Main King

Main King
Ch. 1 – Perasaan Aneh [ Revisi ]



Terbangun dengan napas memburu serta ruang kamar yang estetik membuat dia tersadar sepenuhnya. Pandangannya mengedar ke seluruh ruangan. Bukan tempat ini yang terakhir dalam ingatanannya.


Hal yang ia ingat terakhir kali adalah pemusnahan organisasi yang ia naungi. Dia adalah seorang mata-mata yang berlatih di sana. Dia yang paling berbakat dalam menyamar. Bahkan dia lupa berapa organisasi yang ia masuki demi mencari informasi rahasia dari masing-masing tempat tersebut.


Ingatannya beralih dari pembantaian organisasi ke ingatan dirinya yang terkena luka bakar di sebuah ruangan dengan api yang semakin membesar di sekitarnya. Tempat gedung organisasinya berdiri. Sosok pria paruh baya mengisi pikirannya. Ketika pikirannya seolah mulai mencari, pria itu tertatih ke arahnya dengan lambaian tangan menyuruhnya pergi.


Dia yang saat itu dalam keadaan fisik yang terluka parah–dalan ingatannya–datang dengan sisa tenaganya. Dia juga tidak peduli dengan rekan-rekan satu naungan dengannya. Dia hanya peduli pada pria paruh baya di seberang sana.


Pria paruh baya itu terjatuh dan terbatuk saat dia mencoba mendekatinya. Dia tidak tahu apa yang pria itu pikirkan saat wajahnya berubah pucat seketika. Sebelum ia sampai di tempat pria itu, sekelompok orang dengan seragam hitam sedikit tebal berdiri mengepung pria itu.


Beberapa dari mereka menoleh kearahnya. Matanya mulai menunjukkan keputus-asaan saat tahu siapa orang-orang itu. Satu diantara mereka maju, mendekatinya. Senyum sinis terpampang diwajahnya.


"Bukankah ini yang kau inginkan? Tidak semua kendali bisa kau pegang, Altair. Kau perlu menghapus sebagian. Contohnya organisasi ini. Barulah kau bisa mempertahankan hal lainnya agar tidak menjadi bebanmu."


Tangan Altair bergetar. Bukan karena luka bakarnya melainkan kemarahan yang selama ini dia pendam.


"Jadi kalian yang merencanakan ini?" tanya Altair pelan.


Pria itu memiringkan kepalanya. "Kau menyembunyikan faktanya terlalu dalam, Al. Pemimpin kami bahkan harus turun tangan untuk mengetahui identitas aslimu. Kau orang yang jujur tapi kau selalu bisa menjawab tanpa harus membongkar siapa dirimu."


Altair bergeming, mencoba untuk tidak memaksakan tangannya yang hampir hilang karena api yang mulai merangkak dari lantai ruangan menggerogotinya.


Matanya yang mulai sayu melihat pria paruh baya yang tergeletak tak bernyawa di depannya yang baru saja dibunuh oleh kelompok orang-irang itu. Ia melihat kembali pada pria di depannya.


"Kalau kau tidak tamak dengan menyamar di berbagai tempat, hal ini tidak akan terjadi," ucap pria itu sebelum menancapkan pisau tepat di dada lawannya.


Perasaan sakit dari tusukan itu masih terasa dengan adanya sesak bahkan saat dia sadar bahwa sekarang sudah berada pada tempat yang berbeda, duduk di atas kasur besar dalam sebuah kamar mewah. Tubuhnya terasa mati rasa meski dia bisa melihat getar di tubuhnya yang saat ini masih tertutp selimut dari pinggang ke bawah.


Setelah napasnya teratur, Altair mengangkat kepala, menoleh ke sudut ruangan tempat di mana cermin berada. Hampir saja ia pingsan jika tidak segera memejamkan mata dalam waktu dua detik ketika kepalanya berdenyut sakit. Sebab bayangan cermin itu membuatnya terkejut bukan main.


Bayangan cermin itu menunjukkan dirinya ketika masih anak-anak. Ketika usianya berusia delapan tahun. Usia dimana ia belum memasuki dunia gelap organisasi.


Kepalanya tertunduk, matanya dengan heran menatap tubuh kecilnya yang dibalut dengan pakaian putih seperti pasien. Tapi Altair yakin ini bukan rumah sakit. Lagipula jika ia kembali ke masa lalu bukan kejadian ini yang akan terjadi.


Suara pintu terbuka membuat pikirannya terpecah. Altair menoleh ke arah asal suara. Seorang wanita berusia tiga puluhan tahun berjalan memasuki kamar dengan wajah tertunduk. Saat kepalanya terangkat, ia terperanjat.


