Marina

Marina
RASUK



Saat bersamanya, ada ketenangan dibalik ketakutan, ada kebahagiaan dibalik luka. Walau semuanya masih tersembunyi, tapi banyak waktu yang memperlihatkan kebahagiaan dalam kegelisahan dan ketakutan yang mencengkram.


Seperti biasanya, Maya selalu menyiapkan sarapan untuk Azam. Maya selalu berusaha memberikan pelayanan yang terbaik, walau dengan biaya yang pas-pasan. Sementara bagi Azam, apapun makanan dan minumannya, asalkan Maya yang menyiapkan, maka semuanya adalah makanan surga.


"Sayang, hari ini kita ada tugas mandiri kan?" tanya Azam yang sedang memperhatikan Maya menuangkan teh hangat untuknya.


"Iya Azam, tapi kita nggak satu kelompok," sahut Maya sembari menghela nafas panjang.


"Iya, benar. Tapi kamu jangan khawatir! Aku akan antar jemput kamu, walaupun arah tempat tugas kita berbeda."


"Bukan itu masalahnya, Azam."


"Heeem, apa karena aku satu kelompok dengan Melisa dan kawan-kawannya?"


"Aku ...."


"Ha ha ha ha, ternyata ada yang cemburu dan curiga ya? Padahal aku sudah memberikan segalanya untuk kamu, Maya."


"Segala?"


"Iya, jiwa dan ragaku, cinta dan luka ku, keberanian dan ketakutan ku," tegas Azam dan semua itu membuat Maya merasa bahagia di dalam kecemburuannya.


"Iya, Azam," sahut Maya dengan senyum lebar dan saat itu, ia tampak begitu tenang.


Sarapan pagi sederhana di antara keduanya sudah berakhir. Maya dan Azam yang sudah siap untuk melaksanakan tugas kampus pun segera berangkat ke lokasi masing-masing. Awalnya semua berjalan dengan baik dan Maya merasa sangat nyaman saat melaksanakan tugas bersama karena dikelilingi oleh teman-teman yang baik dan tidak suka berbicara kasar kepadanya.


Saat di lokasi, Maya dan Azam tidak melakukan komunikasi dalam bentuk apapun kecuali saat istirahat. Keduanya tahu betul tentang kondisi yang harus mereka hadapi sebagai mahasiswa. Sementara di sisi lain, mereka masih menyembunyikan kebenaran pernikahan yang terjadi di antara keduanya.


"Maya, besok yang mengulas (persentasi) materi hari ini kamu saja ya?"


"Kenapa begitu, Amanda? Aku kurang percaya diri."


"Kamu harus belajar berdiri di depan musuh mu, Maya. Semua itu juga penting untuk memupuk mental kamu. Nanti saat sidang skripsi, kamu hanya sendirian di dalam ruangan yang menegangkan dengan tatapan tajam dari para dosen yang terlihat kejam," jelas Amanda yang merupakan teman paling baik dan ramah di kelas. Sejak semester satu. Ia selalu menjadi pemimpin di kelas, walaupun ia seorang wanita.


"Aku paham. Amanda."


"Agar sempurna, kamu harus belajar Maya! Masih banyak waktu, jadwal kita minggu depan. Berlatihlah di muka cermin dan kuasai materinya. Tenang saja! Kami juga akan membantu kamu untuk menjawab beban pertanyaan yang berat."


"Baiklah, aku mengerti dan siap."


"Bagus, itu baru wanita," ucap Amanda yang memang sejak dulu tampak memiliki semangat dan energi yang positif.


"Aku mau duduk di sana sebentar, soalnya mau menyalin catatan kakinya," ujar Maya sambil berjalan ke arah pojok saung yang terasa dingin.


Maya sangat fokus dan hanya mengerjakan rencananya untuk menyalin catatan kaki. Namun semakin lama, ia merasa tubuhnya semakin mengecil dan menciut. Sementara kepalanya terasa besar dan kesemutan.


Situasi


Setelah 15 menit berlalu dalam keadaan asing, Maya tampak membuka matanya lebar-lebar. Ia berdiri dan berjalan lambat meninggalkan saung dimana ia mengerjakan tugasnya.


Tubuh Maya seakan bergerak berdasarkan tiupan angin, tidak ada yang tau tentang keadaan Maya saat ini karena semuanya tengah sibuk dan fokus pada tugasnya masing-masing.


Langkah lambat Maya mengarah pada satu tujuan yaitu sumur besar yang terbuka lebar sebagai sumber mata air di lokasi tugas mandiri tersebut. Maya sudah sangat dekat dengan sumur tersebut dan matanya hanya melihat ke bawah. Hal itu disadari oleh Bowo yaitu salah satu teman sekelompok Maya dan ia segera berlari ke arah Maya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Bowo sambil menahan bahu kanan Maya yang sudah sangat condong ke depan, seolah ingin masuk ke dalam sumur besar dan dalam tersebut. Pada saat yang bersamaan, Maya kehilangan kesadarannya dan teman-teman yang lain, segera membantu Maya.


"Apa yang terjadi?" tanya Wela pada Bowo.


"Ntahlah, yang aku lihat, Maya ingin terjun ke dalam sumur ini."


"Ya ampun, ayo bawa dia ke saung (pendopo)."


Dibantu beberapa masyarakat yang berada di lokasi, Maya akhirnya sadarkan diri dan ia bingung dengan pemandangannya. Maya menatap seluruh mata yang hanya tertuju pada dirinya.


"Cantik sekali, ucap Bowo fan Galih tanpa sengaja saat melihat Maya duduk dengan rambutnya yang terurai.


"Astaghfirullah hal azim, dimana penutup kepalaku?" tanya Maya yang menyadari bahwa jilbabnya sudah terlepas dari kepalanya.


"Ini Maya, maaf. Tadi kamu pingsan, jadi aku melonggarkan celana dan membuka jilbabmu," ucap Amanda yang berusaha menenangkan Maya.


"Iya, makasih. Apa yang terjadi?" tanya Maya sambil memasang kembali jilbabnya yang berwarna hijau toska.


"Kita juga ngak tau, tiba-tiba kamu sudah berada di dekat sumur itu dengan posisi tubuh yang mengarah ke depan. Seolah kamu ingin masuk dan tenggelam di dalamnya."


"Subhanallah ... apa yang sebenarnya terjadi padaku?" tanya Maya pada dirinya sendiri dengan suara yang samar-samar terdengar.


"Sebaiknya kami antar kamu pulang Maya," kata Galih sambil menatap wajah Maya yang tampak pucat.


"Satu lagi, jangan suka melamun!" tambah Bowo.


"Terimakasih, teman-teman. Baiklah, aku ambil buku milikku dulu."


"Biar aku saja yang mengambilnya," kata Amanda yang tidak ingin insiden seperti ini terjadi kembali.


Amanda mengemas buku dan alat tulis milik Maya, saat itu Maya berusaha untuk berdiri sendiri. Namun ia hampir terjatuh, rasanya seluruh tubuh Maya berat dan kaku terutama bagian kuduknya.


Situasi


Ada sesuatu yang berwujud manusia dengan kulitnya yang berwarna hitam, rambutnya yang gimbal, bawah matanya yang berwarna merah, bibirnya yang tebal dan berwarna hitam pekat, melekat pada tubuh Maya.


Makhluk tersebut melingkarkan tangannya pada leher Maya, sedangkan kakinya melingkar di kedua kaki Maya dan ia ikut bergerak disaat Maya bergerak (posisi seperti menggendong dari belakang).


Bersambung.


Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca.