
Altair duduk di balkon sambil melihat pemandangan senja. Sudah beberapa hari ini ia mulai memutuskan untuk merubah apa yang tidak dilakukan oleh tuan muda sebelumnya.
Altair makan dengan sajian yang telah diatur ayahnya. Ia juga mulai menjauh dari para abdi yang selalu bersamanya. Setiap minggu para pelayan akan bergantian mengurusnya. Sampai semua penghuni mengenal siapa dia yang sebenarnya.
Altair juga sudah lumayan membaik berkat pengobatan rutin yang dia lakukan dengan resep lama dari Tabib Dyapati. Meski Altair sempat mencurigainya juga, tetapi ia yakin bukan tabib renta itu yang melakukannya saat tahu jika tabib itu terkadang baik dengan para pasien selain dirinya.
Sebelum Altair melakukan hal ini, tubuh tuan muda sebelumnya bukan semakin membaik, tetapi semakin parah. Ini juga menjadi fakta bahwa pelayanan yang ia terima tidaklah bagus. Apalagi ia tahu ada racun yang larut dalam bubur yang selalu dibawa pelayan pribadinya yaitu Nami.
Sebab hal itulah Altair beserta ayah dan pamannya mengatur ulang semua makanan, jadwal, serta obat-obatan yang akan ia minum. Berkat hal itu, akhirnya ia dapat berjalan dan berdiri sendiri meski tertatih.
Selama pengobatan juga, Altair semakin giat untuk mencari ingatan tuan muda yang lama agar dia bisa beradaptasi dengan dunia barunya ini. Lagipula ia masih memiliki ingatan lamanya dan dia tidak terbiasa dengan itu.
Dari ingatan lama tuan muda sebelumnya, dunia ini memiliki kaum atau ras selain manusia yang dikenal dengan nama Dunia Zilgard. Di dunia baru ini, terdapat empat ras besar yang diketahui selain ras manusia. Empat ras itu adalah Elf, Witch, Half- Human, dan Demon.
Masing-masing ras membentengi diri agar tidak diserang ras lainnya. Meski sudah puluhan ribu tahun tak pernah berperang, kelima ras tetap ungin menjadi yang terkuat dan menindas ras yang lemah. Pertarungannya pun antar generasi yang lebih muda. Jika terlihat generasi tua ikut campur, hal itu akan menjadi sebuah ejekan bagi seluruh ras.
Generasi yang lebih tua hanya akan bertindak bila sesuatu hal besar menimpa rasnya. Seperti perang dan pengkhianatan dari bangsanya sendiri. Jika mereka masih ingun menunjukkan kemampuannya, mereka dapat membuktikannya lewat generasi muda yang mereka bina.
"Apa yang kau lakukan?"
Altair tersentak saat sebuah pertanyaan memasuki pendengarannya. Kepalanya menoleh hanya untuk menemukan pamannya mulai duduk dan mengambil anggur di samping tempat duduknya.
"Hanya melihat senja," jawab Altair. "Apa yang kau lakukan kemari?"
"Aku hanya ingin tau keadaanmu. Apalagi aku ingin memastikan kau tak berubah pikiran tentang kau yang mau mempelajari beladiri."
"Tenang saja, aku akan tetap pada pernyataanku." kata Altair disertai tawa kecil.
"Aku juga berharap begitu," ujar Garnad sambil mengangguk dan mengunyah buah yang baru saja masuk ke mulutnya.
"Aku masih penasaran kenapa manusia memiliki kekuatan yang hampir sama dengan beberapa ras yang lain?Aku belum mengerti."
Garnad memperhatikan Altair dengan seksama, sedangkan Altair menatap lurus ke depan tanpa menoleh ke arahnya. Garnad sedikit memperhatikan cara duduk Altair yang terkesan malas dengan tangan kanan menopang dagu.
"Alam yang memberikannya," jawab Garnad. "Kita sudah tau bahwa manusia pada zaman dulu tidak memiliki kekuatan apapun. Leluhur dari bangsawan pertama menemukan gelembung atau gelombang di udara lalu menyerapnya dan jadilah kekuatan yang kita kenal saat ini."
"Gelembung?"
Garnad mengangkat bahu, "Kita menamainya begitu karena bentuk energi yang kita lihat seperti kumpulan gelembung."
Altair mengangguk tanda mengerti dengan pembicaraan dari pamannya. "Lalu bagaimana leluhur itu bisa tau kalau gelembung itu dari alam?"
"Ia melihatnya setelah perang besar antar ras berkecamuk. Dia adalah budak manusia saru-satunya yang selamat. Saat berpikir dirinya akan mati, gelembung itu muncul di matanya yang mulai memburam. Jadi dia berpikir bahwa hal itu hadiah dari alam."
Pada masa sebelum terciptanya kedamaian, ribuan tahun lalu manusia hanyalah sekumpulan budak. Bahkan meski ada yang bukan budak, mereka hanya akan menjadi boneka ras yang lainnya. Manusia yang menjadi boneka ini adalah manusia yang memiliki kekayaan atau potensi dalam pertarungan sehingga mendapat keistimewaan meski harus tetap menunduk pada ras yang lain.
Sedangkan pertempuran kelima ras terjadi karena manusia sering kali disiksa dan dijadikan mainan para tuannya, sehingga mereka mati satu persatu dan hampir punah. Oleh sebab itu ras yang masih menginginkan manusia memperebutkan keberadaan mereka. Hingga terjadila peperangan yang berkepanjangan.
Hal ini Altair ketahui dari buku sejarah. Berdasarkan dari cerita Garnad, masih banyak versi lain perkembangan para manusia sampai sekarang. Tidak ada yang tau seperti apa cerita yang sebenarnya, bahkan para tetua sekalipun.
