
Topan menata sedih kakaknya yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit, dokter menyarankan agar membawa manda ke psikiater.
“sebenarnya kenapa kakak mu bisa sampai segitunya melihat saya?” tanya lelaki tadi masih dalam keadaan bingung, “dan kalau tidak salah kakak mu menyebutkan nama seseorang, Namanya siapa tadi?” dia mencoba mengingat nama yang sempat manda singgung.
“revan”
“yaa benar revan, tadi dia menyebutkan nama itu”
Topan menatap lelaki itu seksama, wajahnya benar-benar sama persis dengan orang yang dia kenal sangat baik.
“siapa lo sebenarnya?”
Alis lelaki itu terangka sebelah, lalu menunjuk dirinya, “oh iya saya baru sadar belum memperkenalkan diri saya”, dia memberikan kartu pengenalnya “saya Milo Setiyawan”
Topan menerima kartu itu, tertulis dengan jelas nama dan pekerjaan milo disana, namun topan merasa aneh melihat tanggal lahir milo.
“berapa umur lo?” tanya topan memastikan. Meski dia tahu milo jauh lebih tua dengannya, topan berbicara santai/non formal kepada milo dan milo sendiri tidak tersinggung, sudah biasa dengan anak remaja jaman sekarang.
“dua puluh tiga tahun” milo belum mengerti kemana arah pertanyaan topan.
“katakan dengan jujur apa hubungan lo sama kak revan?”
“sepertinya kalian salah paham mengenal saya, saya tidak tahu menahu apalagi kenal dengan orang yang Namanya revan”
“gak mungkin, wajah dan postur tubuh kalian sama persis bahkan sulit dibedakan, tidak mungkin kalian tidak memiliki hubungan sama sekali” topan juga mulai bingung “apa mungkin lo punya kembaran?”
Milo menggelengkan kepalanya, “saya tidak yakin karena sejak kecil saya sendiri tidak punya saudara yang lain alias tunggal, boleh saya lihat foto orang itu?”
“tentu” topan membuka galeri di hp-nya, menggulir mencari foto revan, “ini”
“saya pinjam sebentar” milo mengambil hp itu agar bisa melihat dengan jelas foto dari orang yang katanya mirip dengannya.
Terkejut bukan main milo melihatnya, dia merasa seperti sedang memandangi foto dirinya sendiri, hanya saja revan memiliki tahi lalat di bawah bibirnya.
“persis sekali bukan? Bahkan tanggal lahir dan nama belakang kalian sama”
“dimana dia sekarang?” tanya milo gemetar, ia masih tidak percaya dengan kebenaran ini. Topan menggelengkan kepalannya.
“dia sudah tiada”
“hah…” tubuh milo limbung, dia berpegangan pada kursi di sampingnya.
“meninggal?”
“ya, kak revan meninggal tepat empat bulan lalu,” tatapan topan sedikit meredup mengingat saat-saat itu. Tanpa sadar dia mengubah cara bicaranya.
“kak revan adalah tunangan kakakku manda, rencananya mereka akan menikah setelah kakakku lulus SMA sekitar setahun lebih lagi, tapi saying kecelakaan itu terjadi begitu saja tepat di depan mata kakakku”
“bisa jelaskan lebih detail tentangnya? Siapa ibunya, dengan siapa dan dimana tinggalnya selama ini?”
Topan menatap milo lekat lalu mengangguk.
“AYAH! AYAH! keluar” teriak milo setelah sampai rumahnya, dadanya kembang kempis karena amarah yang membara.
Sejak kecil milo selalu berpikir kalau wanita tua di rumahnya bukanlah ibu kandungnya, tak seorang pun ibu yang tega menyiksa dan membuat anaknya kelaparan.
Hatinya terasa sakit membayangkan kenyataan itu, jika benar maka....maka....
“apa – apaan kamu milo?! Kamu bukan anak kecil lagi yang harus teriak – teriak, apa ini hasil dari sekolah mu di luar sana?” tegur ayahnya yang langsung keluar mendengar teriakan anak satu – satunya itu. Tentu saja istrinya mengikuti dibelakangnya.
“apa ada hal yang ayah sembukan dari milo?” kedua orangtuanya terkejut mendengar pertanyaan itu, terutama agung ayah dari milo.
*Tidak mungkin milo mengetahuinya kan*?
“apa maksudmu nak? Kamu membuat keributan hanya untuk menanyakan hal itu?”
Milo menatap ayahnya penuh kekecewaan, sebagai seorang anak ia merasa telah dikhianati oleh ayahnya.
“benar apa kata ayahmu milo, rahasia apa maksudmu?” wanita di samping ayahnya ikut bertanya dengan penuh perhatian, dia adalah sinta istri dari agung yang selama ini milo percayai sebagai ibu kandungnya. Dan sekarang tidak lagi.
