Mandul

Mandul
di tingal jalan-jalan



di tingal jalan jalan.


____________________


Aku menyusul ibuku ke kamar dan berbicara


Sambil tidur di pelukanya.


"Ibu maafin mama mertuaku ya bu "


"Gak papa sayang tapi kalau dia nyakitin kamu aku siap pasang badan demi kamu nak, kamu punya ibu dan kamu anak perempuan ku satu satunya, sepertinya kamu tak bahagia dengan Arta ".


Sambil mengelus rambutku ibuku berkata padaku.


" Aku bahagia kok bu, mas Arta akhir-akhir ini banyak pekerjaan saja" Jawabku.


Dua hari berlalu Ibuku berpamitan untuk pulang , aku tak menyangka kalau ibuku pulang secepat itu.


"Bu ngapain pulang di sini aja yang lama, Hani pikir ibu bakal lama di sini ". Renggek ku pada ibu.


" Aku gak tahan dengan mertua mu dan aku gak mau menggangu rumah tangga mu dengan Arta nak"


"wah - wah emang kenapa gak tahan dengan ku mbak santi, kalau gak tahan siapa suruh kesini ". Rupanya mertuaku nguping pembicaraan ku dengan ibuku


" Mama tolong jangan salah sangka".


Aku mencoba memberi penjelasan pada mama Asih dan hatiku terus memikirkan bagaimana perasaan ibuku atas kata kata tidak enak yang selalu keluar dari mulut mama mertua ku.


"Ada apa si ribut - ribut pagi pagi gini " Mas Arta mendekati kami bertiga.


"Itu ibu nya Hani gak suka mama di sini Ta, katanya gak tahan dengan mama, mereka itu ibu dan anak yang sedang bicara buruk tentang mama Arta , ibu yang melahirkan mu di bicarakan yang bukan -bukan oleh istri dan mertuamu". Ucap mama Asih seraya menangis memeluk mas Arta.


Aku tak menyangka mama Asih begitu berlebihan menangapi hal ini sampai seperti itu .


Padahal ibuku lah yang setiap hari mendengar kata kata tidak enak dari mama Asih .


"Ayo mah, kita jalan jalan aja mama mau beli apa" . Mas Arta mencoba menenangkan ibunya.


Aku tak menyangka mas Arta berlalu pergi meninggalkan ku dengan ibuku dan berlalu dengan ibunya begitu saja tanpa basa basi bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada aku dan Ibuku.


Aku terus berfikir mas Arta kenapa begitu berubah menjadi dingin padaku dan seakan tidak Hormat pada ibuku.


Aku mengantarkan ibuku ke bandara karna ibuku akan pergi ke Bali.


Sebelum nya aku sudah meminta izin pada mas Arta yang masih berjalan-jalan dengan ibunya.


"Ting".. Bunyi suara Henpon ku.


Kulihat mas Arta mengirim bukti transfer ke rekening ku dan mengatakan.


"Buat uang jalan ibu, sampaikan salam mas pada Ibu dan permohonan maaf mas gak bisa ikut mengantar pulang ibu" Seperti itulah bunyi pesan nya.


Lega rasanya hatiku ternyata mas Arta masih perhatian padaku dan ibuku.


"Ibu kita ke ATM dulu ya Hani mau ambil uang buat ibu dari mas Arta " .


"Ibu gak mau uang Arta atau uang mu ibu punya cukup uang untuk pulang malah lebih ". Jawab ibu ketus.


" Tapi bu.. " Sahut ku


"Kalo sampai kamu ngasih uang ke ibu Baik itu dari Arta sekalipun ibu gak akan mau datang kerumah mu lagi " Ibu sedikit mengancamku.


"Baiklah bu, aku akan menyusul ibu tidak lama lagi " Sambil kupeluk ibuku dan aku terus menangis di pelukan nya.


