Main King

Main King
Ch. 2 – Tersadar [ Revisi ]



Pikirannya memburu tak karuan. Altair juga merasakan sesak napas yang teramat sangat. Seberapa kali pun Ia mencoba mencari oksigen, tetap tak membuahkan hasil.


Di matanya, tempat yang Ia datangi sangat gelap. Bahkan Ia tak yakin kalau itu sebuah tempat. Napasnya masih memburu. Diingatnya kejadian terakhir sebelum Ia menjadi seperti ini.


Ia ingat saat terakhir kali memeluk ayah angkatnya sebelum kepalanya yang berdenyut sakit semakin menjadi dan membuatnya tak sadarkan diri.


Ketika dia merasa gelap itu tiada habisnya, akhirnya ada sebuah cahaya yang menerangi matanya. Altair mengejar cahaya itu tetapi segera terhenti saat ia mengingat bahwa ia berdiri di tempat yang sama sebelum meregang nyawa.


Kejadian terakhir hidupnya berulang kembali. Ia ingin menghentikannya tapi membuka mulut pun tidak sesuai dengan kata-kata yang ingin diucapkan.


Tepat ketika ia mengira tusukan itu adalah bayangan terakhir, pandangannya menjadi gelap. Berganti pula suatu ingatan yang asing. Ingatan yang bukan seperti miliknya.


Altair awalnya merasa bingung sebelum ia terkejut saat tahu maksud dari bayangan-bayangan yang berganti dihadapannya. Bayangan di depannya merupakan bayangan hidup orang yang memiliki nama dan wajah yang sama sepertinya saat berusia delapan tahun.


Bayangan itu milik seorang tuan muda bangsawan yang selalu sakit-sakitan. Ia bernama Altair Gremory. Sama seperti namanya. Bedanya, terdapat nama Gremory yang diambil dari nama keluarga. Karena sakit-sakitan, ia tidak pernah keluar kamar. Meski begitu, rumor tentang dia yang cacat sudah menyebar luas.


Tuan Muda Altair termasuk orang yang pemalu bahkan dengan ayahnya sendiri. Ia hanya dekat dengan satu pelayan, tabib dan asisten tabib yang sering mengobatinya. Hal itu mengakibatkannya tidak mengetahui dunia luar. Ia hanya tahu tentang masalah luar karena cerita Nami–pelayannya–serta buku yang berasal dari perpustakaan mansionnya.


Dari bayangan tuan muda yang Altair tangkap, tuan muda sebelumnya terlalu lugu dan polos. Dia juga tidak dekat dengan ayahnya. Altair bahkan terkejut saat tahu bahwa ayah dari tuan muda itu adalah Gordon, ayah angkatnya di kehidupan sebelumnya.


Bayangan itu menjadi semakin buram sebelum semuanya hilang dan menjadi gelap dalam pandangannya.


***


Gordon berdiri menghadap jendela besar di kamarnya dengan tangan terlipat di dada. Kejadian saat bertemu Altair membuatnya bingung sampai sekarang. Apa yang membuat Altair seolah ia seperti orang lain?


"Sepertinya kau tidak bisa mengubah kebiasaanmu Garnad."


Gordon berbalik untuk melihat secara jelas orang yang baru saja masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu. Hanya saudaranya inilah yang tak pernah mendengarkan omongannya. Padahal hanya hal kecil seperti mengetuk pintu saja benar-benar ia hiraukan.


Garnad mendengus. "Apa aku harus bersikap formal dengan saudaraku sendiri?"


Garnad melangkah ke arah tempat tidur lalu melompat berbaring ke atasnya. Gordon hanya tersenyum tipis. Walau Garnad diberkahi dengan tubuh yang lumayan besar untuk ukuran orang dewasa, ia masih termasuk manja padanya.


"Apa yang membuatmu kemari?" tanya Gordon


"Jangan pura-pura tidak tau. Kita sama-sama bingung tentang keanehannya, kan?"


Keanehan yang dimaksud Garnad tidak lain adalah sikap Altair. Tidak ada yang tidak tahu bahwa Altair termasuk tidak dekat dengan Gordon. Dilihat dari caranya menghampiri Gordon saat itu, ada keanehan yang terjadi menurut mereka.


