
Setiap perjalanan berhenti untuk istirahat, Altair melatih tubuh fisiknya serta penggunaan energi alamnya. Aldir juga ikut membantunya melatih fisik walau sedikit karena Altair masih ingat pelatihan fisik kehidupannya yang lalu.
Seperti saat ini, pandangan tuan dan budak ini saling menajam. Dalam pelatihan, mereka tidak mengenal siapa mereka melainkan hanya ada lawan dihadapannya.
Awalnya Aldir terkejut dengan pelatihan fisik yang Altair jalani. Dia tidak menyangka anak usia delapan tahun yang hobi membaca buku tahu cara pelatihan fisik. Apalagi pelatihan itu termasuk dalam kategori berat menurutnya.
Hanya saja Aldir tidak tahu bahwa Altair kesulitan dalam menggunakan tubuh barunya yang menurutnya masih lemah. Padahal para tabib di kediamannya mengatakan bahwa tubuhnya lebih sehat dibandingkan dengan sebelum dia jatuh sakit karena racun hutan.
Altair mengambil inisiatif dengan maju terlebih dahulu dengan dua belati di masing-masing tangannya. Aldir juga tidak tinggal diam, dia memegang pedangnya lalu diposisikan ke depan dengan kedua tangan.
Denting belati dan pedang yang beradu memekakkan telinga, tapi itu belum cukup untuk membuat diantara keduanya mundur.
Altair tidak berhenti sampai di sana. Seolah ia salah satu anggota assasin, kecepatan Altair hampir sulit ditangani oleh Aldir. Jika bukan karena Aldir menggunakan energi alam untuk merasakan keberadaannya, sudah pasti Aldir kalah berualang kali tanpa ada kesempatan untuk menang.
Kali ini Altair bergerak ke belakang. Memutar tubuhnya yang lentur dengan tangan yang siap menebas leher lawannya. Aldir melebarkan mata, terkejut saat Altair mengincar bagian vital tubuhnya.
Selama ini Altair selalu menyerang bagian yang gampang ditebak. Kaki, tangan, pundak serta bagian tubuhnya yang lain selain bagian vital.
Untungnya Aldir dengan sigap tangan kanan memegang pedang dan membentuk pertahanan menggunakan pedang itu sehingga belati Altair sekali lagi beradu dengan logam.
Altair melompat mundur setelah pertukaran itu selama dua detik sebelum kembali menyerang. Serangan Altair semakin lama semakin cepat. Keringat sudah membasahi wajahnya dari tadi. Fokusnya hanya membuat Aldir tumbang dari tempatnya.
Altair tahu Aldir menggunakan energi alam untuk menjaga keseimbangan serta intuisinya tetap berjalan demi menjaga pertahanannya tidak bisa ditembus. Altair tahu benar tentang hal itu. Tapi dia tengah menjalani uji coba kekuatan fisiknya tanpa menggunakan energi alam atau sejenisnya.
Padang rumput di pinggir hutan tepat sebelah danau kini kerisut tak berbentuk karena pertarungan mereka berdua. Ada saatnya mereka menggunakan kedua kaki maupun tangan dalam menyerang satu sama lain, menyebabkan rerumputan yang semula sangat rapi menjadi tak terbentuk.
Aldir tahu maksud Altair dalam pelatihan fisik ini. Aldir pernah protes saat tahu kalau Altair hanya akan menggunakan energi alam pada saat terdesak yang artinya selama ini Aldir hanya menjadi boneka tinjunya. Sialnya, Altair tak menyanggah pikirannya itu.
"Cukup."
Sama seperti hari-hari yang lalu, Aldir menyelesaikan latihan mereka karena tak satu pun dari mereka menang atau kalah. Sebenarnya Aldir lah yang menang, tapi karena Aldir menggunakan energi alam jadi itu tidak dianggap menang. Apalagi yang paling memalukan adalah Altair tidak serius dalam bertarung terlihat dari santainya dia menyerang.
"Kenapa semakin lama semakin singkat latihannya? Kau tidak akan kalah dari bocah sepertiku, 'kan?" tanya Altair polos membuat Aldir mengumpat tanpa sadar.
"Kau pikir aku mau meladenimu kalau seperti ini?"
"Seperti apa?"
Aldir mendengus. Tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Altair. Altair juga menanggapinya dengan tawa. Altair tahu apa yang ingin disampaikan Aldir padanya. Altair hanya bermain-main saja ketika bertarung atau latihan. Itulah sebabnya Aldir merasa harga dirinya sedikit tersenggol karenanya.
