Main King

Main King
Ch. 5 – Latihan Pertama [ Revisi ]



Saat Altair memantau pergerakan dari Nami–pelayannya–sesosok bayangan hitam menunggu di balik pekatnya malam. Berdiam tak bergerak dengan jubah hitam menutupi seluruh tubuhnya. Jika tidak melihatnya secara seksama, tidak akan ada yang menyadari keberadaanya. Bahkan Garnad sekalipun.


Sosok itu bergerak pelan saat Nami datang ke arahnya. Mereka berdua lalu berjalan menjauhi tempat tinggal keluarga besar Gremory. Setiap langkah mereka tidak menimbulkan bunyi sehingga bisa melewati hewan malam tanpa membangunkan mereka sekali pun.


Mereka sampai pada sebuah gua lembab di tengah hutan lalu memasukinya.


"Sangat jarang aku melihat kau terlambat," suara misterius dari pojok gua terdengar. "Apa ada masalah? Aku harap tidak."


Sosok dengan jubah hitam yang menjemput Nami mendengus. Ia sebenarnya ingin menggunakan kekuatannya agar bisa berpindah dengan cepat, tetapi hal itu hanya akan membangunkan penjaga kota wilayah keluarga Gremory. Hal itu bukanlah tindakan bijak.


"Seharusnya kau ikut aku," keluhnya. "Balkon kamar Tuan Muda Gremory terbuka. Aku cukup terkejut melihat dia berdiri mengawasi Nami sebelum dia pergi memasuki kamarnya. Apalagi dia ditemani Garnad si penjaga."


Sosok berjubah itu duduk di salah satu batu, lalu menyalakan api unggun di dalam gua dengan melibaskan tangannya ke depan seperti mengusir nyamuk ke tumpukan kayu kering yang ia kumpulkan tadi pagi.


Cahaya terang menyinari gua itu samar-samar. Terlihat sosok mengenakan jubah yang sama duduk tenang di sana. Sosok baru itu mengerutkan dahinya meski tidak kentara. Ia masih meragukan cerita sosok tadi, tetapi tidak mau menyangkal sebab sosok tadi tidak akan mengeluh sebelum saat ini tiba.


"Menurutmu, apa hubungan mereka membaik?" tanyanya lalu berdiri dan mendekati Nami yang diam membatu dengan pandangan kosong.


Sosok di depan api unggun mengeluarkan kain segi empat seukuran sapu tangan yang ketika dibuka terdapat beberapa tulang-tulang kecil yang seperti sudah lama termakan usia di sana. "Aku tidak yakin," katanya. "Tapi kurasa sudah membaik. Apalagi Altair itu seperti telah berubah."


"Berubah?"


"Ya. Aku merasa dia lebih dekat dengan Pamannya."


Sosok yang masih di berdiri di depan Nami tidak bicara lagi. Tangannya terulur dengan lambat ke arah dahi Nami. Sebuah cahaya kuning samar memasuki dahinya. Setelah selesai, sosok itu berbalik dan menghadap temannya yang masih melihat tulang di atas kain dengan serius.


"Berhenti bermain dengan hal konyol itu," gerutunya. "Aku sudah selesai. Saatnya aku kembali dan melaporkan apa yang kau lihat. Kuharap temuanmu ini benar adanya."


Setelah mengatakannya, sosok itu berbalik dan melangkah pergi. Sebelum melangkah keluar sepenuhnya, sosok yang masih duduk terfokus ke kain yang ia buka itu bicara tanpa menoleh padanya.


"Nolan, kuharap kita bisa mengakhiri ini."


Nolan tak menjawab, Ia langsung pergi tanpa melihat ke belakang.


***


Matahari menyingsing dan cahayanya menembus jendela kaca tepat ke kamar Altair. Sementara si tuan kamar berbaring malas, beberapa burung singgah dan berkicau dengan nyaring sampai membuat Altair mendecak terusik.


"Apa seperti ini cara kalian membangunkanku?" gerutunya, yang dijawab burung-burung dengan kicauan lebih nyaring.


Dengan malas, Altair memakai pakaiannya secara cepat. Meski terbilang cepat, nyatanya Altair tidak secepat itu. Karena racunnya sudah terlanjur bersarang di tubuhnya, mau tidak mau Altair harus bersabar dengan tubuh lemahnya. Namun, Altair bersyukur kalau kakinya masih bisa diajak berkompromi untuk berjalan. Yah, walau tertatih.