Mata Altair dan wanita itu terkunci sejenak sebelum akhirnya dengan wajah gembira, wanita itu berlari ke arahnya.


"Tuan Muda! Tuan Muda! Anda sudah sadar," ujarnya senang.


Altair mengangkat alis, merasa aneh dengan ucapan wanita itu. "Siapa yang kau panggil Tuan Muda? Aku?" Altair menunjuk dirinya sendiri.


Senyum lebar wanita itu memudar, digantikan dengan raut wajah bingung. Awalnya ia menatap Altair lama sebelum pertanyaan ragu keluar dari mulutnya.


"Apa kau tidak mengenalku? Aku pelayan pribadimu, Nami."


Jawabannya membuat Altair semakin kebingungan. Meski begitu, wajahnya tak menampilkan ekspresi apapun. Hal itu membuat Nami menjadi ikut bingung juga.


Nami tersadar. "Ah, aku seharusnya memanggil tabib untuk ini. Tuan Muda, tunggulah sebentar. Aku akan segera kembali."


Nami pergi dengan langkah tergesa. Altair ingin mencegah tapi Nami sudah diambang pintu dan berbalik ke arahnya.


"Tuan Muda, ingat, jangan ke mana-mana. Aku tidak akan lama. Kau masih sakit."


Pintu kamar besarnya tertutup dengan keras, menimbulkan bunyi yang memekakkan telinga. Altair berdecak, kalau begini dia lebih memilih tidur daripada harus bangun tadi.


Kejadian saat ini belum bisa ia terima dengan akal logika. Bagaimana tidak? Apa ada yang bisa mengatakan padanya hal apa yang bisa membuat tubuhnya mengecil kembali seperti saat dia berusia delapan tahun? Lagipula, kenapa sebuah kamar yang ia lihat pertama kali bila dia kembali ke masa lalunya?


Altair mendengus lalu menggerutu sebelum memaksakan kakinya turun dari ranjang menapaki lantai marmer putih yang dingin. Awalnya dia berjalan sempoyongan, bahkan beberapa kali hampir terjungkal ke depan.


Altair hampir mengumpat keras ketika kepalanya hampir menyentuh pintu sebelum membukanya. Ketika pintu terbuka, penglihatannya dipenuhi pemandangan sebuah kota, menurutnya. Balkon itu benar-benar membuatnya takjub saat sadar pemandangan di depannya sangat indah. Ia tak yakin di mana dia sekarang, tapi yang jelas dia bukan berada di salah satu belahan dunianya.


Rasa sakit di dadanya masih terasa hingga ia tanpa sadar memegang bagian dadanya. Altair meringis. Baru kali ini ia merasa dirinya tak berdaya.


Pintu besar itu terbuka kembali membuatnya berbalik badan dengan pelan karena kondisinya. Bukan hanya Nami saja yang datang, tetapi juga dua orang memakai pakaian putih panjang membawa sebuah koper ditangannya. Altair menebak mereka adalah tabib yang dipanggil Nami untuknya.


Seorang pria patuh baya dengan jenggot putih panjang menghampirinya diikuti Nami dan juga tabib muda di belakangnya.


"Tuan Muda, izinkan aku memeriksamu," pintanya dengan tangan yang terulur.


Setelah selesai, tabib itu mengeluarkan ekspresi yang berbeda. Ia mengelus jenggotnya yang panjang, mengangguk dan menggeleng beberapa kali. Tingkah sang tabib membuat Altair mundur secara reflek. Nami yang melihatnya mundur segera mendekat ke arahnya.


"Ada apa, Tuan Muda?" tanya Nami penasaran.


"Siapa dia?"


Nami terlihat ragu sebelum menjawab, "Dia adalah tabib pribadimu,Tuan. Bukankah kau mengenalnya?"


Pernyataan itu membuat Altair menoleh sepenuhnya ke arah Nami. "Apa maksudmu? Aku mengenalnya?"


"Benar, Tuan Muda. Kami adalah orang-orang yang paling sering berinteraksi denganmu."


Jawaban Nami membuat Altair berpikir dua kali. Paling sering berinteraksi? Bukankah itu berarti hanya mereka yang sering bicara dengannya?


"Aku tidak mengerti maksudmu," ujar Altair bingung lalu pandangannya beralih pada tabib di depannya. "Ah, sudahlah. Aku ingin istirahat. Kalian pergilah."


