Main King

Main King
Pengawal Bayaran



Sekelompok orang berjalan di hutan yang waktunya menunjukkan hampir malam. Orang-orang itu membawa banyak barang dengan masing-masing kereta. Sebab itulah memasuki hutan membuat mereka menjadi lebih waspada. Para pengawal yang dibayar untuk menjaga setiap sisi kereta barang pun memindai sekelilingnya dengam teliti.


Di barisan paling depan, seorang pria dengan wajah garang terlihat fokus dengan jalan di depannya. Kuda gagah yang ia naiki berjalan pelan memimpin rombongan. Meski pandangannya seolah fokus ke depan, dia termasuk orang yang paling waspada. Baginya, hutan merupakan tempat para hewan buas menjadi ganas atau para perampok menjalankan aksinya.


Semua orang menjadi menoleh saat di sisi kiri terdengar suara anak kecil.


"Hei, Tuan. Apa kami bisa memintamu menunjukkan jalan menuju kota terdekat?"


Seorang anak kecil beridir dihadapan mereka dengan tas di punggungnya serta ikat kepala yang bertengger di dahinya. Anak usia berkisar di atas sepuluh tahun berdiri di belakangnya dengan sikap waspada. Walau samar, pria di barisan depan itu mendengar anak yang lebih besar berdecak.


Salah satu pengawal maju ke depan mendekati mereka. Pengawal itu membusungkan dadanya, terlihat jelas bahwa dia meremehkan dua anak di depannya serta mencurigainya dari ekspresi matanya.


"Kami memang berencana pergi ke kota terdekat, tapi aku curiga kalian punya niat lain kalau diizinkan bergabung."


Altair memiringkan kepalanya, bingung menanggapi pengawal di depannya.


"Aku hanya memintamu menunjukkan jalan. Sejak kapan aku bilang akan bergabung?" tanya Altair dengan kepalanya miring.


Pengawal itu tersulut emosinya, merasa malu dengan perkataan bocah di depannya.


"Hmph, aku yakin alasanmu tidaklah sesederhana itu."


"Kami dua orang yang tersesat. Kenapa kami harus memikirkan hal lain selain jalan pulang?"


"Aku tidak percaya alasan yang kau sampaikan. Mana ada orang yang tidak tergiur dengan barang-barang mewah yang kami bawa?! Bukankah hal itu yang membawamu kemari dengan dalih meminta petunjuk jalan?! "


Kalimat panjang itu dihadiahi kerut dalam Altair dan Aldir. Selama sesaat Altair berpikir, akhirnya dia mengerti situasi di depannya.


"Kalau tidak ada orang yang tidak tergoda dengan barang-barang itu artinya kau pun sama, 'kan?" ucap Altair dengan senyum lebar di wajahnya.


Pengawal itu membuka-tutup mulutnya namun tidak ada kata yang keluar. Beberapa pengawal serta pelayan yang mengelilingi setiap sisi rombongan menoleh ke arahnya, membuatnya panik sesaat sebelum amarah menguasainya. Ketika mulutnya hendak bersuara dengan tombak yang mulai teracung, suara berat membuatnya berhenti.


"Cukup!" suara itu membuat fokus semua orang beralih. Pria dengan wajah garang itu dengan tenang turun dari kudanya. "Aku bisa membantu kalian untuk bergabung dengan kami karena kota terdekat adalah tujuan kami."


Altair menunjukkan senyum polos ke arahnya, "Wah, ternyata kau bisa diajak bicara, Tuan. Seharusnya aku bicara denganmu sedari awal."


"Tapi kau harus meminta izin pada putri saudagar yang saat ini kami jaga." Pandangan pria itu menoleh pada kereta yang tertutup tirai.


Mendengar dirinya dibicarakan, putri itu membuka tirai keretanya. Seorang remaja tersenyum kecil ke arah mereka. Sebenarnya dia mendengarkan percakapan mereka dari dalam kereta tadi. Tapi karena takut kebaikannya di manfaatkan, akhirnya ia mencari waktu yang tepat untuk bicara. Untung saja pengawal di barisan depan memberikannya kesempatan.


Pakaian anggun berwarna kuning menyapu mata semua orang. Rambut hitam panjangnya diterpa angin saat ia turun dari kereta. Kulitnya yang seputih salju dan terluhat lembut itu menyatu, memperjelas keanggunannya.


Gadis itu menatap sekilas ke arah Aldir yang menatapnya tanpa berkedip sebelum memusatkan perhatiannya pada Altair yang memandang kosong ke depan. Bukan ke arahnya.


"Aku Nayara Kyilant, boleh kutahu dengan siapa aku bicara?"


Suara lembut menyadarkan semua orang di sana. Altair berkedip, merasa nyawanya mulai kembali padanya.


"Oh, kau boleh memanggilku Dani dan anak tampan di belakangku ini namanya Denis, Kakakku."


Perkataan Altair menyadarkan Aldir dari lamunannya. Matanya melotot saat Altair menyebutnya kakak.


"Apa kau ingin pergi ke kota terdekat? Kau bisa menjadi salah satu pengawal bayaran kalau kau punya kemampuan. Kalau ada suatu bahaya kita bisa menyelesaikannya bersama-sama."


"Tentu," jawab Alrair riang. "Kakakku mahir dalam permainan pedang."


"Kita di sini tidak sedang bermain, bocah!" pengawal pertama menjawab dengan sengit.


Altair meliriknya tajam, "Tidak sopan! Nona Nayara bicara denganku, kenapa kau yang menjawab?!"


"Kau–!"


ucapan pengawal itu berhenti saat ujung matanya melihat ke arah pengawal berwajah garang menatapnya tajam.


