
Hari masih siang, namun suasana tampaknya mampu menjadikan suasana kelam. Sebenarnya aku takut saat menatap mata ketiganya. Disana, tergambar jelas kebencian. Sepertinya, mereka tak hanya ingin menyakitiku tapi juga ingin menguliti jiwaku.
Aku terpojok, terdiam melekat di dinding kamar mandi kampus, seakan tak punya celah untuk melangkah pergi. Tapi aku tidak ingin menjadi orang yang lemah, butuh terobosan untuk menyadarkan mereka bahwa selama ini orang yang diam dan mengalah bukanlah orang yang lemah.
Sambil terdiam menatap pagar hidup dihadapanku, aku berpikir bagaimana caranya agar bisa melewati celah terkecil di antara mereka hingga aku bisa keluar dari kamar mandi ini. Setidaknya jika aku sudah sampai di luar, aku bisa meminta pertolongan dari siapapun. Ya Allah ... bantulah aku, ku mohon.
"Azam," ucapku dengan ekspresi kaget.
Melisa, Andini dan Joya terkejut sehingga mereka mengira bahwa apa yang aku katakan adalah benar. Dengan sigap mereka bertiga memalingkan wajahnya ke belakang dan saat itu aku merasakan bahwa momen ini adalah waktu yang tepat untuk menerobos tubuh Joya yang berada di tengah-tengah (Tepat di hadapanku).
Dengan langkah cepat aku berlari lurus ke depan dan mengutamakan bagian sikut tanganku. Saat aku berhasil melewati mereka dengan menabrak lengan kanan Joya, aku melihat Joya terjatuh cukup kuat hingga kepala bagian belakangnya terhentak lantai kamar mandi yang kotor
Tak ingin membuang waktu dan kesempatan, aku langsung membuka slot pintu dan menekan gagangnya lalu keluar dari kamar mandi sambil berlari ke arah yang tidak aku ketahui.
Aku terus ke depan sambil menutup rambutku dengan kedua tangan. Aku terus melihat dan mencari seseorang yang mungkin aku kenali agar aku bisa meminta pertolongan kepadanya. Ini bukan masalah tiga sahabat yang zalim itu, tapi soal aurat ku yang terbuka.
Sambil berlari, aku merasakan angin mulai menerpa wajahkuku dan itu membuat perih pada beberapa titik di sekitar bibirku. Saat itu aku langsung teringat, bagaimana Melisa mencengkram mulutku dan mungkin saat itu kukunya yang tajam dan panjang masuk ke dalam kulit wajahku.
Braaak.
Aku menabrak seseorang dengan kuat tapi aku tidak terjatuh. "Maya, kamu ngak papa?" Terdengar suara Azam yang tampak bingung dengan keadaanku. Belum sempat aku menjawab pertanyaan darinya, ketiga sahabat itu sudah berada tepat di belakang ku.
Azam melihat ke arah belakang tubuhku dan aku tahu bahwa Melisa, Andini dan Joya sudah berada disana. Sambil melepas jaket yang ia kenakan, lalu menutup rambutku. Azam mengangkat wajahku dan melihat seluruh bagiannya yang tampak kacau berantakan.
Azam terlihat sangat marah, kemudian ia menarik dengan lembut tanganku dan membawaku ke ruang dosen. Setibanya di ruang dosen bagian kemahasiswaan, Azam memintaku untuk menceritakan seluruh kronologinya dengan lugas dan aku melakukannya.
Saat itu juga, ketiga sahabat itu dipanggil dan dimintai keterangan serta konfirmasi atas kejadian yang baru saja terjadi. Mereka adalah wanita yang sangat lihai dengan lidah dan kebohongannya. Hingga akhir pertanyaan pun, mereka terus berkelit dan mengatakan tidak sengaja melakukan hal tersebut kepadaku dan mereka hanya berniat untuk bermain-main saja.
Azam tidak mampu menerima setiap perkataan dari Melisa, Andini dan Joya. Azam pun mengatakan jika mereka bertiga tidak dihukum sesuai dengan kesalahan mereka maka ia akan mengatakan kepada Papanya untuk menarik seluruh bantuan dan kerjasama dengan kampus ini.
"Siapapun yang ada di dalam rumahku pasti tidak akan senang dengan apa yang mereka lihat saat ini," ucap Azam sambil berdiri menentang 2 orang dosen yang merupakan keluarga dari Andini dan Zoya serta ketiga sahabat itu.
