
Trak..manda menyimpan nampan yang ia bawa dihadapan kevin sedikit kasar sehingga menimbulakn suara.
Bibi kantin pun mengikuti apa yang manda lakukan, ia menaruh nampan di tangannya.
“makasih bi” ucap manda sopan, berbeda dengan ketika berbicara kepada kevin.
“sama-sama neng mari..” pamit bibit kembali ketempatnya untuk melanjutkan pekerjaannya melayani siswa-siswa yang dilanda rasa lapar itu.
“akhirnya makan ges” seru indra kala makanan sudah di depan mata, sedangkan aldo dan aldi langsung menyantapnya tampa kata karena perut mereka sudah amat lapar.
Beda cerita dengan kevin, ia sibuk meneliti makanan itu, matanya menatap tak minat.
“bu, kek nya baso lebih enak, lo pesenin sana!”
What the ? manda menganga tidak percaya dengan apa yang kevin ucapkan barusan.
“eh setan rawa! Lo gak liat apa tuh antrian udah kaya semut lagi demo? Masa gue harus balik lagi sih” protes manda galak. kalau lagi begini rasanya kebalik siapa yang bos dan siapa yang babu.
“gue gak mau tau, lo itu babunya, tinggal nurut gak usah banyak protes” kevin tidak memerdulikan protesan yang dilayangkan manda padanya.
Hindung manda kembang kempis menahan emosi, tidak ada yang tahu kalau perutnya juga sedang demo hebat karena lapat.
“ishh” ujung-ujungnya manda tetap pergi kembali mengantri memesan apa yang diinginkan kevin sambil menggeretu guna melampiaskan amarahnya. Melayangkan protes gak akan bikin urusannya selesai yang bisa ia lakukan hanya pasrah, toh ini memang resikonya kalah dari taruhan.
“neng, pake sambal cabai gak?” tanya mamang tukang bakso menghentikan manda yang sedang mengerutu tidak jelas.
“eh apa mang?” tanya manda kurang focus dengan pesanannya.
“pake sambal gak neng?” mamang mengulang pertanyaannya.
Mendengar pertanyaan itu manda langsung mendapatkan ide “biar saya aja mang” manda langsung mengambil mangkok baksonya dan memasukan banyak cabai kedalamnya, tak lupa ia mengaduknya agar tidak dicurigai.
“mampus lo, mencret mencret dah”
“bos~ nih baksonya datang” manda menaruh bakso itu tepat didepan kevin sambil tersenyum lebar, kevin menatapnya aneh.
“lama bener, Ikhlas gak nih bu?”
“Ikhlas se~ka~li~” jawab manda masih dengan senyumnya yang lebar, “udah makan aja sampe kenyang tuh perut lo” lanjutnya, sekalian sampe muntah hehehe
Manda pun berniat pergi tapi kevin menahannya.
“mau kemana lo?” tanya kevin.
Ah elah ribet amat nih orang, batin manda
“mau balik kelas lah, perut gue juga perlu diisi”
“gak boleh, duduk disini!” perintah kevin sambil menunjuk tempat disampingnya.
“enak aja, lo pada enak makan gue ileran” dengan sinisnya manda menolak perintah kevin, jelas saja manda menolaknya secara secara ia telah meracik baksonya dengan penuh cinta, eh penuh cabai.
“duduk gak lo!?”
“gak” manda masih keukeuh menolak
“udahlah man, duduk aja apa susahnya” sela aldi “noh batagor nganggur makan aja kalo laper” aldi menyodorkan batagor yang seharus milik kevin tadi.
“oke oke, nih gue duduk” akhirnya manda duduk juga tapi tidak disamping kevin, melainkan di samping aldo yang artinya berhadapan dengan kevin. Manda ingin melihat jelas wajah kevin yang kepedasan.
Tanpa rasa curiga sedikitpun, kevin langsung memakan baksonya dengan supan besar.
Uhuk..uhuk.. kevin langsung memuntahkannya Kembali saat merasakan sensasi pedas yang dahsyat, saking pedasnya lidah kevin terasa mati rasa.
“arghh..pedas, lo mau bunuh gue hah!?” kevin kelabakan, tangannya meraih es teh miliknya yang tinggal setengah.
“gimana? Enakan bakso racikan gue?” manda meledek kevin, ia berancang-ancang siap kabur.
