
Aku dan Azam melewati jalanan yang padat dan berdebu. Tapi semua ini terasa ringan karena aku dapat menyandarkan kepalaku di punggungnya. Sambil tersenyum dan tersipu malu, aku melirik kan mataku menuju langit dan terus mengucap syukur atas karunia yang telah Allah berikan kepadaku.
"Maya, aku pernah mendengar ucapan dari salah seorang ulama besar, saat aku melakukan pengajian bersama di pondok pesantren tidak jauh dari rumahku," ucap Azam sambil menatapku dari kaca spion motornya.
"Apa itu?" sahut ku sembari menegakkan kepala namun masih menempelkan ujung bawah dagu ku pada pundak Azam.
"Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setetes embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya."
"Aku tidak mengerti maksudnya," tanyaku sembari menela'ah perkataan suamiku.
"Begini, jika cinta itu jatuh ke tanah yang tandus, tumbuhlah oleh kerana embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur, di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji."
"Azam .... " ucapku sambil tersenyum dan mengeratkan pelukanku pada lingkar pinggang suamiku.
"Jadilah tanah yang subur Maya!" ujar Azam kemudian ia mengambil tangan kiri ku dengan lembut dan menciumnya.
MasyaAllah Azam ... tidak ada kebahagiaan lain selain sikap dan perlakuanmu padaku, ucapku tanpa suara. Ini benar-benar jauh dari ekspektasiku, selama ini aku berpikir bahwa teman sekelasku yang bernama Azam adalah laki-laki pendiam dan dingin, tapi ternyata aku salah.
Memang benar pribahasa orang bijak yang mengatakan, "Dalam lautan dapat di ukur, tinggi gunung dapat diketahui, tapi hati manusia siapa yang tau? Selain Allah yang Maha Mengetahui segala isi bumi.
*****
Kami tiba di kampus tepat waktu. Langkah pertama sebagai istri tanpa diketahui oleh mahasiswa dan dosen lainnya membuat aku bingung untuk bersikap. Namun Azam membuat aku tidak kaku dalam melangkah.
"Ayo kita masuk sekarang!" ucap Azam sambil menarik tangan kanan ku. Disisi lain, aku melihat beberapa mahasiswa lainnya memperhatikan ke arahku dan Azam. "Jangan pikirkan mereka!" kata Azam sekali lagi.
Seperti biasanya, aku berjalan ke arah bangku belajarku dan Azzam juga duduk di bangku belajar miliknya. Pada saat jam perkuliahan dimulai, Azam membalik tubuhnya dan menatap ku lalu menanyakan apakah aku membawa 2 pulpen dan aku menganggukkan kepalaku sambil mengantar salah satu pulpen yang aku miliki ke bangku belajar Azam.
Na'as, saat aku berjalan sudah cukup dekat dengan Azam, tiba-tiba seseorang menekel kaki kiri ku hingga aku hampir tersungkur dan terjatuh. Tapi Azam dengan cepat menangkap ku sehingga kepalaku tidak menyentuh lantai.
Dengan wajah yang marah, Azzam menatap ke arah Melisa yang duduk tepat di belakang Azzam. Sepertinya Azam juga melihat apa yang ia lakukan kepadaku tanpa perlu aku mengatakan kepada dirinya.
Sambil menegakkan tubuhku dan mengibas-ngibas sisa debu yang menempel di celana panjangku, Azam mengatakan kepada Melissa bahwa, "Melisa, sifat buruk mu itulah yang akan membawa dirimu ke dalam kehidupan buruk dan pahit."
"Hu ...." ucap beberapa mahasiswa di kelas yang terlihat setuju dengan perkataan Azam.
"Azam ... jangan mengatakan hal-hal yang tidak baik!"
"Ayo aku antar ke bangku mu Maya."
"Iya, makasih Azam."
*****
Jam istirahat di mulai, Azam menghampiriku dan mengatakan, "Maya, aku ke ruang dosen dulu ya. Ada yang harus aku lakukan agar kamu lebih aman," ucap Azam sambil memegang kepalaku dan mengelusnya perlahan.
"Baik, kalau begitu, aku tunggu di sini ya Azam."
"Tidak, sebaiknya kamu di kantin saja. Ayo aku temani kesana."
"Baiklah ...."
*****
30 menit berlalu tapi Azam tidak kunjung datang untuk menjemputku. Sementara jam istirahat akan berakhir dan aku mengingat pesan Azam sebelumnya, lalu aku segera berjalan ke arah ruang kelas.
