
Siang tidak mampu membuat rasa letih di tubuh dan kantuk di mataku menghilang. Seperti seseorang yang baru saja melakukan kerja rodi tanpa henti, bahkan untuk duduk pun aku tidak kuasa.
Aku menggerakkan tangan kanan untuk meraba sisi lain kasur dimana aku berbaring karena aku sama sekali tidak dapat merasakan hawa tubuh Azam dan hembusan nafasnya yang lembut seperti angin sepoi-sepoi di pantai dan indah dan terbuka.
Ceklek
"Assalamu'alaikum Maya .... " ujar Azam dengan halus tepat di telinga kiri ku sambil memegang dahiku perlahan dengan empat jari tangannya. Terasa sekali elusan lembut berisi kasih sayang, hingga jantungku berdesir dan ini pertama kalinya aku merasakan sentuhan seperti ini.
"Waalaikum salam Azam," sahut ku dengan mata yang tertutup dan bibir yang tersenyum.
"Sangat lelah?" bertanya seakan ia sama sekali tidak lelah. Aku menganggukkan kepalaku sambil tersipu malu. "Sebentar, aku ambilkan air minum dulu ya."
"Makasih Azam," jawabku sembari mengucek-ucek dan membersihkan kedua mata.
Rasanya sungguh tidak percaya bahwa laki-laki itu adalah suamiku. Dia adalah laki-laki yang sangat aku inginkan, laki-laki yang sangat aku rindukan, laki-laki yang selalu bernaung di dalam hatiku yang paling dalam, dan laki-laki yang aku pinta kepada Allah melalui doa-doa di setiap sujudku.
"Apa kamu tidak lelah Azam?" tanyaku saat sudah mendapatkan seteguk air putih dari tangannya.
"Lelah Maya, hanya saja ... kamu memang keinginanku sejak dua tahun yang lalu."
"Azam, jangan membuat aku malu!"
"Kalau dengan membuat mu malu bisa menambah catatan pahala ku, maka kamu harus bersiap-siap Maya! Karena aku akan mulai melakukan banyak hal untuk membuatmu malu sejak saat ini.
"Azam .... "
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ... ingin membersihkan diri?" tanya Azam dan aku tersenyum malu. "Mari aku bantu ...!"
"Tapi Azam ... aku malu. Lagipula aku bukan bayi yang perlu dimandikan."
"Kenapa harus malu? Aku sudah melihatnya dengan jelas dan detail, bahkan aku sudah menghitung jumlah tahi lalat yang menghiasi tubuhmu."
"Azam, iiiiih .... " ujarku sambil menyembunyikan wajahku di dada Azam.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha."
Azam menertawakan aku sekaligus memeluk tubuhku dengan erat. Bagiku, ini bukan pelukan terbaik kami karena pelukan terbaik yang aku rasakan adalah saat pertama kali aku mengetahui bahwa Azam adalah suamiku.
"Azam, setelah kamu tau bahwa wanita yang kamu nikahi adalah aku. Apakah kamu malu? Karena aku hanya wanita miskin yang hidup disebuah panti sederhana?"
"Pertanyaanmu salah Maya dan aku tidak perlu menjawabnya."
"Aku hanya takut kamu tidak mencintai aku karena cinta dan kasih sayang, melainkan karena rasa iba."
"Sejak awal, walaupun aku tidak tau itu kamu, lalu kemudian aku sempat ingin melarikan diri, tapi Allah memanggilku untuk kembali mendampingimu. Dari hal itu, aku tau bahwa aku mencintai kamu karena Allah. Satu hal lagi, aku mencintaimu bukan tanpa alasan, tapi karena kesederhanaanmu yang tidak aku temukan pada orang selain dirimu. Jadilah istri yang sholehah Maya dan teruslah tersenyum!"
"InsyaAllah Azam ... InsyaAllah."
"Aku percaya padamu Maya. Setelah ini, hidup kita akan sulit. Apakah kamu bersedia terus mendampingiku Maya?"
"InsyaAllah Azam, hingga maut menjemput, aku akan senantiasa mendampingimu di dalam suka maupun duka."