Nami merasa ragu sejenak. Dua tabib itu pun sedikit merasa aneh dengan tingkahnya. Biasanya Altait tidak pernah menyuruh mereka pergi, apalagi saat sakit seperti ini.


Nami memandang tuannya dan hendak bicara tapi segera ia urungkan saat Altair menyentuh pelipisnya. Dengan berat hati ia pamit undur diri dan segera pergi bersama dua tabib dibelakangnya yang masih kebingungan.


Sepeninggal pelayan dan dua tabib tadi, Altair merasakan sakit kepala hebat. Ia yakin bukan hanya sakit biasa, tetapi ada suatu hal yang membuat kepalanya benar-benar terasa sangat sakit.


Altair masih memegangi kepalanya saat suara langkah kaki yang tenang dan tegas memasuki ruang kamarnya. Altair berusaha menenangkan diri agar tidak membuat kepalanya semakin sakit. Dia benar-benar dalam keadaan yang tidak baik sekarang.


Tepat ketika dia berbalik, napasnya tertahan. Ada sepasang mata yang akrab di sana. Mata yang memancarkan kekhawatiran seperti saat ia mendapat masalah dulu. Persis seperti kehidupannya yang dulu.


Altair segera berjalan ke arah dua pria yang baru memasuki kamarnya. Ia tidak mempedulikan kepalanya yang mulai bertambah sakit. Dentuman yang terjadi di dalam kepalanya berusaha ia abaikan meski semua itu sia-sia.


Awalnya Altair berjalan tertatih ke arah mereka, tetapi kemudian menjadi seperti berjalan dengan langkah tergesa. Melihat hal itu, dua pria yang mengunjunginya segera datang menggapainya.


Salah satu pria itu berlutut saat Altair hampir jatuh menyentuh lantai dingin. Pria itu terkejut saat Altair memeluknya erat dengan isakannya yang terdengar lirih. Bahkan pria di belakangnya merasa aneh dengan sikap Altair saat ini.


Pria yang mendekapnya menutup mulut saat suara lirih terdengar dari Altair. Bahkan ia menghentikan pikirannya untuk bertanya.


"Tolong maafkan aku," bisik Altair di dekapan pria itu. "Aku berjanji akan menuruti apa yang kauinginkan. Tolong jangan meninggalkanku."


Setelah kalimat itu selesai, Altair kehilangan kesadarannya. Jatuh dalam pelukan pria yang sama. Pria yang sangat ia sesali kematiannya di kehidupan lamanya.


Pria itu mengerutkan dahi. Hampir tidak terlihat sebuah perubahan ekspresi di sana. Sangat datar. Bahkan jika tidak melihat secara teliti, mungkin orang menganggapnya tidak bereaksi terhadap kejadian yang ada dihadapannya.


"Kurasa ini bagian penyakitnya yang terparah."


Pria yang masih berdiri di belakang mulai buka suara. "Tapi apakah mungkin itu juga bisa mengubah sikapnya padamu? Biasanya dia tidak mau melihat wajahmu."


Pria yang diajak bicara tidak menjawab. Ia malah menggendong Altair yang tak sadarkan diri ke tempat tidurnya. Bahkan meletakkannya dengan sangat hati-hati, seolah tubuh Altair bisa terluka karenanya.


"Panggilkan tabib Yuan," Ia berujar dingin.


Pria di belakangnya segera berbalik menuju pintu. Saat ia akan melangkah lebih jauh, ia melihat tabib Yuan, asistennya serta Nami si pelayan berdiri dengan kepala tertunduk ke arahnya.


"Kalian masih di sini?" tanya pria itu heran.


Mereka saling pandang sebelum Nami memberanikan diri bicara.


"Kami merasa ada yang aneh dengan tuan muda. Itu sebabnya kami menunggu barang kali kami dibutuhkan."


Pria itu mengangguk dengan firasat yang tak enak, tetapi tetap menyuruh mereka semua masuk.


"Masuklah ke dalam, Tuan menunggu kalian. Aku harap ada kabar baik dari kalian," ucapnya agak dingin.


Mereka bertiga masuk meski dengan kaki yang gemetar. Entah mengapa pria itu terlihat sedikit tidak senang dengan mereka. Ketika masuk, mereka melihat tuan besar duduk dengan tangannya memegang tangan tuan muda.


Tabib Yuan meminta izinnya sebelum melakukan pemeriksaan. Pria yang menggendong Altair itu bangkit dari duduknya dan menyusul saudaranya yang tengah menunggunya di ambang pintu, la meninggalkan Altair hanya dengan sekali sevelum benar-benar menghilang dibalik pintu.


###