ia memberikan kecupan hangat di dahiku dan memelukku dengan erat. "Kalau begitu, bagaimana jika kita mengulang kembali apa yang salah tadi malam? Biarkan aku menjalankan kewajibanku sebagai seorang suami dengan cara yang lebih baik."
Aku sangat merasa malu mendengar ucapan Azam, tapi aku juga tidak dapat menolaknya karena selain aku adalah istrinya, aku juga sangat mencintainya. "Baiklah .... " ucapku sembari melemparkan senyum termanis yang aku miliki. Rasanya semua lelah ku hilang dan aku siap melayani suamiku dengan sepenuh jiwa dan ragaku.
Bersambung....
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