
Kami tiba di rumah dengan selamat dan Azam langsung membawa ku ke kamar. "Istirahat dulu Maya," ucap Azam sembari melepas jilbab ku.
Aku menatap Azam sangat terlihat khawatir padaku, ia sangat perhatian dan setiap sentuhannya bisa menjadi obat untukku. "Apa yang kamu lakukan Maya dan kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Azzam sambil tersenyum dan memegang pipi kiriku dengan tangan kirinya.
"Tidak, aku hanya masih terbayang saat kamu memanggilku dengan kata sayang waktu di ruang kemahasiswaan tadi. Suaramu terngiang berulang-ulang di telingaku Azam," ucapku sambil tersenyum menatap suamiku.
Azzam tersenyum lalu ia mengatakan padaku, "Kalau hal itu bisa membuat kamu bahagia, maka sejak saat ini aku akan memanggilmu dengan kata sayang."
"Azam, Apa kamu tidak malu jika di kampus ada teman-teman yang mendengarkannya?" tanyaku sambil terus menatap Azam tapi ketika ia mengangkat kepalanya dan kembali menatapku, aku langsung tertunduk. Ternyata aku belum biasa menerima tatapan mata Azam. Ucap ku tanpa suara.
"Kenapa harus malu? Kamu adalah tulang rusukku, kamu adalah wanita halalku, Kamu adalah wanita yang aku inginkan dan kamu adalah ibu dari anak-anakku."
"Azzam .... "
"Iya ... aku disini dan aku akan selalu menjagamu. Aku berjanji dengan sepenuh hatiku, bahwa aku akan berusaha untuk melindungimu dengan sekuat tenagaku Maya. Aku tidak akan membiarkan hal seperti ini terjadi untuk yang kedua kalinya. Cukup, penderitaanmu selama ini sudah cukup! Sekarang tinggal kebahagiaanmu, walaupun hal itu harus ditukar dengan kebahagiaanku. Aku rela Maya."
"Azam .... " ucap ku kali ini dengan mata yang berair dan hidung yang terasa perih. Ucapnya mampu menyentuh dan membasahi jiwaku yang hampir mati kekeringan. "Kamu adalah obat ku dan kamu adalah cahaya ku. Aku yakin, kamu akan membawaku ke tempat yang terang karena kamu adalah jodoh yang dipilihkan Allah untukku Azam," kat aku dengan bulir-bulir air mata yang akhirnya menetes.
"InsyaAllah Maya, karena kamu adalah nyawa yang aku cari selama ini," ucap Azam sembari menghapus air mataku dengan ibu jari tangannya. "Bersamamu ... aku yakin, aku akan kuat menjalani hidupku yang berat."
"Terimakasih Azam."
"Kamu tau Maya, aku sangat menyayangimu dan mencintaiku," Lalu Azam mencium punggung tangan kananku.
"Aku juga sangat mencintai kamu Azam."
"Aku akan mengobati lukamu. Ini agak sedikit sakit tapi kamu harus sabar dan menikmatinya Maya."
"Baiklah ... aku sudah iklas dengan rasa sakitnya Azam."
*****
Setelah Azam mengobati luka di wajah dan memberikan cream untuk mengempiskan tanganku yang bengkak, Azam langsung memintaku untuk makan dan minum obat, kemudian ia menyuruhku untuk beristirahat.
Selamat aku beristirahat, Azam terus menemaniku. Ia berbaring di samping tubuhku dan terus mengelus-elus kecil pipi kiriku yang lukanya agak besar, hingga aku bisa tertidur dengan pulas.
*****
Pukul 16.40 WIB. Aku terbangun dari tidur siang yang sangat menyenangkan. Tapi Azam tidak di sisiku lagi. Dengan cepat, aku bangkit dari ranjang dan mencari Azam ke seluruh bagian rumah, tapi Azam benar-benar tidak ada.
Aku terdiam di tengah rumah sembari berpikir kemana Azam dan dimana ia saat ini. Tak lama, aku mendengar suara antara tanah dan sapu lidi yang terus-menerus beradu tanpa henti.
Aku berlari ke luar, ternyata itu memang suara sapu lidi. Azam ternyata sedang membersihkan pekarangan mini rumah kami. Tanpa rasa segan, ia berusaha meringankan pekerjaan rumah ku.
"Azam, biar aku saja yang melakukannya," ucapku sambil berdiri di ujung pintu luar.
"Tidak, biar aku saja. Ini bukan pekerjaan yang berat. Sebaiknya kamu bersih- bersih Sayang!" ucap Azam dan kata sayang darinya membuat hatiku bahagia.
"Iya Azam."
*****
Pukul 17.50 WIB. Azam masuk ke dalam rumah dengan wajahnya yang diselimuti peluh. "Mau langsung mandi?"
"Iya ... soalnya aku ingin shalat magrib di mesjid. Bolehkan Sayang?"
"Tentu saja. Lagipula aku sedang datang bulan, jadi kamu tidak bisa shalat berjamaah di rumah bersamaku."
"Iya Sayang."
"Setelah mandi, mau aku buatkan teh manis?"
"Iya Azam."
