
Mama menarik tanganku cukup jauh dari kamar itu dan mengatakan, "Mama sangat kecewa padamu Azam. Dari awal sudah dikatakan, jangan membuat Papamu marah! jangan berbicara sembarang! kenapa, disaat Papamu sudah berusaha menjaga dirimu dan istrimu dengan keras, tapi kamu malah membuat masalah sehingga harus menyulitkan Papamu sendiri?"
"Maaf, Ma."
"Ada apa ini?" tanya Kakak kandung Papa yang ternyata menginap di rumah ini.
"Tolong, Mas," sahut Ibu dan sepertinya Pak De langsung paham apa maksud Mamaku.
"Iya," ucapnya lalu berjalan dengan cepat ke dalam kamar tersebut.
45 menit berlalu, aku dan Mama masih berdiri di luar kamar. Tak lama, Papa dan Pak De keluar dari kamar dengan keadaan yang kurang baik. Papa tampak mengeluarkan darah dari hidung dan juga telinganya, sementara Pak De, terdapat bekas cakaran kuku-kuku yang tajam di pipi kirinya.
"Puas kamu Azam?" tanya Mama dengan wajah yang sangat geram menuju ke arahku.
Kami semua membawa Papa masuk ke dalam kamarnya. Aku sangat merasa bersalah kali ini, aku berpikir untuk segera pergi dari rumah ini, tapi Papa menahan ku. "Bisa tinggalkan kami berdua?" ucap Papa sambil menatap Mama dan Pak De.
"Pa, maafin Azam," ucapku sambil tertunduk.
"Kemarilah! duduk di sini!" ujar Papa sambil menepuk-nepuk ranjang yang tidak jauh dari dirinya.
"Iya Pa."
"Kita hanya belum punya waktu yang tepat untuk melakukannya (Membinasakannya). Jika kita salah langkah, misalnya kita pikir sudah menyingkirkan dia, tapi ternyata dia masih ada, maka anak cucu kita yang tidak tau apa-apa akan menjadi korbannya. Papa tidak mau itu terjadi Azam, paham?"
"Azam cuma bingung Pa karena beberapa hari ini Maya selalu diganggu dan ketakutan."
"Heeeh, tapi Papa yakin sekali semua itu tidak ada hubungannya dengan dia."
Azam terdiam dan menunduk saat mendengarkan ucapan Papanya yang begitu yakin. Sementara di sisi lain, Azam juga yakin bahwa firasatnya tidak salah. "Apa Papa sudah baik-baik saja? jika ia, Azam ingin permisi untuk pulang."
"Iya ... Papa sudah lebih baik. Pulanglah .... " ujar Papa sembari menghela nafas panjang.
Aku berjalan keluar dari kamar Papa dan sekali lagi bertemu dengan Pak De Sutar yang berada di ruang keluarga. Entah mengapa aku sangat yakin bahwa dirinya memang sengaja menungguku disana.
"Gimana Papamu?"
"Sudah mendingan Pak De."
"Kenapa istrimu ndak dibawa?"
"Maya sedang kuliah dan aku tidak ingin mengganggunya," ucapku terus berbohong agar tidak terlalu terlihat jika aku sedang membatasi hubungan antara keluarga dan istriku.
"Apa dia baik-baik saja?"
"Alhamdulillah Pak De, semoga Maya selalu di dalam perlindungan Allah."
"Iya Semoga saja," ujarnya seakan meremehkan do'a ku sembari mengangkat kaki kanan dan meletakkan di kaki kirinya.
"Kalau begitu, Azam pamit dulu ya Pak De."
"Sebentar Azam! berikan ini padanya!" ujar Beliau sembari memberikan sebuah liontin hitam mengkilap ke padaku.
"Tidak perlu, Pak De. Terimakasih."
"Ambil saja! siapa tau nanti kamu butuh. Jangan sombong Azam!"
Tidak ingin bertengkar, aku segera mengambil liontin tersebut dan memasukkannya ke dalam saku depan celanaku.
"Jangan sampai dilangkahi ya!"
"Terima kasih, Pak De. Azam pamit, assalamu'alaikum." Seperti biasanya tidak ada balasan untuk salam bernafaskan islam tersebut.
Tanpa mencari Mama, aku segera meninggalkan rumah mewah nan megah tersebut. Aku tidak habis pikir dengan semua yang terjadi, aku harus apa? rasanya, aku seperti terjebak di dalam sangkar burung yang kotor.
Sekarang aku harus menjemput Maya, aku tidak ingin berlama-lama berpisah dengan dirinya. Ya Tuhan, mengapa rumah tangga kami jadi serunyam ini? padahal aku hanya ingin menjadi imam yang baik di dalam rumah tangga kami.
