
Keesokan harinya, hari sabtu, kegiatan di sekolah full ekstrakulikeler, yang seharusnya hari itu manda mendaftar ekskul yang dia inginkan-ekskul seni sastra.
Tapi sasa sudah terlanjur sasa sudah terlanjur mendaftarkannya menjadi peserta seleksi tim inti untuk lomba voli, yang artinya otomatis sekaligus menjadi bagian dari ekskul bola voli.
Siangnya manda dan kedua teman ekskulnya, rani dan mira -keduanya kelas IPS A- saling beriringan menuju gudang penyimpanan alat olahraga untuk menyimpan peralatan voli seperti bola dan net.
Ya, mereka telah menyelesaikan seleksi tersebut untuk perlombaan cabang olahraga tingkat kota yang akan datang, meski tanggal pastinya belum ditentukan tetap saja dari pihak sekolah menuntut untuk dipersiapkan sejak jauh-jauh hari untuk setiap cabang olahraga, entah itu basket, voli, bulutangkis dll.
Setelah selesai menyimpan bola dan yang lainnya, mereka bertiga berniat kembali untuk istirahat, capek sudah pasti mereka rasakan, badan pun terasa pegal dan lemas, sedari pagi Mereka terus bergelut dengan yang namanya bola voli.
Bug!
Sekeluarnya dari gudang, mereka dikejutkan dengan sura seperti ada orang yang terjatuh. Sontak saja ketiganya langsung mengecek tembok sekolah samping gudang. Takutnya beneran ada orang yang jatuh.
Dan benar saja manda dan kedua temannya melihat seseorang yang sedang duduk lesehan sambil mengusap pinggangnya seperti sedang kesakitan.
Pftt...
“hahahaha ngapain lo disana vin?” ledek manda menertawakan orang yang sedang kena musibah itu.
Kevin kaget dengan kehadiran manda dan dua orang yang ia tahu mereka juga anak IPS, ia kira gaka ada orang sama sekali.
****!
“diem lo!” sentak kevin galak, lalu tak lama ia tersenyum aneh saat otaknya mulai berpikir jail.
“akhrg aduh..duh.. Sakit nih kaki gue, mending lo tolongin gue berdiri, cepet!” kevin meringis kesakitan seperti cidera fatal, tak lupa tangannya terus memegangi kaki kanannya.
“yeee enak aja, bangun aja sendiri” tolak manda mentah-mentah membuat rani dan mira memelototkan matanya kaget dengan jawaban manda.
“man... gila lo” ucap rani, sedang manda hanya nyengir saja.
“cepetan elahh, gak kesian napa? Liat kaki gue terkilir” kevin mulai memaksa.
“gak, gak kesian gue ma lo,” manda tetap menolak, “noh rani aja yang nolongin lo, kalo gak lo aja mir” ucap manda melemparkan kepada rani dan mira.
Ucapan manda membuat kevin memberikan tatapan mau kepada rani dan mira agar mereka segera menyingkir. Tentu saja rani dan mira menggeleng kepala mereka brutal, tidak mau berurusan dengan kevin.
“emm man sory, kita duluan deh” ucap rani.
“i-iya man, kita mau kempel kelas, ada yang mau didiskusiin sih kayanya” kali ini mira mulai memberi alibi. “dah man” mereka langsung pergi meninggalkan kevin dan manda.
“eh eh ran, mir!” manda mendengus, “cepet banget mereka perginya”
“aduh.. kaki gue” rintih kevin kesakitan membuat manda Kembali fokus kepadanya.
“hah..sini lo, cepet” dengan setengah hati manda membantu kevin berdiri.
Setelah berdiri kevin langsung merangkul pundak manda erat seperti benar-benar kesusah berdiri. Mau gak mau manda pun harus menuntung kevin untuk berjalan.
“anter ke kelas gue aja” perintah kevin.
Alis manda mengerut tanda bingung, “kenapa ke kelas? Ke UKS lah, kan kaki lo sakit”
“nurut aja napa”
“ck” manda berdecak kesal.
“temen gue di kelas semua” jelas kevin.
“lah iya, lo kan punya kronco, kenapa gak nyuruh mereka aja ege, zaman udah modern ada yang namanya hp kalo lupa”
“hp gue di kelas cantikkkk”
Entah kenapa kata ‘cantik’ yang kevin ucapkan membuat manda agak salting.
“dih” manda berusa senetral mungkin agar kevin tidak menyadarinya.
Mereka melewati taman dan koridor sekolah untuk menuju kelas kevin. Alhasil keduanya jadi tontonan orang-orang yang sedang mejeng di taman dan koridor sekolah, apalagi dengan keadaan kevin yang sedang merangkul manda dan jalannya agak pincang.
