Main King

Main King
Peringatan!



Aldir melihat tuannya berdiri tegak menunggunya. Ketika ia berbalik, ada semacam aura mencekam yang ditujukkan tuannya. Tapi dia tidak tahu apa itu.


Setelah melihat Aldir beberapa saat, Altair berjalan tanpa berkata apa-apa. Melihat tuannya diam, Aldir tahu bukan saatnya bertanya tujuan kemana mereka pergi.


Altair berjalan memimpin di depan, melewati jalan utama lalu pergi keluar gerbang kota. Ada sedikit masalah saat keluar gerbang, tapi untungnya Gordon memberitahu mereka bahwa akan ada sepasang pejalan yang keluar menggunakan topeng.


Mereka berdua mencapai hutan ketika hari sudah gelap, memaksa mereka berhenti di dekat sungai dan membuat api unggun.


Keterdiaman Altair sebenarnya membuat Aldir sedikit canggung. Meski baru beberapa kali bersama, sosok tuan muda di matanya bukanlah orang yang diam. Pasti ada saja hal yang akan dibicarakannya walau sedikit.


Aldir menatap tuannya yang memeluk tubuh dengan tangan kanan memainkan bara api dengan ranting kecil, sesekali tangannya mengeluarkan cahaya merah samar menambah gejolak api di depannya.


Kepekaan Altair yang ia dapat di kehidupannya yang lalu membuat dia selalu merasa waspada. Dia tahu bahwa sekarang Aldir tengah memperhatikannya bahkan sebelum mereka keluar dari kota.


Altair diam karena memikirkan perkataan Salazar saat dia berada di luar toko. Altair tahu bahwa ada yang mereka bicarakan di dalam sana, tapi Altair juga tahu ada suatu penghalang ketika dia ingin mendengarnya lebih jelas. Itu menyebabkan pembicaraan mereka seperti terputus-putus.


Sambil menghela nafas, Altair menoleh ke arah Aldir yang tersentak gelagapan. Altair yang melihat reaksinya itu hanya tertawa kecil.


"Apa yang kau pikirkan hingga saat aku menoleh kau kaget seperti bertemu hantu?" ujar Altair bercanda.


Aldir merespon dengan tersenyum canggung, "Aku merasa aneh denganmu daritadi, tidak biasanya kau diam seperti itu."


"Bukankah bagus kalau aku tidak membuat masalah dan tidak cerewet?"


Aldir menggeleng, "Bukan itu maksudku. Biasanya kau akan membicarakan suatu hal, tapi kulihat kau diam saja daritadi."


"Oh, apa begitu aku di matamu?"


Pertanyaan Altair membuat Aldir menoleh penuh ke arahnya. Iris mata hitam Altair membuatnya merasa takut dan hormat dalam sekali tatap, membuatnya cepat menghindari kontak mata.


"Aku belum tau dirimu seutuhnya, Tuan." Kata Aldir lalu tangannya meraih botol air dan meminumnya.


"Aku tau kau punya satu pemikiran yang dimiliki para budak," Altair memperhatikan raut wajah Aldir yang mulai berubah. "Kau ingin bebas, 'kan?"


Aldir memandang tanah di depannya. Keinginannya diketahui secara tepat oleh tuan barunya. Altair di sisi lain menekuk kedua kakinya dan meletakkan dua tangan yang terlipat di lututnya. Kepalanya ia letakkan di tangannya yang terlipat lalu memiringkannya.


"Aku dengar kau dapat saran dari Salazar."


Aldir melebarkan mata, merasa terkejut dengan ucapan tuannya. Kepalanya menoleh hanya untuk mendapati wajah Altair yang tanpa emosi di sana.


"Tenang saja," ujar Altair tenang. "Aku tidak mendengar hal lain selain itu. Aku tau dia lah yang menginginkan agar aku tidak bisa mendengarnya."


Altair menguap setelah mengatakannya.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Altair, kali ini dengan nada menuntut.


Aldir merasa ada yang meremas jantungnya, tanpa sadar tangannya memegang dadanya. Ia menoleh pada Altair yang menguap karena mengantuk di sampingnya.


Aldir meneguk ludah, "Dia hanya mengatakan padaku untuk hati-hati."


"Juga, aku harus menuruti kemauan tuanku."


Suara tawa yang keras keluar dari mulut Altair, mengagetkan Aldir yang sedang menundukkan kepala.


