
Keheningan menyelimuti manda dan kevin, mereka berhenti dari permainan mereka. kevin yang tiduran di lapangan dan manda yang duduk selonjoran, kini yang dilakukan mereka hanya menatap langit, diam dengan pikiran masing-masing.
“kenapa lo pindah?” tanya kevin ditengah-tengah diamnya mereka.
“hah?” manda belum ngeh kemana arah pertanyaan kevin, “maksud lo?”
Kevin bangun dari tidurannya, “lo, kenapa lo pindah ke sekolah ini? Bukankah sekolah yang sebelumnya lebih oke?”
ya, kevin baru mengetahui fakta bahwa manda seorang murid pindahan sejak minggu lalu, tepat saat pertama kali mereka bertemu. Pantas saja ia merasa asing dengan manda saat itu.
secara mereka sudah menginjak tahun kedua yang seharusnya sudah hafal dengan wajah-wajah seangkatannya. Kan gak lucu kalau gak kenal.
Manda sendiri hanya mengangguk gak jelas setelah mengerti maksud dari pertanyaan kevin yang menurutnya terlalu privasi. Ia menatap kevin yang juga sedang mentapnya.
“gue gak harus menjawab pertanyaan lo kan?”
“tentu, kalo menurut lo itu mengganggu”
Sekali lagi manda mengangguk “yahh lagian baik buruknya sekolah tergantung muridnya” ucap manda yang dibenarkan oleh kevin.
“so…. how about you? Punya masalah apa lo?” kali ini manda yang balik bertanya mengenai sikap kevin yang menurutnya berbeda. Meski Cuma kenal beberapa hari tetap saja terlihat berbeda.
“nothing, gue juga gak harus jawab kan?”
“yup, gak perlu samsek” ia rasa mereka gak seakrab itu untuk saling terbuka. hanya penasaran tak lebih.
Manda berdiri dari duduknya, menepuk-nepuk seragam guna membersihkan pasir yang menpel di seragam.
“pulang yuk, udah sepi nih sekolah, kita gak sedang uji nyali disini kan?” tentu saja sudah mulai sepi karena sudah jam empat sore, sedangkan jam pulang jam setengah tiga yang tersisa paling OSIS yang habis rapat dan satpan sekolah yang sedang berjaga.
“sory, sory” kevin juga bangun dari duduknya “yuk cabut” ia berjalan ke pinggir lapangan mengambil ranselnya.
“tapi lo anterin gue pulang ya? Gue males kalo harus pesen ojol, males nuggunya” pinta manda sambil mengekori kevin, mumpung kevin terlihat bersahabat, tidak menyebalkan, dimanfaatkan sedikit gapapa kan? Hehehe
“gampang yaudah ayok” manda berjingkrak senang, isi dompetnya utuh. Mungkin percakapan kali ini percakapan paling normal dari percakapan mereka sebelu-sebelumnya, tanpa perlu saling mencibir dan adu urat.
tanpa mereka sadari, sedari awal ada seseorang terus yang mengamati mereka.
Manda turun dari motor sport milik kevin setelah sampai di depan rumahnya. “thanks buat tumpangannya”
“hemm, gue cabut” kevin langsung menjalankan Kembali motornya,
“oke bye..hati-hati!” teriak manda.
“kak,”
“akhh..”manda menjerit kaget, saking kagetnya manda sampai jongkok untuk menenangkan detak jantungnya.
“astaga…” ia menatap tajam topan yang entah sejak kapan berdiri di belakangnya.
“pan….bisa gak sih kalo jalan tuh bersuara, jangan tiba-tiba ngomong” tegur manda.
“dihh, lo nya aja yang budek ka, diantar siapa tadi? Bukannya izinnya main sama temen cewek ko pulang-pulang sama cowok?” tanya topan mulai mengintrogasi kakakya itu.
Manda berdiri dari jongkoknya.
“ihh..kepo…..”
Mendapat jawaban yang gak sesuai topan mengedikan bahunya, “mulai, mulai”
“hehehe tenang ..yang tadi juga temen kok”
Topan menganggukan kepalanya sebagai respon, “mama bilan mulai besok diantar jemput sama sopir lagi, kalo sopirnya gak bisa tar gue yang anter”
“mama udah pulang?” tanya manda sambil membuka pintu, masuk kerumah dibuntuti topan.
“blom, paling lusa mama pulang”
Ya, mama indah, mamahnya manda sedang dinas keluar kota untuk mengecek restoran cabang di bandung.
Sejak ayah manda dan topan meninggal, mama manda menggantikannya menjadi tulang punggung keluarga, mengambil alih bisnis restoran makanan tradisional yang sebelumnya dirintis oleh ayah manda dan topan.
“hem”
Di kamarnya, manda duduk termenung diatas kasurnya yang empuk, jika sedang begini ia jadi sering over thinking, rumah ini selalu dipenuhi kasih sayang dan kehangatan mamanya, namun tetap aja sering teringat akan luka dan berandai.