Orang-orang yang melihat ada yang menyoraki dan saling berbisik,
Huh..otw jadi bahan gosip
“kenapa sih lo pake manjat tembok sekolah segala, lo yang jatuh, gue yang ribet” gerutu manda kesal. Kevin yang mendengarnya pun terkekeh geli.
“mau tau apa mau tau banget?” ucap kevin menggoda manda.
“bodo vin, bodo amat gue, kesel juga lama-lama”
“hahahaha” tawa kevin pecah mengundang lebih banyak perhatian dari siswa-siwa lain.
Manda menundukan wajahnya malu diliatin banyak orang.
“diem vin” perintah manda sambil membekap mulut kevin dengan tangan kirinya.
“diem ih” manda menurunkan tangannya dari mulu kevin, ngeri ludah kevin kena telapak tangannya akibata tawa hebatnya.
“kalo gak diem juga, gue lepas nih” ancam manda
“ekhem oke oke” kevin mengalah.
Sesampainya di depan kelas kevin, manda dan kevin Kembali meributkan hal sepele.
Kevin memaksa manda untuk mengantarnya kedalam sampai tempat duduknya dan manda yang menolak enggak mau masuk kelasnya. Ia sudah cukup malu disepanjang jalan menuju kelas kevin, ia gak mau lebih malu lagi jika masuk kedalam kelas kevin yang pasti bakal jadi bahan tontonan teman-temannya. Ogah!
“ck, lo kan babunya anjir, susah banget nurutnya, cepet anterin sampe tempat duduk gue!” perintah kevin gak mau dibantah.
manda mendelik, ia selalu lupa kalau dia masih jadi babunya kevin yang tinggal enam hari lagi dengan hari ini.
Dengan terpaksa, manda menuntun kevin masuk kedalam kelasnya. Malu sudah manda rasakan saat seisi kelas melihat kedatangannya dengan dirangkul kevin. Sedangkan kevin biasa saja meski harus dipapah manda karena jalannya agak pincang.
Hal itu membuat seisi kelas melongo, terutama tiga keronconya kevin siapa lagi kalau bukan aldi, indra dan aldo. Tak biasa bagi mereka melihat kevin mau jalan sambil gandeng cewek.
“kesambet apa lo nyet digandeng babu? Sok-sok an pincan segala tuh kaki” seru aldi menggoda kevin disusul sorakan heboh dari yang lainnya.
Cieeee…akiww….
“bau-baunya pura-pura pincang tuh man” kompor indra semakin mempericuh suasana kelas kevin.
Sedangkan kevin malah senyum melambai-lambaikan tangannya seolah-olah sedang memperagakan acara fashion show dengan alis naik turun menggoda teman-temannya.
“vinn..” manda benar-benar malu dibuatnya.
Tanpa diduga, kevin melepas rangkulan padahal mereka masih di depan kelas dekat meja guru belum sampe tempat duduknya.
“sudah sampe sini aja, thanks” Kevin dengan santainya berjalan kearah dimana para keronconya duduk dan cara berjalannya pun normal tanpa kesulitan sedikitpun.
Manda mengerjapkan matanya mencoba mencernanya. And…si alan, manda sudah ditipu kevin.
“kan apa gue bilang, pincangnya boongan hahaha” indra tertawa keras, tebakannya tepat sasaran.
Manda yang kesal langsung menghampiri kevin yang sudah duduk, tanpa rasa takut ia menjambak rambut kevin,
“ ngeselin banget sih jadi manusiaaaaaa ih” kesal sekali rasanya sudah dibohin.
Kelakuan manda yang menjambak kevin pun membuat suasana kelas makin rusuh.
“terus man jambak! Jambak”
“yang kenceng sekalian”
“anjir, malu cok dijambak cewek”
Hahahaha
Banyak kompor yang mendukung manda untuk terus menjambak kevin.
“aishh” setelah puas menjambak, manda memilih keluar dari kelas kevin yang menurutnya gila semua, kakinya dihentak-hentakan seperti bocah ngambek.
“yahhhh”
"ngambek tuh bocah"
“huhhh gak seru ah udahan” sorakan yang lainnya karena belum puas menyaksikan aksi menjambak kevin yang langka.
Kevin sebagai korban malah tertawa lepas merasa puas mengerjai manda, ia merasa mendapat hiburan yang menarik.
“hp gue mana?” tanya kevin pada indra.
“noh di tas lo” jawab indra menunjuk dengan dagu.
Kevin pun mengambil hp-nya dan merogoh saku celananya mengambil benda yang akan ia gunakan sebagai senjata selanjutnya untuk mengerjai manda.
Membuka aplikasi WhatsApp dan muali mengetik sesuatu disana.
(abaikan jam nya ya ges 🤭)
“Beres” Kevin tersenyum puas membayangkan ekspresi Manda ketika membaca pesan darinya.
**satu kata untuk bab ini**:
..........