
Sudah dua hari Altair melatih energi alamnya. Saat ini dia bisa mewujudkan warna jingga dari telapak tangannya. Ini mengejutkan Garnad serta Gordon. Belum pernah mereka menemukan anak berbakat seperti Altair sekalipun.
Hal ini memang merupakan kabar baik untuk keluarga mereka tapi juga masalah disaat yang bersamaan. Mereka meminta Altair untuk menembunyikan kekuatannya yang ditanggapi Altair dengan tertawa lepas.
"Ayah, tenang saja. Kekuatanku saat ini lemah. Pasti ada banyak orang yang mengincarku. Aku tahu bagaimana harus bungkam."
Reaksi Garnad dan Gordon sedikit lega mendengarnya. Tapi mereka agak tersentak saat Altair menjawab seperti itu.
"Darimana kau tau kalau kau diincar banyak orang?" Tanya Garnad penasaran.
Altair menaikkan alisnya, "Hm... Bukankah wajar seorang bangsawan muda sepertiku menemui masalah? Apalagi hanya aku yang sepertinya jadi generasi selanjutnya."
Pernyataan Altair membuat Garnad maupun Gordon kehilangan kata-kata. Mereka tidak menyangka Altair akan memiliki pemikaran yang jauh ke depan untuk anak seusianya.
"Yah... Sepertinya itu lebih baik untukmu," ucap Grnad sambil mendesah.
Denting sendok berhenti beralun ketika Gordon meletakkan sendok di piringnya yang kosong, menandakan ia telah menyelesaikan sarapannya pagi ini. Garnad serta Altair mengikuti setelahnya. Mereka makan sedikit hari ini. Entah karena masalah yang mereka hadapai dari para bangsawan atau karena memang tidak memiliki nafsu makan.
Jawaban Altair yang mengatakan bahwa dia makan sedikit karena tidak ada ayam bakar kecap membuat sudut bibir Garnad berkedut serta Gordon yang tidak bisa menahan tawa kecil yang lolos dari mulutnya.
Serelah acara sarapan selesai, masing-masing dari mereka mengerjakan kegiatan sendiri. Altair masih dengan gigih berlatih mengembangkan energi alamnya. Dia tidak keluar hingga waktu makan siang tiba dan kembali hingga makan malam.
Kayu besar dengan tonjolan kayu kecil itu dihantam dengan tangan kanannya yang kecil. Setiap sisi tangan atau kaki yang bertemu dengan kayu itu memerah. Tapi Altair tidak peduli. Seolah itu sudah biasa baginya. Suara gema dari pertukaran itu memenuhi ruang latihan yang tampak sangat sepi.
Sebenarnya Garnad menawarka pelatihan bersama Lucas. Namun kesan pertama Altair yang buruk terhadapnya membuatnya menolak orang itu dengan tegas.
Awalnya Altair melakukan pukulannya dengan asal-asalan. Namun semakin dia mengerutkan dahi, semakin cepat pula tangannya menghantam permukaan kayu.
Sebelum Altair melakukan latihan tangan kosong menampar kayu itu, dia sudah belajar cara menguatkan fisiknya sedikit. Hingga dia mulai melakukannya dengan sebentar saja.
Keringat sudah membanjiri dahi serta punggungnya, membuatnya seperti orang yang baru saja mandi. Cahaya kuning samar terbentuk dari telapak tangannya yang membentur kayu. Di antara betis serta lututnya pun cahaya itu seperti angin kecil yang berputar sesekali menghilang. Altair tidak menyadari hal itu. Pikirannya tengah berkecamuk karena hal-hal baru bermunculan dalam pikirannya.
Altair mencoba fokus. Tanpa tahu cahaya samar ditangannya, dia berkonsentrasi membentuk warna pada tangannya. Warna merah terang tercipta. Retakan halus dapat terlihat saat tangan dan kakinya yang berayun membentur kayu latihannya.
Tepukan tangan menghentikan gerakannya. Nafasnya memburu, tubuhnya dengan spontan berbalik hanya untuk melihat pamannya berjalan santai ke arahmya.
"Aku tidak tau kalau kau berlatih dengan giat meski sendiri, Al." Ucap Garnad.
Altair menghela nafas. Ia duduk dan mengambil air yang sudah ia siapkan sebelum mulai latihan. "Apa Paman ada perlu denganku?" Tanya Altair lalu meneguk minuman di tangannya.
