Manda's Love

Manda's Love
Empat Belas



“Kenapa lo gak cerita sih? Nge-wa juga kagak” karena kesal sasa mengerucutkan bibirnya.


“ya sorry, gue lupa, hp gue juga rusak gegara tuh cewek”


“What!? Gila emang si eve, dari awal gue udah bilang jangan sampe berurusan sama si kevin, kena kan lo sama geng fanatiknya” omel sasa.


“iya man, mending sekarang lo gak usah deket – deket deh sama mereka, bukan karena takut mereka tapi lebih ke supaya lo gak ribet berurusan sama mereka yang bar bar plus ngerasa paling ter ter deh” restu yang ikut dalam lingkaran ghibah itu ikut memberi saran.


“paling ter ter ter gak tuh?”


“ter jablay anjir” hahahaha


Manda hanya tersenyum masam, menurutnya tidak tidak lucu, dalam hatinya masih tersimpan dendam kesumat sama yang namanya evelyn. Dia pasti akan membalas perbuatannya.


“udahlah man, turutin aja saran dari kita – kita, kalo gak penting – penting amat usahain jangan sampe ketemu sama si kevin, biar aman sejah tera” – indah


Manda mendengus “huh... maunya gitu ndah, tapi kayanya gak bisa deh, gue kalah taruhan sama dia”


“dan yang kalah harus jadi babu selama seminggu” sasa menambahkan perkataan manda.


Indah dan restu saling pandang, lalu menggeleng kan kepala mereka kasihan dengan nasib manda.



Karena jamkos (jam kosong) manda dan sasa memutuskan untuk ke kantin, tak peduli dengan teguran ketua yang melarang karena masih jamnya belajar.



Baru saja sampai di kantin seseorang yang sangat ingin dihindari manda memanggil.



“manda” panggil indra sambil melambaikan tangan. Terlihat yang lainnya juga ada disana termasuk kevin.



“man, lo di panggil tuh”



“iya sa gue denger, yuk temenin gue”



Sasa mengangguk mengiyakan, mereka pun menghampiri meja dimana kevin dan keronconya duduk.



“kenapa?” tanya manda ketus tapi matanya tak berani menatap kevin yang jelas sedang memerhatikannya secara terang-terangan. Dia masih takut dengan kejadian tadi pagi, baginya wajah kevin yang sedang marah menakutkan.



“biasa pesenin punya kita-kita” jawab indra.


Manda melirik kevin sekilas, lalu mengangguk “oke”



Indra dan aldi saling pandang, lalu keduanya merinding.



“man? Beneran lu kan man?” tanya aldi bergidik.



“maksud lo?”



“gak usah ladenin dia, lo mending langsung pesenin makanannya” ujar aldo pada manda, mencegah terjadinya adu mulut.



Tanpa kata manda langsung pergi untuk memesanan pesanan ke empat pria itu, sasa yang sejak tadi diam berniat mengikuti manda, namun kerah belakang bajunya di Tarik aldi.



“mau kemana lo sa? Diem sini aja” aldi mendudukan sasa di sampingnya membuat sasa grogi, ingin menolak tapi tidak berani.



“ta-tapi, manda..”



“udah biarin aja dia mesen sendirian udah gede ini, lo tunggu aja di sini” Sekali lagi aldi menahan sasa agar tetap duduk anteng di sampingnya.



Setelah beberapa saat, manda Kembali diikuti bibi kantin dengan membawa nampan pesanan mereka.



“nih buat lo lo pada” manda menyodorkan makanan yang dibawanya.



Kevin menatap bingung dua jenis makanan di hadapannya, lalu melihat punya yang lainnya.



“lah kenapa punya gua dua man?”



“gue gak tau lo maunya batagor apa bakso, ya udah gua pesen dua – duanya aja biar gak bolak – balik”. Jawab manda enteng, mencoba berani berbicara seperti biasa, mengesampingkan rasa takutnya. masih jelas gimana kesalnya dia beberapa hari yang lalu harus bulak – balik pesan makanan buat kevin. Bisa dibilang kapok.



Lalu manda mengajak sasa pindah tempat duduk.



“ayok sa, kita duduk di meja sebelah sana”



“yuk” dengan antusias sasa berdiri dari duduknya, sejak tadi dia duduk tidak nyaman menunggu manda selesai memesan makanan. sungguh tidak nyaman duduk diantara orang – orang popular di sekolah, terasa keki dan canggung secara bersamaan.



“eits,,enak aja, kalian tetep duduk disini, dan jangan membantah” larang kevin.



Tanpa sadar manda mendengus kesal, dia benar – benar tidak suka dengan sikap pemaksa kevin. Suka seenaknya, tidak tahu apa kalau duduk bareng mereka itu bikin canggung dan tidak bebas berekspresi.



“buat jajannya pesen aja sama bibi, tar dianterin kesini sama bibinya. Iya kan bik?”