"Jadi, dia sudah tau identitas kecil kita?" tanya Altair dengan tawa kecil sambil mengusap matanya yang berair, entah karena mengantuk atau karena tertawa terlalu keras.


Aldir menangguk, "Ya, mungkin sebagian kecil. Dia tidak tau nama kita yang sebenarnya atau identitas kita yang lain."


"Baguslah kalau begitu," ucapnya sembari mengangguk. "Untuk saran Salazar... Kuharap kau mempertimbangkannya."


"Kenapa?" tanya Aldir penasaran. Entah itu Salazar atau Altair, perkataan mereka berdua sulit dimengerti. Memangnya apa yang harus membuatnya berhati-hati dengan Altair yang masih berusia delapan tahun?


Altair memandang Aldir sedikit lama. Matanya yang iris hitam semakin kelam saat pandangannya mulai mendingin.


"Jangan pernah berpikir bahwa kau bisa membunuhku hanya untuk kebebasanmu. Bukan Ayah atau Pamanku yang akan menghukummu, tapi aku yang akan mengejarmu."


Aldir terjatuh ke samping kiri. Tangan kanan meremas dadanya yang terasa sesak, seperti ada tangan yang mencengkeram jantungnya. Oksigen seperti direnggut darinya, membuatnya mati-matian meraup oksigen yang tersisa di sekitarnya.


Matanya yang membelalak kesakitan mengarah pada sepasang mata dingin milik Altair, tuannya. Aldir memang berniat untuk membunuh Altair disaat lengah. Dia sudah merencanakannya sejak pertama kali dia dibeli dan mencari kesempatan untuk melepaskan belenggunya.


Aldir sempat senang yang akan menjadi tuannya adalah anak kecil yang belum tahu cara menggunakan energi alam secara akurat. Tapi kesenangan itu luntur saat tahu bangsawan tertinggi kedua sebagai tuan utamanya.


Aldir memikirkan kembali rencananya saat Altair kecil yang menurutnya polos mengajaknya keluar mansion untuk latihan. Dia yakin bisa menjalankan rencananya seperti dulu. Rencana yang sudah membuat sekarat beberapa orang yang pernah menjadi tuannya selain Garnad yang memiliki kekuatan untuk melumpuhkannya.


Aldir tahu saat bebas nanti pilihannya adalah mencari orang untuk melepas segel budak atau kembali pada pedagang budak. Aldir sangat sulit untuk dikendalikan bahkan untuk para pedagang budak. Sebab itulah pemandu yang menjual Aldir sedikit ragu untuk menjual pada Garnad yang menutupi identitasnya.


Namun sekarang, di mata Aldir hanya ada keterkejutan serta ketakutan. Dia tidak menyangka Altair punya kekuatan yang bisa membuatnya sekarat seperti ini. Dia hanya pernah merasakan sakit teramat sangat saat salah satu mantan tuannya bisa mencekiknya hanya dengan kalimat perintah, tapi dia masih bisa membuatnya sekarat, membuatnya bebas tanpa rasa takut.


Rasa sakit itu perlahan mulai hilang saat Altair hampir tertidur di depannya.


"Ini adalah peringatan untukmu, Aldir. Aku harap kau ingat itu."


Setelah mengatakannya, Altair membaringkan tubuh kecilnya ke alas daun yang ia susun sedemikian rupa, lalu meletakkan kepalanya pada tas kulit sederhana yang ia bawa.


Napas Aldir masih memburu dengan tubuh yang sudah dibanjiri keringat. Ia memejamkan matanya untuk meredakan sesak serta ketakutan yang tidak ingin ia utarakan.


Tubuhnya terlentang, tangannya ia rentangkan serta matanya melihat bulan di atasnya. Ia berjanji tidak akan merasakan sakit ini lagi. Ia juga akan menggunakan saran Salazar untuk hidupnya. Untuk sekarang, dia hanya mengikuti kemauan Altair. Setidaknya sampai sekarang Altair belum menyiksanya.


Aldir tertidur beberapa saat setelah pernapasannya stabil. Di sisi lain, Altair yang berbaring miring membelakangi budaknya itu menyeringai kecil, lalu ia ikut terlelap setelahnya.


###


Kayaknya, ini lebih ke Aldir ya... :v


Maafkan saya,, wkwk