Marina

Marina
HARI KE 7



Hari ini terasa terang, seterang hatiku. Walaupun aku tidak tau kemana Azam akan membawaku, tapi bagiku semuanya sama saja. Jalan yang buruk dan berlubang pun tetap aku rasa seperti jalan aspal yang kokoh dan terasa nyaman saat melintas di atasnya.


"Maya, kita hampir tiba. Emh ... kamu tutup mata dulu ya."


"Kok pake tutup mata segala sih Zam? Buat penasaran aja deh."


"Ngak papa. Ya sudah, kalau gitu biar aku aja yang nutup mata kamu."


"Iya."


Setelah beberapa menit, mobil rentalan yang kami sewa berhenti dan aku tau kalau artinya kami sudah sampai. "Ayo turun Maya! Pelan-pelan saja."


"Baik .... "


Dengan mata yang masih tertutup, aku berjalan lambat sesuai iringan langkah kaki Azam. "Sekarang, ayo buka kedua mata kamu Maya!"


"Azam .... "


Aku melihat sebuah rumah ukuran sedang (Tipe 45) di hadapanku dengan pintunya yang terbuat dari kayu berwarna coklat tua. Ini seperti rumah yang ada di dalam mimpiku, baru memandanginya saja, aku sudah merasa nyaman dan bahagia. Ucapku di dalam hati sambil memegang dada dengan kedua tanganku.


"Maya, inilah hunian kita, surga dunia kita. Bagaimana?" tanya Azam sambil memperhatikan ekspresi wajahku dan aku mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum dan menatap Azam dengan hangat.


"Ayo kita masuk! Aku baru membersihkan lantai dan langit-langitnya saja. Sedangkan untuk isinya, aku kurang mengerti," ujar Azam sambil terus tersenyum.


"Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu'alaikum .... " ucapku dan Azam serentak sembari menekan gagang pintu rumah kami.


"Waalaikumsalam .... " sahut kami serentak kembali setelah berada di dalam rumah.


"Maya, hari ini kita beres-beres rumah saja ya. Karena aku sudah memanggil orang untuk bertemu denganmu, supaya kamu bisa memilih perabotan yang bagus untuk mengisi kamar, dapur, dan ruang tamu rumah kita ini."


"Jadi aku tidak perlu masak hari ini?"


"Tidak usah, sebaiknya kita beli saja dan hari ini kita hanya fokus untuk mengurus rumah karena lusa kita harus kembali berangkat ke kampus. Kamu tetap ingin kuliah kan Maya? Begitu juga denganku."


"Iya Azam. Terima kasih karena kamu sudah memberikan yang terbaik untukku."


"Sama-sama Maya. Insyaallah aku akan berusaha untuk memberikan nafkah lahir maupun batin dengan baik dan penuh sehingga kamu tidak kekurangan dan tidak menyesal sudah bersedia menjadi istriku."


"Azam ... kalau gitu aku mau membersihkan lantainya terlebih dahulu ya."


"Iya Maya, aku akan membersihkan kacanya." Aku dan Azam bekerjasama untuk membersihkan dan merapikan rumah kami.


Sekitar 1 jam berlalu, 2 orang laki-laki paruh baya mengetuk pintu rumah dan Azam membukanya. Ternyata beliau adalah orang-orang yang diceritakan Azam untuk memenuhi perabot di dalam rumah ini. Mereka memperlihatkan katalog barang beserta harganya dan aku memilih semua peralatan rumah tangga yang sederhana dengan harga yang pantas.


Setelah memesan dan barangnya sampai,


aku, Azam dan 4 orang pekerja lainnya langsung membereskan rumah dengan cepat. Dengan kehadiran mereka semua, rasanya pekerjaanku menjadi cukup ringan sehingga aku tidak terlalu lelah aku sangat bersyukur karena memiliki Azam yang sangat mengerti dengan keadaanku dan ia bersedia mengurangi beban pekerjaanku.


Ternyata pikiran dan perhitungan ku salah, pada saat aku memasang tirai di jendela utama tepat di ruang tamu, aku sudah merasa letih bahkan tanganku tidak mampu menjangkau ujung-ujung teratas dari jendelanya hingga aku terpeleset dan hampir jatuh. Tapi syukurnya, ternyata Azam berada di dekatku saat itu dan segera menangkap ku.


Azam mengatakan padaku bahwa aku bisa meminta bantuan kepadanya kapan saja, asalkan ia tidak sedang dalam keadaan beribadah. Selain itu, aku tidak boleh lagi melakukan hal-hal yang bisa membahayakan keselamatan ku.


Setelah Azam menurunkan tubuhku dari gendongannya, ia langsung naik ke atas kursi dan menggantikan posisiku untuk memasang kain hordeng di jendela ruang tamu.


Aku sangat ingin cepat beristirahat dan berbaring di samping Azam. Oleh karena itu, aku langsung ke dapur untuk membersihkan gelas dan piring kotor bekas makan malam kami.