“mangga jang kevin, neng manda mau jajan apa?” tanya si bibi tanpa merasa tersinggung, baginya sudah biasa dengan sikap kevin yang seenaknya. Toh selama ini kevin dan temannya banyak membantu dan kantin pun saat itu masih kosong hanya diisi oleh beberapa orang saja. Jadi tidak merasa direpotkan sama sekali.



Manda melihat bibi tak enak “maaf ya bik”



“gapapa atuh neng, bibi mah udah biasa”


Manda dan sasa pun menyebutkan jajan yang diinginkan, lalu bibi dengan segera menyiapkan pesanannya.



Tak lama, bibik kembali datang dengan membawa dua mangkok bakso dan es teh manis.



“makasih bik” ucap manda dan sasa barengan.




Sesaat hening diantara mereka, tak ada yang berbicara sibuk dengan santapan masing – masing, dan hal itu membuat aldi dan indra yang biasanya ngereog tidak betah. Aldi pun mencoba memecahkan keheningan itu.


“anjir pada diem – dieman kaya cewek lagi sensi”



Diluar dugaan, Manda menatap sinis aldi lalu kembali menyantap bakso kesukaannya, ‘apaan coba bawa -bawa nama cewek’.



Sisanya tidak ada yang merespon ucapan aldi. Aldo yang cuek lebih fokus pada game di hp-nya, sama halnya dengan sasa yang memakan bakso sambil men scroll sosmed.



Sedangkan kevin sibuk memerhatikan manda yang sedang memakan baksonya dengan lahap jadi tidak peduli dengan kedua temannya yang suka ngereog itu.



“woilah dikacangin gue”



“yang sabar ya nyet” ujar indra.



“iya ngok”



Hahahaha keduanya ngakak garing.



“eh, eh gue mau ngomong hal penting” kali ini semuaya terfokuskan pada aldi, penasaran dengan ‘hal penting’ yang disinggung aldi.



“jagalah ANUmu dari ANUnya si ANU, agar ANUmu tidak di ANU – ANUin sama ANUnya si ANU HAHAHAHAH”



Sontak semuanya mendelik, menyesal dengan seriusnya mendengarkan penuturan aldi yang gak jelas itu.



“si anying ngomongin si ANU!” kevin mengumpat kesal namun tetap ikut tertawa. Lucu aja dengan kalimatnya yang ambigu.



“lucu banget lo pada hahahah” aldi puas banget melihat ekspresi lucu mereka yang dengan seriusnya mendengarkan omong kosongnya.



“goblog tralala lu gila” aldo menoyor jidat aldi.



“hayo loh ngebayangin apa kalian hah?”



“dih otak lu aja yang kotor, kudu cuci pake soklin” manda ikut kesal dibuatnya.



“emang penuh noda otak lo mah” indra melempar tisu bekas ngelap mulutnya, sama kesalnya.



“ASTAGA man!” teriak sasa tiba – tiba mengagetkan.



“eh” tersadar, sasa menundukkan kepalanya, salting sendiri karena dilihatin. Mukanya pun memerah.



“kenapa sa?” tanya aldi, dijawab gelengan.


Manda berdiri dari duduknya, menepuk Pundak aldi.



“di, pindah dong, tukeran tempat” ya, sejak awal sasa duduk disamping aldi.



“hah? Enak aja, gak mau, Mager” tolak aldi.



“lo gak liat si sasa udah kaya cacing kepanasan? Gak betah duduk samping setan kaya lo, panas”



“dih sialan lo” aldi mendelik, dia menatap lekat sasa di sampingnya “bener sa?” lagi – lagi dijawab dengan gelengan kepala.



“lo liat, sasa bilang gini” aldi mempraktekan apa yang sasa lakukan untuk menjawab pertanyaan nya, menggelengkan kepala.



“ah udah minggir lo” bukan manda Namanya kalo tidak bisa memaksa, kecuali pada kevin.



Sasa meremat roknya, ada perasaan tak nyaman di hatinya, iri melihat manda bisa melakukan apa yang tidak bisa dilakukannya. Sejak dulu sasa selalu berusaha bisa bicara santai kepada aldi, tapi tidak pernah bisa karena grogi.



Sasa menggeleng pelan, ‘*ingat sa, manda temen lo*’ bisiknya dalam hati.



Bukan hanya sasa, ternyata kevin merasakan hal yang sama, dia merasa kesal kenapa manda bisa bersikap biasa kepada yang lain tapi tidak kepadanya.



“iya iya, pindah nih” meski kesal aldi tetap mengalah,



“ada apa sa Sampe teriak gitu?” tanya manda berbisik, namun tetap didengar sama yang lainnya.



“I,ini, lo liat deh” sasa menyodorkan hp-nya ke manda.



Belum juga manda mengambil hp sasa, indra lebih dulu merampas hp itu.



“eh, apa – apaaan sih lo ndra!”


.


.


.


.


.