Ibuku melambaikan tangan dan perlahan kulihat tubuh ibuku hilang memasuki lorong menuju pesawat.


"Baru pulang Non, pantes Arta gak keurus istrinya keluyuran jam segini baru pulang ". Mama Asih berbicara di ruang tamu saat aku pulang.


Mas Arta pun ikut duduk di samping ibu nya kulihat ada beberapa bungkus bekas makanan siap saji.


Setelah aku selesai mandi ku lihat ruang tamu berantakan bekas makanan mas Arta dan mama Asih masih berserakan.


_kenapa gak makan di tempat makan aja sih, kenapa musti di sini berantakan banget_ bisiku dalam hati .


Aku merasa lapar dan berharap masih ada sisa makanan untuku.


Ya, aku lupa makan saat pulang dari bandara tadi dan buru buru menuju rumah saja.


Aku membuat mie instan di dapur .


"Dek kamu belum makan ya " Kulihat mas Arta berdiri di belakang tubuhku.


"Iya mas aku buru buru pulang karna memikirkan mu dan mama ternyata kalian sudah makan syukurlah " Jawabku..


"Mas kangen dek " Ucap lirih mas Arta di telinga ku.


Aku mengerti maksdunya.


"dor.. Dor.. Dor.. Hani bangun " Kudengar suara itu sangat kencang.


Rupanya mama Asih yang mengedor pintu kamar ku.


Kulihat pukul 05.30 aku sudah kesiangan.


"Iya ma, Hani mandi dulu ya ma tunggu". Jawab ku di balik pintu kamar.


"Mama pesen Bebek goreng sama bubur ayam buat kita sarapan, enakan kamu gak perlu masak lagi pula masakan mu gak enak yang ada anaku gak mau makan masakan mu".


Ucap mama Asih padaku dengan sedikit mengangkat alis dan bibirnya.


Aku hanya menganguk dan menyiapkan makanan yang di beli mama Asih dan membuat kopi untuk mas Arta.


"Selamat pagi sayang " Kata mas Arta sembari mencium kening ku.


Aku melihat mas Arta begitu bahagia pagi ini.


Dan aku pun senang melihat nya..


"iih apa apaan si kayak anak pacaran aja gak punya tata krama di depan mama, kamu juga Hani centil banget si . Udah centil gitu tapi tak juga punya anak " Kata kata sinis lagi yang keluar dari mulut mama Asih.


"Maaf ma " Jawabku


"Udah dewasa gak usah sayang sayangan lah males dengernya, fokus aja program punya anak " Ucap kemabali mama Asih.


Tiba hari dimana aku menjalani tes selanjutnya yaitu HSG.


Rasanya sakit sekali aku tak mampu berdiri setelah nya dan hanya berbaring di tempat tidur.


Kudengar mama Asih merengek pada anak nya meminta mas Arta menemani nya jalan jalan karna merasa bosan dirumah.


"Hani lagi sakit ma nanti klo dia butuh Arta gimana kasian " Mas Arta berbicara pada mama nya.


"Manja amat si Hani ini hamil juga engak kok udah manja minta di temenin kalau lagi hamil wajar" .


Kudengar kembali suara mama Asih dengan nada tinggi dan cukup keras.


Mungkin sengaja agar aku mendengarkannya.


"mas Arta sini bentar, " Aku memangil suamiku.


"Apa si mau ngelarang Arta nemanin mama jalan jalan?" Ternyata mama juga masuk kamar ku bersama mas Arta


"Engak mah Hani gak pernah nglarang apapun yang ingin mas Arta dan mama lakukan, pergilah Hani gak apa apa ".. Ucapku lembut pada mama mertua ku.


" Tuh kan mama... " Sela mas Arta


Satu jam mereka pergi aku merasa sangat haus dan gelap ternyata semua lampu padam aku panik dan sedikit merasa takut sembari berjalan merayap pelan pelan di dinding dan menahan rasa sakit aku pun berjalan keluar..