"Aku merasa bosan di sini. Apa kau mau keluar?"
"Aku pikir keluar bukan ide yang buruk."
"Buruk untuk Ayahmu, Al. Mintalah izin darinya. Biasanya ada ketentuan seorang bangsawan untuk menutupi jati dirinya, kau tahu itu."
Altair menanggapi dengan tawa kecil. Ia bangkit lalu mencari Ayahnya untuk meminta persetujuan. Awalnya Gordon menolak untuk membiarkannya pergi. Tapi karena Altair diam mematung dengan pandangan hampur menangis membuatnya tak tega. Apalagi selama Altair hidup pun belum pernah keluar dari mansionnya.
***
Dua orang berjalan santai mengelilingi pasar yang ramai. Sesekali berhenti untuk melihat sesuatu yang menarik atau membeli buah untuk dimakan langsung.
Salah satu dari dua orang itu memakai jubah hingga hampir menutupi wajahnya, membuatnya tidak bisa dilihat orang luar. Sedangkan yang satunya seorang anak kecil ceria yang melompat kesana kemari melihat makanan sepanjang jalan.
Jubah besar hitam orang itu menarik perhatian meski hanya sekilas. Sebab mereka tahu ada orang yang tidak bisa mereka singgung di balik jubah itu. Orang yang menarik perhatian itu tidak mempedulikan tatapan penasaran orang-orang. Ia berjalan santai sambil memakan sebuah apel di tangannya.
Altair sebenarnya ingin berjalan normal seperti pamannya tapi ia tahu posisinya sekarang. Jika dia berjalan seperti bangsawan, kemungkinan besar banyak kecurigaan yang akan muncul.
Meski begitu, Altair yang memerankan tokoh anak kecil masih menikmati keadaan pasar. Jalanan yang ia kira hanya berisi manusia ternyata salah. Dibeberapa bagian tempat, terdapat ras Elf atau Half-beast di sepanjang ia berjalan. Untung saja mereka tidak membuat masalah karena ada paman yang nenjaganya dari belakang.
Pilihan Altair ketika keluar dari Mansion bukanlah pasar. Tapi karena ingin mempelajari situasi, Altair memilih pasar sebagai kunjungan pertama mendapat informasi umum.
Altair baru berhenti di salah satu tempat di mana terdapat orang berkumpul. Karena penasaran, Altair mendekat. Mencaritahu penyebab keramaian itu.
"Di sana terlalu ramai, Al. Cari tempat lain saja."
Tangan besar Garnad efektif menghentikannya dari tujuan.
Alis Altair berkerut, "Memangnya kenapa?"
"Tidak baik anak kecil sepertimu tahu sesuatu dari sana. Ayo kembali! Langit mulai gelap," ujar Garnad dengan tergesa.
Ucapan Garnad tidak mempengaruhinya. Ini semakin membuatnya penasaran. Tangan Garnad yang menggandengnya ia lepas secara paksa lalu berlari ke arah salah satu tempat kerumunan.
Altair menerobos, tak mempedulikan protes orang dewasa di sekitarnya. Ketika sampai di depan pusat kerumunan atau penyebab kerumunan itu, Altair menganga takjub.
Bukan.
Bukan pemandangan indah permainan sihir atau tarian yang menakjubkan di sana. Melainkan jejeran anak seusianya atau lebih tua beberapa tahun darinya berdiri di sana. Berdiri dengan rantai yang mengikat leher serta tangan mereka. Pakaian kotor dengan tubuh dekil membuat beberapa orang mengerutkan dahi.
Tidak salah lagi, ini adalah perbudakan anak. Altair tidak berpikir bahwa hal yang ditentang di dunianya akan diperlihatkan secara nyata di sini tanpa takut konsekuensi pemerintahan.
"Rupanya kau di sini bocah!"
Garnad menarik Altair yang mematung. Orang-orang yang ada di sana secara naluri membuka jalan keluar untuk mereka. Tapi gerakan Garnad terhenti ketika yang ditarik tak bergerak sedikitpun. Garnad menoleh hanya untuk mendapati Altair yang masih memandang para budak di depannya.
"Paman, apa aku boleh memiliki satu diantara mereka?" Tanya Altair memasang wajah polos.
Garnad jelas tak suka dengan permintaan Altair "Bukankah kau sudah punya pelayan? Untuk apa kau harus punya budak?"
"Tidak ada pelayan yang seumuranku, Paman." Altair menjawab sedih. "Bisakah?"
