Marina

Marina
PERCINTAAN YANG MENYAKITKAN



Tok tok tok tok tok tok tok tok tok


Pukul 20.10 WIB. Ucapku di dalam hati sambil memperhatikan jam dinding yang terpanjang di tengah-tengah kamar mewah ini. Hanya satu pikiran yang terlintas saat ini yaitu laki-laki di luar sana yang berniat masuk ke dalam kamar ini adalah suamiku.


Sebenarnya ia bisa saja langsung masuk ke dalam kamar karena memang kuncinya ada bersama laki-laki tersebut. Tapi dia memberikan aku isyarat bahwa dia ingin masuk ke dalam kamar ini dan mungkin dia harus melakukan ritual seorang suami terhadap istrinya.


Perasaanku campur aduk saat ini, ada rasa sedih, kecewa, merana, dan juga takut. Tapi aku harus melewati malam ini dengan baik, aku adalah miliknya dan aku tidak boleh berdosa besar di hari pertama aku menjadi seorang istri.


"Heeemh," keluhku dengan suara yang sangat pelan. Ada satu hal yang aku ingat tentang dirinya yaitu ia mengatakan padaku lewat kertas putih dan berkata bahwa ia tidak ingin melihatku dan aku juga tidak perlu melihat dirinya. Lalu bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?


Aku segera melepaskan mukenah yang aku kenakan, lalu aku duduk di atas ranjang sambil menghadap ke arah tembok kamar seakan disana ada tayangan film bernuansa cinta yang sangat indah. Azam, seandainya itu kamu, mungkin saat ini aku adalah wanita yang paling berbahagia. Ucapku tanpa suara.


Tapak kaki berat mulai terdengar ditelingaku, semakin lama semakin dekat dan aku semakin menciut. Nyaliku yang selama ini besar, tiba-tiba hilang seakan saat ini bukan diriku yang sebenarnya. Ya Tuhan, kenapa yang ada adalah ketakutan dan hal lainnya yang tidak aku pahami.


Suara tapak kaki itu berhenti, tanpa menoleh ke arahnya, aku tetap duduk terpaku seperti seorang penjahat yang sedang di hakimi dengan ribuan tatapan mata yang tajam.


Tanpa ku duga, secarik kertas putih kembali terlihat dari sudut kanan wajahku. Laki-laki ini menyodorkan kertas putih dengan tulisan singkat sekali lagi kepada ku.


"Maaf, aku harus melakukannya (Tugas seorang suami pada istrinya, walaupun sebenarnya aku sama sekali tidak ingin melakukannya. Tapi janjiku pada Mama harus aku tunaikan. Tolong rebahkan tubuhmu dalam posisi terungkup dan mungkin ini akan sangat sakit jika kamu masih suci. Satu lagi, tidak perlu menanggalkan pakaianmu!" Aku membaca tulisan dari laki-laki misterius tersebut dengan suara berbisik.


Ada rasa sakit yang luar biasa di dalam hatiku. Kenapa aku harus diperlakukan seperti ini? Ya Tuhan, jika memang ini adalah harga yang pantas untuk kesehatan ibu Asih dan juga kesejahteraan Panti Asuhan dimana aku dibesarkan dan dirawat, maka aku ikhlas menjalani kehidupan seperti ini.


Aku memalingkan wajah dan tubuhku ke kiri, aku sama sekali tidak memperlihatkan kecantikan ku pada suamiku. Tak lama, ia menurunkan pakaian bagian bawah tubuhku dan aku hanya terdiam tanpa memikirkan ataupun melakukan hal yang lainnya.


"Hmmm .... " Terdengar suara gelisah kecil dari mulut laki-laki misterius tersebut. Sekitar 10 menit ia membiarkan aku dalam keadaan seperti ini, ia langsung mengangkat kakiku dan melakukan tugasnya sebagai seorang suami.


Sakit, hanya satu kata itu yang dapat mewakili perasaan dan rasa kewanitaan ku. Aku menahan raungan dari mulutku dengan menyumpalkan ujung bantal ke dalam mulut. Air mataku menetes, ini adalah satu-satunya saksi kesakitan dan kepedihan yang aku alami di malam pertamaku.


Tidak ada sapa'an, tidak ada rayuan, tidak ada godaan, tidak ada kasih sayang, tidak ada cinta, yang ada hanya keterpaksaan. Beberapa menit berlalu, saat ia sudah melepaskan cairan itu di dalam tubuhku, ia melepaskan aku dan kembali meninggalkan aku dalam tangisan.


Aku berusaha menenangkan jiwa dan tubuhku. Aku berusaha untuk duduk dan berdiri guna membersihkan tubuhku. "Sakit ...." keluhku dengan mata yang basah dan hidung yang perih.


Aku berjalan menuju kamar mandi di bantu dinding yang aku gunakan sebagai tempat tangan kiri ku untuk bersandar. Aku ingin mengeluh kepada Tuhan yang pastinya sudah tau kesakitan dan kegelisahan ku. Semoga saja, penderitaan seperti ini tidak berlangsung lama ya Tuhan, atau ambil saja nyawaku. Aku rasa itu lebih baik. Ujarku tanpa suara.


