
mama mertua datang kerumah.
__________________________________
"Kamu masak apa kok Arta bilang gak enak ? Kan mama udah ngajarin gimana cara nya masak kamu nyimak gak si kalo mama ngajarin masak". Cerca mama Asih di telpon.
Mama Asih lah yang menelpon lebih dulu sebelum Hani memulainya.
Mungkin Karna mas Arta sudah mengeluh di pangilan telpon pada mama nya tentang masakan ku yang tidak seenak masakan mama nya.
"I-iya mah maafin Hani tadi Hani masak dengan resep yang pernah mama kasih kok mah" Jawab Hani pada mama Asih di telpon
"Mana mungkin jadi nya begitu kalo mengikuti resep masakan ku, ya sudah kamu banyak belajar lagi biar suami keurus dengan baik. Oh ya kamu udah hamil belum udah setahun kan kalian menikah coba konsultasi ke dokter kandungan " Ucap panjang mama Asih .
Lalu telpon pun mati.
Aku mencuci piring bekas makan tadi dengan mas Arta sambil terus terniang-niang di telinga ku kata kata mas Arta dan mama Asih .
Sebelum nya mas Arta tidak pernah mengeluhkan masakan ku bahkan mas Arta selalu memuji ku tapi akhir akhir ini berbeda yang kurasa pada diri mas Arta.
"Makan malam kita makan di luar ya dek kita makan beef steak". Mas Arta mengajak ku.
"Iya mas Hani siap² dulu ya " Sambungku.
Setelah selesai makan malam Mas Arta mengajak ku ke pusat perbelanjaan dan mempersilahkan ku untuk membeli apapun yang aku inginkan.
Aku memilih 2 baju satu berwarna merah muda dan satu berwarna hijau tentu itu dengan persetujuan mas Arta karna aku ingin mengenakan pakaian yang di sukai suamiku saja, tak lupa mas Arta membeli juga untuknya beberapa potong baju atasan dan celana.
Kami telah sampai rumah dan mas Arta bersiap untuk tidur.
"Mas aku bereskan cucian dulu ya" .
Izin ku pada mas Arta yang terlihat sudah tidur pulas mungkin karna kelelahan.
Aku mengambil tas hitam yang kotor karna lumpur bekas kerja mas Arta di lampung selatan kemarin ya karna medan nya di desa dan becek wajar jika peralatan kerja mas Arta di penuhi lumpur.
Ku priksa satu persatu baju kerja mas Arta yang akan ku cuci dan kutemukan uang pecahan Receh di dalam kantong celana nya ku alihkan lagi tangan ku ke kantong celana sebelah kiri dan kutemukan Struk bekas transfer bank cukup besar nominal nya, ada dua struk satu bekas transfer ke rekening mama Asih 10 juta rupiah dan satunya kulihat nama rekening Titi saputri di di struk itu dengan nominal yang sama.
Aku tak mau banyak bertanya pada mas Arta karna mungkin itu teman kerja nya seperti biasa tiap mas Arta selesai mengerjakan proyek pasti harus bagi bagi hasilnya dengan teman teman lain dan aku pikir nama Titi saputri adalah salah satu team mas Arta juga. Dan masalah transfer pada Mama Asih itu adalah tugas mas Arta setiap bulan.
Aku menyiapkan sarapan , dan lagi lagi mas Arta berkomentar mau makan masakan yang seperti di buat mama nya dan engan mencicipi masakan ku sedikit pun hanya meminum kopi dan berlalu bergi ke kantor nya.
"Apa mas Arta rindu mama Asih ya kan sudah setahun mas Arta tak jumpa ibu nya" Bisiku dalam hati
Aku mendengar bunyi dering ponsel tapi sepertinya bukan ponsel ku yang berbunyi aku melihat itu ponsel mas Arta yang ketingalan di atas meja kamar kami.
Ingin ku menjawab telpon itu tapi sudah terlanjur berhenti pangilan nya, saat ku mencoba membuka nya ternyata sudah di beri sandi baru dan aku tak dapat membuka ponsel mas Arta.
Dokter pun meminta ku melakukan serangkaian tes di Rumah sakit tersebut.
Dokter memberitahu kami bahwa aku sehat hanya siklus haid ku yang perlu di perbaiki dan aku harus melakukan terapi Hormon serta Histerosalpingografi (HSG) untuk melihat apa saluran rahim ku tersumbat.
Jadwal kami mingu depan untuk menjalani HSG.
Kesokan harinya ibu ku datang kerumah dan tak lama ternyata mama mertuaku pun tiba dengan di antar mas Arta..
Ya ternyata mas Arta menjemput mama Asih di pelabuhan dan membawa mama Asih kerumah kami.
Betapa bahagianya aku ibu kandung ku dan ibu mertuaku datang.
"Eh ada mbak santi juga sering kesini ya mbak ? pantes hani jadi manja" Kata mama Asih pada ibuku.
Padahal ini pertama kalinya ibuku datang kerumah kami setelah satu tahun aku menikah karna ibuku tingal di Bali jadi kami jarang sekali bertemu.
"Justru baru ini aku mendatangi rumah anaku setelah mereka menikah ".
Jawab ibuku dengan nada sedikit tinggi.
Ibuku memang mudah tersinggung.
"Jagain mama dan ibu ya dek kayak nya mereka kurang akur " .
Bisik mas Arta di telinga ku.
Malam hari tiba aku tak menyangka mama mertuaku sudah tidur di kamarku, kamar kami memang cuma ada 2 . Satu kamar tamu yang kusiapkan untuk mama mertua dan ibuku satu lagi kamar ku dan mas Arta.
Rupanya mama asih tak mau tidur dengan ibuku dan memilih tidur di kamarku .
"Kamu tidur sama ibumu saja ya Hani aku tidur sama anaku Arta " Kudengar mama asih berbicara.
"Ma Arta tidur di sofa aja mama sama Hani tidur bedua" Sahut mas Arta pada ibu nya .
"Kamu si pencari nafkah kok tidur si sofa kalo kamu bangun tidur pegel pegel gimana? Terus sakit Nanti siapa gimana ibu nya Hani pulang ke Bali kalo gak dapat uang dari mu".
Sambil duduk dengan muka sinis padaku mama Asih berkata seperti itu pada anak nya.
"Aku datang kesini tak meminta sepersepun uang dari Arta mbak begitupun saat aku pulang nanti persediaan uang jalan ku sudah cukup ".
ibuku berdiri di depan pintu kamar kami dan menjawab kata kata mama Asih
Tak kusangka ternyata ibuku sedari tadi ada di situ.