Main King

Main King
Mencari Senjata



Altair membuang pakaian dari lemarinya ke belakang. Sedangkan Aldir menguap untuk kesekian kalinya karena ulah Tuan Muda di depannya.


"Sebenarnya apa yang kau cari Tuan Muda?"


Aldir mulai memanggil Altair dengan paggilan Tuan Muda. Setelah mendapat persetujuan dengan perdebatan panjang, akhirnya mereka diperbolehkan pergi hanya berdua tanpa pengawal. Oleh karena itu, Garnad menyerahkan setengah jiwa Aldir pada Altair demi memudahkan komunikasi tuan-budak. Altair lebih suka dipanggil dengan namanya.


"Aku mencari pakaian agar bebas bergerak. Pakaian bangsawan ini menyiksaku. Lagipula tidak mungkin, 'kan aku pakai pakaian seperti bangsawan saat latihan?" jawabnya tanpa menoleh.


Altair mendapatkannya setelah memanggil pelayan yang melayaninya dulu. Memaki sebentar karena tidak menemukan apa yang ia cari. Aldir yang melihat itu semua hanya menghembuskan nafas lelah.


Setelah mempersiapkan semuanya, mereka datang menemui Gordon serta Garnad di taman belakang rumah.


Sudut bibir Garnad berkedut saat melihat penampilan keponakannya. Kaos lengan panjang serta celana hitam panjang membalut kakinya.


Altair berjalan mendekat dan tidak mempedulikan tatapan aneh dari pamannya. Aldir berada di belakangnya membawa sebilah pedang di punggungnya.


"Jadi kalian akan pergi hari ini juga?" tanya Gordon lalu meminum teh di tangannya.


"Lebih cepat lebih baik," jawab Altair santai.


Gordon menggelengkan kepalanya. Meski senang dengan keputusan yang diambil putranya, itu belum bisa menutupi sebagian kegelisahannya.


"Aku tidak bisa mencegahmu Altair. Aku harap kau bertemu seorang guru yang cakap di luar sana."


Gordon memberikan kantong kulit berisikan ratusan koin emas. " Ini bekal perjalananmu. Ingat, kau hanya kembali kalau kau bisa membuktikan omonganmu itu."


Altair mengangguk seperti ayam mematuk lalu menggantung kantong itu di celana sebelah kanan. Dia mengulang kata-kata Gordon di kepalanya tapi dia sudah menentukan tindakan masa depannya. Altair tidak akan kembali sebelum bisa memiliki kekuatan yang cukup untuk mempertahankan keluarga di dunia barunya ini.


Altair hanya mendesah dan pamit untuk pergi. Kereta sudah menunggunya di depan gerbang. Melihat Altair yang semakin jauh, Garnad menggeram.


"Seharusnya kau tidak membiarkan bocah itu pergi, Gordon."


Gordon berdiri dengan tenang bahkan setelah melihat putranya tak terlihat di ujung jalan. Mengabaikan Garnad yang nenggerutu kesal.


"Aku merasa setelah kecelakaan itu dia memiliki jiwa yang bebas Garnad," ujarnya. Matanya terpejam ketika angin menerpanya. "Ada yang berbeda pada Altair kita yang sekarang."


Garnad tak menjawab. Meski begitu, dia juga memikirkan hal yang sama seperti Gordon. Di dalam pikiran mereka, ada sesuatu yang tidak bisa mereka kekang dalam diri Altair yang sekarang. Tapi mereka juga tidak tahu apa itu.


"Sudahlah, kita bisa mengirim mata-mata setiap saat. Aku ingin tahu apa motivasinya pergi latihan di luar mansion."


Gordin berbalik, meninggalkan saudaranya yang masih terpaku di tempat. Wajah Garnad yang mulai tua melihat di kejauhan. Ada firasat yang mengganggunya daritadi.


Garnad memiliki firasat yang sembilan puluh lima persen dipastikan menjadi nyata. Tapi firasatnya kali ini seperti sebuah peristiwa suatu saat nanti. Sesuatu yang membuatnya senang sekaligus takut. Dia berfirasat bahwa ada suatu perasaan kelam di hati Altair, namun juga hangat pada saat bersamaan. Firasatnya pun memberitahunya bahwa jika Altair dibebaskan berpendapat atau melakukan apa yang dia anggap benar, maka akan ada sejarah yang berubah.


