Mandul

Mandul
pov hani. teman lama.



Prov Hani.


"Nih aku belikan ponsel baru untuk mu". Bayu memecah keheningan ku.


"Terimakasih, tapi harus nya kau tak perlu melakukan itu sudah terlalu banyak bantuan yang kau berikan padaku bay" Ucap ku merasa tak enak.


"han aku sudah tau semua dari Ria, maafkan aku yang lancang mencari tau masalah mu dari Ria. " Jawab bayu .


Aku tersenyum tipis, aku sudah menduga bayu menemui Ria karena beberapa hari yang lalu bayu meminta alamat Ria padaku


"Bayu Sudah terlalu lama aku disini, aku harus pergi dan menyelesaikan masalah ku dengan Mas Arta, aku tak mau merepotkan Mu lagi " Kata ku


Bayu terdiam tak bersuara.


"Terimakasih sudah menolong ku, mengizinkan aku tinggal di sini aku tak mau menambah beban mu' Ucap ku lagi..


"Aku suka kamu di sini Hani, itu yang aku impikan " Jawab bayu sangat lirih .


"Apa kata mu? " Aku meminta bayu mengulangi kata katanya karena aku tak mampu mendengar nya dengan Jelas.


"Emmmh .. Engak, gak papa kok" Bayu menjawab gugup.


"Aku baru melihat suami Mu tadi siang di lab rumah sakit ku " Kata bayu.


"Haaah ngapain dia? " Ucap ku penasaran.


"Tes kesuburan " Jawab bayu singkat.


_untuk apa mas Arta menjalani Tes kesuburan apa dia akan menikahi Titi karena aku sudah pergi dari nya? _ bisiku dalam Hati.


"Kenapa diam " Tanya bayu.


"Gak papa aneh aja, waktu aku menyuruh nya mas Arta gak mau melakukan nya sekarang aku sudah pergi justru dia melakukan tes" Jawab kulu membuang nafas panjang.


Aku kembali berkata pada bayu bahwa aku ingin pergi dari Rumah nya, tapi bayu seolah tak membiarkan aku pergi dan terlihat dari wajah nya dia ingin aku tetap di sini.


"Bayu aku wanita yang sudah menikah, tidak baik untuk ku jika terus tinggal dengan laki-laki yang bukan muhrim ku" Kata ku memberi penjelasan pada Bayu.


"Hani aku tidak bisa melihat mu di sakiti lagi, tetap lah disini" Pinta Bayu.


Ku kerut kan Dahi ku mendengar kata-kata bayu Entah lah kenapa bayu begitu khawatir padaku.


"Tidur yuk sudah malam " Titah bayu menyuruh ku untuk pergi ke kamar.


•••••••••


Pagi ini aku memutuskan untuk pergi dari rumah bayu sebelum bayu bangun dari tidur nya.


perasaan tidak enak dan takut menjadi fitnah jika aku terus tinggal sini terus menghantui ku sepanjang malam.


Aku tak tau kemana arah dan tujuan ku.


Tiba-tiba di tengah perjalan aku merasa sangat kuat tidak ingin lemah lagi, aku harus pulang ke rumah ku bukan untuk mas Arta tapi karena aku ingin melihat mas Arta hancur.


"Pak berhenti di sini" Ku arah kan sopir taksi yang aku tumpangi untuk berhenti di depan rumah ku.


Ku ketuk pintu Rumah cukup lama tapi Tidak ada jawaban. Aku tak memiliki kunci cadangan nya lagi karena semua barang ku hilang saat aku kecelakaan..


Hampir 10 menit baru lah aku mendengar suara pintu yang terbuka..


Aku melempar kan senyuman Tipis dan lalu masuk kedalam rumah melewati mas Arta yang tampak kacau, wajah nya yang kusam, baju nya yang berantakan dan lingkar hitam di bawah mata nya menunjukan bahwa dia kurang istirahat.


"Dek kamu kemana aja? Dimana kamu selama ini " Kata mas Arta melas.


Aku tetap tak bergeming dan berjalan menuju kamar ku, mas Arta terus membuntuti ku sampai aku menutup pintu kamar dan mengunci nya.


"Dek kamu menghilangkan berhari-hari kini pulang tapi Membisu, mas tau mas salah dek tapi jangan kau siksa aku seperti ini, mas janji bakal ninggalin Titi mas bersumpah akan setia sama kamu, tolong dek bicara lah" kata mas Arta sambil terus mengetuk pintu kamar ku.


"Hani kamu di mana ? Kenapa kamu pergi meninggalkan ku" Bayu mengirim pesan ke ponsel ku .


"Bayu aku pulang ke rumah ku" Balas ku.


Bayu tak membalas pesan ku lagi dan hanya membaca nya.


Mas Arta masih berada di depan pintu kamar ku hingga malam Datang.


Aku menyiapkan makan malam tentu untuk ku sendiri tanpa ku sisihkan satu porsi pun untuk mas Arta. aKu santap makan malam ku di dapur seorang diri, mas Arta hanya menatap ku dengan mata Nanar dan wajah sendu.


Dia tau bahwa aku tak akan berbicara pada nya meski seribu pertanyaan dia lontarkan.


•••••••••••••


Mas arta tidur di sofa semalam, itu karena aku mengunci pintu kamar ku.


Mas Arta terbangun saat aku membuka tirai jendela ruang tamu.


"Dek bicara Lah aku tersiksa dengan Diam mu, kau Seperti bukan Hani ku yang dulu " Bicara mas Arta pada ku.


"_aku memang tidak ingin menjadi Hani mu lagi Mas, aku jijik pada mu _" gumam ku dalam Hati.


Aku tetap tak mempedulikan kata-kata nya.


•••••••


Beberapa hari berlalu dan ku biarkan keadaan tetap seperti ini, sikap ku yang dingin dan tak acuh pada mas Arta nampak nya membuat dia kalang kabut tak karuan bahkan aku belum melakukan apa-apa tapi dia sudah sekacau Ini.


Aku menghabiskan waktu ku di salon untuk melakukan perawatan hanya itu yang bisa kulakukan untuk menghibur diriku tentunya untuk membuat ku cantik juga sih.


Mas Arta hanya berdiam di rumah tak pernah lagi berangkat kerja atau melakukan aktivasi apapun.


"tok.. Tok.. Tok" Ada yang mengetuk pintu rumah ku .


"Maaf saya ingin menyampaikan surat ini pada pak Arta " Seorang kurir memberikan surat untuk mas Arta.


"Oh iya saya istrinya, nanti saya sampaikan padanya" Jawab ku.


Aku membuka isi surat ini rupanya Surat Pemutusan Hubungan Kerja dari kantor mas Arta.


Mas Arta sudah tak pernah lagi ke kantor mungkin itu lah yang membuat nya di pecat dari pekerjaan nya.


Aku tersenyum sinis setelah membaca surat itu.


"tanpa aku banyak berkerja Allah telah membantu ku membalas perbuatan mas Arta sedikit demi sedikit" Bisik ku puas


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍃🍃


.