"Jadi apa menurutmu?" Gordon bertanya lagi.


"Kurasa itu baik."


"Kenapa kau berpikir begitu?"


"Aku punya firasat yang bagus saat pertama kali aku melihat tatapannya yang terkunci padamu. Kau tau aku punya firasat yang bagus, kan?"


Gordon menyesap kopi di atas meja, mengabaikan pertanyaan Garnad. Meski tak menjawab, ia setuju dengan Garnad. Firasat Garnad selalu tepat sasaran. Keluarga besarnya dikenal dengan kemampuan psikologisnya. Gordon memiliki kemampuan turunan dari leluhurnya yaitu bisa membaca pikiran dari raut wajah seseoranng. Bahkan jika orang itu dianggap tidak pernah menunjukkan ekspresinya pada khalayak ramai sekali pun. Sedangkan Garnad memiliki firasat yang bahkan dirinya diakui semua ras.


Ketukan pintu terdengar saat sunyi di dalam kamar hampir menguasai pikiran mereka. Seorang pelayan pria memasuki kamar setelah diizinkan masuk.


"Kabar baik, Tuan. Tuan Muda Altair baru saja sadar."


Garnad bangun dari tidurnya dan Gordon yang mulai berjalan keluar kamar tanpa bicara setelah pelayan itu menyelesaikan ucapannya.


###


Altair langsung terbangun dari tidurnya saat semua bayangan itu memburam. Ia masih terbaring tidak bergerak sama sekali. Isi kepalanya benar-benar kacau. Tidak ia sangka akan menempati tubuh lemah serta terbangun tepat di antara lima ras.


Andai saja jiwa yang lalu tidak sepolos dan selugu ini, maka hal seperti ini tidak akan terjadi. Ia yakin ada sebab ia menjadi lemah. Lagipula tidak mungkin semakin diobati penyakitnya malah semakin parah hasilnya.


Altair membiarkan seorang pelayan dengan tergesa keluar dari kamarnya. Dua tabib yang ditemuinya kala itu dengan cekatan memeriksanya. Ia tak bergerak. Tatapan matanya pun terpaku pada langit-langit kamarnya yang putih bersih.


Tiba-tiba Altair tertawa. Tidak keras, tetapi sudah cukup membuat kegiatan dua tabib berhenti mendadak.


"Oh, aku tau apa sebabnya sekarang," ucapnya ditengah tawa.


Meski tawanya singkat, tapi itu sudah cukup membuat mereka berdua terdiam di tempat. Mereka merasa ada yang salah dengan ruan muda mereka.


Setelah Altair duduk dengan punggung bersandar pada bantal yang ditumpuk,kepalanya menoleh ke arah asisten tabib yang tengah membantunya. Ia ingat nama asisten tabib itu bernama Darma berdasarkan ingatan lamanya. Sedangkan tabib yang masih menumbuk dedaunan di salah satu meja bernama Dyapati. Salah satu tabib senior serta yang paling terkenal di wilayahnya.


Darma yang masih memeriksanya merasa diperhatikan akhirnya memberanikan diri mengangkat kepala hanya untuk melihat senyum tipis di wajah Altair.


"Tuan Muda membutuhkan sesuatu?"


Altair tak merespon, tetapi wajahnya masih menampilkan senyum tipis. Hal ini membuat Darma merasa heran. Pasalnya, Altair lumayan dekat dengannya. Tapi entah mengapa perasaan Darma tak merasa sedekat itu semenjak Altair terbangun dan merasa asing saat melihatnya.


"Berapa lama kau bersamaku?" tanya Altair.


Darma terdiam, sedangkan Dyapati memperlambat gerakan menumbuknya.


Darma dengan canggung tertawa, "Kenapa Tuan Muda menanyakannya?"


"Tidak apa-apa," jawabnya.


Altair duduk dengan tenang setelah melihat raut wajah Darma yang kebingungan. Ia merasa ada yang aneh dengan pengobatan mereka tapi dilihat dari reaksinya, bukan mereka yang melakukannya.