Sejak meninggalnya sosok ayah empat tahun lalu, mama, topan maupun dirinya menyimpan luka di hati masing-masing. meski sesalu berusaha menerima dan saling mengobati, nyatanya luka itu tetap ada tak pernah hilang.
Apalagi kejadian empat bulan lalu masih terasa hangat diingatannya seolah terus berputar.
“hahahah..hiks..hiks” diluar kendali manda menangis, dadanya terasa sesak.
*Apa kehidupan selucu itu? Andai saja*....
Ditengah kemelut hatinya, manda tertidur masih dengan seragam sekolahnya.
Empat tahun yang lalu, keluarga manda sangatlah harmonis dihiasi denga gelak tawa canda ketika berkumpul meski terkadan diisi dengan perdebatang kecil antara mama indah dan ayahnya- Erik, dan sejauh ini tak pernah terjadi pertengkaran hebat yang dapat merusak keharmonisan keluarga mereka bertiga.
Bahkan manda kerap membangga-banggakan ayahnya kepada teman-teman sekolah beta hebatnya sang ayah yang selalu memanjakan.
Namun, hidup terkadang menyimpang banyak hal-hal yang dapat merubah apapun, entah itu keberuntungan atau kesialan, senang atau kesedihan, tidak ada satupun yang dapat menebaknya.
Suatu hari sebuah berita mengejutkan menghancurkan keluarganyaa. Saat itu ayahnya izin keluar kota untuk survei tempat untuk membuka cabang restoran sesuai rencana. Karena manda tidak bisa ditinggal sendirian mama indah tidak bisa ikut sang suami keluar kota.
Selang beberapa hari setelah pergi sang ayah, mama indah mendapat kabar mengejutkan dari rumah sakit kalau erik suaminya mengalami kecelakaan parah. Sontak saja dengan panik mama indah membawa manda pergi menuju rumah sakit tempat sang suami di rawat.
Sesampainya di rumah sakit, mereka Kembali dikejutkan dengan sebuah fakta bahwa ayahnya kecelakaan mobil bersama seorang Wanita yang meninggal di tempat kejadian dan seorang anak umur sepuluh tahun yang sedah dirawan, yang mengejutkannya ternyata Wanita itu adalah istri kedua erik yang dinikahi siri secara diam-diam, dan dari pernikahannya menghasilkan seorang anak.
Saat itu tidak ada yang tahu seberapa hancurnya hati indah sebagai seorang istri dan ibu, diwaktu yang sama dengan kecekalaan suaminya ia harus mengetahui pengkhianatan suaminya, pernikahan yang baik-baik saja, tak pernah ada perseteruan dan tak pernah ada keluahan. Entah apa kurannya sehingga sang suami memiliki istri lain lain, apalagi sudah memiliki anak yang sudah cukup besar bagi anak yang berumur sepuluh tahun selisih tiga tahun dengan manda.
“sepuluh tahun? Hah…hahaha hahaha”
Mama indah menangis sambil menertawakan betapa lucunya kehidupannya yang dengan bodohnya ia baru mengetahui semuanya.
“kenapa harus dalam keadaan seperti ini mas?” ucap mama indah lirih
“mas bangun! Jelaskan semua ini! Kamu gak adil mas, setelah semua ini kamu gak akan pergi gitu ajakan? Mas harus jelasin kenapa…hiks hiks”
Manda hanya bisa berdiri di belakang mamanya dengan derai air mata, diumurnya yang menginjak angka tiga belas jelas sudah bisa memahami semua keadaan disekitarnya.
“mah…”
Mama indah menoleh kearah manda lalu meraih manda kedalam pelukannya
“maafin mama sayang,, maafin mama” Pecahlah tangis keduanya, perasaan mereka hancur, kecewa dan marah, namun takt ahu harus melampiaskan kepada siapa karena pelakunya sendiri sedang terbaring lemah dipenuhi alat-alat medis.
Dan pada akhirnya sampai akhir hayatnya, ayah manda pergi hanya meninggalkan sepenggal kata maaf tanpa penjelasan.
Ayah kenapa kau pergi meninggalkan luka seperti ini?
“hiks..hiks...”
“kak...kakak...bangun kak”
Hmmm,
manda mengerjapkan mata bangun dari tidurnya, ia mengusap matanya yang entah sejak kapan basah.
“kenapa pan?” tanya manda sambil mendudukan dirinya tidak lagi tidurang agar tidak kembali terlelap
“bangun dulu bersih-bersih sana, terus kita makan”
Manda mengusap rambut adiknya penuh sayang “hem, lo tunggu aja di bawah” manda pun menuju kamar mandi untuk membersihkan badan.
Kevin menatap punggung manda dengan sarat akan kesedihan,
“maaf...”