Setelah selesai, Altair keluar kamar dan menuju ruang makan keluarga. Di sana sudah ada Garnad serta Gordon yang tengah duduk menunggunya. Saat Altair menghampiri mereka dengan tertatih, beberapa pelayan datang menawarkan bantuan, tetapi segera ditolak halus oleh Altair. Di meja makan yang berbentuk persegi panjang itu, Altair duduk di sebelah kanan Gordon dan tepat di depan Garnad yang berada di sebelah kiri Gordon.


Setelah kedatangan Altair, mereka makan secara bersamaan dalam keadaaan hening. Hanya ada suara piring dan sendok yang beradu. Beberapa saat hening, tiba-tiba Altair merasa ada yang kurang.


"Di mana Nami?" tanyanya pada Gordon.


"Mungkin dia berada di dapur," sebelum Gordon menjawab, Garnad menjawabnya duluan. Ia juga sudah selesai sarapan,sedangkan Gordon masih menikmati makanannya.


Altair mengangguk setelah memasukkan satu suapan terakhir ke mulutnya. "Apa Paman sibuk hari ini?"


"Tidak, kenapa?" tanya Gordon.


"Mungkin aku bisa memulai latihanku dari sekarang."


Gordon masih mengunyah makanan di mulutnya sambil menyimak ucapan Altair. Garnad di sisi lain mengerutkan dahinya dengan heran. Ia mengamati wajah Altair dengan teliti sebelum membungkukkan badan untuk melihat kaki Altair di bawah meja.


Bukan tanpa sebab Altair kesulitan dalam berjalan. Dikarenakan racun dalam tubuhnya sudah ada sejak dia kecil, akhirnya racun itu mulai menunjukkan reaksinya dimulai dari kaki kanan yang terdapat seperti lebam biru di betis. Bukan hanya seperti lebam, tetapi juga terdapat kebiruan seperti akar yang menjalari kaki kanannya.


Garnad menyudahi pengamatannya dengan kembali memandang aneh Altair di depannya. Ia baru mengetahui Altair termasuk orang yang nekat.


"Kau yakin dengan itu? Kulihat kondisimu belum sepenuhnya pulih, Al." Ucap Garnad terdengar ragu.


Gordon baru akan memasukkan sesendok makanan ke mulutnya saat merasakan dua orang tengah memerhatikannya. Karena sedari awal mendengarkan percakapan adiknya serta putranya, mau tidak mau Gordon harus menanggapi dua orang yang tengah memandangnya.


"Mungkin kau bisa melakukan sambil duduk. Seperti tentang materi dan bagaimana memanipulasi kekuatanmu atau cara mengendalikannya." Ujarnya sambil menatap Altair lalu memulai kegiatannya yang tertunda.


Jawaban Gordon tak pernah Altair sangka akan sama seperti ayah angkatnya dulu.Setelah mendapat persetujuan dari ayahnya, Altair memandang pamannya dengan raut jenaka. Sedangkan Garnad menghela napas. Ia tidak masalah Altair memulai latihannya. Ia hanya khawatir pada kesehatan Altair karena ini merupakan latihan pertamanya.


"Terserah kau saja." Kata Garnad pasrah.


Garnad bangkit setelah merasa selesai makan, diikuti dengan Altair yang berjalan di belakangnya. Garnad membawa Altair ke sebuah ruangan berwarna putih polos dengan ruangan berbentuk melingkar. Pilar-pilar besar mengelilingi ruangan itu.


"Sebenarnya aku belum mau melatihmu dulu mengingat kau masih dalam tahap pemulihan," ujar Garnad lalu melihat ke arah kaki kanan Altair yang biru. "Tapi mungkin aku bisa menjelaskan lewat teori atau manipulasi kekuatan alam."


Altair mengangguk dan tidak banyak bicara setelahnya.


"Aku sudah pernah cerita kalau leluhur terdahulu mengatakan pernah menemukan sebuah gelembung yang menjadi kekuatan manusia, 'kan?"


Altair mengangguk.


"Nah, akan kujelsakan kisah selanjutnya."


Garnad mengulang kembali kisah yang pernah di ceritakannya saat dia dan Altair berada di balkon tadi malam. Mulai dari leluhur pertama yang menemukan kekuatan sampai mengubah kekuatan alam itu menjadi sedemikian rupa.


Kekuatan alam atau energi alam lebih dikenal masyarakat umum dengan sebutan Magi. Magi dibagi beberapa bagian sesuai gelombang atau gelembung warna.