Garnad hanya menghela nafas dan berbalik. Meninggalkan cahaya jingga yang menghiasi langit saat hari mulai gelap. Menjadi saksi kejadian masa depan yang akan datang.


***


Altair dan Aldir berdiri di depan sebuah toko besar di tengah kota. Topeng yang menutupi setengah wajah membuat identitas mereka terselubung. Hiruk pikuk keramaian belum juga membuat Tuan Muda itu bergerak dari tempatnya.


"Sampai kapan kita akan berdiri di sini, Al?"


Aldir mulai bosan hanya berdiri di depan toko dengan tujuan yang tidak jelas. Sedangkan Altair memperhatikan papan nama toko dengan satu tangan memegang dagu.


Beberapa orang melihat aneh ke arah mereka. Aldir yang tidak suka jadi pusat perhatian mulai gelisah. Tanpa diduga, Altair melangkahkan kakinya ke toko itu. Diikuti Aldir yang bertampang lega di belakangnya.


Tiing.


Suara bel di atas pintu mejadi alasan orang di dalam gedung melihat ke arahnya. Namun hanya sekilas sebelum semuanya kembali pada aktivitas masing-masing.


Altair langsung menuju meja resepsionis yang lurus dengan pintu masuk.


"Paman, apa kau punya jarum, benang dan pisau?"


Pria dibalik meja itu mengangkat alisnya, bingung untuk menaggapi anak kecil di depannya. Aldir pun sama bingungnya dengan pria itu.


"Nak, ini adalah toko senjata, bukan tempat untuk menjahit."


"Oh, begitu. Kalau tidak ada, ya sudah."


Altair nenyahut santai lalu berbalik meninggalkan pria tua itu kebingungan sekali lagi. Aldir yang masih belum tahu tujuan Altair mencari bahan itu segera mengejar dan menghentikannya.


"Kau hanya datang untuk menanyakan itu saja?"


"Iya, kenapa?"


"Apa karena bahan yang kusebutkan tadi kau mengira aku menjahit?"


Aldir membuka-tutup mulutnya tapi tidak ada kata yang keluar untuk menjawab pertanyaan Altair. Memang benar Aldir mengira seperti itu, selain itu apa lagi?


Altair melanjutkan langkahnya karena tidak ada respon dari Aldir. Dia mengira orang di dunia yang memiliki banyak konflik pertarungan akan tahu apa yang dia cari. Tapi melihat respon Aldir serta resepsionis tadi, Altair mengambil kesimpulan bahwa mereka hanya bertarung untuk kesombongan semata.


Setelah beberapa lama berjalan, Altair berhenti di depan sebuah gang kecil. Setelah diam beberapa saat, langkah kakinya lurus memasuki gang itu. Gang gelap tanpa lampu, bahkan sinar bulan pun seperti tak mau menerangi jalan itu.


"Apa lagi yang kau cari? Biasakah kita benar-benar pergi untuk berlatih?"


"Diamlah. Aku ingin mencari senjata."


"Bukankah sudah ada beberapa pisau juga sebilah pedang padamu?" Tanya Aldir dengan telunjuk teracung ke pinggang kiri Altair. Tempat pedangnya tersarung sebelum keluar dari kereta tadi.


"Aku hanya ingin menambah senjata yang akan kita butuhkan nanti."


Altair meninggalkan Aldir yang mematung kebingungan. Bagi Aldir, apapun yang dilakukan Altair sulit untuk ditebak.


Altair baru berhenti ketika sudah di ujung gang. Di depannya, terdapat sebuah toko kecil dengan papan nama yang sudah mau patah di atas pintu. Altair maupun Aldir membaca plat nama itu pun harus memiringkan kepalanya agar terbaca dengan jelas.


Senjata dan Obat.


Nama toko itu sederhana. Sesederhana toko itu berdiri. Atap yang ditumbuhi lumut, halaman kotor, serta debu di setiap sisi toko itu ditambah dengan tiang yang terlihat akan ambruk bila tidak segera diganti.


"Darimana kau tahu ada toko di gang ini?"


