
melintas mobil warna Merah melewati mobil ku dan masuk kedalam perumahan itu, Ya itulah mobil mas Arta.
"tapi kenapa mas Arta gak berhenti melihat mobil ku dan berlalu begitu saja padahal kaca belakang mobil nya sedikit terbuka tidak mungkin jika mas Arta tak melihat mobil ku " bisik ku dalam hati.
aku mengejar mobil suami ku memasuki komplek perumahan Ria, terus ku ikuti dimana berhenti nya mobil suami ku.
Terlihat rumah paling besar berwarna putih dimana mobil mas Arta berhenti.
keluar lah seorang wanita di balik pintu mobil mas Arta , wanita yang cukup dewasa. aku tidak mengatakan dia lebih cantik dari ku tapi memang lebih terlihat seperti kakak ku mungkin usia nya sekitar tiga puluh tahunan. rupanya wanita itu lah yang mengemudikan mobil mas Arta.
wanita itu menghampiri ku karena mobil ku berhenti tepat di depan pagar rumah nya.
"maaf siapa ya ? ada yang bisa saya bantu " tanya wanita itu padaku .
"mobil itu... " aku menunjuk mobil suami ku .
dia pun seperti sadar sesuatu , melihat wajahku dengan Tajam dan menjawab ku dengan gugup
"ooh emmh itu mobil rekan kerja saya mbak. kebetulan mobil saya di pakai oleh nya jadi kami bertukar mobil untuk sementara, mbak kenal dengan pemilik mobil ini " tanya perempuan itu .
Belum sempat aku menjawab pertanyaannya ku lihat mata perempuan itu terus saja mengarah ke rumah di sebrang nya sambil menganggukan kepala nya seperti sedang berkomunikasi dengan bahasa tubuh. aku menoleh kearah rumah yang berada di seberang Rumah perempuan itu tapi tak kutemukan apapun hanya pintu rumah yang baru saja tertutup dengan kencang .
ku kembalikan wajah ku ke arah perempuan itu seraya ku kerut kan dahi ku.
"suami saya Arta " jawab ku pada perempuan tadi.
"oooh istri pak Arta ya? maaf ya mbak mobil suami nya saya bawa, tapi maaf mbak saya buru buru soalnya anak saya menunggu di dalam maaf gak bisa mempersilahkan masuk saya sedang sibuk " perempuan itu berkata kepadaku dan berjalan masuk ke dalam rumah nya dengan terburu-buru.
"kok mas Arta gak cerita si kalau mobil nya di pakai orang dan dia pakai mobil orang juga mana perempuan lagi " aku memukul setir mobil ku sambil berbicara sendiri.
Aku belokan mobilku ke rumah Ria yang berada beberapa Blok dari rumah perempuan yang membawa mobil suamiku tadi.
"eh Hani kesini kok gak Bilang -bilang si kan bisa aku siapin karpet merah tadi " celetuk Ria membukakan pintu rumah nya. Lagi - lagi Ria selalu bercanda jika bertemu dengan ku.
"udah ah aku cuma mau tanya kamu kenal gak sama pemilik rumah besar di ujung sana " aku bertanya pada Ria
"Rumah yang mana ya? banyak rumah besar si di sini yang rumah nya kecil cuma rumah ku aja " jawab Ria kembali bercanda.
"aku serius...! rumah di ujung sana yang paling besar warna putih " aku berkata dengan sedikit nada yang keras.
Dan itu membuat suami Ria keluar menemui kami , mungkin karena suara ku yang kerasa makanya suami Ria keluar.
Ria bertanya pada suami nya prihal rumah besar yang aku tanya kan pada nya tadi.
"oooh itu rumah Bu Titi Han, Developer perumahan ini bukan cuma ini si perumahan milik nya di daerah bandar lampung ada empat kalo gak salah perumahan milik bu Titi Janda kaya tu " oceh panjang Seno suami Ria .
"hah janda?" jawabku kaget.
"iya janda kaya tu denger Denger lagi Deket sama orang pertahanan gitu jadi cocokan satu nya sama-sama properti " celetuk Seno lagi padaku
"Hah...?? " Aku kembali Kaget .
"ada apa emang Han, kamu kenal?" sahut Ria.
"eh udah masuk yuk udah mau magrib gini pada ngobrol di depan pintu " ajak suami Ria mempersilakan aku masuk.
"maaf aku buru -buru makasih ya Ria , Seno kapan kapan aku kesini lagi " aku berpamitan untuk pulang .
ponsel ku berdering, ku hentikan mobilku di tepi jalan untuk mengangkat telpon. ternyata mas Arta "Dek Mobil mas di bawa istrinya temen mas tadi maaf ya belum ngomong dulu sama kamu soalnya kemarin mobil mas pecah ban jadi pinjam mobil temen mas gantian gitu dek, dan kebetulan tadi di bawa istrinya belanja. kamu dimana sayang? " suamiku bicara di telpon.
"iya dek istrinya Angga temen mas , yaudah kamu hati hati di jalan Ya sayang nanti malam mas telpon lagi " mas Arta menutup telpon nya
"istrinya Teman mas Arta? wanita itu kan Janda . mas Arta gak tau kan kalo Ria teman ku juga tinggal di komplek perumahan yang sama dengan janda kaya itu " aku berbicara sendiri dengan sinis . dan melanjutkan perjalanan ku untuk pulang ke rumah .
aku mengeluarkan kantong belanjaan dari dalam mobilku dan ku tata dengan Rapi sebagain di lemari Es .
Mas Arta kembali mengabari ku kali ini melalui pesan singkat "Dek udah sampai rumah? jangan lupa makan ya mas sayang banget sama Hani " seperti itulah bunyi pesan nya.
"tok.. tok.. " aku terbangun oleh suara ketukan pintu aku melihat kearah jendela seperti nya masih gelap mata ku tertuju pada jam yang berada diruang tamu .
waktu menunjukan pukul 04.30 rupanya aku tertidur di sofa lagi.
ku intip dari sela pintu ternyata laki laki yang mengetok pintu pagi-pagi buta dan berdiri di depan itu adalah mas Arta.
"Kok pulang? dan sepagi ini? tanya ku heran.
" aku punya istri ya wajarlah pulang, mas udah gak sabar ketemu kamu dek makanya mas pulang pagi-pagi gini dari lampung timur demi kamu " Rayu mas Arta dan berjalan masuk kedalam rumah.
"jam berapa berangkat dari Lampung timur kok jam segini udah sampai rumah " aku bertanya lagi.
"gak liat jam mas dek namanya juga kangen mana mungkin bisa lihat jam dek tujuan mas cuma pulag yang penting cepet sampai rumah dan ketemu istri " kembali mas Arta mengeluarkan Rayuan nya.
mas Arta memang selalu merayuku saat aku punya sedikit kecurigaan terhadap nya.
Aku menutup pintu rumah mata ku tertuju pada mobil yang di gunakan mas Arta adalah mobil mas Arta sendiri. lalu kapan dia mengambilnya dari rumah Janda itu bukan kah tadi sore Mobil mas Arta masih di pakai janda kaya itu.
"permainan apa ini mas , sikap mu yang terlihat salah tingkah membuat ku semakin curiga padamu " bisik ku dalam hati .
selepas Sholat subuh mas Arta menghampiri ku yang sedang membuat kopi di dapur.
"Istriku " mas Arta menciumi pipiku.
"mas kapan kamu ngambil Mobil di rumah istrinya nya teman mu itu? katanya dari Lampung timur buru-buru langsung pulang tapi mobil nya sudah di tukar kembali " tanya ku seraya menyodorkan Kopi ditangan ku yang ku buat untuk mas Arta.
"eem semalam angga yang mengantarkan jadi kita ketemuan di jalan Dek, udah yuk mas mau menikmati kopi buatan istri tercinta mas" mas Arta berusaha mengalihkan pembicaraan ku.
berantakan sekali alur cerita yang di buat mas Arta. aku melanjutkan kegiatan ku membersihkan dapur dan membuat sarapan tak lama aku mendengar bunyi dering ponsel ku.
Ku lihat nama 'Mama asih' yang memangil.
"Hani jadi istri tu kalau suami pulang di sambut dengan baik , di masakin air panas buat mandi, jangan di serang pertanyaan terus. tugas istri di rumah itu hanya cukup mendoakan kesuksesan dan kesehatan untuk suami nya tak perlu banyak menuntut ini dan itu, kamu aja udah setahun lebih mau dua tahun malah belum juga ngasih Arta keturunan jadi gak sepantas nya kalau kamu terlalu mencampuri Urusan pekerjaan suami mu , toh kamu hidup serba berkecukupan kan menikah dengan anak ku? " cerca mama mertua ku di telpon.
"iya mah hani gak menuntut apa-apa cuma bertanya pada suami Hani sendiri, insya Allah mingu ini mas Arta menjalani tes biar dokter bisa tau apa yang kita Alami kenapa sampai saat ini aku belum juga Hamil dan segera di cari solusinya " jawab ku panjang .
"Enak aja kamu nyuruh anakku Tes yang bermasalah itu kamu, anakku itu sehat. kamu yang gak bisa hamil kenapa anak ku yang harus tes kesehatan? dasar gak tau diri ! pokok nya kamu harus berusaha untuk hamil bukan anak ku. ingat ya Arta itu sehat keturunan ku gak ada yang mandul " jawab ketus mama asih dengan Nada marah.
"keluarga Hani juga gak ada keturunan mandul mah, mungkin Allah belum memberi Hani dan mas Arta anak saja. Allah kan lebih tau mana yang baik dan mana yang buruk untuk hamba nya, salah satu ikhtiar Hani dan mas Arta ya tes kesehatan dan kesuburan masing masing biar tau bagaimana langkah selanjutnya nya " balas kusambil terus berbicara di telpon dengan mama asih.
"Halah alasan saja!.. " mama asih mematikan telpon nya.
sekali lagi mas Arta selalu mengadukan semua masalah rumah tangga kami ke mama Asih .
"Siapa dek yang nelpon kok lama amat" tanya mas Arta Basa basi.
"pelindung mu " . jawab ku dan berlalu bergi meningal kan nya dan menuju kamar untuk merapikan tempat tidur kami.
🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