Selama ribuan tahun, Magi berevolusi atau sering berubah-ubah sesuai zaman. Yang awalnya hanya beberapa orang yang bisa mengendalikannya berdasarkan keturunan, sekarang bayi pun bisa merasakan energi alam. Paling tidak, bayi yang baru lahir memiliki gelombang atau gelembung energi alam yang menempel padanya.


Gelembung atau gelombang energi ini termasuk dua energi yang meski eksistensinya sama, tetapi memiliki kekuatan yang berbeda. Gelembung lebih condong memperkuat diri dan bisa melindungi diri si pemakai. Gelembung itu juga bisa dimanipulasi menjadi kekuatan jika dimasukkan ke dalam senjata atau mengumpulkannya ke telapak tangan lalu melepaskannya.


Berbeda dengan gelembung energi, walau memiliki sedikit kesamaan. Gelombang energi memiliki sedikit keunggulan daripada gelembung energi. Gelombang energi lebih sulit didapat. Ia berupa seperti garis benang paling tipis yang bahkan benang jahit pun tidak bisa disamakan dengan gelombang tersebut.


Gelombang itu juga bisa disebut sebagai elemen alam karena dapat menciptakan energi alam yang kasat mata. Jika seseorang mencari gelombang di bawah pohon dan mempelajarinya, maka tidak akan heran bila ia mendapat energi sejuk dari gelombang pohon yang ia tempati. Sulitnya, gelombang energi perlu waktu untuk didapat daripada gelembung. Itulah sebabnya kebanyakan orang lebih memilih memaksimalkan energi dari gelembung itu.


"Jadi ... gelombang dan gelembung itu tetap sama meski berbeda? Dan mereka disebut sebagai Magi?" tanya Altair menginterupsi.


"Untuk orang awam, ya." Jawab Garnad.


"Bagaimana caranya kita bisa mendapat salah saru kekuatan Magi ini? Maksudku, bukankah mereka sama? Apa bedanya?"


"Aku sedikit sulit membedakannya," Garnad berdecak. "Kalau kita asumsikan, gelombang atau benang energi dari alam ini memiliki tingkat kemurnian tinggi dimana hal itu juga mempengaruhi kekuatan kita."


Altair mengangguk. Pertanyaan-pertanyaan selanjutnya ia lontarkan saat penjelasan Garnad tidak bisa dicerna olehnya. Dari sudut pandang Garnad, Altair adalah monster kecil di matanya. Dia bahkan berani bertaruh kalau keponakannya bisa disejajarkan dengan para jenius muda dari para bangsawan. Garnad bahkan merasa merendahkan kemampuan Altair hanya dengan menyebutnya jenius.


Altair dapat menyerap pelajaran materi yang didapatkannya dengan cepat. Terkadang Altair mempraktekkannya secara singkat dengan mengumpulkan Magi yang ada disekitarnya. Hal itu sederhana dan mudah untuk orang yang sudah melatihnya sampai setahun, tetapi Altair bisa melakukannya hari itu juga.


Garnad yang mengajarinya pun sampai frustrasi dibuatnya. Selama beberapa jam ke depan, ia hanya memberikan materi pada Altair dan menjawab pertanyaan keponakannya bila ia tidak mengerti. Garnad tidk tahu harus merasa senang atau sedih. Altair langsung dapat mempraktekkan apa yang ia ajarkan, tetapi kecepatannya dalam belajar membuatnya lebih dari seorang murid.


Kehidupannya yang dulu sebagai mata-mata memang membutuhkan tingkat kecerdasan tinggi. Karena jika tidak, mata-mata hanya menjadi barang rusak yang harus dibuang. Altair yang terbiasa mempelajari hal baru disetiap misinya membuat ia terbiasa belajar dengan cepat.


Seharian paman dan keponakannya itu tidak keluar dari tempat latihannya. Makan siang pun hanya sebentar saat Gordon datang membawa makanan ke tempat latihan mereka karena Altair tidak berhenti berlatih.


Saat makan malam pun, Gordon datang mengarahkan Altair sedikit dan membangunkan Garnad yang tanpa sadar tertidur di pojok ruangan dengan kaki terlipat, tangan menopang dagu dan air liur yang sudah merembes keluar dari mulutnya.



Pengumuman!


Buat yg mampir dan ketemu tulisan ini, mohon maaf ya, Altair di cerita ini bakal aku pindahkan ke WP atau ********** setelah benar2 revisi


Yg sudah baca, makasih ya.. :)