Yara hanya tersenyum, "Sejak kapan aku mengatakan kalau aku tak berniat membantu? Kalian boleh ikut asal kalian menjadi salah satu pengawalku."


"Itulah yang aku maksud," Aldir mati-matian agar tak menyinggung gerombolan orang dewasa yang mengelilingi gadis itu. "Tapi kami tidak berniat begitu."


"Sangat disayangkan. Hutan mulai gelap, tidak mungkin kalian bisa menghindari hewan buas secara menyeluruh saat malam," balas Yara.


Aldir hampir saja tertawa mendengarnya. Jangankan hewan buas, bahkan hanya dengan auranya hewan kecil pun takut padanya. Lagipula bukan hanya sekali dua kali dia dan Altair tidur beralaskan tanah ditemani hewan buas yang selalu mengintai setiap saat.


Sebelum membalas, Altair sudah lebih dulu mencubit pinggang Aldir hingga membuatnya meringis dan melotot ke arahnya. Altair hanya berdecak dan menyumpahi kebodohan budaknya ini.


"Apa benar kami boleh ikut dalam rombonganmu? Mengingat akan ada orang yang mungkin mencelakai kami," pandangan Altair berhenti tepat di depan pengawal pertama yang berseteru dengannya, tepat saat dia menyebutkan kaliamt terakhirnya.


Lagi-lagi Yara tertawa. "Aku memberimu penawaran berupa satu pengawal yang belum berseteru denganmu. Aku juga tak tega meninggalkan kalian di hutan saat gelap."


Beberapa kali saling bertengkar antara Altair dan Aldir, akhirnya mereka setuju untuk ikut sebagai pengawal bayaran dengan satu pengawal untuk mengawasai mereka agar tak berbuat macam-macam.


Pria berwajah garang itu mendekati mereka. "Perkenalkan, namaku Dior. Aku kapten di sini. Kuharap kalian bisa memberi kami keamanan."


"Tentu saja, Tuan." Altair menjawab riang sebelum napas lelah keluar dari bibir Aldir.


Dior mengangguk, "Karena kalian masih anak-anak, kalian akan kutempatkan bagian belakang. Carilah tempat nyaman untukmu istirahat," katanya lalu berbalik dan berjalan ke barisan depan tempat kudanya berdiri menunggunya tanpa memberi salam pada keduanya. Tapi Altair maupun Aldir tak mempermasalahkan itu.


Sebelum sampai pada kudanya, pria itu berhenti di samping kereta Nayara, tempat gadis itu beristirahat setelah Altair dan Aldir menerima tawarannya.


"Kau yakin membawa mereka, Nona?"


"Aku punya perasaan baik bila mereka bergabung, Kapten. Kau pun tau aku orang yang seperti apa...Aku tak suka meninggalkan orang tersesat begitu saja."


Dior menghela napas sebelum ke arah kudanya berdiri lalu menaikinya. Memandang hutan gelap sekali lagi sebelum memerintahkan semua orang bersiap untu perjalanan malam ini.


Saat Altair beserta Aldir ingin mencari tempat untuk duduk di salah satu kereta barang, pengawal yang berseteru dengannya menghadang. Kerut kesal masih bertengger di wajahnya, jelas ia tak memaafkan ketidaksopanan Altair.


"Berhati-hatilah bocah, terkadang nyawa orang yang tak sopan sepertimu takkan bertahan lama."


"Dari bicaramu aku menebak kau tak punya niat baik," Altair menjawab santai lalu melewatinya begitu saja. Aldir di belakangnya ikut menyusul dengan iringan tawa geli.


Pengawal itu mengepalkan tangannya, pandangannya membuas, "Lihat saja kau nanti, bocah."


Altair memindai beberapa kereta barang sebelum berhenti di kereta kedua dari belakang. Pandangan matanya sedikit bersinar saat ia melihat sesuatu yang menarik di sana. Sebelum melangkah, tangan Aldir menahannya.


"Apa kau yakin kita di bagian belakang saja? Kenapa tidak di barisan depan?"


"Aku tak suka di bagian depan," jawab Altair. "Bukankah kita juga disuruh untuk duduk di belakang? Terima sajalah."


"Tapi resiko penyerangan berpotensi pada bagian belakang, Al. " Aldir mendesak dengan berbisik.


Sambil berdecak, Altair membalikkan tubuhnya menghadap Aldir. "Sejak awal kau selalu saja takut dengan pilihanku. Sekarang lihat, kita mendapat tumpangan alih-alih berjalan kaki mencapai kota yang jauhnya puluhan kilometer. Sekarang, kau harus ikut pilihan tempat mana yang akan kita gunakan dalam rombongan saat perjalanan nanti."


Setelah mengatakannya, Altair segera naik tanpa peduli Aldir yang mengacak rambutnya frustasi.


Altair duduk dekat dengan sebuah kotak yang tertutup kain hijau. Salah satu tangannya ia letakkan di atas kotak tersebut. Pengawal yang yang dikirim Yara memandanginya dalam diam dari awal perintah Yara hingga ia duduk. Jadi dia tak mempedulikan pandangannya. Aldir yang pasrah pun akhirnya mencari tempat nyaman untuk memejamkan matanya.


Setelah semua orang terlelap, Altair menempelkan kepalanya di kotak itu lalu bicara dengan nada lirih.


"Cara bersembunyi yang hebat, kawan."


Altair terkekeh sejenak sebelum kelopak matanya tertutup. Tidak ada yang mendengarnya kecuali suatu hal dalam kotak itu yang mendengarnya dengan jelas.


###