"Alhamdulillah ... torehan tinta Allah memang tidak akan pernah salah dalam menentukan jodoh dan takdirnya. Terimakasih ya Allah ... terimakasih," ujar Azam berbisik sambil memelukku lebih erat lagi.
"Maya, setelah ini kalau kamu kuat, kita akan jalan untuk mencari rumah. Aku ingin hidup mandiri terlepas dari Papa dan Mama. Tapi Maya, aku hanya mampu mencarikanmu hunian kecil. Mungkin tipe 36, bagaimana menurutmu?"
Aku melepaskan pelukan Azam dari tubuhku. "Asalkan itu bersama kamu Azam, aku tidak akan pernah merasa kesempitan, sekalipun aku akan menjalani hidup berumah tangga yang pelik bersamamu, InsyaAllah aku tidak akan keberatan."
"MasyaAllah Maya ... terimakasih banyak."
"Halo, assalamu'alaikum Ma .... " Dengan suara HP dalam mode loudspeaker.
"Waalaikum salam Azam. Kamu lagi apa, Nak? Mama sudah memikirkan sesuatu. Mama akan membantumu mencari rumah yang kamu inginkan."
Azam menunduk dan tersenyum. "Tidak perlu Ma, biar nanti Azam mencarinya bersama Maya."
"Azam Azam ... apa yang kamu pikirkan? Maya ngak bakalan kuat berjalan-jalan cukup lama. Emangnya seperti laki-laki, sama sekali ngak kesakitan dan terluka," kata Mama dengan nada yang agak keras dan memaksa.
"I-itu .... "
"Pecah perawan itu sakit Azam. Mama juga pernah merasakannya dulu, rasanya badan panas dingin seperti mau demam dan gemetaran."
"Begitu ya Ma?" tanya Azam sambil menatapku dan aku tertunduk malu.
"Jangankan jalan jauh, berdiri saja sakit sekali Azam. Ha ha ha ha ha ha ha ha ... tapi sangat menyenangkan dan membahagiakan. Apalagi jika melakukannya dengan cinta, Mama jadi teringat malam pertama Mama dulu," celoteh Mama tanpa henti dan Azam selalu menatapku, saat Mama mengatakan bahwa semuanya sangat menyakitkan.
"Azam tidak tau kalau begitu sakit Ma .... "
"Makanya Mama kasih tau, supaya kamu ngak main nyosor terus Azam. Kasian istrimu kan? Malah sekarang diajak jalan banyak lagi," sambung Mama meneruskan ocehannya.
"Baik Ma ... kalau gitu, Azam pergi sama Mama saja."
"Baik, sekitar pukul 14.00 WIB kita mulai melangkah ya Azam."
"Iya Ma ... terimakasih."
"Assalamu'alaikum Azam."
"Waalaikumsalam Mama."
Azam menutup telponnya dan menggenggam tanganku cukup erat. "Maya maafin aku, aku tidak tau," ujar Azam sambil mencium punggung tangan kananku.
"Tidak apa-apa Azam, seperti yang baru saja Mama katakan. Aku sangat senang, bahagia, bahkan menikmatinya."
"Malam ini kita libur dulu ya Maya, aku harap dengan begitu, yang berikutnya akan lebih indah dan nikmat."
"Azam .... " kataku tersipu malu dan aku menganggukkan kepalaku tanda setuju dengan ucapan suamiku.
"Kalau begitu, ayo membersihkan dirimu Maya! Aku akan membantumu."
"Azam .... "
"Aku gendong ke kamar mandi ya Maya?"
Aku tidak dapat menjawab pertanyaan Azam. Aku sangat malu, bahagia, dan terkejut dengan perilaku Azam padaku. Aku sama sekali tidak tau bahwa Azam ternyata adalah laki-laki yang sangat penyayang. Terimakasih Ya Allah, Engkau sudah memberikan aku jodoh yang terbaik. Ucapku tanpa suara.
"Jodoh itu rahasia Allah. Allah mempertemukan kita dengan orang yang salah pada awalnya dan mempertemukan kita dengan jodoh yang sesuai pada akhirnya. Itulah tanda sayang Allah kepada hamba-Nya."
Bersambung....
Yuk mampir ke novel lainku yang berjudul ROH DAN KEMATIAN,
CINTA DAN DOSA.
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