35 menit menempuh perjalanan, aku tiba di panti dan disambut oleh beberapa orang disana. "Azam, duduk dulu ya! Ibu panggilkan Maya. Tadi dia membantu Ibu di dapur."
"Iya, terimakasih Bu."
"Maya, Azam sudah datang menjemput."
"Iya Bu, terimakasih." Lalu Ibu Asih meninggalkan aku bersama beberapa orang teman satu angkatan kami.
"Enak banget kamu ya Maya, disana kamu pasti menjadi seorang ratu tanpa harus menyentuh pisau tajam dan terluka, ataupun panci kotor," ucap Mia yang mengira bahwa aku hidup dan tinggal bersama Papa serta Mama.
"Alhamdulillah ... semoga kalian semua juga hidup lebih bahagia lagi ke depannya ya, amin."
"Eh, jangan ngejek lho ya! mentang-mentang hidupnya sudah enak, pake ngejek lagi," sambung Mia dengan bibit jutek dan muka sinis nya.
"Siapa yang ngejek sih Mia?" tanya Wita. "Kamu budek atau begok sih? sampai-sampai kamu ngak bisa membedakan antara ejekan dan do'a. Makanya shalat Mia, berdo'a karena hanya Allah yang berhak atas jodoh."
"Eh, jangan sok ngajarin lho ya. Kalian berdua itu sama aja. Cuma kebetulan nasib dia aja noh yang lebih bagus."
"Ya sudah, kalau begitu aku pamit dulu. Jangan berantem lagi," ujarku sambil memegang pundak Wita.
"Lain kali main kesini lagi ya Maya ...! akukan seting kangen," ujar Wita dengan air matanya yang sudah berada di ujung bulu matanya.
"Iya ... InsyaAllah ya Wi."
"Ya sudah, aku antar kamu ke luar ya."
"Iya, makasih."
Usai bersalaman dan berpamitan, kami pun meninggalkan panti asuhan menuju rumah. Aku melihat wajah Azam cukup kusam saat ini dan aku memutuskan untuk bertanya. "Azam, apa urusannya belum selesai?"
"Sudah, tenang saja."
"Jika ada apa-apa, tolong ceritakan padaku. Aku akan membantu kamu Azam. jika tidak bisa dengan pikiran maupun tenaga, aku bisa melakukannya dengan do'a."
"Terimakasih Maya, Terimakasih," ucap Azam sambil memegang tanganku yang melingkar di pinggang hingga perutnya.
"Sampai di rumah nanti, kita langsung shalat ashar bersama yuk!"
"Baiklah ... itu ide yang sangat bagus. Shalat adalah cara terbaik untuk melapangkan hati kan Sayang? tapi apa kamu sudah bersih? bukannya kemarin sedang datang bulan?"
"Iya Azam. Soal itu, sejak tadi pagi sudah tidak keluar lagi, mungkin karena kaget."
"Oh, ternyata kamu wanita yang sangat sensitif Maya."
"Azam .... "
Kami tiba di rumah dan langsung melanjutkan rencana kami untuk shalat ashar berjamaah di rumah. Selesai melakukan shalat, aku langsung mengambil tangan suamiku dan menciumnya.
"Maya, seandainya ada ujian yang sangat berat menghampiri kamu karena bersanding denganku, apakah kamu iklas?" tanya Azam yang tampak sudah cukup tenang.
"InsyaAllah aku iklas lahir batin Azam," jawabku dengan segala keiklasan hati dan seketika air mata Azam jatuh di atas sajadah dimana ia duduk, kemudian ia memelukku.
"Cinta kita adalah cinta yang terbaik, karena engkau telah membuat imanku meningkat, juga membantuku di dunia ini. Karena itulah, aku ingin berjumpa kembali denganmu di surga, Maya," ucapnya dengan suara yang sengau sembari mengeratkan pelukannya.
"InsyaAllah Azam, InsyaAllah ... jika Allah menghendaki."
Jika kita telah berhasil menemukan seseorang yang merupakan cinta sejati, yang ingin kita jadikan teman hidup, yang merupakan inspirasimu menuju masa depan, yang menjadikan hidup ini terasa lebih berarti dan terasa semakin bermakna untuk dijalani, yang ingin bekerja bersama-sama dengan dirimu membentuk kedamaian, cinta dan kekuatan dalam keteduhan sebuah keluarga, maka yakinilah bahwa kamu sungguh beruntung, seperti ku.
Bersambung....
Yuk mampir ke novel lainku yang berjudul
PERFECTION OF LOVE,
ROH DAN KEMATIAN,
CINTA DAN DOSA.
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