Marina

Marina
KAMU



"Ada saatnya kamu memperjuangkan dan diperjuangkan oleh seseorang. Bersabarlah dan fokuslah untuk memantaskan dirimu. Yakinlah Allah akan hadirkan dan tunjukkan penyempurna agamamu di saat yang tepat.”


"Allahuakbar .... " Aku mengangkat takbir dalam kesakitanku.


Malam dan bulan mungkin saja sama canggungnya denganku. Ada pergolakan berarti di dalam diri yang mungkin hanya Allah saja yang mengetahuinya. Ini bukan hanya tentang hati dan sebuah perasaan kuno, melainkan jiwa yang ingin berjalan sejajar dengan peradaban dunia.


Apa yang dapat aku lakukan selain mengeluh dan menangis? Tidak, aku bukan wanita yang lemah. Selain itu, aku masih punya Allah dan aku bisa berdoa padanya. Setidaknya, walaupun tubuhku menderita dan sakit, tapi hati, jiwa, dan pikiranku tetap tenang. Aku akan meminta ketenangan itu semua hanya kepada Allah di dalam doaku.


اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ نَفْسًا بِكَ مُطْمَئِنَّةً، تُؤْمِنُ بِلِقَائِكَ، وَتَرْضَى بِقَضَائِكَ، وَتَقْنَعُ بِعَطَائِكَ


Allahumma inni as-aluka nafsan bika muthma-innah, tu’minu biliqo-ika wa tardho bi qodho-ika wataqna’u bi ’atho-ika.


“Ya Allah, aku memohon kepadaMu jiwa yang merasa tenang kepadaMu, yang yakin akan bertemu denganMu, yang ridho dengan ketetapanMu, dan yang merasa cukup dengan pemberianMu."


"Amin amin amin ya robbal alamin ...." ucapku lirih sembari menghapus air mata yang terlanjur tumpah.


Pukul 23.00 WIB. Aku melepas mukenah ku dan berbaring sambil berpikir keras. Apa yang suamiku tengah lakukan saat ini hingga ia tega meninggalkan aku seorang diri di tempat asing ini. Ya Allah ... dimanapun ia berada, aku mohon lindungilah dirinya. Doaku tanpa suara sembari memejamkan mataku.


Sekitar 15 menit berlalu dalam hening dan kesendirian. Braaack ... aku mendengar suara yang kuat tepat di atas atap kamar pengantin ku. Sepertinya sesuatu yang sangat besar terjatuh hingga menimbulkan suara yang sangat kuat.


"Astagfirullah hal azim .... " ucapku sambil memegang dada kiriku, dimana jantung berdetak kencang secara tiba-tiba akibat suara keras tersebut.


Aku segera duduk dan memperhatikan sekitarku terutama di bagian kepala. Aku segera berdiri dan berlari perlahan sambil menahan rasa perih di bagian kewanitaan ku dengan tujuan untuk memenuhi kamar ini dengan cahaya.


Entah dari mana asalnya, tiba-tiba perasaanku menjadi sangat tidak enak dan rasanya aku ingin pergi dari tempat ini tapi itu tidak mungkin karena ini adalah kamar pengantin ku dan aku tidak bisa pergi tanpa seizin suami ku.


Aku terus istighfar di dalam hati dan membaca dzikir serta shalawat untuk menenangkan diri. Disaat yang bersamaan, suara itu tidak muncul lagi seakan menghilang ditelan bumi. Aku yang merasa sudah aman kembali merebahkan tubuhku di atas ranjang tanpa mematikan semua lampu.


Tak lama, tiba-tiba lampu di kamarku yang semula sangat tenang dan terang menjadi redup dan mati hidup secara bergantian. Dengan cepat suasana yang tenang berubah menjadi mencekam. Hanya satu yang dapat aku lihat yaitu cahaya putih dari mukenah peninggalan ibuku.


Tidak yakin bahwa diriku dalam kondisi suci, aku kembali masuk ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu setidaknya aku harus membaca ayat-ayat suci Alquran atau apapun yang bisa mengusir rasa takut di dalam hatiku karena keadaan yang tiba-tiba berubah menjadi dramatis dan menyeramkan.


*****


Situasi.


Azam masih terbaring di atas ranjangnya dalam keadaan tidak sadarkan diri. Tiba-tiba si manis mendekati Azam dan memberikannya jilatan basah tepat dikedua mata Azam berkali-kali.


Manis merupakan nama kucing kesayangan milik Azam yang telah ia rawat sejak masih kecil. Manis adalah satu-satunya hewan peliharaan Azam sekaligus teman bicara yang selama ini bersama Azam ketika berada di dalam rumah.


"Haaaah .... " ujar Azam sambil mengerenyitkan wajah dan memegang kepala dengan tangan kanannya. "Manis ... terimakasih," ucap Azam sambil memegang kepala si manis yang terus-menerus memberikan jilatannya kepada Azam dan kali ini, manis menjilat cincin pernikahan milik Azam.


"Subhanallah ... terimakasih manis. Aku harus pergi dari sini."


Dengan sigap Azam berdiri dan memutuskan untuk keluar dari jendela kamarnya. Sambil melihat jam di tangan kirinya (Pukul 22.50 WIB), ia berjalan setengah sempoyongan setengah berlari dengan satu arah pikiran yaitu hotel di mana istrinya akan segera menjadi korban tumbal atas kepemilikan makhluk gaib dari keluarganya.


"Ya Allah ... tolong dia. Maafkan aku ...." ucap Azam sambil berlari melampaui pagar besar berwarna putih yang mengelilingi rumahnya.


