Marina

Marina
OBROLAN MANIS



Malam ini tampak sangat sunyi, padahal Maya dan Azam tinggal di sebuah perumahan yang ramai penduduknya. Entah kemana perginya semua penghuni perumahan ini? Atau hanya perasaan Maya saja? Tanya Maya di dalam hatinya sambil terus menatap Azam (menyamping) yang tengah tertidur pulas.


Malam ini, sulit sekali bagi Maya untuk tertidur. Sebenarnya tidak ada yang mengganggunya, tapi entah mengapa ia merasa sedang diperhatikan oleh seseorang atau sesuatu yang tidak ia ketahui.


Maya memang tidak dapat melihat hal-hal yang berbau mistis, tapi ia cukup peka untuk merasakan alam lain dan hal itu sering membuat Maya gelisah serta tidak nyaman.


Satu jam berlalu, Maya mulai lelah dan merasakan kantuk. Namun semakin ia terpejam, ia semakin dapat merasakan seseorang atau sesuatu mendekati dirinya dengan sangat cepat dan ia tau bahwa sosok itu bukanlah Azam.


Jantung Maya bergetar dan merasa tak nyaman. sementara matanya mulai lekat dan tidak bisa diangkat. Sambil terus berusaha untuk kembali bangun, Maya menggenggam kedua tangannya sangat erat.


"Allahu Akbar, bangun Maya! Bersucilah!" ucap seseorang dengan suara yang halus dan lembut dengan bisikan nya yang jelas, tepat di telinga kanan Maya.


"Hah ...." Maya terduduk dengan wajahnya yang pucat dan keringat yang memenuhi kulit wajah putihnya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Azam yang juga ikut bangun setelah mendengar teriakan Maya yang sebenarnya tidak terlalu keras.


"Azam, kenapa kamu bangun? Maaf jika suaraku mengganggu tidur mu," ucap Maya yang merasa bersalah sambil menatap Azam yang terus tersenyum di hadapannya, walaupun sedang sangat lelah dan tertekan.


"Bagaimana aku bisa terus tertidur pulas, jika istriku dalam keadaan yang tidak nyaman?" tanya Azam dalam senyum yang hangat sembari merapikan rambut bagian depan Maya yang berserakan dan menghapus keringatnya.


"Azam, aku sangat beruntung memiliki kamu."


Maya, seandainya kamu tau yang sebenarnya. Jika saja kamu kamu mengerti tentang keadaan dan situasinya, apakah kamu masih bersedia berbicara seperti itu? Tanya Azam tanpa suara.


"Apa yang kamu inginkan sekarang, Sayang?"


"Bagaimana jika kamu menemani aku untuk berwudhu, Azam?"


"Baiklah ... dengan senang hati, Tuan Putri."


"Azam, itu sama sekali tidak lucu," kata Maya sembari memukul manja lengan kiri Azam yang terasa kokoh dan keras.


"Aku gendong ya?"


"Nggak ah ...."


"Ayolah ...."


"Azam ... genit deh."


"Ha ha ha ha ha ha ha." Seketika rasa cemas dan takut di dalam diri Maya, hilang dengan sendirinya. Hanya satu rasa yang ada yaitu ketenangan dan kebahagiaan.


*****


Selesai berwudhu, Azam memutuskan untuk menggendong Maya tanpa bertanya. Maya yang kaget, langsung berteriak manja sambil menatap mata laki-laki yang selama ini sangat ia kagumi. Saat mata mereka bertemu, ada dua hal yang mereka inginkan. Yaitu menghabiskan malam dengan cerita dan bercinta.


"Maya, apa kamu lelah?" tanya Azam sambil tersenyum seolah mengisyaratkan keinginannya sebagai seorang pria sejati.


"Jangan menatapku seperti itu, Azam!"


"Kenapa?"


"Lautan kecil di dalam tubuhku bergejolak," sahut Maya dengan nada yang manja.


Maya membenamkan wajahnya tepat di dada Azam yang berotot. Sambil terus menyembunyikan senyum lugunya, Maya memeluk erat leher Azam hingga mereka tiba di atas ranjang halal milik mereka.


Maya dan Azam mulai melakukan pemanasan dengan penuh senyum kehangatan. Tidak ada luka, tidak ada ketakutan, tidak ada keinginan lain, selain menikmati setiap tatapan dan sentuhan manis.


بِسْمِ اللهِ اَللّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا


“Allahumma janibnasyaithana wa janibnisyathanamarazaqna. Dengan nama Allah, ya Allah; jauhkanlah kami dari gangguan syaitan dan jauhkanlah syaitan dari rezeki (bayi) yang akan Engkau anugerahkan pada kami (HR. Bukhari)," ucap Azam dan Maya bersamaan, dibimbing oleh Azam.


"Azam, apa tujuannya?"


"Tujuan membaca doa sebelum melakukan hubungan suami-istri ialah agar ketika sedang melakukan sunnah suami-istri ini, terhindar dari adanya gangguan setan dan calon keturunan (bayi) juga dijauhkan dari gangguan setan yang terkutuk. Jadi ... bisa kita mulai, Sayang?" tanya Azam sambil berbisik di telinga kanan Maya dan hal itu membuat bulu-bulu halus di lehernya berdiri.


"Tentu saja," jawab Maya sambil menatap mata Azam yang penuh keinginan dengan suara yang manja nan menggoda.


Permainan halal terjadi diantara Azam dan Maya. Kebahagiaan dan senyuman terus terpancar diantara keduanya. Yang satu tampak sangat cantik natural dan menggoda dan yang satunya lagi tampak sempurna dengan otot-otot besar di bagian lengan, dada, perut hingga bagian bawah perutnya.


Suara manja mulai terdengar dari sepasang bibir yang terus beradu dengan lembut. Aroma nafas alami menjadi penambah kehangatan diantara dua anak manusia yang saling mencintai dari dasar hatinya.


20 menit berlalu dalam permainan yang panas, Azam mencapai puncaknya. Diiring dengan suara desahan dari bibir wanita yang ia cintai, Azam ingin mengeluarkan lahar putih miliknya sembari berharap, Allah memberikan keturunan yang ia idam-idamkan.


اَللّهُـــمَّ اجْعَــلْ نُطْفَتَــنَا ذُرّ ِيَّةً طَيِّــبَةً


“Allahummaj’alnuthfatna dzurriyyatan thayyibah (artinya, Ya Allah jadikanlah nutfah (lahar putih) kami ini menjadi keturunan yang baik (saleh)," ucap Azam dengan suara yang pelan dan manja ketika lahar putih miliknya akan segera keluar.


"Azam, doa kamu sangat indah," ucap Maya sembari memeluk erat tubuh Azam yang sudah basah karena peluh sembari mengatur nafasnya yang sudah terengah-engah.


"Ayo kita berdoa sekali lagi, Istriku!"


اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ خَلَقَ مِنَ المْـَــاءِ بَشَـــرًا


"Alhamdulillaahi Khalaqa Minal Maa I Basyaraa (artinya segala puji bagi Allah yang telah menciptakan manusia dari air, lalu menjadikannya sebagai keturunan," kata Azam dan Maya bersamaan.


"Amin ...."


"Sayang, mau lagi?" tanya Azam yang tampak ingin menambah kehangatan diantara keduanya malam ini.


"Azam ... kamu tidak lelah?"


"Belum, Sayang. Masih bisa kalau untuk sekali lagi," bisik Azam dan hal tersebut memancing keinginan Maya.


"Baiklah."


Allah telah menyatukan kedua hati yang saling menginginkan dan mendoakan. Tak ada keraguan atas apa yang telah Allah berikan dan putuskan. Jika ada halang rintang dan cobaan kedepannya, bagi Azam dan Maya itu hanyalah cara Allah untuk menguji ketakwaan mereka.


Bersambung.


Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca.