
“TOPAN!!!” teriak manda dari dalam kamar mandi.
Topan yang memang belum sempat keluar dari kamar manda sontak langsung mendekat ke pintu kamar mandi dimana manda berada.
“kenapa lo ka?” tanya topan khawatir.
Clek! Manda keluar dari kamar mandi dengan mata berkaca-kaca hampir menangis, topan langsung mengecek keadaan kakaknya, takutnya kalau ada yang lecet.
“pan….” Rengek manda kepada adiknya, memang dalam keadaan sedih manda akan manja kepada mama dan adiknya itu.
“kenapa sih ka? Sampe mau mewek segala?” topan Kembali bertanya penyebab mengapa kakanya itu bisa sampai menangis, karena diliat-liat gak ada luka sama sekali di tubuh manda.
“kalung gue gak ada pan….”
“kok bisa sih? Coba kita cari dulu disekitar Kasur lo, siapa tau pas kaka tidur tuh kalung nyangkut atau jatoh” saran topan yang diangguki manda.
Akhirnya keduanya mengacak-ngacak Kasur manda demi menemukan sebuah kalung. Topan juga tahu betapa berharganya kalung itu bagi manda, jadi gak heran kalau sekarang kalau manda nangis kejer.
“gak ketemu pan,, gimana dong?” manda benar-benar menangis sesenggukan sampai mata dan hidungnya memerah karena kalung itu gak bisa ditemukan di kamarnya. Lantas topan pun memeluk kakaknya.
“jangan nangis dulu, yang tenang”, topan mengelus punggung kakanya yang bergetar karna tangisnya, topan selalu merasa lemah jika dihadapkan dengan kakaknya yang sedang menangis.
“sekarang kakak inget-inget deh, seharian lo ngapain aja sampe tuh kalung nggak ada, bisa jadi jatoh di suatu tempat” manda mengangguk dalam pelukan topan, jika sudah begini siapapun yang liat pasti bingung siapa yang kakak dan siapa yang adik.
“bentar, mikir dulu”
Manda mengingat-ingat Kembali seharian ini di sekolah, kira-kira kegiatan apa yang menjadi kemungkinan jatuhnya kalung itu.
“kevin....” gumam manda, ia teringat kalau sepulang sekolah ia bermain basket gila-gilaan dengan kevin. Mengusap air mata, manda melepaskan pelukannya.
“bentar” ucap manda, suaranya terdengar serak karena habis menangis.
“lo sudah ingat?”
Manda mengangguk “hem, semoga saja benar”
Manda mengambil hp-nya di dalam tas sekolah, mencari kontak sasa dan langsung menelponnya.
“ayo angkat sa...”
Setelah mencoba menelpon berkali-kali akhirnya di panggilan keempat sasa mengangkat panggilannya.
“halo man, kenapa jam segini nelpon? Gabut lo?” tanya sasa di sebrang sana, tidak biasanya manda menelpon biasa mereka saling menghubungi via chatt saja.
“sa, lo punya nomer kontaknya kevin?” pertanyaan sasa di jawab dengan pertanyaan pula.
Jelas sasa mengernyit bingung, “kalo gak salah ada sih bentar, emang ada urusan apa lo sama kevin? Lagian aneh juga lo, gak punya telpon dia padahal kan lo babunya” jawab sasa panjang lebar diakhiri dengan sedikit ledekan didalamnya.
“gue ada perlu, penting banget, besok gue ceritain kenapa nya”
“oke oke, nomernya gue kirim lewat chatt aja ya”
“thanks sa, lo emang bisa diandelin”
“sans man, tar traktir gue jajan di kantin ya”
Manda terkekeh sedikit terhibur dengan celotehan sasa.
“gampang itu mah, gue tunggu ya” panggilan pun berakhir, manda duduk di pinggir ranjangnya tak sabar menunggu pesan dari sasa.
“gimana ka, udah?”
manda menggelengkan kepala “belom, masih nunggu pesan, mending lo turun aja dulu, kalo lapar makan aja duluan, tar gue nyusul”
“oke, kalo perlu sesuatu panggil gue, jangan pendem sendirian”
“heem”
Meski ragu, topan keluar dari kamar manda, ia takut kakaknya itu menangis sendirian. Tapi ia juga gak boleh memaksa kehendak manda sendiri.
“pan..” panggil manda.
Topan yang hendak menutup pintu kamar manda pun terhenti.
“makasih” ucap manda dengan senyum tulusnya, tentu topan membalas senyum itu taka kalah tulus, demi apapun topan sangat menyayangi kakaknya mau semenyebalkan apapun dia sayangnya gak akan pernah berkurang.
Clek! Tanpa kata topan menutup pintu itu rapa-rapat.
Ting!
Dengan segera manda mengecek notif di hp-nya, sesuai harapan notif itu berasal dari sasa.
Setelah mendapatkan nomer WA kevin manda langsung menelponnya.
Panggilan pertama kevin tak mengangkatnya, manda kembali mencoba menelponnya dengan perasaan tak karuan antara tak sabar dan takut, takut bahwa kalung itu tidak berada di tangan kevin, lagi-lagi telponnya gak diangkat. Ia mengecek nomornya.
“aktif ko nomernya” gumannya mulai kesal. Ia kembali menelponnya dan gak mendapatkan respon apapun dari kevin. Terus seperti itu berulangkali sampai akhirnya manda menyerah dan memilih mengiriminya pesan lewat chatt.
...
...
Dilain tempat, kevin sedang asik dengan game favoritnya yaitu PUBG, sedang asik-asiknya main tiba-tiba ada yang menelpon dari nomor yang tak dikenal, merasa gak penting ia mengabaikannya.
Ternya nomor itu tidak menyerah terus menelpon, kesal dengannya kevin hendak mengangkat dan memaki orang yang menelponnya, namun niatnya itu tak tersampaikan ketikan nomor itu malah mematikan telponnya dan tak menelpon lagi, hanya meninggalkan pesan chatt.
Bukannya membuka pesan itu kevin malah lanjut main gamenya, menurutnya itu bisa nanti.
Sejam setelahnya kevin mengakhiri main gamenya, merenggangkan badan yang terasa pegal lalu beranjak menuju kamar mandi hendak membersihkan badan. Setelah membersihkan badan kevin langsung merebahkan tubuhnya hendak istirahat, kali ini dia gak berniat begadang.
Teringat dengan pesan nomor tak dikenal tadi, kevin kembali merasa kesal, ia mengecek hp-nya sambil rebahan ingin tahu siapa yang sudah mengganggunya tadi.
Alisnya terangkat sebelah sambil membuka pesan itu,
....

...
Kevin bangun dari rebahannya, ia mengucek matanya berkali-kali tak menyangka siapa yang menghubunginya tadi.
“manda?” ucapnya tak percaya. Dengan segera ia membalas chatt nya.
.....

Seolah pesan darinya sedang ditunggu-tunggu, pesannya langsung mendapat balasan.
Ting!
...

Manda membawa-bawa hp-nya, bahkan ketika makan pun matanya tak lepas dari hp-nya, berharap kevin segera membalas pesannya. Setidaknya ia tahu kevin melihatnya apa tidak.
Sikap manda itu terus diperhatikan oleh topan, ia yakin kasus kalungnya itu belum terpecahkan dan ia lebih memilih diam tak bertanya selagi tak terdesak, kalau membutuhkannya ia pasti meminta bantuannya.
“gue selesai” manda menaruh sendoknya tanda selesai dengan makannya.
“belum habis” tegur topan.
“gak napsu makannya pan, malah enek” keluh manda.
“ya udah, istirahat aja, ini biar gue yang beresin, jangan terlalu dipikirkan, besok cari di sekolah siapa tahu ada yang nemuin dan mau balikin ke kakak” ucap topan, meski dengan nada datar manda tahu topan sanga mengkhawatirkannya.
“semoga saja, besok gue bakal cek kebagian penjaga” manda pun pamit ke kamarnya duluan.
Ting!
Baru saja menginjakkan kakinya di dalam kamar manda mendapat balasan pesan dari kevin, dengan antusias ia langsung membalasnya dan terjadilah percakapan diantara mereka.
...
kesal tak mendapatkan informasi tentang kalungnya, Manda memilih untuk tidak lagi membalas pesan Kevin.
dengan lesu Manda mencuci muka dan gosok gigi,sesekali ia mengusap air matanya menetes, ia sangat takut kalungnya benar-benar hilang. ia ingin segera tidur agar biar cepat pagi dan bisa mencari kalungnya, sekarang sudah terlalu malam untuk mencarinya.
Revan ...hiks..hiks .. maaf