
"Azam, ayo sarapan dulu! Aku sudah menyiapkan bubur ayam untukmu."
"Apa itu hanya untuk ku?"
"Azam ... itu terdengar kekanak-kanakan."
"Maaf Maya," ujar Azam sambil menatap mataku dari jarak yang sangat dekat.
"Kenapa tidak mengenakan jilbab yang baru aku berikan kemarin?" tanya Azam sembari menarik dan merapikan ujung-ujung hijab tepat di wajahku.
"Sayang."
"Apa? Ulangi! itu sapa'an terindah yang pernah aku dengar."
"Tidak tidak, bukan begitu," jawabku sambil menggeleng-gelengkan kepala ku dan tertunduk malu.
"Hemmmh ... lalu apa?"
"Maksudku, jilbabnya sangat bagus berbahan sutra jadi sayang kalau dipakai ke kampus."
"Eemmmh ... padahal aku sudah berharap kata sayang itu menjadi milikku. Tapi ternyata tidak."
"Maaf Azam, aku .... "
"Aku sayang kamu Maya," ujar Azam sambil memberikan kecupan hangat mulai dari dahi, pipi kiri dan pipi kananku, kedua kelopak mataku, hidungku, hingga daguku.
"Azam .... "
"Katakan sesuatu?"
"Aku juga sangat menyayangimu."
"Bagaimana dengan cinta?"
"Mulai nakal ya. Bukannya aku pernah mengatakan hal itu beberapa hari yang lalu?"
"Tapi aku masih ingin mendengarkannya sekarang," ucap Azam dengan nada suara yang memelas.
"Kamu, kenapa kamu selalu membuat aku malu?"
"Aku ingin kamu terbiasa denganku Maya. Mana boleh seorang istri malu berlama-lama dengan suaminya sendiri.''
"Azam ...." kataku lalu aku menyembunyikan wajah dan tubuhku pada tubuh Azam yang jauh lebih besar dari pada tubuhku sendiri.
"Bagaimana kalau nanti malam kita pacaran Maya?"
"Azam ... iiih ... usil banget."
"Aku anggap jawabannya iya. Maya, sebaiknya kita segera sarapan dan berangkat ke kampus. Jika tidak, mungkin kita berdua tidak akan ke kampus lagi hari ini," kata Azam sambil terus memeluk tubuhku dan menggosok-gosok lembut punggungku.
"Kenapa? Apa ada masalah? Atau apa kamu sakit?" tanyaku sambil menatap wajah Azam.
"Tidak, bukan."
"Terus?"
"Aku mau kamu Maya," sahut Azam lalu dengan cepat, ia menyambar bibirku dan menikmatinya dengan lembut.
Aku ingin mengatakan sesuatu padanya tapi Azam masih terus melekatkan bibirnya pada bibirku. Nafasku mulai tersengal karena terlalu berat merasakan kemesraan yang baru pertama kali aku nikmati bersama seorang laki-laki.
"Aku mau kamu Maya .... " ucap Azam sambil mengatur nafasnya.
"Tidak Azam .... " sahut ku sambil menunduk dan mengatur nafasku.
"Jangan menolak ku. Aku tidak sanggup menahan diri hingga malam."
"Azam, aku sedang datang bulan."
"Apa? Aaagh ... ini cobaan yang berat ya Allah ... sejak kapan Maya?"
"Setelah shalat subuh."
"Seharusnya aku mengambil jatahku tadi malam," ujar Azam penuh sesal. " katakan padaku! Berapa lama aku harus menunggunya?"
"Sekitar satu minggu."
"Maya, itu lama sekali. Benar-benar siksaan pengantin baru," ujar Azam sambil memegang kepalanya seperti seseorang yang tengah sakit kepala berat dan aku malah merasa sangat lucu melihat ekspresi Azam saat ini.
"Maya, jangan menertawakan aku!"
"Maaf Azam, ayo kita ke kampus sekarang!"
"Baiklah ... tapi biarkan aku menenangkan diri dan seluruh tubuhku," jawab Azam yang mengisyaratkan bahwa dirinya dalam mode siap tempur.
Perkataan dan perilaku Azam memancing tawa geli di hati dan bibirku. Agar ia tidak tersinggung, aku menahan tawa ku dengan menggigit bibir bawah ku dan menutup mulut dengan tangan kanan ku. Ternyata laki-laki yang tampak dewasa dan tenang bisa berubah menjadi cacing kepanasan bila berurusan dengan keinginan.
Azam membuat aku merasa bahagia walaupun di awalnya dia sudah membuat aku kecewa dan menderita. Aku sangat ingin berakhir di awal pernikahanku tapi setelah tau suamiku adalah dirinya, aku selalu berdo'a agar Allah memberikan aku umur dan jodoh yang panjang bersamanya, amin.
Setelah 10 menit berlalu, Azam meneguk teh hangat yang berada di atas meja makan lalu ia menarik tanganku dan mengatakan, "Maya, ayo kita berangkat sekarang. Aku tidak sanggup menelan sarapan pagi ku."
"Baiklah Azam."
Kami bergerak meninggalkan rumah tapi aku lupa membawa kunci pintunya sehingga aku kembali masuk ke dalam untuk mengambilnya. Dari arah luar, aku bisa melihat kunci tersebut ada di atas meja makan dan aku bergerak masuk ke dalam rumah untuk mengambilnya, sedangkan Azam sedang memanaskan motornya.
Dengan senyum kecil, aku mengambil kunci tersebut, setelah kunci berada di dalam genggaman tanganku yang masih berada di atas meja makan, aku segera memutar tubuhku menghadap ke depan. Tapi pada saat aku hendak menarik tangan kiriku itu, aku merasa sesuatu menahan tanganku dengan kuat sehingga aku tidak dapat mengangkat tanganku.
Seketika perasaan bahagiaku bergeser menjadi cemas. Aku yakin hanya ada aku saja di dalam rumah ini, lalu siapa yang menahan tanganku dengan sangat kuat? Tanyaku di dalam hati.
Dengan rasa takut dan jantung yang berdebar kencang, aku melihat ke arah tanganku tapi pada saat yang bersaaman, aku merasa bahwa tangan misterius yang menahan tanganku seketika hilang.
Aku langsung menarik tanganku yang sudah memegang kunci rumah, lalu dengan langkah cepat aku langsung keluar dari dalam rumah dan menguncinya. Azam melihatku dan menanyakan tentang apa yang sudah terjadi padaku? Tapi aku mengatakan tidak ada apa-apa, aku hanya dari kamar mandi lalu buru-buru keluar agar kami tidak terlambat.
Bersambung....
Yuk mampir ke novel lainku yang berjudul ROH DAN KEMATIAN,
CINTA DAN DOSA.
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