Dengan perasaan lelah bercampur bahagia, aku mulai meneteskan cairan pencuci piring di dalam mangkuk dan membuat gelembung serta busa dari sabunnya, kemudian mulai mencuci gelas dan sendok yang berada di atas rak pencuci piring.


Saat aku mencuci beberapa bagian gelas, semuanya tampak dan terasa biasa-biasa saja, tapi setelah aku mulai mencuci bagian piring dan ingin meletakkannya di atas nampan, tiba-tiba nampannya bergeser sendiri untuk menjauhiku.


Dari sudut ujung mata kananku, aku dapat melihat nampan tersebut bergeser dengan sendirinya. Tidak mungkin Azam yang melakukannya, ucapku di dalam hati.


Tak lama, aku melihat kotak sendok yang berada di sudut kiri tembok bergetar dengan sendirinya. Dari sini tampak ujung-ujung garpu seolah-olah mengarah ke wajahku. Menyadari hal tersebut, aku ingin segera berlari keluar tapi tubuhku seakan terkunci. Sepertinya seseorang berperawakan tinggi besar dan sangat kuat sedang mendekapmu dengan erat dari belakang.


"Astagfirullah hal azim ... Azam ...." teriakku dengan mata yang melotot seakan-akan ada yang memegangi kedua bagian atas dan bawah mataku secara bersamaan.


Tak lama, Azam berlari dengan cepat dan menghampiriku. "Maya ... Maya, kamu kenapa?" tanya Azam sambil memegang kedua pipiku dan mengguncang-guncangnya perlahan.


Aku sangat sadar dengan apa yang Azam lakukan padaku tapi aku masih tidak mampu menggerakkan tubuhku seperti biasanya. Lalu Azam membacakan surat-surat pendek dan mencuci wajahku dengan mengambil air di kran cucian piring.


Tak lama, aku dapat bergerak normal dan Azam menanyakan apa yang telah terjadi padaku. Aku menceritakan hal misterius yang baru saja terjadi, tapi disisi lain aku juga mengatakan kepada Azam, mungkin saja aku terlalu letih setelah seharian membereskan rumah sehingga seluruh tubuhku terasa kaku hampir kesemutan.


Azam tampaknya mengerti maksudku yang tidak ingin ia berpikir keras dan khawatir tentang diriku. Lalu Azam mengatakan kepadaku bahwa, "aku harus menjaga diriku dari hal buruk atas perbuatan iblis maupun manusia."


Azam juga mengajarkan aku sebuah ayat yang dapat menangkis hal buruk yang bisa aku gunakan dimana saja dan kapan saja bahkan sebelum tidur. Azam bilang, "Bacalah ayat ini setelah kamu membaca ayat-ayat pendek lainnya! Agar kamu terhindar dari perbuatan buruk manusia dan iblis."


اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَحْفِظُكَ وَنَسْتَوْدِعُكَ دِيْنَنَا وَأَنْفُسَنَا وَأَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا وَأَمْوَالَنَا وَكُلَّ شَيْءٍ أَعْطَيْتَنَا، اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا فِي كَنَفِكَ وَأَمَانِكَ وَجِوَارِكَ وَعِيَاذِكَ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَرِيْدٍ وَجَبَّارٍ عَنِيْدٍ وَذِيْ عَيْنٍ وَذِيْ بَغْيٍ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ ذِيْ شَرٍّ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ 


"Allaahumma innaa nastahfidhuka wa nastaudi'uka diinanii wa anfusanaa wa ahlanaa wa aulaadanaa wa amwaalanaa wa kulla syai'in a'thaitanaa. Allahummaaj 'alnaa fii kanfika wa amaanika wa jiwaarika wa 'iyaadzika min kulli syaithaanim mariid wa jabbaarin 'aniid wa dzi 'ainin wa dzi baghyin wa min syarri kulli dzi syarrin innaka 'alaa kulli syai'in qadiir," ucapnya.


"Ya Allah, kami memohon penjagaan kepada-Mu dan kami menitipkan kepada-Mu agama kami, diri kami, keluarga kami, anak-anak kami, harta kami, dan segala sesuatu yang Engkau berikan kepada kami. Ya Allah, jadikan lah kami dalam penjagaan-Mu, tanggungan-Mu, kedekatan-Mu, dan perlindungan-Mu dari gangguan setan yang menggoda, dari orang yang kejam, dari mata orang yang berniat jahat, dari orang yang bermaksud zalim, dan dari keburukan apa pun yang membawa keburukan. Sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatu," sambung Azam dengan tatapan matanya yang penuh keyakinan.


"Iblis punya banyak cara untuk melemahkan hati manusia ataupun menghasutnya. Tapi Allah sudah lebih dulu memberikan penangkal serta penawarnya melalui ayat-ayat suci Alquran, salam Tinta Emas."


Bersambung....


Yuk mampir ke novel lainku yang berjudul ROH DAN KEMATIAN,


CINTA DAN DOSA.


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