Altair menoleh ke arah Aldir sebelum menjawab, "Sebelum aku bertemu pedagang budak, Paman membawaku jalan-jalan. Kami hanya melewati daerah ini. Aku sedikit tertarik untuk kemari, tapi Paman tidak memperbolehkanku kesini."


Altair mengajak Aldir untuk memasuki toko tersebut. Ketika masuk, di dalam toko hampir sama seperti keadaan di luarnya. Banyak debu serta sarang laba-laba setiap sisi.


"Apa benar ini sebuah toko bukannya gudang?" Eluh Aldir saat debu jatuh membuatnya terbatuk.


Di sisi lain Altair juga bereaksi kebingungan. Tapi hal seperti ini akan jadi sebuah teka-teki di kehidupan sebelumnya. Sebuah ide muncul di pikirannya.


"Kalau benar ini gudang dan tidak ada pemiliknya, bukankah kita bisa bebas mengambil sesuatu dari tempat ini?"


Aldir menatap aneh pada tuan kecilnya di samping. Apa benar ini anak seorang bangsawan? Apa benar umurnya delapan tahun?


Sebelum Aldir bisa merespon, Tuan Muda itu dengan semangat melihat sekelilingnya. Satu persatu senjata di keluarkan dari tempatnya. Seolah toko itu hanya gudang yang sudah lama tidak ia kunjungi.


Tapi kesenangan itu segera berakhir saat lantai toko itu bergetar. diikuti dengan seorang pria paruh baya berdiri beberapa langkah di depannya. Altair yang tengah memegang benda berbentuk bola segera melepaskannya. Sialnya, bola itu jatuh mengenai kakinya. Suara desisan pun keluar dari mulutnya, mengurangi rasa sakitnya.


"Bocah nakal! Apa kau kira ini disediakan untukmu?!" Pria itu mendengus keras, merasa kesal dengan kelakuan Altair.


"Maafkan kami, Tuan. Kami tidak mengira bahwa ada orang di sini," jawab Aldir hormat dengan keringat yang mulai jatuh dari pelipisnya.


Saat lantai bergetar, Aldir merasakan ada suatu kejanggalan dimana energi alam seolah ada yang mengendalikan. Setelah pria itu muncul, barulah ia tahu bahwa kejadian itu berasal darinya saat energi alam berputar di sekitarnya dengan tenang. Itu artinya orang itu memiliki kemampuan tinggi.


Pria itu mendengus lalu menunjuk ke arah Altair yang memasang tampang polos, "Aku bicara dengan bocah tidak tau malu itu. Bukan berpikir dimana pemilik toko, dia malah berniat mencuri barang di sini."


"Tolong ubah bahasamu kakek tua, aku tidak mencuri. Aku hanya mengira tempat ini tidak ada pemiliknya diperkuat dengan tempatnya yang tidak terawat. Daripada isinya tidak terpakai, bukankah lebih baik kuambil?"


Pria itu menggeram, sedangkan Aldir mengeluarkan umpatan untuk tuannya yang tidak tahu situasi. Sebelum kemarahan pria itu berlanjut, Aldir dengan segera berdiri di depan Altair.


"Tolong jangan memasukkan kata-katanya dalam hati, Tuan. Dia hanya anak kecil yang belum tahu dimana tempatnya," kata Aldir dengan tangan disatukan serta sedikit membungkuk ke arah pria itu.


Melihat sikap Aldir, kemarahan pria itu sedikit berkurang. Altair yang di belakangnya justru ingin protes jika saja tidak ada niat membunuh yang diarahkan padanya meski hanya sedikit. Jadi dia hanya diam dan mendengus.


Pria itu berdecak, lalu berbalik menuju meja sebelah pintu masuk. Dia berdiri di sana, menunggu Aldir maupun Altair pergi ke arahnya.


Aldir yang tak ingin ada suatu kejadian aneh lagi, segera mendekati pria itu diikuti Altair yang cemberut di belakangnya.


Pria itu batuk kecil sebelum tersenyum tipis.


"Selamat datang di tokoku. Ada yang bisa kubantu?"


Sapaan ramah itu membuat Aldir bergidik dengan Altair yang mengerutkan alis sebab jijik. Dimana pria tua yang pemarah? pikir mereka.


Altair maju satu langkah, "Apa kau punya benang, jarum dan pisau?"


***