"Tidak perlu begitu Azam, kita selesaikan saja secara kekeluargaan," ucap Bu Tiara sambil menatap lembut namun tajam ke arahku dan Azam.
"Apa anda akan melakukan hal yang sama Bu, jika mereka bukan keponakan Anda?" tanya Azam dengan kalimat dan mata yang terus menantang.
"Jika keponakan Ibu yang diperlakukan seperti ini, apakah Ibu akan mengatakan hal yang sama dan membiarkan pelaku tanpa menghukumnya?"
"Begini saja Azam, sebentar lagi kita kan akan melaksanakan ujian. Jadi jika kita memperpanjang urusan ini, dikhawatirkan ketiga mahasiswi ini akan kesulitan di dalam pelaksanaan ujian di Kampus," ujar Pak Satrio yang merupakan paman Andini.
"Kalau begitu, kenapa aku yang harus memikirkannya? Bukankah seharusnya mereka bertiga yang Berpikir sebelum bertindak? Selama ini mereka selalu semena-mena tapi sama sekali tidak pernah dihukum karena mereka memiliki Paman dan Tannte seorang pejabat di kampus ini. Tapi kali ini, aku tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja," ujar Azam sambil mengepalkan kedua tangannya dengan sangat keras.
"Kita ambil jalan terbaiknya saja Azam."
"Kalau begitu menurut Bapak dan Ibu dosen sekalian, biar aku telepon saja Papa dan biar beliau yang menilai bagaimana kelanjutannya karena Maya adalah anak menantu satu-satunya di rumah Papa. Jadi aku yakin, tidak mungkin papa hanya duduk diam sambil tersenyum manis. Kita buktikan saja," ucap Azam menantang Azam.
Setelah mengatakan hal yang selama ini tidak pernah ia lakukan, Azam langsung menarik ponsel dari saku celananya dan menelepon Papanya. Tapi pada saat yang bersamaan, Ibu Tiara menghentikannya. Beliau mengatakan akan mengurus masalah ini hingga tuntas dan ketiga mahasiswi ini akan mendapatkan ganjaran sesuai dengan perbuatannya.
"Dengar Bu! Selama ini aku tidak pernah mencari masalah dengan siapa pun dalam keadaan apapun di kampus in. Bahkan aku tidak pernah mengatakan kepada siapapun tentang siapa diriku yang sebenarnya. Tapi kali ini sangat berbeda karena mereka tidak menyakiti diriku, melainkan istriku. Bagiku, Maya adalah hidup dan kebahagiaan ku, jadi siapa pun yang berani menyakiti Maya seujung kukunya saja, maka ia akan berurusan dengan keluarga besar Pujo.
Melisa, Andini dan Joya tampak bingung saat mendengar perkataan Azam karena mereka sama sekali tidak pernah mengetahui ataupun mendapatkan informasi tentang hubungan ku dan Azam. Wajar saja karena pernikahan kami berlangsung di Panti tanpa mengundang teman-teman seangkatan kami.
"Sudahlah Azam, sabar. Ayo kita pergi dari sini! Ini sudah cukup," ujarku dengan suara yang sendu dan mata yang basah.
"Iya sayang ," kata Azam sambil menarik jilbab milikku yang masih berada di dalam genggaman tangan Melisa.
Kami meninggalkan ruang kemahasiswaan tersebut dan langsung menuju ruang kelas. Kali ini bukan untuk belajar melainkan mengemas buku dan mengambil tas milikku. Azam memintaku untuk bersedia pulang dan aku mengikutinya. Sepanjang lorong antara kelas hingga gerbang depan utama kampus, Azam terus memeluk tubuhku dari samping.
Aku menaiki motor Azam dengan perlahan. Seluruh tubuhku terasa sakit tapi ada yang mencuri perhatianku, yaitu bagian punggung tanganku yang tiba-tiba membiru dan bengkak. Padahal, aku yakin sekali kalau mereka bertiga tidak melakukan apapun pada bagian tanganku.
Tiba-tiba aku teringat kejadian tadi pagi sebelum berangkat ke kampus, aku merasa ada sesuatu yang memegang dan menahan tanganku dengan sangat kuat ketika aku hendak mengambil kunci pintu rumah di atas meja makan.
Bersambung...
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya sebagai penulis. Makasih 😘😘😘