*****
Waktu hampir memasuki shalat magrib. Azam pun segera berangkat ke mesjid dengan pakaian yang sudah aku persiapkan. Setelah mengantarkannya ke depan pintu depan rumah kami, aku segera masuk ke dalam kamar.
Selang beberapa menit, setelah suara azan berkumandang. Aku mendengar suara ketukan halus dan lamban di pintu kamar kami. Heran, siapa yang datang? Tanyaku di dalam hati sambil bergerak dan membuka pintu kamarku.
"Azam ... kamu sudah pulang? Bukannya baru saja azan dan komat di mesjid," tanyaku tanpa henti, tapi tidak mendapat jawaban langsung dari Azam. Tidak seperti biasanya, kali ini Azam hanya diam dan melihat jauh ke dalam kamar dengan tatapan kosong.
Aku cemas dengan sikap Azam yang tiba-tiba berubah. Ditambah lagi dengan aroma daun pandan yang tercium cukup semerbak dari tubuhnya. Seketika perasaanku menjadi tidak enak dan hatiku membimbingku untuk mengatur jarak dengan Azam saat ini.
Kenapa? Tidak biasanya hatiku menolak untuk mendekati suamiku. Ucap ku di dalam hati sambil terus memperhatikan bagian samping kiri tubuh Azam yang semakin lama semakin meninggalkan aku untuk masuk ke dalam kamar kami.
Tak lama setelah Azam sudah masuk ke dalam kamar, tiba-tiba aku mendengar suara ketukan pintu yang kuat dari pintu luar rumahku. Siapa? Tanyaku tanpa suara sambil terus bergerak ke arah pintu luar.
Sesampainya di pintu luar, aku sangat terkejut karena melihat pintu rumah kami terkunci dari dalam dengan slot. Lalu bagaimana Azam bisa masuk ke dalam rumah tadi? Pikirku sambil melihat ke arah kamar kami.
"Assalamu'alaikum Sayang." Suara Azam terdengar dari luar.
"Wa-waalaikum sa-lam .... Azam," sahut ku dengan perasaan yang bingung tapi hatiku begitu yakin bahwa Azam ku berada di luar.
Tanpa berpikir dua kali, dengan cepat dan tangan yang gemetaran, aku segera membuka pintu rumah dan memastikan bahwa yang sedang berada di hadapan ku adalah Azam suamiku, bukan makhluk lain.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Azam yang heran dengan wajahku yang tampak pucat.
"Kenapa kamu sudah pulang Azam?"
"Iya Sayang, tiba-tiba ... sebelum mengangkat takbir tadi, hatiku menjadi tidak enak dan aku berpikir untuk pulang. Lagipula aku masih bisa shalat di rumah kan?"
"Iya ... Sayang," sahutku sembari memeluk tubuh Azam dan menangis.
Saat ini perasaanku bercampur aduk, antara senang, sedih, takut, bahagia dan aku tidak tahu lagi apa rasanya karena ternyata suamiku bisa mengetahui di saat aku dalam keadaan bahaya atau batinku memanggil namanya.
"Ada apa?" tanya Azam sambil membalas pelukan dariku.
"Azam, tolong aku ... bacakan do'a perlindungan!"
Tanpa banyak bertanya, Azam langsung membaca ayat-ayat pendek dan do'a perlindungan dengan suaranya yang lantang dan merdu sambil berjalan mengelilingi rumah.
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ اَلتِي لاَ يُجَاوِزُهُنَ بِرٌّ وَلاَ فَاجِرٌ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ وَذَرَأَ وَبَرَأَ وَمِنْ شَرِّ مَا يَنْزِلُ مِنْ السَّمَاءِ وَمِنْ شَرِّ مَا يَعْرُجُ فِيهَا وَمِنْ شَرِّ فِتَنِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ طَارِقٍ إِلَّا طَارِقًا يَطْرُقُ بِخَيْرٍ يَا رَحْمَنُ
A’uzu bikalimatillahit tammatil lati la yujawizuhunna birrun wala fajirun min syarri ma kholaqa wa zaro-a wa baro-a wamin syarri ma yanzilu minas sama-i wamin syarri ma ya’ruju fihaa wamin syarri fitanil lail wan nahaari wamin syarri kulli thoriqin illa thoriqoy yathruqu bikhoirin ya rohman.
“Aku berlindung dengan tanda-tanda kekuasaan Allah yang Maha Sempurna, yang tidak melebihi batas antara kebaikan dan keburukan dari kejahatan apa yang telah Dia ciptakan, dari kejahatan apa-apa yang turun dan naik ke langit, dari kejahatan apa-apa yang tumbuh dan keluar dari bumi, dari kejahatan ujian malam dan siang, dan dari kejahatan setiap yang berjalan kecuali dia berjalan membawa kebaikan, wahai Maha Pengasih.”
Seketika, jiwaku yang ketakutan dan tubuhku yang gemetaran, menjadi sangat tenang. Lalu Azam melanjutkan shalat magrib nya yang tertunda di dalam kamar kami yang telah kosong (Tanpa Azam yang lainnya).
Bersambung....
Yuk mampir ke novel lainku yang berjudul ROH DAN KEMATIAN,
CINTA DAN DOSA.
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