Altair meletakkan belatinya beserta alat-alat lainnya dalam tas yang ia bawa. Tali kepala yang melekat di dahinya sudah ia lepas sejak meninggalkan Maria atau gadis yang masih dia panggil Sadako sampai sekarang. Rambut hitamnya yang lebat namun pendek diterpa angin saat kepalany menoleh ke arah Aldir.
"Bagaimana persediaan kita saat ini?" tanya Altair sambil menumpahkan air botol ke wajahnya.
Aldir mengambil kantong kulit berisi uang dan memeriksanya.
"Aku rasa kita perlu mencari uang lagi, Al." Ucap Aldir sambil melihat sekali lagi pada kanting kulit yang ia pegang. "Bagaimana menurutmu?"
"Ya, mau bagaimana lagi?" jawabnya mengangkat bahu. "Aku juga bosan bakar hewan tanpa bumbu. Seharusnya kita ke kota terlebih dahulu sebelum berlatih di hutan, bukan sebaliknya." Gerutu Altair.
"Baiklah, ayo kita berangkat," ucap Aldir dengan meletakkan tali tas ke salah satu punggungnya lalu berdiri dan mulai berjalan pergi.
"Aku tau."
"Kau yakin?" Altair berlari kecil menyusul Aldir yang ada di depannya.
"Kau meragukanku?"
"Tidak...hanya saja kau, 'kan dikurung saat menjadi budak. Kenapa seolah kau sudah menjelajahi semua tempat?"
"Yaa.... itu karena sebelum menjadi budak aku adalah bangsawan kecil, jadi aku sempat dibawa berkeliling oleh Ayahku."
Altair berhenti bertanya saat suasana berubah menjadi canggung. Meski tidak diceritakan, Altair tahu keseluruhan yang mengubah hidup Aldir. Altair juga tidak bertanya nama aslu Aldir juga karena melihat ekspresi kesedihan Aldir yang tidak bisa disembunyikan.
Walaupun Altair tidak merasa sedih, tapi dia juga tidak mau memperkeruh suasana. Jadi selama perjalanan menuju kota terdekat, mereka ditemani keheningan dengan suara hewan saling bersahutan.
***
Brakk!!
Gadis dengan telinga putih tajam itu melenguh, sakit. Punggungnya terbentur dinding logam yang dingin. Sekujur tubuhnya terdapat lebam serta luka lama yang belum sembuh kembali terbuka. Tatapannya penuh kebencian saat menatap lima pria di depannya.
"Ada apa dengan tatapanmu itu, Nona? Kau sungguh punya nyali."
Telapak tangan kasar mendarat keras ke pipinya. Air matanya akan keluar jika saja harga dirinya tidak ada lagi untuk melakukan itu. Empat pria yang nelihat itu semua hanya tersenyum mengejek. Tidak ada diantara mereka yang memiliki niat baik.
"Hari ini adalah hari keberuntungan kita. Gadis bodoh ini terlalu mudah ditipu," tawa kering keluar dari bibir pria kuris di samping pria yang menamparnya tadi.
Gadis dihadapan mereka ini tak lain dan tak bukan adalah Maria, gadis yang dipanggil Altair dengan sebutan Sadako.
Dia awalnya mencari makan menggunakan uang pemberian Altair, tapi dia lupa tubuhnya masih terluka. Pada akhirnya, lima pria yang disegani di kota tempatnya singgah ingin mencari masalah dengannya.
Karena tubuhnya yang masih terluka, akhirnya dia kalah banding dengan mereka. Padahal jika dalam kekuatan penuhnya, dia mungkin hanya menggunakan tatapannya untuk menakuti lima pria tidak tahu malu di depannya ini.
"Kita apakan gadis ini?" Mereka mulai berdiskusi.
"Kita mainkan saja dia dulu, lalu kita bawa pada ke tempat Horas."
"Oh, maksudmu tempat perbudakan itu?"
"Ya, kau benar."
"Ah, itu memang ide yang bagus. Mari kita lakukan itu, hehehe."
Saat tatapan mata mereka kembali pada Maria, binar bejat terlihat jelas di mata mereka. Sedangkan Maria mulai menoleh kanan-kiri mencari benda apapun untuk melawan.
Ketika kelima orang hendak maju, suara berat menghentikan mereka.
"Kalian menyia-nyiakan keberuntungan, ya?"
###