Dari semua cerita
"Oh, iya. Aku belum tau maksud Paman yang mengatakan tentang bangsawan pertama, apa maksudnya?"
"Oh, kau belum tau itu?"
"Hm... Kurasa belum."
Setiap ras memiliki beberapa orang terkuat di rasnya untuk menjadi pelindung. Jumlah pelindung dari lima ras beragam termasuk manusia. Manusia memiliki lima pelindung utama. Lima pelindung itu dijadikan bangsawan agar dapat dbedakan.
Meski terdapat sistem bangsawan dan pembagian wilayah, tetap akan ada pemimpin terpisah di masing-masing wilayah tanpa campur tangan bangsawan, tetapi tetap harus menghormati para bangsawan.
"Jadi sekarang ras manusia memiliki lima bangsawan?" tanya Altair.
Garnad menggeleng sebelum menghela napas. "Manusia terlalu rumit untuk dimengerti, Altair. Aku tidak tau apa yang mereka inginkan. Sudah puluhan tahun yang lalu ada perubahan yang mengejutkan dari ras kita bahkan untuk ras lainnya. Kita yang seharusnya hanya memiliki lima bangsawan sekarang menjadi sepuluh." Ujar Garnad.
Garnad juga menjelaskan, bangsawan keenam hingga kesepuluh adalah mereka yang memiliki jabatan tinggi di masing-masing wilayah mereka. Konyolnya, mereka mengatan akan mengganti lima keluarga bangsawan besar. Mereka berdalih bahwa kekutanlah yang bisa melindungi ras manusia, bukan karena ia keturunan keluarga bangsawan.
Setelah mendengar cerita dari pamannya, Altair terdiam cukup lama dengan tangan yang bergantian menopang dagunya. Garnad sudah mengeluarkan suara tidurnya yang khas daritadi.
Altair tidak mengira konflik para manusia di dunia barunya ini sama dengan dunia lamanya. Bedanya, di dunia ini mereka bisa menggunakan cara apa saja.
Sebenarnya Altair tidak mempermasalahkan pemikiran mereka yang mengatakan bahwa kekuatan bukan hanya karena dia dari kuturunan bangsawan. Masalahnya, Altair takut orang-orang yang mencetuskan hal tersebut hanya untuk menjatuhkan para bangsawan terdahulu dan membuat mereka lah memegang kendali kekuasaan semena-mena.
Altair menghela napas. Pada akhirnya ia merasa akan turun tangan dalam masalah ini. Meskipun Altair adalah sosok yang terkenal dengan kekejamannya di dunia dulu, tetapi dia tidak suka hal seperti ini terjadi saat dirinya menetap di tempat kejadian.
Altair hampir memejamkan matanya jika tidak ada sesuatu yang mengganggunya. Hanya saja suara langkah kaki pelan tanpa tergesa di atas gemerisik daun kering membuatnya sadar sepenuhnya.
Altair bagkit dari tempatnya duduk. Menggunakan tongkat sebagai alat bantu, Altair berjalan tertatih ke arah pagar pembatas balkon. Garnad yang merasa pergerakan juga segera terbangun dan menguap.
"Ada apa?" tanya Garnad saat melihat keponakannya berdiri diam di pagar balkon.
"Sepertinya yang ditakutkan ayah terjadi, Paman." Jawab Altair tanpa menoleh. Seringai kecil terbentuk dibibirnya.
Garnad mengerutkan dahinya merasa heran. Ia akhirnya bangkit dan berjalan menuju pagar balkon lalu berdiri di samping Altair dengan memegang lengan kurus keponkannya agar bisa berdiri dengan nyaman. Setelah melihat sesuatu yang dilihat Altair, Garnad tersenyum sinis.
"Sudah kubilang firasatku tak pernah meleset," sinis Garnad.
Tepat di depan mereka yang tengah berdiri di balkon, Nami–pelayan Altair– berjalan menuju ke arah hutan. Jalannya biasa saja, tidak terburu-buru. Lewat mata Altair yang tajam juga Garnad yang menggunakan kekuatannya, mereka melihat Nami berjalan tanpa menoleh bahkan tanpa melirik swdikit pun.
"Aku rasa ini sedikit menjengkelkan," gerutu Altair.
Garnad di sampingnya masih menatap tempat yang Nami lewati meski dia sudah tak ada lagi. "Apa maksudmu?" tanya Agrnad tanpa menoleh.
"Sepertinya di dipengaruhi sesuatu, tapi aku tidak tau apa itu."
Altair sebenarnya ingin membuang pikiran tentang Nami yang dirasuki roh jahat atau sesuatu yang memasuki tubuhnya. Tapi ia malah memberitahu pamannya karena dunianya yang sekatang dengan yang dulu sudah berbeda.
"Ya, aku rasa juga begitu. Apalagi dia berjalan tanpa ketakutan atau rasa bersalah." Jawab Garnad.
"Itu artinya Nami tidak sepenuhnya salah. Ya ... Walaupun dia lah penyebab utamanya."
Altair berbalik dan kembali duduk ke tempatnya semula. Pikirannya melayang pada alasan yang memungkinkan Nami berbuat demikian. Ia bahkan tidak sadar bahwa pamannya memerhatikannya dari tadi.
"Kau tau kalau dia dipengaruhi sesuatu, bagaimana caranya membuat dia mengaku?"
Altair tak menjawab pertanyaan dari pamannya. Tapi sejurus kemudian, seringai kecil menghiasi wajahnya yang disadari pamannya sampai membuatnya tanpa sadar tersaruk mundur.
"Aku tidak yakin kalau tidak mencobanya," kata Altair dengan senyum lebar.
##