Mandul

Mandul
kesepian



kesepian.


_____________________


Rupanya listrik sedang paham ku raih ponsel ku dan berjalan kedapur mengambil segelas Air aku duduk di sofa ruang tamu.


"Bangun dek pindah kedalam yuk mas sudah pulang " Mas Arta membangun kan ku.


aku tak menyadari kedatangan suami dan ibu mertuaku karena tak terasa aku tertidur di sofa ruang tamu.


"Katanya sakit kok duduk di sini , ni mama baru beli sepatu sama gamis terus beli cincin emas putih di beliin Arta " Pamer mertua ku padaku.


"Iya mah bagus " Jawabku.


"Kamu baru sakit gitu aja udah manja Hani, nanti rasain kalo udah hamil dan melahirkan ya kalau kamu bisa hamil sih " Sambung mama Asih lagi padaku.


Aku berlalu pergi kekamar di temani mas Arta.


"Dek maaf mas gak beliin kamu apa -apa soalnya kan uang mu masih banyak kamu bisa beli sendiri, kamu cepet hamil ya dek biar mama sayang sama kamu mama bilang pengen cepet - cepet momong cucu dari mas karena mas kan anak pertama mama" Ucap mas Arta padaku.


sekarang mas Arta lebih sering menuntut ku agar cepet hamil sama seperti mama Asih, mungkin karena tuntutan dari mama Asih juga.


Aku tak bersuara apa-apa hanya sedikit senyuman dan anggukan saja .


_akupun ingin jadi ibu semua wanita ingin merasakan hamil dan melahirkan mempunyai anak yang lucu-lucu_ aku berkata dalam hati.


Pagi hari kudapat pesan singkat dari pihak rumah sakit mengabarkan hasil cek ku sudah keluar, aku pun pergi dengan mas Arta kerumah sakit karena aku sudah merasa sehat.


"Ibu Hani baik baik saja kok, hasil cek nya bagus saya kasih beberapa obat untuk memperbaiki siklus haid nya dan semoga segera di beri momongan ya pak Arta, tapi sebaik nya pak Arta juga menjadi beberapa tes untuk memastikan pak Arta juga sehat " Penjelasan dari dokter kandungan kami.


Lega dan puas rasanya mendengar itu .


Aku tidak akan selalu di salahkan jika belum juga hamil.


Sampai rumah mama Asih mempertanyakan hasilnya.


"Hani mandul ya " Ucap mama Asih


mama Asih memang lebih sering ngomong asal padaku mungkin karena beliau berharap besar agar segera punya cucu.


"Ngomong apa si ma, Hani sehat semua cek hasil nya bagus gak ada masalah cuma perlu memperbaiki siklus haid nya saja tapi Arta juga perlu cek kata dokter " Jawab mas Arta .


Aku tidak ingin banyak bicara lagi karena apapun yang keluar dari mulut ku akan selalu di jawab dengan kata kata tak enak oleh mertuaku.


Sungguh aku tak tau kenapa mertuaku berubah jadi membenciku padahal dulu awal menikah mama Asih masih memperhatikan dan sepertinya menyukai ku.


Mungkin karena aku belum memberi cucu untuk nya itulah sebab nya mama Asih kecewa padaku.


Dua minggu sudah mama Asih dirumah kami dan berpamitan ingin pulang.


Aku memberi oleh-oleh untuk kedua adik mas Arta dan keponakan mas Arta anak dari adik perempuan mas Arta.


"Mama pulang tapi tahun depan saat mama kesini lagi sudah ada cucu yaa kalau belum juga tolong pikirkan jalan keluar nya " Ucap mama sebelum memasuki mobil.


Perlahan mobil yang ditumpangi mama Asih menjauh dari rumah ku.


Mas Arta tak mengantar mama Asih ke pelabuhan karena mama Asih naik taksi online.


"Masuk yuk dek" Ajak mas Arta padaku.


Kucium aroma wangi parfum dari arah arah kamarku dan mas Arta ternyata mas Arta sedang bersiap dengan pakaian yang sangat Rapi.


biasanya mas Arta tak pernah berpakaian serapi itu ya karena mas Arta biasa kerja di lapangan jadi jarang berpakaian rapi.


"Mau kemana mas hari minggu udah rapi banget " Tanyaku pada mas Arta


"Mas ada janji temu sama orang dek, orang ini mau nyuruh mas Ngukur tanah nya karena mau di buat kavlingan dan perumahan " Jawab mas Arta.


"Oh tumben rapi banget suami ku " Goda ku sembari melempar senyuman padanya.


Mas Arta membalas senyum padaku dan pergi memasuki mobil nya.


Aku duduk sejenak di ruang tamu dan merasa sangat bosan harus nya mas Arta dirumah saja kan ini hari libur tapi malah pergi,


.


"Ahh seandainya ada anak pasti mas Arta gak akan pergi-pergi dan aku pun gak kesepian " Pikir ku dalam hati.


dan aku memutuskan untuk jalan jalan sendiri tak lupa aku izin terlebih dahulu pada mas Arta.


ku pacu sepada motorku karena aku ingin berkunjung ke salah satu teman sekolah ku yang kebetulan menikah dan tinggal di bandar lampung juga rumah nya tidak terlalu jauh dari rumah ku hanya sepuluh menit perjalanan.