Garnad menghela nafas. Sebelum semburan celoteh keluar dari mulutnya, seorang pria datang ke arahnya.
"Ah, Tuan yang terhormat, apa kau menginginkan salah satu budak? Sihir kami sangat membantu untuk membuat mereka patuh terhadapmu. Bagaimana kalau kalian kubawa ke tempat kami? Kami memiliki banyak budak pilihan di sana."
***
Sebenarnya Garnad ingin menolak ajakan orang itu tapi Altair menatap penuh permohonan membuatnya tak tega menolak. Lagipula Altair memang tidak punya teman bermain. Sebab itulah sekarang Garnad berdiri dengan tangan bersedekap memperhatika Altair yang melihat sel-sel di samping kiri dan kanannya.
Tempat itu cukup gelap menurutnya, seharusnya Altair tidak diperbolehkan masuk. Tapi alasan Altair membuat orang dewasa yang mengikutinya bungkam.
"Aku yang ingin mencari teman baru, bukan kalian."
Jadi karena itulah Garnad membiarkannya. Altair terlihat fokus mencari diantara sel-sel itu. Membuat bingung Garnad bahkan pelayan tempat perbudakan yang mengajaknya berkeliling.
Altair berhenti ketika matanya berbinar menatap salah satu sel. Tanpa menoleh, Altair bertanya pada pemandu.
"Siapa di dalam?"
Pelayan itu melihat ke dalam, "Aku rasa itu salah satu budak yang mumpuni. Dia terkenal bisa bertarung. Sayangnya dia itu dingin dan sulit untuk dikendalikan. Bahkan dengan sihir budak kelas tinggi."
Kata-kata itu membuat Altair semakin tertarik pada orang dalam sel yang gelap itu. Lalu Altair mendekat, memegang sel di depannya.
Terlihat seorang anak sekitar dua belas tahun duduk dengan salah satu kaki tertekuk. Matanya terpejam rapat. Tidak terganggu meski Altair mengetuk jeruji selnya.
"Hai, mau bermain denganku?" sapa Altair ceria. Sedangkan pamannya menepuk dahinya. Tidak menyangka sapaan Altair seperti itu.
Tapi itu cara paling efektif untuk membuat anak dalam sel itu membuka mata. Sepasang mata biru menatap Altair dengan dingin. Mesku begitu, Altair menanggapi dengan senyuman lebar.
"Aku ingin bermain dengannya!"
Altaur melompat-lompat kegirangan sambil menunjuk anak yang ada di dalam sel. Anak itu mengangkat alis bingung.
Garnad mendecak sebelum menanyakan harga pada pelayan yang menunggu di sampingnya. Tapi jawaban pelayan itu membuatnya melotot dan tanpa sadar melepaskan energi samar dengan tulunjuk yang teracung ke depan.
"Bocah dekil ini kau hargai lima ribu keping emas?! Kenapa kau tidak merampokku saja?! Aku yakin kalian itu adalah perampok berkedok penjual budak!"
"Tuan, tolong tenang. Kami tidak akan menawarkan harga tinggi jika kami mengabaikan fakta bahwa dia berbakat dalam mengontrol energi alam. Apalagi dia mantan bangsawan kecil."
Jika ini di dalam mansion dia bisa saja membayar tanpa melihat uangnya. Masalahnya, Garnad tidak membawa uang sama sekali.
Meski keributan berlanjut, Altair berjongkok di depan sel gelap anak itu sambil menopang dagu. Altair semakin tertarik ketika mendengar pelayan itu menyebutnya berbakat dalam kontrol energi ditambah dia mantan bangsawan. Dari matanya, walaupun anak itu terlihat tenang, ada kebingungan di wajahnya.
Setelah Garnad mengeluarkan lencana tanda bahwa dia salah satuTuan kedua dari lima bangsawan, barulah Altair berjingkrak mengeluarkan anak itu dari selnya.
Anak itu diam sepanjang perjalanan pulang bersama Altair. Sesampainya di koridor dengan yang menyimpang, Altair dan pamannya berpisah. Meninggalkan budak dan tuan berjalan berdua menuju kamar di keheningan malam.
##
**Maaf karena ceritanya bertele-tele. Saya hanya ingin mengehar ketertinggalan saya karena ini diikutkan dalam lomba.
Mungkin chpater berikutnya akan ada adegan yang saya cepatkan.
Dah lah**..