“lo!” Mata kevin melotot dengan wajah merah padam antara kepedasan dan kesal.
“hehehe..peace” manda mengacungkan dua jarinya dan langsung kabur sambil terkikik geli melihat ekspresi kevin barusan.
“ishh si anj*nggg, pedes gila”
Ha ha ha ha,, bukannya kasihan aldi, indra dan aldo malah tertawa ngakak
“enak vin baksonya? Hahaha” ledek indra tertawa puas, teman lucknut emang.
Sepulang sekolah manda dan sasa sepakat untuk hangout bersama, sekedar untuk cuci mata. Manda juga sudah menceritakan mengapa ia bisa menjadi babu seminggunya kevin kepada sasa.
Sasa pun menyayangkan, manda terlalu sembrono menerima taruhan yang menurutnya pasti kalah, alasan utamanya jelas dari segi fisik dan kevin sudah dari sononya udah jago basket.
“tenang aja sa, gue gak orangnya gak mudah ditindas” ucap manda diakhir ceritanya.
“gak mudah ditindas apaan, tadi aja gue liat lo udah kaya mau jadi reog bolak-balik desek-desekan buat semangkok bakso”
“eitss, buat yang itu gue udah puas ngerjain dia balik”
“manda!” panggil seseorang, suaranya sudah tidak asing lagi di telinga. Kepala manda menoleh ke sumber suara.
*and see*? Orang itu adalah Kevin yang sedang berjalan menghampirinya.
“masalah itu kita bahas nanti, sekarang lo temenin gue main basket bentar” gak ada angin gak ada ujan tiba-tiba ngajak main basket, manda hendak menolak pun urung saat kevin Kembali berucap “ini perintah!” tekan kevin, ia mengingatkan bahwa manda masih dibawah perintahnya.
“dih, lo gak liat ap ague lagi sama temen gue? Gak, gak mau, Gue udah ada janji ya abis ini” manda tetap menyuarakan penolakannya, ia benar-benar kapok main basket sama lawan bicaranya.
“siapa nama lo?” tanya kevin pada sasa
“vinn” sentak manda
“sasa, nama gue sasa” ia memegan tangan manda agar ia tetap tenang.
Kevin hanya mengangguk menanggapi jawaban sasa. “mending lo pulang duluan!”
Sasa mengangguk menuruti perintah kevin, ia tak berani menolak setelah melihat sorot mata kevin yang menyiratkan peringatan
“man gue duluan ya” pamit sasa
“yah… sa, ya udah gih pulang” meski enggan manda pun meng iya kan, ia tahu sasa tidak berani melawan kevin.
Tiba-tiba kevin mengapit leher manda dan menyeretnya menuju lapangan basket.
“lo ikut gue, main basket bentar doang”
Sontak saja manda berontak, ia merasa tidak nyaman dengan posisinya yang terseret.
“ogah, mending gue pulan, emang temen-temen lo pada kema sih heran gue”
“gak bisa, mereka sibuk”
“gue juga sibuk!” sibuk rebahan maksudnya lanjutnya dalam hati.
“bentar doang elah, tinggal ngikut aja napa, bawel banget lo punya mulut”
“dih, lu yang bawel ege, mana suka maksa lagi”
Mereka berdua terus berdebat hal hal yang unfaedah dengan posisi manda yang sedikit terseret oleh kevin sampai tanpa mereka sadari sudah sampai tempat yang dituju.
Meski ogah-ogahan, manda tetap menemani kevin main basket, alias jadi lawan mainnya.
Pada akhirnya, keduanya main basket habis-habisan, dan pastinya manda lebih banyak mendesah kesal karena tidak bisa mengimbangi permaina kevin, kevin terus mencetak skor dan tak mau mengalah.
Manda rasa permainan kevin berbeda dari sebelumnya. permainan kali ini kevin agak memaksa dan dominan-seperti sedang melampiaskan sesuatu.
“stop! Stop! stopp” teriak manda menghentikan permainan, kevin menatapnya bingung.
“gue dah gak sanggup lagi, capek, kalo lo mau main terus, main aja sendiri” pada akhirnya manda menyerah, tenaganya benar-benar terkuras habis.
*Edan emang, gak ngerasa capek gitu*? Batin manda heran, padahal mereka udah setengah jam-an main rebutan bola basket tapi kevin masih sanggup main, apalagi kevin seperti bermain seperti kesetanan.
*Huh*..
TBC.