"Auh .... " ucapku sedikit berteriak karena terkejut. Seseorang yang tidak aku lihat menarik pergelangan tangan kiri ku hingga tubuhku masuk ke dalam kamar mandi mahasiswa.
"Hai, anak panti. Jangan pernah lo merasa bangga ataupun berbesar hati cuma karena Azam sudah bersedia untuk membela diri lo. Dia melakukannya bukan karena suka tapi karena kasihan. Apa lo mengerti?" tanya Melisa sambil menatap penuh kebencian terhadap diriku.
"Sebenarnya apa masalah kalian terhadap diriku? Setahuku selama ini aku sama sekali tidak pernah mengganggu siapapun termasuk kalian bertiga," ucapku dengan nada suara yang tenang namun tegas.
"Kamu memang nggak pernah ya ganggu kita, Itu menurut kamu. Tapi asal kamu tahu siapapun yang mendekati Azam, itu berarti dia akan berurusan dengan kita kita," ujar Andini dan Joya saling bersahutan.
"Jika kalian menyukai Azam, seharusnya kalian melakukannya dengan baik dan mengatakan kebenaran tentang isi hati kalian kepada Azam secara benar. Bukan dengan menyakiti orang lain yang tidak tahu perkara apapun."
"Suuuuut .... " ujar Melisa sambil meruncingkan mulutnya dan meletakkan jari telunjuk tangan kanan di ujung bibirnya. "Kalau lo ngak bisa diam, gue tutup mulut lo," sambar Melisa sambil memegang dan mencengkram kedua sisi mulutku dengan keras.
"Begini saja anak panti, kita juga jijik banget berurusan sama kamu. Jadi kita minta agar kamu jauhi aja Azam dan jangan lagi berpura-pura sok manis dan lemah dihadapannya. Tutup mata lemah palsu kamu itu di hadapan Azam!" ujar Andini sambil mendorong kepalaku hingga terbentur dengan dinding kamar mandi.
Aku diam bukan karena aku lemah, tapi Aku bukan tipe orang yang suka bertengkar. Dari dulu, ibu panti selalu mengajarkan kami kedamaian. Karena kami hidup dalam jumlah yang banyak sehingga kami harus mampu menekan emosi dan diri kami baik-baiknya.
Sakit rasanya kepala bagian belakang ku. Tapi aku sama sekali tidak menangis karena hal ini sudah biasa aku terima dari Tia, teman satu panti ku.
"Bagaimana kalau kita memberi pelajaran lebih padanya?" tanya Joya pada kedua rekannya dan seketika perasaanku menjadi sangat tidak enak sekali.
"Bagaimana?" tanpa Andini.
"Lepaskan jilbabnya!" jawab Melisa dengan senyumnya yang sinis dan mata yang melotot.
"Tidak!" sahut ku dengan suara yang tinggi dan membentak. "Kalian bisa saja menyakitiku tapi tidak melepaskan hijab ku."
"Pegang dia!" ucap Melisa kepada dia orang rekannya.
Aku tidak diam saja kali ini. Aku terus melawan dan memberontak sambil berteriak. Tapi aku kalah jumlah, Andini menutup mulutku dengan sapu tangan miliknya, Joya memegang kedua tanganku ke belakang, dan Melisa menarik jilbab ku dengan kuat.
Aku sangat marah kali ini setelah jilbab ku dilepas dari kepalaku, aku membenturkan dahiku pada hidung Melisa hingga mengeluarkan darah, aku menginjak ujung jari-jari kaki Joya sekuat tenaga ku hingga ia meraung kesakitan, dan aku menampar dengan kuat pipi kanan Andini dengan punggung tangan kananku.
"Jangan berani-beraninya kalian melepaskan hijab ku!" ucapku sambil menunjuk mereka semua dengan tangan kiriku.
Sambil mengatur nafasku, aku berpikir bagaimana caranya agar aku bisa keluar dari kamar mandi Ini? Sementara aku terpojok di sudut ruangan dan dihadang oleh 3 sekawan tersebut dengan jilbab yang sudah terlepas dari kepalaku.
"Kembalikan jilbab ku!"
"Tidak akan pernah!" jawab Melisa dengan darah yang mengucur dari lubang hidungnya. "Lo harus bayar mahal tentang ini." sambungnya sambil menunjuk ke arah hidungnya.
Bersambung...
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya sebagai penulis. Makasih 😘😘😘