*****


Situasi.


Laki-laki misterius tersebut berjalan meninggalkan hotel bintang 5 ke arah rumahnya. Dengan mengunakan ojek online, ia berharap segera tiba di rumah sekedar ingin tau alasan semua pernikahan ini.


Tok tok tok tok tok tok tok tok tok


"Kamu sudah pulang, Nak? Ayo beristirahat di kamarmu sayang."


"Ma, aku sudah menjalankan apa yang Mama inginkan. Aku sudah melakukan perintah Mama dan sekarang tinggal Mama yang menjelaskan semuanya kepadaku! Jangan lagi ada rahasia diantara kita Ma! "


"Baiklah ... tapi sebelumnya, ayo istirahat di kamarmu. "


Laki-laki misterius tersebut berjalan lambat menuju kamarnya dan ia sangat merasa tidak tenang. Entah mengapa hatinya sangat gelisah, mungkin ia tengah merasa bersalah pada istrinya.


"Sekarang istirahat ya sayang. Besok Mama akan menceritakan segalanya," ucap Mama sambil menggerakkan kakinya meninggalkan laki-laki tersebut, tapi tangan sang Mama ditahan dengan kuat.


"Jangan lagi mempermainkan aku Ma! Jawab semua pertanyaan dariku!"


Sang Mama tertunduk dan terlihat tengah memikirkan ungkapan yang tepat disampaikan kepada anaknya. "Ma .... "


"Aku tidak mengerti Ma."


"Dulu Mama sempat sangat marah, kecewa, bahkan hampir bunuh diri karena mengetahui Papamu menikah dengan Sonia, istri pertama Papamu. Padahal yang Mama tau, Papamu sangat mencintai Mama."


"Lalu? "


"Seminggu setelah pernikahan itu, tepatnya setelah Sonia meninggal dunia. Mama baru diberitahukan alasan sebenarnya dan alasan itu juga berlaku untukmu."


"Tolong jelaskan hingga tuntas Ma ...! "


"Kakekmu, memiliki piara'an gaib yang sangat mengerikan. Memang pada awalnya makhluk itu bersifat melindungi dan sangat membantu di setiap usaha. Tapi semua itu tidak gratis, nyawa adalah taruhannya. Tepat dimalam weton dari anak pemilik parewangan itu , (Saat sudah menikah) nyawanya akan diambil sebagai tumbal kejayaan dan kekayaan."


"Malam ini, adalah malam weton ku kan Ma?" Lalu sang Mama menggangguk-anggukkan kepalanya perlahan.


"Satu-satunya yang dapat menyelamatkan nyawamu hanyalah istrimu."


"Maksud Mama? "


"Tukar tumbal. Dengan syarat, weton nya sama dengan weton mu dan ia merupakan gadis perawan."


"Astagfirullah hal azim .... "


"Makanya saat kamu mengatakan bahwa kamu sudah memiliki gadis yang sangat kamu mencintai, Papa dan Mama semakin bersemangat untuk menjadikan dia sebagai pengantin mu. Tepatnya bukan sebagai istri, melainkan sebagai pengganti tumbal atas dirimu."


"Ya Allah Mama ... itu adalah perbuatan yang keji."


"Mama dan Papa tidak punya pilihan," sahut Sang Papa dari luar. "Kamu adalah anak semata wayang di keluarga ini. Jadi kami tidak punya pilihan."


"Aku tidak percaya dengan semua ini. Jangan-jangan saat ini .... "


"Sebaiknya kamu tetap disini!!"


"Tidak Pa ... dia adalah istriku dan dia adalah makhluk Allah. Satu-satunya yang berhak memutuskan kehidupan dan kematian manusia adalah Allah. Bukan Papa, Mama, atau makhluk manapun."


"Jangan melawan Papa!! "


"Aku akan menolongnya. Aku yakin dia adalah gadis yang baik."


Laki-laki misterius tersebut beranjak keluar dari kamarnya dan berniat untuk menyelamatkan istri yang sebelumnya tidak ia ketahui. Tapi pada saat ia melangkah lebih jauh, dari belakang, pundaknya dipukul oleh Papanya dan ia pingsan seketika.


"Pa, apa yang Papa lakukan? " ujar Sang Mama sambil memeluk tubuh anak laki-laki kesayangannya tersebut.


"Papa tidak ada pilihan, dia terlalu baik sebagai manusia. Makanya Papa bilang, jangan biarkan ia belajar mengaji dan berkumpul dengan anak-anak pondok pesantren itu. Hatinya jadi lemah dan bodoh. Biarkan saja dia tidak sadarkan diri hingga pagi agar ritual ini berjalan dengan lancar."


Bagaimanakah nasib Maya selanjutnya?


Bersambung...


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya sebagai penulis. Makasih 😘😘😘