Marina

Marina
PROLOG



"Orang-orang yang paling berbahagia tidak selalu memiliki hal-hal terbaik, mereka hanya berusaha menjadikan yang terbaik dari setiap hal yang hadir dalam hidupnya."


*****


Pagi ini aku berniat untuk berangkat ke kampus lebih awal karena ada yang harus aku kerjakan terlebih dahulu. Ini berurusan dengan tugas-tugas kampus yang Maya kerjakan. Ada beberapa teman yang malas dan Maya yang menyelesaikan tugas mereka, lalu mereka akan membayar dengan sejumlah uang.


Setelah mengenakan pakaian yang pantas, Maya keluar dari kamar yang diisi 5 orang. Seperti biasanya, Maya langsung berpamitan kepada Ibu Panti dan meminta doanya sebagai pengganti doa Ibu dan Ayah.


Iya, Maya adalah penduduk Panti Asuhan Kasih Ibu. Selama ini, Maya tidak pernah merasakan kehangatan dan kasih sayang keluarga yang sebenarnya. Maya juga tidak bisa merasakan lengkapnya sebuah keluarga.


Jika Maya bisa memilih, sudah pasti ia akan meminta untuk hidup bahagia bersama keluarga tercinta. Tapi apa daya, tidak semua dari kita beruntung dan harus hidup bersama yang lainnya di dalam panti asuhan. 


Dari pintu ruangan, Maya melihat Ibu Panti menyanggah kepalanya yang tertunduk dengan kedua tangannya, serta jari-jari yang memijat kecil kedua sisi dahinya. Ia tampak begitu tertekan dan berfikir keras. Menyadari hal itu, Maya menghentikan langkahnya sejenak dan berdiri tanpa berani masuk ke dalam ruangannya.


"Maya," sapa Ibu panti yang tampaknya sudah menyadari kehadiran gadis muda belia tersebut.


"Iya Bu .... "


"Ada apa, Nak?"


"Maya izin ke kampus apa boleh Bu?"


"Tentu saja Maya. Di panti ini, hanya kamu satu-satunya anak berprestasi dan kamu harus melanjutkan sekolah kamu hingga akhir," ujar ibu panti sambil berjalan ke arah Maya. "Dengar ya Maya, Kamu adalah satu-satunya harapan ibu untuk membangun Panti Asuhan ini. Jika Ibu tiada nanti, Kamulah orang yang akan melanjutkan perjuangan ibu merawat adik-adikmu dan menolong sesama manusia lainnya."


"Iya Bu, tapi Maya melihat, akhir-akhir ini sedikit sekali bantuan datang untuk kita. Lalu bagaimana Maya bisa melanjutkan sekolah Maya?" tanya Maya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ibu akan berusaha sekuat tenaga untuk terus mengurus kalian semua, termasuk membiayai kuliah kamu Maya. Lagipula, uang kuliah kamu itu ngak mahal karena kamu selalu memperoleh nilai terbaik dan mendapatkan beasiswa, Nak."


"Iya Bu, kalau gitu Maya pamit dulu." Lalu Maya berangkat ke kampus dengan berjalan kaki sambil berfikir tentang apa yang bisa ia lakukan demi meringankan beban Ibu Asih.


Ya Allah ... apa yang harus aku lakukan?Semakin hari, semakin berbeda. Orang-orang yang perduli pada kami pun semakin berkurang. Bahkan kami kehilangan beberapa donatur tetap yang selama ini menjadi sumber kehidupan kami.


Panti ini sudah berusaha untuk berdiri sendiri. Tapi banyaknya kasus kematian orang tua, jumlah anak yang dibuang, serta kekerasan di dalam rumah tangga, membuat panti yang kami tempati menjadi semakin sesak dan penuh, sementara bantuan menurun.


Maya Anggraini, setidaknya itulah nama yang diberikan Ibu Asih kepadanya. Ia tidak mengenal Ayah maupun Ibu kandungnya. Maya tidak tahu mengapa mereka membuang dirinya. Maya juga tidak mengerti, mengapa ia tidak dilahirkan dalam keluarga yang utuh dan sempurna seperti teman-teman yang lainnya.


Maya merupakan anak yang pemalu dan sedikit bicara, tapi aku pandai berorganisasi. Baginya, hidup adalah kumpulan dari orang-orang dengan latar belakang yang berbeda-beda namun tetap memiliki rasa kasih sayang yang luar biasa. Selain itu, menurut Bu Asih, Maya adalah wanita yang kuat dan mandiri serta cantik.



Satu yang Maya sadari, kita tidak bisa memilih untuk hidup di keluarga sempurna atau bahkan tidak memiliki keluarga. Hidup terkadang memberikan kita banyak sekali kejutan yang tak terduga. Siapa sih yang ingin tinggal di panti asuhan? Tapi ia tetap bersyukur karena memiliki Ibu Asih yang selalu baik dan peduli padanya serta menyayanginya.


Maya tiba di kampus dengan beberapa tetes peluh yang bertengger disekitar wajahnya. Maya menarik nafas beberapa kali untuk menetralkan detak jantung yang sudah berpacu cukup kuat, akibat jalan cepat yang ia lakukan.


Ketika Maya ingin menaiki anak tangga untuk menuju ke dalam ruang kelas, tanpa sengaja ia menabrak tubuh seseorang yang sangat besar dan terasa kuat hingga tubuh Maya terdorong beberapa langkah ke belakang.


Maya melihat ke arah lawannya, begitu juga sebaliknya. Ketika mata Maya dan matanya bertemu, Maya dapat merasakan sesuatu yang berbeda di dalam hatinya dan hal itu sudah ia rasakan sejak awal.


Tanpa ucapan sepatah kata pun, Maya menganggukkan kepala lalu meninggalkan laki-laki yang ia kagumi sejak awal semester 1. Maya ingat ketika itu banyak mahasiswa yang mengejeknya, tapi laki-laki itu menarik tangan Maya untuk menjauhi mereka (orang-orang yang mencibir Maya).


Namanya Azam. Kalau dihitung-hitung dan dipikir-pikir, Maya dan Azam sudah berteman hampir 3 tahun. Tapi selama itu, Maya tidak pernah mendengar suara Azam sama sekali. Baik itu di dalam kelas maupun di luar kelas, dia benar-benar laki-laki yang misterius tapi sangat tampan dan pandai menghargai perempuan. Itulah yang membuat Maya kagum padanya.



Selama ini, Maya sering memperhatikan Azam dalam diam. Dia adalah salah satu alasan Maya untuk betah di kampus. Satu hal yang Maya ketahui tentang dirinya, dia hampir sama dengan Maya. Selain pendiam, dia juga selalu sendirian seperti tidak memiliki teman.


Azam memiliki tatapan yang tajam, namun lembut. Entah mengapa setiap Maya menatap kedua matanya, Maya merasa ada cinta di sana. Selain itu, Maya dapat merasakan keteduhan dan perlindungan yang selama ini sangat ia rindukan.


*****


Hari ini Maya pulang lebih awal dari kampus dan langsung menuju panti. Setibanya di halaman panti, Maya melihat sebuah mobil mewah terparkir di sana. Mungkinkah ini mobil donatur baru yang akan menyumbangkan sedikit hartanya untuk kami yang kurang beruntung? Tanya Maya di dalam hati sambil melangkah ke dalam panti asuhan dengan langkah yang cepat.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, Maya. Kamu sudah pulang, Nak?" tanya Ibu dengan tatapan tegang dan itu membuat aku khawatir.


"Sudah, Bu. Hari ini pulang agak cepat."


"Oh iya Maya, ini adalah Bapak Pujo dan Ibu Laras." Maya pun segera menyapa dan mengulurkan tangannya dengan santun.


"Ho, jadi ini yang namanya Maya? Cantik sekali," ucap Bu Laras sambil tersenyum manis ke arah Maya, lalu ia menatap suaminya sambil menganggukkan kepala begitu juga sebaliknya. Maya tidak mengerti maksud dari isyarat di antara keduanya, hanya saja firasat Maya tiba-tiba memburuk.


"Maksud kedatangan kami berdua adalah untuk menjemput kamu, Maya. Setelah dilihat-lihat, kamu adalah satu-satunya yang cocok kami bawa untuk menjadi anak menantu di rumah kami," ucap Bu Laras dengan senyumnya yang sangat menawan.


Braaak


Pas foto diriku yang tergantung di dinding, tiba-tiba terjatuh dengan sendirinya tanpa angin maupun sentuhan.


"Astagfirullah hal azim .... " ucap Maya dan Ibu Asih serentak dengan nada terkejut.


"Auh .... "


"Kamu ngak papa, Nak? " tanya Bu Asih dengan suara yang cemas sambil memegang tangan Maya yang terluka.


"Maya ngak papa kok, Bu," sahut Maya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Maaf Bapak, Ibu, sebentar ya. Silahkan duduk."


"Baik, terimakasih."


Ibu Asih menarik tanganku ke belakang dengan jarak yang cukup jauh dari kedua orang tamu kami. "Maya, dengar Nak! Jika kamu tidak bersedia, kamu tidak perlu melakukannya," ucap Ibu Asih sambil mengobati luka kecil di jari manisku.


"Apa mereka menawarkan bantuan Bu?" tanya Maya sambil menatap ke arah Ibu Panti yang tertunduk dengan air mata yang menggantung di ujung kedua matanya.


"Mereka akan memberikan bantuan setiap bulannya jika kamu bersedia menjadi anak menantu mereka. Selain itu, mereka tetap akan mengizinkan kamu untuk kuliah, walaupun kamu sudah menikah nanti."


Aku menarik air hidungku dan berfikir, apakah ini adalah jalan keluar yang Allah berikan kepadaku atas doa-doa yang selalu aku panjatkan kepadanya? Tanya Maya tanpa suara.


Tak lama, Sisil yaitu salah satu penghuni panti, sekitar umur 6 tahun datang ke arah Ibu Asih dan mengatakan sesuatu yang membuat Maya merasa tidak punya pilihan selain menerima tawaran dari tamu tersebut.


"Bu, Sisil lapar .... " ucapnya sambil menggosok-gosok perutnya dengan ekspresi seperti orang yang sedang kesakitan.


"Sisil .... " ucap Ibu Asih sambil menarik tangan kanan Sisil dengan lembut dan membawanya ke dapur. "Kamu makan ini dulu ya, Nak! Besok Ibu janji, kita akan makan nasi lagi," ucap Ibu Asih yang berbisik-bisik, tapi tetap mampu Maya dengarkan dengan baik karena ia mengikuti langkah mereka hingga ke dapur.


"Ya Allah .... " ucap Maya lirih sembari menyeka air matanya yang terlanjur menetes.


Tidak ada pilihan, aku harus menerima tawaran dari kedua orang kaya tersebut. Aku yakin, Allah akan melindungi dan menjagaku karena niatku baik dan ingin membantu Ibu Asih serta adik-adik ku. Ucap Maya di dalam hatinya.


Maya berjalan lamban menuju ruangan Ibu Asih dan ia memberanikan diri untuk menemui tamu asing tersebut. Sesampainya di hadapan pasangan suami-istri tersebut, Maya terdiam. Saat itu, sekali lagi mereka bertanya dengan sangat antusias.


"Bagaimana Maya, apa kamu bersedia?"


"Apa yang akan saya lakukan di sana, Bu?"


"Kamu hanya perlu menikah dengan putra semata wayang kami dan menjadi putri di rumah kami."


"Apa saya masih diizinkan untuk kuliah, Bu?"


"Tentu saja, anak kami juga masih kuliah. Tapi kami sangat ingin segera menikahinya, karena Suami saya ini akan segera keluar negeri dan kemungkinan besar saya akan ikut bersamanya. Jadi, rasanya lebih aman jika meninggalkan putra kami dengan seorang istri di sampingnya," jelas Ibu Laras kepada Maya tentang situasi yang ia hadapi.


"Bagaimana dengan bantuan untuk panti?" tanya Maya bak wanita serakah sambil menelan air liurnya yang berat.


"Untuk itu, jangan dipikirkan. Karena kami yang akan mengurusnya. Kami janji akan memberikan bantuan sembako dan sejumlah uang untuk biaya pendidikan seluruh anak-anak panti ini."


Tawaran yang menarik dan sangat aneh. Ucapku di dalam hati. "Maaf Bapak, Ibu, sebaiknya kita semua memberikan waktu kepada Maya untuk berpikir sebelum mengambil keputusan ini. Pernikahan adalah hal yang sakral dan bukan mainan, jadi jangan sampai menyesal di kemudian hari karena menikah bukan dengan orang yang Maya cintai," ucap Ibu panti yang baru saja tiba dan berdiri di samping Maya.


"Baiklah kalau begitu, jika sudah ada keputusannya, silahkan hubungi kami ke nomor ini," ucap Bu Laras sambil meninggalkan kartu nama suaminya.


"Tapi jangan terlalu lama, karena jika tidak bersedia, maka kami akan mencari pengganti Maya secepatnya." Ancam Pak Puja yang tampaknya sudah bisa membaca gelagat Maya yang memang sangat membutuhkan uang untuk mempertahankan panti ini.


"Baik Pak, Bu .... " sahut Maya lirih karena merasa sangat tertekan.


"Kalau begitu, kami pamit dulu ya ... permisi."


"Silahkan ...." sahut Bu Asih tanpa senyum.


"Bu, Maya pamit kembali ke kamar ya Bu, Maya ingin tidur sebentar."


"Silahkan, Sayang ... istirahatlah dan jangan banyak pikiran!"


"Iya, Bu. Terimakasih."



Amari Amri, sosok sahabat yang sangat baik. Ia adalah sahabat masa kecil Maya selama di Panti Asuhan, tapi nasibnya jauh lebih baik daripada Maya.


Amari diambil untuk menjadi anak angkat keluarga kaya raya saat usianya 8 tahun dan sejak saat itu, Maya tidak pernah bertemu dengan Amari sekalipun.


Bagi Maya, Amari adalah seorang sahabat yang sangat baik. Dia selalu menjaga Maya saat ia merasa takut dan Amari selalu menemani Maya, disaat Maya merasa kesepian. Semoga suatu saat nanti, aku dapat bertemu dengan Amari, ucap Maya di dalam hatinya sambil memeluk foto Amar yang masih ia simpan sejak lama.


Bersambung...


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya sebagai penulis. Makasih 😘😘😘