Suara langkah kaki membuat Altair mendongak. Ia menahan diri agar tak pergi memeluk seseorang yang dia anggap ayah angkat sekarang menjadi ayah kandungnya yang baru saja datang. Jika tidak, tubuhnya akan kembali limbung dan itu akan membuatnya tak bisa bicara dengan ayahnya.


Altair mengalihkan pandangannya kepada orang berbadan besar di samping ayahnya yaitu Garnad. Tatapan mereka bertemu sebentar. Altair memberi senyum jenaka ke arahnya, sedangkan Garnad menaikkan alisnya. Altair sudah tahu bahwa orang di belakang ayahnya adalah pamannya.


Garnad sendiri sedikit merasa heran atas sikapnya. Baru kali ini Altair mau menyapanya walau hanya sebuah senyum. Dulu saja sangat susah bahkan walau hanya lirikan. Tapi karena tidak ada firasat aneh, Garnad membalas senyumnya.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Gordon.


"Oh, lumayan membaik."


Gordon mengangguk. Terjadi keheningan di ruangan itu sejenak sebelum Nami memasuki kamar Altair membawa nampan dengan satu mangkuk dan gelas di atasnya. Saat Nami tahu bahwa ada tuan besar di sana, ia melihat ke arah Altair sebelum bicara.


"Ah, maaf. Seharusnya aku kembali nanti."


"Tidak perlu," cegah Gordon. "Kau tetap di sini temani Altair seperti biasa. Aku yang akan pergi."


Gordon segera beranjak dari tempatnya, tetapi tangan kecil dan sedikit kurus membuatnya mengurungkan niat. Saat dia berbalik, Altair memegang tangannya dengan tatapan heran di wajahnya.


"Kenapa kau pergi?" tanya Altair.


Gordon tak menjawab. Bahkan ruangan itu menjadi hening karena perilakunya. Biasanya Altair tidak akan pernah bicara pada ayahnya. Bahkan Gordon sempat terkejut saat dia menjawab pertanyaan khawatir tadi.


"Tetaplah di sini. Apa kau sibuk sampai mau pergi?"


"Aku akan di sini kalau kau mau. Aku pergi karena biasanya kau tak suka ada kami di sini." Jawab Gordon sambil melihat pada Garnad yang memperhatikan interaksi mereka dengan tangan terlipat.


Altair mengumpat dalam hati sebab ia lupa bahwa sekarang dia adalah keluarga Gremory. Bukan mata-mata organisasi. Dia mencegah Gordon pergi karena ia merasa bahwa Gordon itu ayah angkatnya di masa lalu. Bukan ayah kandungnya.


Gordon lalu duduk di tepi kasur sebelah kanan Altair, tepat di sampingnya. Altair melihat ke arah Nami yang masih tak beranjak dari tempatnya dan melihat nampan yang ia bawa.


"Apa yang kau bawa?"


Nami tersentak kemudian menjawab, "Ini bubur kesukaan Tuan Muda. Aku sengaja membuatnya saat kau sedang sakit."


Altair memandangi mangkuk di atas nampan, bahkan meski Nami membawa mangkuk berisi bubur dihadapannya. Saat Nami akan menyendok dan ingin menyuapkannya padanya, Altair menyela. Semua orang dibuat bingung olehnya.


"Tidak perlu," cegahnya. "Kau letakkan saja di meja. Aku akan memakannya nanti."


Nami membeku di tempat. Baru kali ini Altair menolaknya. Tapi melihat Gordon diam dan Garnad yang tak bereaksi banyak, Nami dengan berat hati meletakkan mangkuk bubur di meja samping ranjang. Nami dan dua tabib pun menjadi canggung saat suara perintah Altair keluar mulutnya.


"Kalau kalian sudah selesai, tinggalkan aku dengan Ayahku. Aku akan memanggil bila perlu sesuatu."


Meski merasa heran, mereka bertiga akhirnya meninggalkan kamar. Ruang kamar itu hanya tersisa Sepasang ayah dan anak serta satu paman.


"Katakanlah sekarang. Kalau tidak, akan sangat sulit bila ditunda."


##