Azam terus berlari sambil melihat kiri dan kanan untuk mencari kendaraan online agar bisa cepat tiba di hotel tersebut. "Ojek .... " teriak Azam saat menemukan ojek online di jalan besar. "Hotel Mutiara."


"Baik Pak. "


"Tolong cepat! Istri saya dalam bahaya."


"I-iya Pak."


Dengan kecepatan penuh, sopir ojek online pun langsung membawa Azam menuju Hotel Mutiara. Setelah 10 menit berlalu, Azam tiba di hotel tersebut dan karena ia tidak membawa dompet ataupun uang, ia meninggalkan jam tangan miliknya yang mahal kepada tukang ojek tersebut dan ia mengucapkan kata maaf.


Sisi Maya.


Pukul 23.25 WIB. Tok tok tok tok tok tok tok.


"Siapa itu? Apa mungkin dia suamiku? Bagaimana ini?" ucapku lirih dan bingung namun tetap menyelesaikan wudhu ku.


Aku segera membuka pintu dengan wajah yang tertunduk karena aku tau bahwa dia tidak bersedia melihat wajahku. "Hah ... hah ... hah ... hah ... hah .... " Terdengar suara nafas yang berantakan dari mulut suamiku dan aku cukup khawatir, sehingga aku memutuskan untuk mengangkat wajahku dan melihat keadaannya.


Saat mataku bertemu dengan matanya, tiba-tiba rasanya jantungku kembali berpacu, mataku membesar, dan bibirku bergetar. Bukan hanya aku, tampaknya suamiku juga tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.


Dengan cepat, suamiku menarik kedua tanganku hingga tubuhku keluar dari kamar mandi, lalu dengan kebingungan ia menarik mukenah yang berada di ujung ranjang ku dan meletakkannya di atas kepalaku untuk menutupi rambut dan sedikit wajahku seperti sedang berhijab.


"Maya? "


"A-Azam."


"Maya itu kamu? "


"A-Azam."


"Subhanallah ... Maya. Aku pikir kamu siapa? Aku tidak menyangka, ternyata kamu adalah Mayaku," ucap Azam dalam kalimat yang panjang dan tampak kaget. Baru kali ini aku mendengar Azam berbicara dengan kalimat yang panjang dan suaranya sangat menunjukkan kewibawaannya.


Gluduk gluduk gluduk gluduk gluduk ....


Terdengar suara misterius itu kembali dan suara tersebut memecah tatapan antara aku dan Azam.


"Maya dengar! Pakailah mukenah mu dan bacalah ayat-ayat perlindungan. Aku akan membersihkan diriku dan segera menyusulmu. Paham? "


"Baik."


Aku segera melakukan perintah Azam dengan senang hati. Walaupun sebenarnya aku sangat cemas dengan kondisi ini, tapi disisi lain aku juga sangat merasa bahagia dan nyaman. Ternyata suamiku adah Azam, Azam adalah suamiku. Terimakasih Ya Allah ... ucapku di dalam hati.


Azam segera membersihkan diri (Mandi junub) dengan cepat lalu ia menyusul ku dalam keadaan yang sudah rapi dan bersih. "Mari kita baca surat Al-Fatihah, surat An-nas, surat Qulhu, surat al-lahab dan ayat kursi! " Lalu Azam melanjutkan dengan pembacaan yasin dan tahlil yang ia pimpin.


Azam tampak sangat khusuk dan aku juga berusaha untuk melakukannya. Semakin kuat suara hentakan dan hempasan yang terdengar, semakin kuat suara Azam melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran.


Lampu mulai berkedip-kedip dan hampir mati. Hal itu merusak bacaan ku, ditambah lagi dengan angin yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar dan rasanya menusuk hingga ke tulang-tulangku.


Azam membalik tubuhnya dan memegang kedua tanganku, seakan tau jika aku dalam kecemasan dan ketakutan yang tinggi. Tangan Azam tidak lepas dari tanganku dan sesekali ia menatapku seolah memberikan aku ketenangan dan kekuatan.


Konsentrasi ku mulai kembali pulih namun tampaknya aku terlambat. Tiba-tiba aku dapat merasakan sesuatu yang besar dan tajam menarik dan mencengkram leherku hingga kedua mataku membesar/melotot (Ada kuku-kuku tajam yang panjang dan hitam pekat seperti darah kotor melekat di leher Maya dan terlihat akan segera mengeksekusi Maya).


Azam sama sekali tidak dapat melihat hal tersebut, begitu juga dengan Maya tapi Azam dapat merasakan aura yang berbeda berada di sekitar mereka. Selain itu, Azam dapat melihat Maya yang mulai kesakitan dengan matanya yang melotot namun terus berusaha melanjutkan bacaannya.


Sambil terus membaca yasin, Azam menatap mata Maya dalam-dalam. Tangan kanan Azam diletakkan di tengah-tengah dada Maya dan tangan kirinya ia letakkan di kepala Maya. Sambil mengeluarkan air mata, Azam terus melafazkan bacaannya dengan suara yang kuat dan keyakinan yang semakin meningkat.


Hampir 15 menit berlalu, Maya mulai tampak tenang dengan pandangan mata yang normal (Tidak melotot lagi). Dengan suara yang samar-samar terdengar, Maya yang tampak lemah tetap mengikuti suara bacaan Azam dan Azam memeluk Maya dengan erat.


Bersambung...


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya sebagai penulis. Makasih 😘😘😘