Milo menatap sinis wanita itu, setelah semuanya sekarang mau pura – pura perhatian? Huh.
“gak usah ikut campur kamu! Ini urusanku dengan ayah” bentak milo sudah muak kepada sinta.
“MILO! Jaga bicaramu kepada ibumu!” emosi agung tersulut,
“DIA BUKAN IBUKU!”
Hening, sejenak semua terdiam dengan napas memburu.
“kamu-“
“emang benarkan dia bukan ibuku? Aku bukan anak kecil lagi yang bisa kalian bodohi. Sekarang ayah jawab, aku punya saudara kembar kan?”
‘*Pada akhirnya kamu mengetahuinya nak*'
“kamu tau dari siapa?” tanya agung kepada milo, sorot matanya melembut, didalamnya tersirat akan penyesalan.
“Dari siapa aku tahu itu tidaklah penting, aku hanya butuh jawaban ayah”
Agung mengangguk, “iya, kau benar, semuanya benar, kamu memang memiliki saudara kembar, dan bunda sinta bukanlah ibu kandungmu”
Sinta mendelik kearah suaminya, dia tidak suka jika masalah keluarga masa lalu suaminya diungkit kembali.
Topan memejamkan matanya sejenak, dadanya terasa sesak mendengar pernyataan dari ayahnya itu.
“lalu kenapa ayah tidak pernah memberi tahuku?” tanya milo menatap nanar ayahnya.
“aku selalu menuruti semua keinginan ayah, mulai dari pendidikan, pekerjaan mengikuti kemanapun ayah pergi sampai harus beberapakali pindah tempat tinggal, tapi kenapa ayah? Setidaknya beri tahu aku seperti apa ibu kandungku”
“maafkan ayah, ayah pikir selama ini kamu gak perlu mengetahuinya selagi kamu tidak akan pernah bertemu dengan mereka, tapi percayalah ayah juga sempat mencari mereka, tapi ayah tidak pernah tahu dimana keberadaan dan bagaimana keadaan mereka sampai sekarang”
“apa? Sempat mencari? tentu saja sampai kapan pun ayah tidak akan pernah menemukan mereka jika ayah sibuk melarikan diri pindah sana sini”
Agung menundukkan kepalanya dalam – dalam, benar kata milo ia hanya sibuk melarikan diri dari istri pertamanya yang sampai saat ini belum pernah bercerai. Semua yang ia ucapkan hanyalah alibi saja.
Milo tidak mengerti jalan pikir ayahnya, ia adalah seorang anak yang punya hak untuk tahu tentang orang tuanya, tapi apa katanya? Tidak perlu mengetahuinya? Dan sempat mencarinya? Yang benar saja, tak ada yang baik – baik saja disini.
*ibu kak Kevin meninggal dua tahun yang lalu karena penyakit kronis, saat itu mereka sangat kesulitan dan ekonomi keluarga kami juga sedan sulit jadi tidak bisa membantu biaya untuk operasi*. *Setelah berhasil bangkit dari keterpurukannya dua tahun kemudian kak Revan meninggal karena kecelakaan*.
dada Milo bergemuruh mengingat ucapan topan.
“apa ayah tau bagaimana keadaan mereka?”
Agung menatap anaknya dengan binar harapan, tak bisa dipungkiri kalau hatinya selalu merindukan mereka.
“mereka sudah ti-a-da” luruh sudah air mata milo. Dia harus menelan kenyataan pahit itu.
“a-pa? Tidak mungkin, milo kamu tahu ini bukan sebuah lelucon kan?” tanya agung tidak mau mempercayai ucapan milo.
“apa ini saat yang tepat untuk membuat lelucon? ayah harus mengingatnya sampai akhir, karena ayah aku kehilangan mereka, karena ayah juga mereka- ibu dan saudara kembarku harus bersusah payah memperjuangkan hidup mereka sendiri, sedangkan ayah? Hidup dengan kemewahan bersama istri siri mu itu”
Kedua pipi agung basah dengan air matanya, hatinya sakit mengetahui kalau dia telah kehilangan salah satu buah hatinya dan wanita yang pernah sangat dicintainya bahkan sampai saat ini.
milo pergi keluar rumah meninggalkan sepasang suami istri itu, ia bersumpah tidak akan menginjakkan kakinya di rumah itu lagi.
Tangan Sinta mengepal erat, sejak awal percakapan ini dia tidak menyukainya, dirinya pun dianggap seolah – olah tidak ada, apalagi saat milo menyebutnya seorang istri siri, meski memang kenyataanya begitu sinta tetap merasa tidak terima.
*Anak sialan! Seharusnya sejak dulu aku bunuh*.
*Baguslah jika wanita itu sudah mati dengan anaknya*.
**Kisah milo hanya selingan saja yaaaa**
**Siapa tahu sempat bikin cerita milo secara terpisah hihihi**